My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.56 - Date &Tamparan (Visual)


__ADS_3

Senja mentari mulai tenggelam tergantikan gelapnya malam oleh sinar rembulan. Bagai udara yang tidak dapat di raba begitu juga malam yang memiliki arti dimana kedua insan saling menatap dan bergandengan tangan, dimana malam itu menjadi lebih hangat dan bekesan


Banyak cara untuk mengungkapkan kasih sayang. Mulai dari membelikan barang yang di sukai oleh pasangan, mengungkapkan perasaan melalui perkataan romantis atau mengajaknya berkencan dan makan malam bersama.


Keduanya sudah membersihkan diri dan berganti pakaian setelah pulang dari Rumah Sakit. Kondisi tubuh Daisy juga membaik, dia tidak mau berbaring lama di Rumah Sakit dan memilih untuk kencan ringan dengan Suaminya.


Malam ini Daisy meminta sedikit perubahan pada Zhafran. Dia ingin merasakan kencan normal layaknya pasangan muda pada umumnya. Dia tidak mau ada kejutan besar seperti keluar negri atau mengendarai helikopter.


Dia juga meminta Zhafran berpakaian santai karna tempat yang akan mereka tuju juga tempat biasa yang di datangi pasangan normal.


Daisy mulai memilah pakaian yang akan di kenakan Zhafran, melihat antusias Istrinya membuat hatinya bahagia. Dia merasa setiap harinya lebih bewarna dan terasa hangat. Selama ini Zhafran selalu dibaluti dengan pakaian formalnya dan jarang mengenakan pakaian kasual. Kencan pun baru pertama kali dia lakukan di Paris bersama Daisy.


Tidak banyak baju santai jadi Ran datang sambil membawa baju baru untuk Zhafran kenakan. Ya, kaos bewarna gelap dengan gambar boneka beruang di depannya. Terlihat menggemaskan di mata Ran dan Daisy. Zhafran yang melihat senyum manis Istrinya tidak berani berkomentar dan langsung memakainya.


Tapi tatapan dingin tertuju pada Ran, dia sedikit merasa risih karna ada gambar boneka beruang di bajunya. Ran yang sadar akan tatapan Tuannya, lalu bersembunyi dibalik badan Daisy.


Zhafran mengenakan pakaian serba gelap tapi bahannya lebih ringan dan terasa nyaman, kaos dengan warna senada dengan celana dan topinya menambah poin plus pada tampilannya malam ini, tidak lupa menggunakan kaca mata sebagai hiasan agar terlihat modis dan fresh juga beberapa aksesoris pelengkap seperti jam tangan dan tas slempang kecil.


Orang tidak akan mengira Presdir yang penuh kharisma akan keluar pergi kencan dengan pakaian sederhana yang jauh dari outif yang biasa dia kenakan.



Begitu pula dengan Daisy dengan pakaian santainya. Dia terlihat semakin cantik dan fresh dengan tampilan sederhana tanpa make up yang berlebihan. Kebalikan dari Zhafran, dia mengenakan celana jeans dan kaos serta topi bewarna putih terang lalu mengurai rambut panjangnya.



Setelah selesai berpakaian, mereka pergi menuju bioskop yang berada di salah satu big mall terkenal dan terbesar milik Fryaga Grub.


Kencan kali ini Daisy tidak mau ada siapapun yang mengikutinya termasuk si kembar.


Sesampainya di Emall Fryaga, mereka naik ke lantai 5 untuk memesan tiket.


Zhafran tidak pernah nonton di bioskop tapi dia bukanlah orang bodoh yang tidak tau cara menyenangkan hati pasangannya.


"Istriku tunggulah disini aku akan memesan tiket. Apa kamu mau ruangan Vip atau ruangan biasa?" tanya Zhafran yang sudah dilatih kilat oleh Ran.


"Baiklah, aku mau ruangan biasa jadi kita bisa menonton dalam keramaian." Daisy menjawab dengan penuh bahagia.


Zhafran berjalan mendekat untuk membayar tiket tapi sang petugas wanita sedari tadi menatap Zhafran.


"Nona saya mau pesan dua tiket duduk diatas baris kedua." Telunjuk Zhafran sambil menunjuk layar bergambar kursi penonton.


"Nona...?" panggil Zhafran lagi, tapi si petugas wanita masih hanyut dalam lamunannya sembari menatap Zhafran.


"Mas kamu sudah punya pacar belum?" tanya petugas wanita itu tanpa ragu.


Daisy yang dari kejauhan menyaksikan pemandangan tersebut mulai cemburu. Dia pun datang mendekat menghampiri Zhafran.


"SUAMIKU, kenapa lama sekali?" tanya Daisy mulai merangkul tangan Zhafran dengan manja.


Tatapan centil dari perempuan itu berubah menjadi tatapan malu.


"Silahkan Mas, harganya 100.000 rupiah. Apa sekalian cemilan dan minumannya?" tanya wanita itu memasang pipi merah karna malu dan sungkan.


"Istriku apa kamu mau makanan ringan?" tanya Zhafran menatap mata Daisy, semua orang yang melihat mejadi iri bahagia karna pasangan di hadapan mereka terlihat serasi dan menggemaskan.


Setelah memesan minuman dan makanan ringan mereka masuk kedalam bioskop. Cukup banyak orang di dalam, betapa lega hati Zhafran memilih tempat duduk diatas yang agak sepi. Karna dia tidak suka keramaian apalagi kalau sampai harus tersentuh dengan benda asing.


Zhafran sengaja memilih film dengan gendre romantis. Dia berharap dapat menyenangkan hati Daisy yang sedang moody.


Mereka duduk bersebelahan sambil menikmati cemilan. Tapi mata Zhafran terus menatap Daisy yang sedari tadi menikmati cemilannya. Merasa di acuhkan Zhafran langsung mendaratkan bibirnya di ujung kentang goreng, sampai akhirnya bibir mereka bersentuhan.


"Zhafran kamu jangan nakal. Nanti dilihat orang kan malu aku." Daisy mendorong pelan bibir suaminya memakai jari telunjuknya sambil berbisik.


"Tadi panggil Suami kenapa sekarang berubah?" tanya Zhafran merajuk.


"Suamiku lapar? sini aku suapin." Merasa tingkah Zhafran sangat manis, Daisy menyuapinya dengan kentang, sampai kentangnya habis ditangan. Zhafran masih menjilati jari Daisy lalu menciuminya.


Lucunya dia ingin di panggil Suami.


"Suamiku bisa kah kamu fokus menonton." Daisy menarik tangannya. Beruntung suasana gelap jadi rona merah di pipinya tidak tampak.


Zhafran mengangguk lalu meremas tangan Daisy sambil menikmati film yang dia pikir romantis ternyata penuh dengan adegan panas.


Ran pantas saja kamu merekomendasikan film ini. Sialan adegannya terlalu berlebihan.


Rona merah di pipi Daisy semakin memerah dia tidak sanggup melihat adegan dari film yang berjudul Fourty Shades of Grey.


Keduanya mulai tidak fokus, dan mereka mendengar ada beberapa orang di bangku penonton yang mendesah. Mendengar hal tersebut membuat suana tidak nyaman.


"Zhaf.. Suamiku sepertinya aku tidak enak badan. Bisakah kita menyudahi nonton filmnya?" tanya Daisy yang tidak bisa menghentikan pompa jantungnya yang semakin berdetak kencang.


Harusnya aku pilih ruang Vip. Aduh jantungku.


"Ayo." Zhafran menggenggam tangan Daisy, sesampainya di belakang pintu. Zhafran menarik tubuh Daisy lalu mulai menciumnya dengan kasar.


Merasa ada yang bangkit, Daisy langsung paham kalau suaminya mulai berhasrat.


"Istriku kamu bisa keluar duluan. Aku mau ke kamar mandi sebentar." Zhafran meninggalkan Daisy lalu berjalan dengan cepat menuju kamar mandi pria.


"Sialan Ran awas saja kamu. Kenapa Istriku harus PMS hari ini sih." Zhafran duduk diatas kloset sambil menenangkan hasratnya yang sedang bangkit.


Butuh sekitar 25 menit lalu dia mulai membasuh wajahnya dan menepuk pelan pipinya.


Keduanya bertemu dan tidak banyak bicara. Tapi karna takut bosan dan tidak mau membahas adegan film barusan. Daisy mengajaknya ke suatu tempat.


Mereka pergi ke Danau Bulan, tempat dimana pertama kalinya Zhafran melamar Daisy. Danau Bulan juga dilengkapi dengan restoran yang menyediakan seafood segar dan berkualitas.


Sangat pas karna Daisy sudah mulai merasa lapar.


Selain ada danau yang indah dan restoran, mereka juga menyediakan penginapan sederhana.


Di sekeliling restoran ada Danau Bulan yang menghiasi pemandangan di sekitarnya serta diterangi lampu yang menggantung di setiap tiang yang berdiri kokoh.


Keduanya masuk ke dalam restoran dan memilih untuk makan di meja yang berada diluar sambil menikmati pemandangan.

__ADS_1


"Suamiku tunggu sebentar ya, aku mau ke kamar kecil." Daisy pergi meninggalkan Zhafran yang tengah duduk sambil menikmati pemandangan.





Melinda sedang menunggu makan malam yang belum dihidangkan oleh pelayan, lalu datanglah Ryan dengan ekspresi kesalnya.


"Kamu mau apa? bisa tidak kalau mau bertemu denganku jangan memakai ancaman akan datang kerumah orang tuaku !!!" bentak Ryan.


"Aku cuma kangen sama kamu. Kita kan lama gak ke Danau Bulan. Ryan wajahmu kenapa?" Linda bangkit dari kursinya lalu memegang wajah Ryan yang membengkak.


"Bukan urusanmu, sekarang apalagi yang kamu mau?"


"Aku cuma kangen sama Suamiku. Masa tidak boleh? apa lukamu sudah di obati?"


"Kita sudah bercerai jangan lupa itu. Aku sudah mengobatinya, jadi jangan menyentuh wajahku."


"Perceraian itu kan hanya dari kamu. Bukan aku, jangan lupa siapa yang membunuh anak kita. Bisa - bisanya kamu mau meninggalkan aku. Tidak bisakah kita memulainya lagi. Kamu kan tau aku sangat mencintaimu."


"Kapan aku membunuh anak kita. Itu karna kelalainmu sendiri. Jangan pernah mengungkitnya semakin membuatku kesal. Cinta macam apa yang kamu berikan padaku? kamu selalu membuat masalah."


Ryan walaupun aku sekarang begini. Itu karna kamu yang tidak pernah bisa menerima dan menghargaiku. Itu karna kamu yang selalu membesarkan masalah dan selalu mengucapkan perceraian.


"Ryan aku sadar dengan semua kesalahan yang pernah kulakukan. Tapi tidak bisakah kamu benar - benar mengerti akan posisiku? tidakkah kamu penasaran kenapa aku bisa segila ini mengejarmu? tau kah kamu rasanya menikahi seseorang yang hatinya tidak bersamanu? aku tau kamu tau dan sadar karna posisi kita sama."


Ryan terdiam sejenak, semenjak dia menikah dengan Melinda. Selama pernikahan mereka jarang bicara dan semua yang Melinda lakukan selalu salah dimatanya. Bertahun - tahun mereka bersama Ryan hanya sibuk meratapi Daisy dari kejauhan.


"Sudahlah toh kamu tidak akan mengerti itu dan akan selalu berpikir aku hanya wanita boros dan kasar. Kalau tidak belanja aku bisa setres memikirkan rumah tangga kita. Setidaknya aku pernah berusaha, tapi apakah kamu sekali saja pernah berusaha untuk hubungan kita? tidak pernah kan."


Melanjutkan perkataannya," Kau tau anak kita meninggal bukan hanya karna salahmu. Tapi juga salahku. Sekarang duduklah aku sudah memesan makanan kesukaanmu."


Ryan tidak bicara, kemudian dia duduk sambil menatap wajah sendu Melinda.


"Kenapa belum datang sih, tunggu sebentar ya biar ku tanyakan pada pelayan." Melinda bangkit dari kursinya, dengan perasaan campur aduk dia hendak mendatangi pelayan.


"Bruuuk." Suara tabrakan ringan.


"Maaf Mba saya gak sengaja." Daisy menarik tangan wanita yang dia tabrak.


"Lain kali kalau jalan pakai mata dong." Linda menepis tangan Daisy yang hendak membantunya.


"Saya kan sudah minta maaf Mba. Kalau gitu saya permisi." Daisy hendak pergi, tapi ujung rambutnya di tarik kasar oleh Linda.


"Beraninya kamu langsung pergi gitu aja. Tanggung jawab dong sudah menabrakku. Tau sopan santun tidak sih?"


Merasa ada keributan, Zhafran menyusul Daisy lalu mendorong pelan Linda yang sedari tadi menarik rambut Istrinya."


"Nona jangan bertindak kasar." Zhafran mengeluarkan suara berat namun tegas.


Melinda kaget tapi dia merasa asing dengan lelaki di depannya. Tampilannya yang biasa membuat Linda semakin angkuh dan mengeluarkan kata kasar.


"Jadi sekarang sudah berganti pasangan ya? kemana lelaki tampan yang di Paris itu? kamu sudah ditinggalkan dan sekarang penggantinya gembel?"


Melanjutkan kalimatnya," Saya tidak ingat kalau kita pernah bertemu di Paris jadi jangan sembarangan bicara."


Merasa kesal, Melinda menarik tangan Daisy tapi dihentikan oleh Zhafran. Genggamannya kuat dan matanya penuh kebencian.


"Jangan menyentuh Istriku." Cukup dengan kalimat pendek membuat tangan Melinda bergetar menahan sakit.


Melepaskan genggaman eratnya pada Melinda, Zhafran menarik lembut tangan Istrinya untuk meninggalkan restoran tersebut, tapi Ryan muncul lalu memanggil DAISY.


Melinda yang mendengar nama perempuan yang dia benci selama 4 tahun tersebut menjadi geram, urat di sekitar lehernya mulai terlihat.


Melinda datang menghampiri Ryan yang mematung di samping pasangan tersebut.


"SUAMIKU sayang, kamu kenal perempuan itu?" Melinda dengan cepat merangkul Ryan yang masih diam mematung.


"Suami?" gumam Daisy pelan sambil menatap Melinda dan Ryan.


Lelaki ini tampilannya biasa, terlihat berbeda dari lelaki tadi siang yang menggendongnya. Apa dia orang yang sama? aku tidak begitu mengingat karna di hantam keras oleh lelaki lain yang bernama Ren, batin Ryan.


"Kenalkan Melinda adalah Istriku." Karna merasa kesal dan dendam, Ryan yang tadinya membenci Melinda. Justru mengenalkannya sebagai Istrinya.


Melinda yang mendengar kalimat dari Ryan langsung memasang senyum gembira. Dia tidak menyangka Ryan akan mengakui hubungannya di depan perempuan yang dia cintai.


Bagai tersambar petir, rasa sakitnya menusuk sampai ketulang. Perempuan 4 tahun lalu yang merebut tunangannya kini berdiri tepat di hadapannya. Selama 4 tahun Daisy tidak pernah tau wajah perempuan yang sudah merusak hidupnya.


Daisy dan Zhafran tidak menanggapi perkenalan tersebut. Melihat Istrinya terdiam tanpa kata, lantas membuat Zhafran khawatir.


Bukannya kamu bilang sudah bercerai atau itu hanyalah omong kosongmu?" Daisy menimpali dengan suara bergetar.


"Siapa yang bercerai? kami tidak pernah bercerai. Ternyata kamu perempuan gampangan yang mudah berganti pasangan ya. Malah sekarang bersama gembel." Melinda mulai membuat suasana menjadi panas.


Daisy apa kamu cemburu padaku, batin Ryan.


"Berganti pasangan? jaga bicaramu kalau tidak mau kutampar!!! bentak Daisy.


"Kalau ku ingat kamu pasti perempuan yang pernah mengejar Suamiku sambil menangis dan memohon seperti pengemis di depan rumah kami kan. Bahkan sampai memeluk Suamiku waktu itu. Tapi kita tanpa sengaja bertemu di Paris dan saat itu kamu bersama lelaki kaya lain, sayangnya aku tidak tau saat itu kalau kamu adalah perempuan 4 tahun yang lalu yang menggoda Suamiku."


Ryan geram mendengar kalimat Melinda tapi saat ini dia mengaku sebagai Suaminya. Mau tidak mau dia harus bertindak layaknya Suami. Jadi dia hanya membiarkan Melinda dengan omong kosongnya.


Sumbu api yang tadinya kecil kini membara melahap amarah yang di pendam Daisy selama 4 tahun.


"Plaaak." Daisy menampar keras pipi Melinda.


Merasa tidak puas, Daisy menampar lagi sebanyak 4 kali sambil menarik rambut panjang Melinda. Melindapun tidak sempat melawan.


"Lelaki disampingku lah yang selalu menemaniku. Saat di Paris pun aku juga bersamanya. Mata mu saja yang buta. Dia cuma mengganti style dan kamu bilang dia GEMBEL. Sialan berani menghina Suamiku."


Zhafran terhanyut oleh perkataan Daisy. Dia begitu senang di akui dan dilindungi oleh Istrinya.


"Sialan berhenti menamparku."

__ADS_1


Melinda menahan tangan Daisy, tapi dengan kuat Daisy mendorong Melinda sampai jatuh. Melinda seharusnya bisa melawan Daisy tapi pakaian yang dia kenakan adalah dress pendek yang membuatnya sulit bergerak apalagi memakai high hels tinggi.


Ryan tidak bergerak sama sekali dia membiarkan Daisy menampar Melinda. Baginya perempuan itu pantas mendapat tamparan.


Zhafran bukannya tidak mau menghentikan aksi Istrinya yang sedang menggila, dia hanya membiarkannya sejenak meluapkan emosinya.


Tapi melihat luapan emosi itu membuatnya sedih, dia bisa melihat dan merasakan sakit yang selama ini di tahan Daisy selama 4 tahun. Dia ingin memberikan tamparan keras pada kedua pasangan jahanam di depannya. Tapi dia tidak mau melukai seorang perempuan.


Merasa perang tersebut tidak kunjung reda dan makin banyak orang, Zhafran hendak menghentikan aksi liar Daisy.


Merasa kesal dan kesakitan Melinda mengambil gelas yang ada di sekitar meja makan lalu hendak melemparkannya pada Daisy. Melihat tindakan Melinda. Dengan sigap Zhafran memeluk Daisy untuk melindunginya. Namun gelas kaca sudah terlempar mengenai kepala Zhafran.


Ryan pun mencoba menarik tangan Melinda. Tapi gelas kaca sudah terlanjur melayang.


"Praank." Suara hantaman gelas dikepala Zhafran.


Merasa dirinya terluka, Zhafran berbalik lalu mencengkram leher Melinda dengan kuat.


"Aku tidak masalah terluka, tapi kalau sampai Istriku yang terluka. Mungkin besok kamu sudah tidak bisa menikmati indahnya mentari."


Daisy yang khawatir lalu memeluk Zhafran dari belakang," Suamiku ayo kita pulang, kamu terluka perlu di obati." Suara Daisy makin bergetar dia sangat takut karna kepala Zhafran mulai mengeluarkan darah segar."


Zhafran tenggelam dalam amarahnya sampai tidak mendengar suara Istrinya yang memanggilnya sedari tadi.


"Sayang lepaskan tanganmu dari perempuan itu jangan kotori tanganmu dengan menyentuhnya." Daisy membujuk lembut sambil memegang tangan suaminya.


Melinda merasa sakit, nafasnya tersendat dia tidak mampu melepaskan cengkraman dari tangan besar Zhafran. Ryan yang melihat kejadian barusan terdiam kaget. Tapi lamunannya pecah karna melihat Melinda yang tengah kesakitan.


"Lepaskan dia," ucap Ryan yang berusaha menolong Melinda.


Zhafran yang merasakan kehangatan dari tangan Istrinya kemudian melepaskan leher Melinda.


Daisy yang hendak meninggalkan restoran, menghentikan langkahnya lalu berkata dengan lantang sambil menatap Melinda," Kita berdua adalah sesama perempuan, tapi yang membuat kita berbeda adalah aku tidak akan pernah merebut kebahagiaan perempuan lain, entah apapun alasannya. Aku ucapkan selamat atas pernikahan kalian, maaf kalau terlambat. Tapi percayalah aku tidak tertarik untuk mengganggu hubungan kalian."


"Satu hal lagi bercerminlah, aku tidak akan mau menggoda lelaki yang sudah beristri."


Manajer dan beberapa pelayan serta security sudah datang dan membubarkan keramaian tersebut.


Begitu juga dengan Ren dan Ran yang datang terlambat memasang ekspresi kesal penuh amarah.


Si kembar mulai memikirkan berbagai macam cara kejam untuk membalas kedua makhluk jahanam tersebut. Seumur hidup baru kali ini si kembar merasa tak berdaya dan tidak mampu melindungi Tuannya. Di benak mereka hanya ada amarah dan penyesalan. Mereka siap menebus kesalahan dan kelalaian malam ini. Ran juga sudah menghubungi Dokter Farhan agar datang dan memeriksa Zhafran.


Pertikaian diantara mereka berempat berakhir. Daisy dan Zhafran masuk ke dalam mobil, membiarkan si kembar mengurus sisa masalah yang disebabkan oleh mereka.


Daisy mengobati kepala Zhafran yang terluka setelah mendapat kotak P3k dari Ren.


"Suamiku ayo kita ke Rumah Sakit." Daisy memasang perban sambil menangis.


"Lukanya mungkin tidak terlihat parah tapi tetap harus di periksa dan mendapat perawatan. Maafkan aku, seandainya kita tidak pergi ke restoran dan bertemu dengan mereka mungkin..." Daisy mulai meneteskan air mata, suaranya tersendat karna tangisan.


Melihat tangisan membasahi pipi Istrinya, membuat Zhafran sedih, hatinya terasa sakit teriris.


"Istriku maaf aku tidak bisa melindungimu. Maaf kamu selalu meneteskan air mata saat bersamaku."


Zhafran memeluk erat tubuh Daisy, diraba pelan punggung istrinya. Tubuhnya kecil tapi menyimpan banyak luka, semakin membuat Zhafran iba dan merasa bersalah.


Membalas pelukan Zhafran," Bodoh, seharusnya aku yang minta maaf. Kenapa kita selalu bertemu mereka. Aku tidak tau apakah ini takdir atau Tuhan sedang marah padaku." Balas Daisy memeluk erat tubuh Suaminya. Badannya yang besar bisa menutupi tubuh Daisy yang kecil.


"Apa kamu cemburu padanya?" tanya Zhafran khawatir, mengingat reaksi Daisy saat mengetahui Melinda adalah Istri Ryan.


"Aku tidak cemburu. Aku hanya marah. Rasa sakit 4 tahun lalu muncul kembali. Bukan karna aku tidak ikhlas tapi aku berjuang keras untuk move on dan melanjutkan hidupku. Tapi perempuan yang menghancurkan mimpiku ternyata ada di depan mataku. Siapa yang tidak kaget."


"Beginilah aku dengan masa laluku, apakah kamu masih mencintaiku?"


"Mau seperti apa masa lalumu aku tidak perduli. Sekarang aku adalah masa depanmu. Ingatlah aku adalah Suamimu. Cukup pandang aku jangan pernah berpaling dariku."


"Aku mencintaimu Suamiku."


"Aku lebih mencintaimu Istriku."


"Suamiku, jangan buka celanaku."


"Maaf, aku lupa. Tapi bagaimana aku sudah terlanjur bangkit." Zhafran merasa kepalanya semakin sakit.


"Biarkan aku membantumu. Kamu cukup menikmatinya, kali ini biarkan aku yang memuaskanmu." Daisy mulai membuka kancing celana Zhafran.


"Tapi setelah ini kita ke Rumah Sakit ya." Daisy melanjutkan kalimatnya.


Malam itu mereka menghabiskan waktu di dalam mobil sambil menikmati indahnya rembulan.


Seandainya malam itu bukanlah masa periode Daisy mungkin mereka akan menikmati malam panas bergairah di dalam mobil.


Cuplikan Bab selanjutnya


"Istriku, maukah kamu menemaniku ke acara ulang tahun pernikahan rekan bisnisku sekaligus pertemuan penting minggu ini?"


"Saya akan menjemput Nyonya nanti sore. Ran jangan lupa persiapan kita. Apa kamu sudah menyiapkan dress dan beberapa aksesoris lengkap lainnya?" perintah Ren dengan penuh semangat.


Bersambung.


Bonus :


Author lagi ngetime bareng sama si kembar.


Author : Mau sampai berapa kali pasutri kesayanganku langganan masuk Rumah Sakit.


Awas kalian makhluk jahanam akan di balas sama si kembar


Ren : Kan aku sudah bilang Thor jangan biarkan mereka pergi berdua saja. Lihatkan akhirnya Tuanku terluka.


Ran : Tapi ini permintaan Nyonya yang ingin kencan normal, setidaknya kita bisa mengikutinya diam - diam dari kejauhan jadi Nyonya tidak akan sadar.


Author : Terserah kalian !!! Makanya kalau ngekor jangan kejauhan, malah ngajakin authornya ngetime kopi latte jadi gak sempat nolongin mereka kan. Gitu nyalahin author. Ciiih !!!


Readers yg baik hati jangan lupa Vote, Komen dan Like nya + klik ❤ favorite.

__ADS_1


Terima kasih atas segala dukungannya dan selalu setia membaca cerita receh ini. Maaf kalau ceritanya membosankan aku pertama kalinya bikin cerita romantis tapi kayaknya gak romantis.


Masih gak puas? ini 3 bab aku bungkus jadi 1 bab. Jahat kalau masih belum koment & Vote 😑


__ADS_2