
Part I
Jangan lupa Vote, Like, Komen, Rate, dan Klik ❤
Sebelum kita melanjutkan pertemuan Daisy dan Ryan di bab sebelumnya silahkan simak masa lalu Daisy.
Di harapkan pada para pembaca untuk menikmati kisah kali ini dengan fokus atau mungkin sambil meminum teh hangat ditemani dengan beberapa cemilan manis.
-
-
Daisy Qirani Alfaris lahir dari seorang ibu berusia 16 tahun bernama Qiran, dan ayahnya bernama Raynold Alfaris kala itu dia sudah berusia 30 tahun. Di jaman itu perbedaan usia bukanlah hambatan untuk merajut asmara dan memulai pernikahan.
1 tahun kemudian lahirlah seorang bayi manis nan menggemaskan yang akhirnya di beri nama Daisy Qirani Alfaris, kehidupan mereka begitu harmonis. Namun karna suatu rahasia yang di simpan ayahnya terbongkar akhirnya kehidupan harmonis yang penuh kebahagiaan tersebut perlahan menjadi panas dan kedua orang tuanya sering bertengkar.
"Kenapa kamu gak bilang kalau kamu sudah pernah menikah bahkan sudah punya anak bersama wanita itu? kenapa kamu membohingiku?" Qiran berteriak histeris dan melemparkan perabotan rumah di hadapan Daisy yang saat itu masih berusia 5 tahun.
"Aku tidak pernah berbohong, aku hanya tidak mau membuka luka lama." Ray berusaha menenangkan istrinya yang sudah mengamuk, lalu dia membawa Daisy kekamar dan mengunci pintu kamar agar anaknya tidak melihat pertengkaran tersebut.
"Tetap saja harusnya aku tidak menikah denganmu." Qiran tetap marah bahkan melempar remot tv ke arah Ray.
"Dengarkan aku istriku, baiklah aku salah. Aku memang pernah menikah tapi itu jauh sebelum mengenalmu, kami juga sudah bercerai. Kenapa kamu tidak bisa memakluminya." Ray masih dengan lembut membujuk Qirana.
Qiran menangis dia tidak bisa berpikir dengan jernih, harusnya dia tidak semarah itu, karna suaminya sangat mencintainya dan bukannya selingkuh hanya pernah menikah. Tapi dia merasa di bohongi apalagi mengetahui suaminya punya anak laki-laki berusia 10 tahun.
"Sayang aku minta maaf, ku mohon jangan mengamuk lagi kasihan Daisy." Ray kemudian memeluk Qiran yang duduk lemas sambil menangis.
"Aku tau aku salah tapi aku sudah lama bercerai, aku bahkan tidak tau kalau aku punya anak bersamanya. Aku tidak pernah bermaksud membohongimu."
Qiran mengabaikan Ray, lalu dia masuk ke kamar tamu dan mengunci kamarnya.
Ray menuju kamar tidur utama untuk melihat Daisy.
"Daisy sayang ayo kita makan." Ray menggendong Daisy menuju ruang makan.
"Ibu kemana? kenapa dia menangis?" tanya Daisy.
__ADS_1
"Ibu sedang sakit, jadi kita jangan mengganggunya."
Butuh waktu tapi lambat laun Qiran mulai membaik dan bisa menerima kondisi suaminya, tapi dia membuat perjanjian agar Ray tidak akan pernah membahas ataupun bertemu dengan mantan istrinya dan juga anak lelakinya. Daisy pun tidak tau kalau dia punya saudara laki-laki.
Beberapa tahun kemudian Qiran berubah menjadi ibu yang sangat tegas dan disiplin, ketika Daisy sedikit saja melakukan kesalahan dia akan mendapat tamparan keras dari ibunya, bahkan Qiran tidak segan memukul anaknya dengan penggaris ataupun menampar pipinya.
Walaupun begitu Qiran masih menyayangi Daisy, dia merasa inilah didikan yang tepat untuk anaknya agar tidak menjadi seperti ayahnya dan menjadi anak gadis yang sempurna.
Hari itu anak-anak seusia Daisy sedang bermain di halaman rumah. Daisy tidak sengaja membuat anak tetangga menangis. Sudah hal biasa kalau anak-anak bertengkar dan orang tua mereka yang menyelesaikannya apalagi waktu itu Daisy masih 10 tahun sudah hal wajar anak seusianya bandel dan berbuat kesalahan.
"Bu Qiran tolong Daisy di tegur, dia sudah buat anak saya menangis."
"Ya ampun maaf Bu nanti saya akan hukum dia."
Setelah percakapan antara kedua orang tua tersebut, Daisy ditarik paksa ibunya pulang kerumah lalu menamparnya dengan keras.
"Kan ibu sudah bilang jangan nakal kok beraninya masih berbuat ulah, ayo minta maaf sekarang." Qiran masih memukul telapak tangan Daisy dengan penggaris.
"Ibu maaf jangan pukul lagi itu sakit." Daisy menangis dengan keras, tubuhnya sering lebam.
Seiring waktu Daisy menjadi kebal akan kekerasan ibunya, walaupun dia mendapat pukulan atau tamparan tidak lantas membuatnya menangis justru dia mulai berubah menjadi lebih pendiam dan pemendam.
5 tahun kemudian Qiran melahirkan putri kedua, di beri nama Sindy Qirani Alfaris. Sejak saat itu hari - hari Daisy mulai berubah, ibunya menjadi sedikit lebih hangat dan melunak. Daisy juga sangat senang mendapat adik kecil yang manis dan lucu.
Sindy sangat manja dengan Daisy, bagi Sindy kakaknya adalah supergirl karna selalu melindungi Sindy dari kemarahan ibunya. Beruntungnya Sindy ketika dia berbuat ulah, Qiran tidak melakukan tindakan kasar tapi hanya memberi omelan dan gertakan selayaknya orang tua pada umumnya.
Beberapa tahun kemudian Daisy masuk SMA dia tumbuh menjadi remaja yang cantik dan berkepribadian hangat, siapa sangka kalau semasa kecil dia sering mendapat perlakuan kasar dari ibunya. Terkadang dia bersukur seandainya ibunya tidak mendidiknya dengan keras mungkin dia tidak akan berprestrasi seperti sekarang. Tapi tetap saja ada luka yang berbekas di hatinya.
Saat SMA dia juga mendapat sahabat yang selalu ada di sisinya yaitu Rose. Daisy adalah tipe yang sulit dekat dengan orang lain. Dia sangat selektif dan jarang ada yang bisa cocok dengannya, bukan berarti dia tidak mau berteman.
Ketika perjalanan menuju sekolah Daisy yang sering mengendarai sepedanya tidak sengaja menabrak seorang anak lelaki yang baru pindah ke sekolahnya.
"Aduh maaf aku gak sengaja." Daisy mendekati lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.
Lelaki itu menatapnya dengan dingin tapi dia juga tidak mengabaikan Daisy.
"Lain kali hati - hati." Lelaki itu kemudian berjalan melewati Daisy.
"Hei tunggu dong ayo kita ke sekolah bareng, sini kamu biar aku gonceng." Tanpa ragu Daisy mendekati lelaki itu.
__ADS_1
"Mana kuat kamu gonceng aku pakai sepeda ontel begitu.
Harusnya kan aku yang gonceng bukan dia, nih cewek lucu amat sih.
"Yauda kalau gitu kita jalan bareng."
Sebenarnya aku gak mau sok akrab tapi aku gak enak sudah nabrak dia tadi.
"Oh iya kita belum kenalan kan, namaku Ryan. Nama kamu siapa?"
"Aku Daisy."
Setelah itu mereka berdua menjadi cukup dekat, bahkan Ryan mulai menaruh hati pada Daisy. Daisy yang sebelumnya belum pernah mendapat kehangatan dan perhatian akhirnya menjadi luluh oleh Ryan kemudian mereka memutuskan untuk menjalin kasih.
Sampai pada akhirnya mereka lulus SMA dan kuliah di Universitas yang sama, keduanya membucin dan semakin dekat.
Setiap kali Daisy ulang tahun selalu ada Ryan dan Rose yang memberinya hadiah dan kejutan, bahkan saat Daisy sakit Ryan lah yang selalu ada dan menjaganya. Melihat ketulusan Ryan, Ibunya Daisy yang pada awalnya tidak mau anaknya pacaran saat masih sekolah akhirnya merestui mereka.
"Sayang besok kerumahku mau gak? ada acara keluarga sekalian aku mau ngenalin kamu sama papi dan mami." Ryan dan Daisy sedang berada di bawah pohon dekat halaman belakang kampus, mereka sering menghabiskan waktu istirahat disana.
"Aku malu gak siap ketemu orang tua kamu." Daisy menyenderkan kepalanya di bahu Ryan.
"Mami penasaran banget sama kamu soalnya aku sering cerita, ayolah besok aku jemput ya."
"Kamu cerita apa saja ke mamimu? memangnya acara apa sih?"
"Rahasia dong heheh. Acara ulang tahun pernikahan."
Ryan mencubit gemas pipi Daisy lalu berlari dan Daisy mengejarnya.
"Kalau gitu aku harus nyiapin kado dong."
"Gak usah juga gak papa yang penting kamu datang mereka sudah senang kok."
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.
Jangan lupa berikan asupan nutrisi biar authornya makin semangat berupa Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Full Rate.
__ADS_1