My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.66 - Fryaga Family II


__ADS_3

Tanpa sengaja William dan Daisy berpapasan ketika berjalan ke dapur, saat itu Daisy hendak menyapa William tapi dia justru mengacuhkan Daisy dan melewatinya begitu saja.


Kenapa aku sering sekali tanpa sengaja bertemu dengannya sih, mengganggu !!! batin William.


"Dia kenapa sih? apa marah padaku?" gumam Daisy pelan, dia pun pergi ke lantai dua untuk mandi dan beristirahat.


Sesampainya di kamar Daisy langsung berebah sambil menatap sekelilingnya.


"Aku sangat iri padamu karna memiliki keluarga yang sangat mencintaimu, bahkan mereka begitu hangat. Awalnya aku kira hubungan kalian tidak harmonis karna kamu tidak pernah membahas keluargamu. Kita terlalu berbeda, aku takut kamu akan kecewa kalau bertemu dengan keluargaku," Daisy bergumam pelan, tanpa terasa air matanya mulai membasahi pipinya yang memucat.


"Rasanya aneh ketika semua orang terdekatnya memanggil Alex tapi aku terbiasa memanggilnya dengan nama Zhafran. Padahal cuma nama tapi aku kok merasa.....hah sudahlah sebaiknya aku mandi biar lebih fresh," Daisy kembali berbicara pada dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya.


*


*


*


Di ruang kerja pribadi Zhafran


Jade dan Zhafran duduk diatas sofa sambil menyeruput teh hangat. Tapi tatapan tajam Jade masih terlihat jelas dia pun berdecak pelan.


"Apa kamu sengaja menikahi wanita itu karna tidak mau Kakek jodohkan dengan Jasmine?"


Zhafran mendongak kaget, ketika dia hendak menjawab, Jade menyambung kalimatnya.


"Kasihan Daisy kalau kamu menikahinya hanya karna pelarian. Apalagi Kakek juga sudah bicara dengan keluarga Jasmine dan mereka setuju."


"Alex sangat mencintai Daisy, tidak pernah sekalipun Alex berpikir kalau Daisy adalah pelarian. Semoga Kakek bisa mengerti dan menerima Daisy."


"Hahahahha akhirnya kamu bisa jatuh cinta. Baiklah Kakek terima keputusanmu jadi jangan kecewakan Kakek. Dan mengenai Jasmine..."


"Jasmine juga menentang perjodohan tersebut Kek. Kami berdua menentangnya dan kini Alex sudah menikah. Jadi Alex mohon untuk tidak mengungkitnya lagi. Alex tidak mau Daisy tau dan hatinya terluka."


Muncul tatapan bangga ketika Jade menatap mata Zhafran, dia bisa melihat kesungguhan tekat cucu kesayangannya. Dari awal dia takut kalau Zhafran tidak mau berhubungan dengan wanita karna sering kali menolak niat baik keluarganya. Tapi dia lumayan syok karna mengetahui kalau Zhafran sudah menikah dan mengucapkan kata cinta dengan lantang dan berani di hadapannya.


"Ya ampun ternyata kamu sudah dewasa kalau begitu jangan lama - lama, buktikan kesungguhan kalian secepatnya."


Merasa paham dengan maksud Kakeknya, Zhafran pun mengangguk. Zhafran kemudian pamit keluar, meninggalkan Jade sendirian. Tidak lama setelah itu Sebastian datang.


"Selidiki latar belakang wanita itu." Jade memberikan perintah langsung pada Sebastian. Nyatanya Sebastian adalah asisten pribadinya yang kini menjadi kepala pelayan di rumah cucunya.


Sebastian tidak berani mempertanyakan maksud Jade, tapi dia paham betul bagaimana sifat majikannya tersebut, dia pun menjawab," baik Tuan besar."


*

__ADS_1


*


*


Zhafran yang baru keluar dari ruang kerjanya bertemu dengan William. Keduanya memasang ekspresi kaku.


"Selamat atas pernikahanmu Alex. Dia wanita yang cantik, kamu harus menjaganya sebaik mungkin. Kau tau aku sempat bertemu dengannya dua minggu yang lalu."


Zhafran kaget dengan ucapan William barusan, dia tidak tau kalau Daisy dan William sudah pernah bertemu sebelumnya.


"Terima kasih, tentu saja aku akan menjaganya Daisy kan begitu istimewa dan cantik jadi sebaiknya kamu segera menyusul." Zhafran memegang pundak William dengan tangan kanannya setelah itu pergi dengan memasang senyuman tipis.


Sesampainya di kamar dia melihat Daisy yang baru keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih terbalut handuk pendek jadi memperlihatkan lekukan tubuhnya yang masih setengah basah.


Dia pun menelan air salivanya lalu menarik tubuh Daisy, menempelkan bibirnya dan menyapu lembut kedalam mulutnya sambil memainkan lidahnya.


"Sayang kenapa kamu tidak pergi mandi air hangat dulu." Daisy menghentikan aksi liar Zhafran.


"Kenapa kamu mandi duluan sih, tidak menungguku." Zhafran masih memeluk manja Daisy.


"Kamu masih sempat - sempatnya nakal. Sana pergi mandi." Daisy mendorong pelan tubuh Zhafran tapi mereka justru jatuh diatas ranjang.


"Maafkan aku ya. Kamu sampai harus melihat kejadian tadi, aku tidak menyangka kakek akan.." Zhafran menghentikan kalimatnya, badannya mulai bergetar lalu membenamkan wajahnya di dada Daisy sambil memeluknya dengan erat.


"Apa masih sakit? aku yang harusnya minta maaf."


"Tidak sakit kok, sama sekali tidak sakit. Jadi jangan khawatirkan apapun dan tidak perlu minta maaf. Semua akan baik - baik saja. Kamu cukup berada di sisiku dan jangan pernah meninggalkanku."


"Aku tau, aku percaya padamu. Terima kasih sayang, aku sangat mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu. Istriku, izinkan aku bertemu dengan keluargamu." Zhafran tau kalau Daisy punya masalah dengan keluarganya, tapi dia harus melakukannya.


Dengan ragu Daisy menjawab," Baiklah kita akan bertemu dengan mereka. Tapi berjanjilah padaku, kamu tidak akan meninggalkanku setelah bertemu dengan mereka."


Zhafran bisa merasakan suara Daisy yang bergetar karna membahas keluarganya, dia pun mengecup kening Daisy dan menjawab," aku kan sudah berjanji padamu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jadi jangan khawatir lagi."


Bahkan jika keluargamu tidak merestui kita aku akan tetap berada di sisimu. Dan siapapun yang menghalangi kita, aku hanya perlu menyingkirkan segala hambatan itu!!! batin Zhafran.


Zhafran ingin menanyakan tentang pertemuan Daisy dengan William tapi dia mengurunkan niatnya. Dia tidak mau merusak momen hangatnya saat ini.


"Terima kasih sayang, maaf aku tidak ingin memaksamu tapi aku merasa perlu mengenalkan diriku pada mertua."


"Ya sayang, aku paham. Aku juga lupa memberi taumu sebenarnya beberapa minggu lalu aku sudah pernah bertemu dengan nenek dan William. Tapi karna terlalu sibuk dan kamu sempat keluar kota, aku jadi melupakannya."


Zhafran tersenyum lega, padahal dia sudah mengurungkan niatnya untuk bertanya.

__ADS_1


"Ya tidak apa. Jadi bagaimana kalau kita ehem." Zhafran hendak menarik handuk yang dikenakan Daisy.


Daisy menahan tangan Zhafran kemudian berbisik," mandi dulu dong biar fresh, tapi mandi sendirian yah karna aku sudah mandi."


Zhafran menangguk lalu tersenyum, tanpa ragu dia langsung menuju kamar mandi dengan semangat, seperti puppy yang sangat lucu dan menurut pada Tuannya.


Di kamar mandi Zhafran mulai berpikir keras lalu dia bergumam pelan," apa sebaiknya aku mengeluarkannya di dalam. Ya mungkin sudah saatnya." Dia pun mulai senyum sumringah dan membayangkan Daisy.


Sebelumnya dia selalu berhati - hati karna tidak ingin memaksa Daisy. Daisy juga tidak pernah komplain apapun dan menerima apa yang dilakukan Zhafran.


Walaupun sudah menikah sekitar dua bulan, tapi sebelumnya mereka masih menjaga jarak dan tidak pernah bercinta. Sampai akhirnya keduanya sadar dan mengungkapkan isi hati dan perasaan mereka.


*


*


*


Di kamar tamu khusus keluarga


Revalina dan Andreas mulai mengobrol ringan.


"Bu, bagaimana menurutmu dengan Daisy?"


"Melihat Daisy mengingatkanku pada masa lalu kita."


"Ternyata kamu masih ingat kenangan lama kita?"


"Tentu saja, aku masih ingat bagaimana di masa lalu saat kamu mengejarku dan mengabaikan ayah mertua. Kamu dan Alex sangat mirip, makanya aku percaya pada mereka berdua."


"Ya mereka terlihat serasi, tapi jujur saja aku tidak menyangka Alex senekat itu. Maksudku dia sungguhan sudah menikah, anak kita ternyata sudah dewasa."


"Ya dia sudah dewasa dan sangat mirip denganmu dan ayah mertua. Aku jadi tidak sabar ingin menggendong cucu. Sudah dua bulan kan mereka menikah? apa dia selama ini memakai alat kontrasepsi?"


"Bu, jangan berpikir macam - macam."


Mendengar kalimat Istrinya, Andreas sempat tertawa lalu mengangguk sambil memeluknya. Dia paham benar bagaimana Revalina begitu sabar kepada kedua putranya yang fokus dengan karir sampai melupakan hubungan asmara. Keduanya juga sangat keras kepala, dia sempat khawatir kalau putra kesayangannya akan menjadi bujang lapuk.


Kalau Alexander lebih bisa mengatur emosinya, sementara William terlalu waspada. Apalagi saat bicara dia sangat jujur dan terlalu terus terang jadi kesannya terasa kasar dan angkuh sehingga banyak wanita yang segan mendekatinya.


Bersambung.


Yang suka silahkan menikmati cerita receh ini dengan memberikan nutrisi dan vitamin yang sehat berupa Like, Koment, Vote biar Author semangat melanjutkan ceritanya.


Dan untuk readers yang selama ini sudah menemani author dari awal sampai sekarang bahkan memberikan vote dan komen yang menyemangati, sekali lagi terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2