
Menggendong Istrinya bagai seorang Putri Tidur Disney membuat sebagian orang iri dan berdecak kagum. Belum lagi di jemput helikopter mewah di acara meriah yang di selenggarakan panitia reuni.
Betapa kaget dan takjubnya Daisy ketika di sambut seorang pilot wanita cantik yang ternyata adalah Ran yang berprofesi sebagai asisten suaminya.
Setelah Bibi, kemudian Daisy menjadi lebih penasaran dengan si kembar. Asisten macam apakah si kembar tersebut, begitu pula dengan Suaminya yang tiba - tiba datang dan menjemputnya menggunakan helikopter. Daisy tidak tau jenis helikopter apa yang dia naiki, tapi satu hal yang dia tau alat transportasi tersebut sangatlah mahal.
Dia hendak bertanya tapi mengurungkan niatnya karna melihat tatapan dingin suaminya.
Namun fokus Daisy teralihkan dengan suasana senja di langit. Dia mulai lupa peristiwa yang barusan terjadi. Sudah lama semenjak dia bisa menikmati panorama indah di sore hari. Menatap terangnya jingga membuatnya teringat akan moment dimana banyak menyimpan kenangan mendalam.
Daisy menutup kedua matanya muncul sesosok gadis dari beberapa tahun lalu bernama Hana yang dia rindukan dalam ingatannya. Memang pertemuan yang singkat tapi membekas. Dia membuka matanya kembali seakan ingin meraba jingga namun tidak tersentuh, pantulan sinarnya mampu menghangatkan hati dan memberikan sebuah rasa.
Melihat Istrinya diam sambil menatap langit jingga dari balik jendela, Zhafran kemudian menggenggam erat tangan Daisy. Sadar akan suhu dingin dari telapak tangan suaminya, Daisy berbalik lalu tersenyum manis.
Setibanya di Rumah Sakit
Rumah Sakit Fyaga Medical salah satu Rumah Sakit terkenal dan bangunannya paling besar di lengkapi tempat landasan mendarat helikopter untuk memfasilitasi bila ada pasien jarak jauh atau pasien yang mendadak terkena serangan jantung bisa di bawa menggunakan helikopter.
Tidak seperti bangunan Rumah Sakit pada umumnya, selain ada tempat landasan helikopter juga ada ruang khusus pusat kebugaran, sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesehatan pengunjung serta masyarakat.
Ketika sampai di Rumah Sakit, kedatangan mereka langsung di sambut oleh Dokter Farhan.
Daisy yang hendak turun langsung di gendong lagi oleh Suaminya. Sepanjang perjalanan menuju ruangan yang kini sudah menjadi ruang khusus untuk dirinya ketika di rawat.
Zhafran tidak banyak bicara dia hanya menemani Daisy dari kejauhan sambil mendengarkan penjelasan Dokter Farhan.
"Sebaiknya Nyonya lebih banyak istirahat, karna banyak faktor pingsan ketika Premenstrual Syndrome (PMS), salah satunya anemia suatu keadaan dimana terjadi keadaan kurangnya darah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh, dimana komponen darah yang ada tidak memiliki kadar hemoglobin yang cukup. Akhirnya mengakibatkan tubuh cepat lelah, pusing, dan penglihatan kunang-kunang. Kalau masih khawatir kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tapi sebaiknya jaga mood Istrimu jangan membuatnya kesal atau sedih karna akan berpengaruh buruk pada kesehatannya."
Merasa paham apa yang dimaksud Farhan. Terbesit pikiran, mungkin saat dia pergi mendadak, membuat Daisy sedih dan kecewa sehingga berpengaruh pada kesehatannya.
Setelah percakapan singkat diantara keduanya. Farhan berpamitan meninggalkan mereka karna masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
Dia mendekati Istrinya yang sedang berbaring sambil mengobrol dengan Ran dan Bibi Yum.
Ran yang sejak tadi mulai mengupas buah jeruk. Juga ada beberapa buah lain seperti pisang dan semangka yang sudah dibawakan oleh Bibi Yum.
"Kenapa kalian bawa banyak buah mana sanggup aku memakannya." Daisy mulai memakan buah jeruk yang sudah di kupas oleh Ran.
"Nyonya kesehatan anda itu sangat penting. Ini demi masa depan Tuan dan Nyonya." Ran menghentikan jarinya mengupas jeruk lalu mulai duduk santai bersandar diatas sofa.
Untuk masa depan kalian Nyonya. Bibit yang unggul perlu di tanam di lahan yang subur, batin Bi Yumi yang sedari tadi menyimak Ran dan Daisy mengobrol.
Zhafran kemudian duduk disamping ranjang pasien lalu mengambil jeruk dan menyuapi Istrinya. Tidak bisa menolak Daisy pun menerima suapan dari Suaminya dengan malu - malu.
"Apa masih sakit?" tanya Zhafran khawatir sambil memegang tangan Daisy lalu menciumnya.
"Hanya kram kok, aku sudah biasa sakit saat PMS. Tapi ini pertama kalinya aku sampai pingsan. Maaf selalu merepotkanmu. Sampai datang menjemputku, padahal kamu sedang bekerja."
__ADS_1
"Jangan pernah berkata seperti itu. Harusnya aku bisa mengatur waktu lebih baik lagi." Zhafran mulai meraba perut Daisy lalu memijat pelan dengan krim pereda sakit.
Daisy ingin menghentikan gerakan lembut dari tangan dingin Suaminya. Tapi melihat tatapan penyesalan dari Zhafran membuatnya pasrah dan dengan ikhlas menerima kasih sayang Suaminya.
Melanjutkan kalimatnya," Pamanku datang mendadak. Tapi suatu saat nanti kita akan bertemu dengan keluargaku. Jadi jangan khawatir lagi, fokus saja pada kesehatanmu." Zhafran kemudian mencium kening Daisy.
Padahal aku mau bertanya. Tapi dia langsung menjelaskannya, kenapa dia sangat peka sih. Membuatku tidak enak saja. Tapi lega rasanya.
"Terima kasih." Daisy memasang senyum indah di bibirnya membuat Zhafran semakin menyukainya.
"Kamu sangat cantik hari ini Istriku. Bagaimana kalau kita kencan lagi malam ini."
"Sungguh mau berkencan denganku? bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Percayalah aku sudah menyelesaikannya. Jadi jangan khawatir lagi."
"Baiklah kalau begitu. Zhafran kenapa kamu tidak marah atau bertanya mengenai masa laluku dan juga kejadian barusan...?"
"Apa yang perlu di tanyakan? harusnya aku menemanimu tapi malah membiarkanmu pergi tanpaku. Sebagai Suami harusnya aku lebih menjagamu. Mengenai masa lalumu bukannya aku tidak mau bertanya, aku hanya menunggumu siap. Sudah aku katakan sebelumnya aku tidak akan memaksamu."
Zhafran tidak mau membuka luka jadi dia tidak menanyakan apapun pada Daisy. Dan garis besarnya dia juga sudah tau dari Ren dan Rose. Hanya menunggu sampai Daisy siap dan menceritakannya.
Hati Daisy tersentuh ingin rasanya dia berteriak bahagia. Betapa lembut dan pekanya Zhafran padanya. Setiap masalah yang menimpanya, ada Zhafran yang selalu mendampinginya tanpa pernah menuntut apapun.
Bahkan tidak pernah menanyakan masa lalunya.
Tapi menghormati dirinya yang tidak ingin membuka kenangan lama dan fokus menatap masa depan.
Sejauh ini Daisy mulai perlahan membuka sedikit hatinya dan berani menceritakan masalahnya dengan Ryan saat di restoran.
Tumbuh niatan di hati kecilnya untuk membawa Zhafran bertemu dengan Ayahnya dan menceritakan masa lalunya pada Zhafran.
Melihat aksi mesra atasannya membuat Ran ikut merasa senang lalu dia mengirim pesan pada Ren yang sibuk mengurus dan menyelesaikan masalah yang terjadi tadi siang.
📩"Bagaimana disana Ren, apa butuh bantuanku?"
📩"Bantuan apa? biasanya kalau kamu ikutan akan memperbanyak tugasku saja. Sebentar lagi selesai, aku juga sudah menutup mulut media dan tamu reuni serta orang - orang yang menyaksikan kejadian barusan."
📩" Adik kecilku memang cepat tanggap hahaha. Tadi Nyonya menceritakan masalah roti basah hahaha kalian sungguh lucu. Baiklah kalau begitu aku yang akan mengurus kerja sama dengan Arsena Grub."
📩" Serahkan saja semua padaku Ran. Biar sekalian ku selesaikan. Jaga saja Nyonya dan berhenti tertawa."
📩"Ya sudah kalau begitu. Malam ini Tuan mau berkencan lagi dengan Nyonya, sepertinya aku harus mengatur semuanya dengan sempurna. Kalau begitu sampai jumpa Ren."
•
•
•
__ADS_1
Di sisi lain di kediaman Ryan.
Ryan menatap lukisan dengan perasaan campur aduk. Perempuan yang dia nantikan selama 4 tahun ternyata sudah menikah. Bahkan hari ini dia bertemu dengan seorang lelaki yang mengaku sebagai Suaminya lalu menggendong Daisy pergi melewatinya.
Hubungan kerja sama yang di mulai Ayahnya bersama I&T Corporation juga sudah di batalkan. Dia pun harus siap menjelaskan masalah tersebut pada Ayahnya nanti.
"Kenapa semuanya berantakan. Kenapa Daisy menikah dengan lelaki lain. Kenapa dia tidak mau menerima penjelasan dariku. Apa dia sungguh sudah tidak mencintaiku lagi. Sedikit saja berikanlah aku kesempatan untuk memperbaikinya Daisy."
Suara teriakan Ryan memecah keheningan di dalam studio yang sepi dan penuh dengan lukisan seorang perempuan yang dicintainya.
"Apa perlu aku menculikmu lalu mengikat erat tubuhmu agar tidak menjauh pergi dan tetap berada disiku seperti dulu." Ryan berkata pelan sambil meraba lukisan yang ada di hadapanya.
•
•
•
Sesampainya di Hotel Atson
Melinda Rivaldo baru saja tiba di bandara dari liburannya saat di Paris, sambil menarik koper besarnya lalu menaiki taksi, kemudian menuju Hotel Atson untuk menginap. Setibanya di Hotel Atson dia langsung merebahkan tubuhnya sambil menatap layar ponsel yang dia pegang.
Kenapa belum ada balasan email atau panggilan telpon dari I&T Corporation. Haiss mengesalkan saja.
"Ryan aku kangen kamu. Apa kamu masih mengejar mantan tunanganmu itu? bagaimana kalau aku memberinya kejutan dengan datang menemuinya. Hahaha pasti dia akan marah. Hanya dengan shopping perasaanku menjadi lebih baik. Kalau masih tidak bisa kembali dengan Ryan aku butuh pengganti yang lebih baik," gumamnya pelan.
@Sammy
Nama : Melinda Rivaldo
Usia : 26 tahun
Hobi : Shopping
Makanan Kesukaan : Salad
Minuman Kesukaan : Jus tomat
Bersambung.
Note :
Yang tanya kenapa belum update, maaf dari tadi siang masih review. Ku tuangkan imajinasi liarku ke dalam naskah ini dan pengerjaannya dengan Suka Rela. Jadi silahkan berikan dukungan yang baik dan benar dengan tetap menyemangati authornya. Kenapa aku selalu note Vote, Like, dan Komen karna cuma dari situ aku mendapat asupan nutrisi untuk melanjutkan cerita ini.
Readers yg baik hati jangan lupa Vote, Komen dan Like nya + klik ❤ favorite.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.
__ADS_1