My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.43 - Kegalauan Ryan


__ADS_3


Part III


Jangan lupa Vote, Like, Komen, Rate, dan Klik ❤


Sebelum kita melanjutkan pertemuan Daisy dan Ryan di bab sebelumnya silahkan simak flashback singkat. Sekali lagi saya ingatkan ini hanyalah serpihan masa lalu Daisy.


Kelulusan Daisy dan Ryan menjadi momen yang sangat berharga karna setelah itu menjadi acara pertunangan sederhana yang membahagiakan.


Beberapa minggu sudah berlalu, Ryan sudah berada di Amerika sedangkan Daisy membantu ayahnya di perkebunan bersama Tomo.


Setiap hari keduanya selalu berkomunikasi lewat telpon dan mengirim sms. Dikala libur Ryan tidak bisa menemui Daisy karna padatnya tugas di kampusnya. Begitu pula dengan Daisy yang tidak bisa meninggalkan ayahnya yang mulai sering sakit-sakitan.


Daisy berharap Sindy bisa membantunya suatu saat nanti setelah lulus kuliah, tapi semakin lama Sindy semakin liar dan jarang pulang kerumah. Begitu juga dengan ibunya yang selalu mengeluh karna suaminya akhir - akhir ini sering sakit membuat kondisi keuangan tidak stabil.


"Dek bisa gak besok temani Ayah ke Rumah Sakit?"


"Sindy sibuk kak besok ada tugas, coba minta ke ibu saja. Sindy capek mau tidur."


"Bu bisa gak besok urus Ayah soalnya Daisy ada urusan kerjaan sama Tomo."


"Ibu capek seharian beres-beres rumah, kita kan sudah gak punya pembantu semuanya ibu yang kerjain urusan rumah."


"Yasudah kalau gitu." Daisy menuju kamar ayahnya.


"Yah besok kita akan ke Rumah Sakit buat check up lagi, sekarang Ayah tidur gih." Daisy memegang tangan ayahnya lalu mencium keningnya.


"Daisy juga tidur ya, bukankah besok ada panen dan pembagian hasil kerja? kamu yakin bisa temani Ayah besok?"


"Bisa dong gampang kan ada Tomo, selepas dari Rumah Sakit Daisy langsung meluncur kesana."


"Yasudah anak gadisku istirahat juga sana."


Suatu saat nanti aku harus menceritakan pada Daisy kalau dia masih punya kakak, tapi apakah Reihan akan memaafkanku yang selama ini tidak pernah mengurusnya.


Keesokan harinya.


Daisy dan Ayahnya pergi ke Rumah Sakit dengan Daisy yang menyetir mobil. Tapi dalam perjalanan Daisy hampir menabrak mobil yang ada di depannya, Daisy keluar dari mobil untuk meminta maaf.


Waaah aku takut asli kalau nyetir tapi demi Ayah.


"Daisy pelan - pelan saja nyetirnya," ucap sang Ayah yang kemudian mengelus tangan putrinya.


"Maaf Daisy kaku banget kalau nyetir, kebiasaan sama Ryan. Daisy turun bentar mau minta maaf sama yang punya mobil di depan."


"Maaf Pak saya gak sengaja, Ayah saya sedang sakit jadi saya terburu - buru."


"Lain kali hati - hati untung saja Tuan saya sedang berbaik hati hari ini," jawab lelaki itu.


Setelah menyelesaikan keributan kecil tersebut Daisy kembali ke mobilnya.


"Bagaimana Daisy apa mereka meminta ganti rugi?"


"Tidak hanya mengomel sedikit."


"Syukurlah sepertinya mereka orang baik."


-


-


Di dalam mobil yang hampir ditabrak Daisy.


"Ren jangan terlalu galak dia kan sudah minta maaf."


"Saya tidak galak Tuan hanya memberi nasehat, dia harus bersukur kita tidak meminta ganti rugi "


"Kamu gak dengar Ayahnya sedang sakit, ayo lanjutkan kita ada rapat penting."


"Tumben Tuan tidak masalah dan hanya membiarkannya."


"Kamu pikir aku sekejam itu apa? aku hanya kasihan, sudah jangan banyak bicara."


-


-


Daisy dan Ayahnya sudah selesai check up dan kembali menuju ke rumah. Setelah mengantarkan Ayahnya kemudian dia berangkat lagi menuju perkebunan.


Setibanya di perkebunan,


Ryan menelpon Daisy.


"Halo sayang lagi apa?"


"Lagi ada kerjaan di perkebunan, kamu lagi apa?"


"Mau ke perpustakaan, ini lagi jalan sambil nyantai. Bagaimana kabar Ayah dan Ibu apa mereka sehat?"


"Ibu sehat, tadi aku dari Rumah Sakit menemani Ayah check up."


"Kamu pasti lelah kan, maaf ya aku gak disana buat temani kamu. Kalau perlu apapun biar aku bilang ke Papi jadi kamu gak begitu kerepotan."


"Aku gak mau ngerepotin Papi gimanapun juga kan aku belum sah jadi istrimu."

__ADS_1


"Kamu tuh selalu aja nanggung beban sendiri, pokoknya kalau ada apa - apa langsung telpon aku atau telpon Mami ya. Jangan ragu, jangan malu. Aku di sini jauh gak bisa berbuat banyak jadi ku mohon andalkan orang tuaku ya, mereka gak akan keberatan."


Daisy kenapa sih kamu sebaik ini kan aku makin sayang aduh jadi makin kangen.


"Terima kasih Ryan sayang, tenang aja semua baik - baik aja kok. Aku ada rapat lanjut dulu ya Love You."


Ryan aku kangen banget andai kamu disini.


"Love You To."


Walaupun sempat terpuruk tapi bisnis dan perkebunan tidak mengalami kebangkrutan dan Daisy berhasil bangkit mempertahankan kinerjanya. Sindy juga mulai bergabung walaupun dipaksa oleh Daisy dan Tomo.


-


-


5 bulan kemudian,


Di Amerika,


Linda mulai dekat dengan Ryan, dia menyukai Ryan semenjak pertemuan pertamanya di kampus. Sayangnya Ryan hanya menganggap Linda sebagai temannya dan tidak lebih dari itu. Tapi karna kebaikan dan perhatian yang diberikan Linda, Ryan sering menjadi tidak berdaya karna dia merasa Linda sedikit mirip dengan Daisy.


Linda memohon kepada Ryan untuk menemaninya ke pesta, karna tidak tega membiarkan Linda pergi sendirian akhirnya dengan terpaksa Ryan pergi bersamanya. Di Amerika sudah biasa mabuk dan berpesta bebas, saat Ryan mulai tidak betah dan meminta pulang, Linda langsung menahan Ryan dan memberikannya alkohol berkadar tinggi.


"Minum dulu sedikit baru kita pulang." Linda berusaha membujuk Ryan dan meminumkannya alkohol dengan kadar yang lebih tinggi dari biasanya.


"Setelah ini kita pulang ya. Aku gak suka pesta begini." Ryan mulai meminum alkohol itu tapi tanpa sengaja dia terus meminumnya sampai mabuk.


Linda yang melihat Ryan tengah mabuk mulai mencari kesempatan dalam kesempitan.


Aku sudah muak jadi gadis baik di depanmu, kini saatnya kamu menjadi liar Ryan. Akan kutunjukkan padamu seperti apa surga itu.


Linda membawa Ryan ke hotel lalu dia mulai menggoda Ryan yang sedang mabuk. Linda semakin kesal karna Ryan hanya menyebut nama Daisy berulang kali. Tapi dia tidak menyerah dia terus menggoda Ryan sambil menciumnya.


"Daisy," panggil Ryan.


"Ya sayang aku Daisy." Linda terus berperan seolah dia menjadi Daisy dan mulai bertindak nakal. Dia mulai membuka bajunya sampai tidak ada kain yang menutupi tubuhnya sehelai pun. Ryan pun menjadi sangat bergairah karna desakan rangsangan yang dilakukan oleh Linda menggunakan mulutnya.


Aku tau kamu pasti menginginkan ini kan, bagaimana kamu bisa bertahan dengan Daisy tanpa berhubungan intim.


Ryan dan Linda saling melepaskan hasrat mereka, begitupula dengan Ryan yang menjadi sangat liar.


"Daisy aku mau keluar...." Suara Ryan terdengar makin keras dan bergairah, keringat mulai bercucuran membasahi tubuhnya.


"Tunggu sayang jangan menariknya, keluarkan saja di dalam." Linda mendesah dengan nyaring.


Sialan berhentilah memanggilku Daisy.


"Aaah... Daisy aku keluar..."


Setelah pertarungan sengit yang penuh nafsu dan gairah, Ryan tertidur pulas dalam keadaan tidak memakai pakaian sehelaian pun. Mengingat Ryan sangat liar saat melakukannya membuat Linda tertawa kecil dia merasa puas.


Ke esokan harinya.


Ryan bangun tapi kepalanya masih terasa pusing, dia mulai mengamati tempat disekitarnya yang terasa asing, saat dia menengok ke samping dia melihat Linda tidur tanpa pakaian begitu juga dengan dirinya.


Dia memakai pakaiannya sambil berusaha mengingat apa yang terjadi malam tadi, tapi hanya ingatan samar - samar kemudian Linda bangun.


Linda kaget wajahnya mulai memucat.


"Linda tenang dulu aku juga kaget dan tidak bisa mengingat apapun. Bisa kah kamu ceritakan apa yang terjadi ?"


"Semalam kita mabuk lalu pergi ke hotel setelah itu kita melakukan itu."


"Jangan bercanda aku gak mungkin melakukan itu."


"Ryan kamu mau bukti apa? kamu bilang semalam kamu mencintaiku dan kita melakukannya atas kehendak bersama, awalnya aku juga takut tapi kamu meyakinkan aku kalau semuanya akan baik - baik saja."


"Serius aku mengatakan itu?"


"Buat apa aku berbohong ? apa keuntungan yang kudapat? disini aku yang korban." Linda kemudian menangis."


"Linda maafkan aku tapi aku terlalu mabuk dan aku gak ingat apapun."


"Kamu gak lihat semua tanda merah yang ada ditubuh kita ? bercerminlah."


Ryan kemudian bercermin dan melihat banyak tanda merah di sekitar leher dan dadanya begitu juga di tubuh Linda."


"Linda maafkan aku tapi ini sebuah kesalahan, kamu tau kan aku sudah punya Daisy jadi aku..."


Linda langsung menangis dan berkata," jadi maksudmu ini hanya cinta satu malam, setelah kamu puas lalu kamu seenaknya pergi meninggalkanku, bagaimana kalau aku hamil?"


"Bisakah kamu memberi waktu buatku? aku perlu mencerna semua nya. Aku benar - benar pusing sekarang. Sebaiknya kita pulang aku akan mengantarmu."


"Bagaimana aku bisa pulang dalam keadaan seperti ini, bukankah kamu harus bertanggung jawab dengan menikahiku."


"Tidak mungkin aku menikahimu, aku sudah bertunangan dan saat ini aku hanya mau fokus study. Kamu tau kan kita berdua mabuk jadi ku harap kamu melupakan kejadian semalam. Sumpah aku tidak sengaja melukaimu ataupun melecehkanmu."


"Tidak bisa, semalam adalah yang pertama kali buatku, aku tau kamu juga melakukannya pertama kali denganku kan. Ryan bagaimana jika kita mencoba menjalaninya, siapa yang tau jodoh. Mungkin saja kita ditakdirkan bersama."


Ryan terdiam sejenak dia tidak berdaya melihat Linda yang menangis dalam keadaan terbungkus selimut.


"Aku tidak tau Lin, Aku tau aku salah tapi aku sangat mencintai Daisy."


"Aku tidak memintamu meninggalkan dia, aku hanya mau kamu mencoba menjalani hubungan baru denganku." Linda kemudian mendekat dan mencium bibir Ryan.

__ADS_1


Ryan mendorong linda dengan pelan," Linda jangan menciumku. Aku mohon mengertilah."


"Terima dan nikmatilah kamu tidak rugi apapun, Daisy juga tidak tau kan. Kamu berhak memilih yang terbaik untuk hidupmu." Linda tidak menyerah dia masih mencoba mencium Ryan.


Ryan terpedaya dengan rayuan Linda dan mereka mulai saling berciuman dengan penuh gairah, walaupun Ryan ragu tapi dia juga menikmati sentuhan bibir tersebut. Linda mulai membuka kancing bajunya. Ryan yang hampir hanyut lalu mendorong Linda.


"Maaf aku gak bisa." Ryan kemudian meninggalkan hotel dalam suasana hati yang tidak karuan.


2 minggu telah berlalu, Ryan merasa kesepian tanpa Daisy. Keduanya terlalu sibuk dengan tugas masing - masing. Dan Ryan selalu teringat dengan Linda, samar - samar dia mulai mengingat kejadian malam panas 2 minggu yang lalu.


Saat Ryan sedang bersantai sambil membaca buku, Linda datang menghampirinya.


"Kamu mau apa?"


"Aku mau bicara sebentar."


"Bicara saja."


"Ikut aku." Linda menarik tangan Ryan dan membawanya ketempat sepi."


"Ryan aku hamil." Linda menyerahkan test pack pada Ryan.


Mata Ryan menggelap lalu menatap dingin ke arah Linda dan bertanya," Kamu serius?"


Linda langsung menangis," Aku serius, aku takut banget. Aku harus gimana Ryan?"


"Linda maafkan aku..aku..."


"Kamu harus bertanggung jawab."


"Aku..aku tidak bisa..Aku sudah bertunangan, aku sangat mencintai Daisy."


"Lalu bagaimana denganku? apa kamu sungguh sejahat ini?"


"Linda berikan aku waktu."


Linda langsung berlari dan menangis. Merasa khawatir Ryan mengejarnya.


"Linda ayo kita ke apartemenku, kita bicara dengan kepala dingin."


Linda mengikuti Ryan dari belakang dia memasang senyuman rubah di bibirnya. Setibanya mereka duduk saling berhadapan. Linda masih menangis dan mengancam bunuh diri kalau Ryan tidak bertanggung jawab.


Akhirnya setelah 1 bulan, Ryan menerima tawaran Linda untuk memulai hubungan baru.


"Ryan sebelum perutku membesar kita harus menikah." Linda mengecup bibir Ryan, Ryan pun membalasnya dengan hangat.


"Aku aku akan menikahimu."


"Sungguh?" Linda mulai memancing hasrat Ryan dengan melakukan gerakan nakal.


Sangat mudah menjinakkan mu Ryan, cukup diberikan sentuhan panas menggelora maka lelaki akan ketagihan.


"Ya sungguh, tapi aku butuh waktu "


"Apa itu karna Daisy? kamu masih mencintainya?"


"Aku selalu mencintainya. Linda setelah kita menikah dan kamu melahirkan, aku mau kita bercerai. Aku akan menanggung biaya dan menafkahimu."


"Aku gak mau."


"Kamu harus mau atau tidak sama sekali. Kamu harus menjaga rahasia ini jangan sampai Daisy tau."


"Baiklah aku setuju."


Lihat saja aku tidak akan pernah melepasmu.


Ryan sudah merasa hancur, jadi dia memutuskan untuk menerima Linda tapi hanya untuk sementara saja. Dan berencana untuk merahasiakannya sampai mereka bercerai lalu menikahi Daisy.


Linda mendekat kemudian mencium Ryan lalu berbisik," ayo kita lakukan lagi," Ryan tidak menolak, dia menerima sentuhan Linda dan membalasnya dengan lebih kasar. Dia melepas semua emosi dan setresnya dengan cara berhubungan intim.


Suara Hp Ryan berdering, ada Daisy yang menelpon


"Lakukan dengan mulutmu, aku mau berbicara dengan tunanganku." Perintah Ryan pada Linda.


"Halo sayang, tumben nelpon pagi - pagi."


"Aku kan kangen masa gak boleh, kamu lagi apa kok kaya terengah - engah gitu."


"Biasa aku habis lari pagi, aku juga kangen banget sama kamu. Sabar ya tunggu aku disana."


"Iya sayang. Yauda kalau gitu aku mau mandi dulu sudah mau malam disini. Bye Miss You."


"Miss You To."


Setelah panggilan telpon tersebut terputus Ryan memasang wajah kesal.


Sialan ini pertama kalinya aku berbohong pada Daisy, maafkan aku sayang. Tunggulah aku.


Melihat Ryan memasang wajah kesal, Linda langsung membuka roknya dan memancing nafsu Ryan. Ryan langsung menerkamnya dengan ganas tampa ampun.


"Bulan depan ikutlah kita akan menemui orang tuaku lalu menikah."


Linda menjadi sangat senang lalu dia mulai menggeliat sambil mendesah dengan nyaring.


Bersambung.

__ADS_1


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.


Jangan lupa berikan asupan nutrisi biar authornya makin semangat berupa Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Full Rate.


__ADS_2