
Cukup lama sampai Ryan memberanikan diri untuk menelpon Daisy.
"Kenapa gak diangkat? harusnya belum tidur jam segini kan. Apa masih bekerja." Ryan terus mencoba menelpon Daisy tapi tidak ada jawaban, akhirnya dia berhenti dan bersiap untuk kembali kerumah.
Setibanya di rumah.
Ryan menuju ruang kerja papinya.
"Kenapa kembali kerumah?"
"Pi Ryan akan fokus kerja di Perusahaan kita."
"Kamu yakin?"
"Beri kesempatan buat Ryan."
"Baguslah kalau begitu kamu yang urus kerja sama kita dengan I&T Corporation, kalau sampai berantakan jangan panggil lagi dirimu Keanubroto."
"I&T Corporation?"
Sungguh kebetulan yang hakiki.
"Kenapa? kalau gak sanggup bilang saja. Bukankah kamu ada pergelaran seni 2 bulan lagi?"
"Ryan mau bantu papi lagian cuma pergelaran seni kok, kan ada asistenku yang mengurus."
"Ryan sini duduk sama papi."
"Iya pi."
"Nak papi harap kamu benar-benar serius kali ini. Jangan libatkan urusan pribadi dan pekerjaan, kau tau kan keluarga kita cukup terpandang. Papi sudah banyak menanggung malu karna perbuatanmu di masa lalu. Dan juga apa kamu sudah mengunjungi Ayahnya Daisy?"
"Ryan janji pi akan memperbaiki semuanya. Belum, Ryan takut kalau beliau akan...."
"Ryan jadi kamu belum tau apa tidak mau tau?"
"Maksud papi?"
"Ayahnya Daisy sudah meninggal."
"Kenapa gak ada yang kasih tau Ryan?"
"Apa kamu lupa betapa bodonya kamu waktu itu, meninggalkan tanpa kabar pada kami, bahkan memutuskan komunikasi. Kamu yang pergi Ryan, kamu yang lari dan menghindar nak."
Ryan diam mematung, tidak bergeming hanya duduk lemas tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Maafkan Ryan pi. Tapi tolong jangan bercanda, kapan beliau meninggal?"
"4 tahun yang lalu 2 minggu setelah kamu meninggalkan Daisy."
"Daisy....Daisy pasti sangat terluka pi..Ryan..Ryan gak tau itu dan meninggalkan dia sendirian." Ryan menunduk, tangannya menahan kepalanya di atas pahanya. Air mata mulai keluar membasahi pipinya.
"Sudahlah lebih baik besok kamu ke makamnya minta maaf yang benar pada beliau. Dan ini dokumen kerja sama kita, ada proyek penawaran dari mereka mengenai logo baru untuk perusahaan kita, dan beberapa hal penting lainnya."
"Ryan akan pelajari berkasnya, Selamat malam pi." Ryan keluar ruangan dan kembali kekamarnya.
Di kamar Ryan sambil membaca berkas.
"Om maafin Ryan gak bisa jaga Daisy, bahkan Ryan ninggalin Daisy saat dia lagi membutuhkan Ryan. Kali ini Ryan janji gak akan pernah melepaskan Daisy, Ryan akan jaga Daisy seperti dulu."
-
-
Di Paris ( Hotel ) Daisy dan Zhafran di waktu sebelum nya.
"Daisy ayo kita hemmm."
__ADS_1
"Hemmmm apa?"
Zhafran mencium bibir Daisy dengan penuh gairah, tangannya mulai meraba tubuh Daisy.
"Zhafran aku duluan ya, aku mau mandi terus tidur."
Zhafran berdiri lalu menarik Daisy menuju shower mereka berdua berdiri saling menatap tanpa kain sehelai pun.
"Zhafran aku bisa mandi sendiri."
Zhafran diam tidak menjawab, dia menyalakan air shower sampai membasahi rambut keduanya. Zhafran menciumnya kembali sampai tubuh Daisy mepet dengan dinding kaca yang ada dibelakangnya.
"Ayo kita lakukan," ajak Zhafran yang mulai menegang menahan gairahnya.
"Aku..aku malu." Daisy menutup wajahnya padahal tubuhnya sudah tidak memakai apapun.
Zhafran semakin memepetkan tubuhnya pada Daisy, merasakan ada sesuatu yang menonjol membuat Daisy makin lemas tidak bisa melawan, merekapun melanjutkan malam panas penuh bergairah.
Setelah beberapa jam selesai mandi Zhafran mengangkat Daisy yang di baluti handuk kecil yang hanya menutupi sebagian tubuh mereka.
Sambil duduk Zhafran membantu Daisy mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Daisy apa masih sakit?"
"Hemmm."
"Padahal aku sudah melakukannya dengan pelan."
"Pelan apanya kamu bringas gitu mana besar banget."
"Sewaktu awal kita melakukan apakah juga sesakit ini ? ya maaf kalau besar, jadi kamu suka yang kecil?"
"Ya sakitlah apalagi waktu itu kita bermain sampai pagi. Itukan pertama kalinya untukku. Kenapa kamu nanya hal tabu kaya gitu sih, aku suka kok mau bentuk nya gimana aku sudah terlanjur suka sama orangnya juga."
"Aku tau kok kalau aku orang pertama yang heem. Jadi kamu suka punyaku?"
Aku yang malu kalau kita bahas itu terus.
[ Dering ] Suara Hp Daisy.
"Kalau gak puas aku bisa kasih lagi kok, mau lihat?"
"Awas kalau berani buka handukmu, bentar ada yang nelpon."
"Sudah malam begini siapa yang menelponmu?"
Daisy mengambil Hpnya dari dalam tas.
"Ada 50 panggilan tidak terjawab tapi nomor baru, apakah penting ya."
"Mungkin keluargamu, coba telp balik siapatau penting."
"Baru mau telpon Hpku mati, harus charger dulu.
Gak mungkin keluargaku.
"Yasudah kita lanjutkan lagi bagaimana?"
"Gak mau aku mau tidur."
Akhirnya mereka tidur dan melupakan panggilan telpon tersebut.
-
-
Keesokan harinya
__ADS_1
Saat ini di kediaman Ryan.
"Ryan sudah rapi mau kemana?"
"Mau ke makam mi."
"Hat - hati yah Ryan."
Ryan sudah berangkat ke makam dengan menyetir mobilnya.
"Ryan kemana mi?"
"Ryan ke makam pasti ke makam ayahnya Daisy."
"Biarkan saja, biar dia tau kesalahannya. Semalam Ryan bilang mau bantu papi di Perusahaan."
"Serius pi? syukurlah sepertinya dia sudah mulai membaik."
"Semoga saja mi. Kasihan juga dia terlalu banyak beban yang dia tanggung. Papi mau berangkat ke kantor, sampaikan sama Ryan nanti nyusul ya."
Di makam.
Ryan melihat makam ayahnya Daisy. Dia menaburkan bunga dan menyiramnya dengan air sambil meneteskan air mata. Setiap kata yang terucap dari mulutnya hanyalah permintaan maaf dan penyesalan.
Tidak lama kemudan ada seorang lelaki tua di belakang menyapanya.
"Lama tidak berjumpa Tn. Ryan."
"Tomo. Kamu."
"Sejak kapan Tn. Ryan berada disini?"
"Baru saja. Maaf ya baru bisa datang ke makam ayah mertua."
"Tn. Ryan tolong jangan panggil beliau ayah mertua, atau saya akan menghantam wajah anda ke batu nisan yang ada didepan mata anda."
"Tomo aku bisa menjelaskan kejadian 4 tahun lalu."
"Tn. Ryan tolong kita sedang di makam. Jangan membuat keributan, sebaiknya anda segera pergi. Dan tolong jangan muncul dihadapan Nona Daisy lagi, sekarang dan selamanya."
"Percuma saja mau menjelaskan pun kamu pasti akan mengusirku. Tapi ingat Tomo aku tidak akan menyerah."
Ryan pergi dengan langkah kaki yang berat, tidak hanya Rose, seorang asisten dari ayahnya Daisy si Tomo juga mengabaikannya. Padahal di masa lalu mereka cukup dekat.
Setelah mendapat chat whatsapp dari maminya, Ryan bergegas ke Perusahaan Arsena Grub.
"Gimana kamu sudah paham? bisa ambil alih proyek kali ini?"
"Sudah paham Ryan semalaman mempelajarinya."
"Ini kenalkan sekretaris papi namanya Farel, kalian akan bekerja sama dia juga akan memandumu, kamu akan bertanggung jawab sebagai bisnis manajer, ingatlah tugas pokok dan tanggung jawab perencanaan bisnis di perusahaan kita. Oh iya jangan bilang pada siapapun kamu adalah anakku disini, papi gak mau pegawai jadi tidak kondusif bekerja dan sibuk cari muka padamu."
"Manajer ya. Baiklah gak masalah pi, percayakan pada Ryan. Pak Farel perkenalkan saya Ryan." Mereka berdua berjabat tangan. Setelah itu mereka keluar ruangan.
"Pak Ryan silahkan meja anda ada disini."
"Terima kasih, jadi kapan kita mulai dengan I&T Corporation?"
"Masih 2 minggu lagi, jadi kita masih ada waktu. Sekarang lebih baik kita memperkenalkan diri anda pada pegawai lainnya."
Daisy tunggu aku, kita akan bertemu sebentar lagi.
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca sejauh ini.
Jangan lupa berikan asupan nutrisi berupa
__ADS_1
Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Rate Bintang Lima