
Dua minggu bukanlah waktu yang lama dan terlalu singkat bagi Daisy untuk mempersiapkan batinnya.
Ketika Daisy bangun semua hal pagi ini sudah di siapkan oleh Ran dan Bibi Yum. Sementara Zhafran seperti biasa menyeruput susu hangatnya sambil membaca koran pagi.
Daisy berjalan keluar dari kamarnya sambil memperhatikan sekitar lalu berucap," selamat pagi semuanya. Selamat pagi sayang."
Ran dan Bibi Yum mengangguk lalu menjawab," selamat pagi Nyonya."
Zhafran pun membalas salam pagi Daisy tanpa memandangnya dan fokus pada koran yang dia baca lalu berkata," selamat pagi Istriku, basuhlah wajahmu lalu kita sarapan."
Dua jam terlewati setelah melakukan ritual pagi. Daisy memilih pakaian nyaman namun sopan bewarna kuning cerah, mengurai rambutnya yang bewarna hitam dan sedikit polesan lipstik bewarna peach di bibirnya.
Zhafran masih dengan tampilan formalnya selalu mengenakan jas abu - abu dengan dasi kesayangan yang di belikan oleh Daisy.
Ran yang melihat Daisy segera memujinya," Nyonya, tidak biasanya memakai warna kuning, tapi ternyata lebih terlihat bersinar dan segar sepertinya hari ini akan berjalan dengan cerah seperti warna gaun yang Nyonya kenakan."
Zhafran mengangguk tanda setuju diapun menyambung kalimat Ran," Istriku memang cantik memakai apapun dia akan tetap cantik. Apa kamu siap sayang?"
Daisy yang tadinya masih gugup kini lebih tenang lalu berkata," kalian ini terlalu memujiku. Tapi terima kasih ya. Terima kasih atas kerja kerasmu Ran dan Bibi Yum."
Ran dan Bibi Yum mengangguk. Zhafran pun mendekati Daisy dan mencium keningnya. Tapi suasana hangat itu di pecah oleh kedatangan Ren. Akhirnya mereka berempat pergi ke suatu tempat yang dikatakan menjadi pusat pertemuan keluarga besar Zhafran.
Di sepanjang perjalanan jantung Daisy tidak berhenti berdegup kencang, Zhafran yang memperhatikan Daisy langsung memeluknya dan berkata," Sayangku semua akan baik - baik saja. Apapun yang terjadi aku selalu ada untukmu. Jadilah dirimu sendiri, aku suka senyuman hangatmu, keluargaku juga pasti suka jadi tersenyumlah."
Mendengar dukungan dari Zhafran membuat suasana hatinya membaik. Tapi butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke rumah utama.
Betapa takjubnya Daisy melihat suasana disekitarnya, saat ingin memasuki kawasan utama dia perlu melewati dua pagar yang di jaga ketat oleh petugas keamanan. Membuatnya bertanya - tanya sejauh apa jarak yang harus dia tempuh untuk sampai ke tempat yang mereka tuju.
Daisy ingat beberapa hari yang lalu saat dia tengah membaca file dan Ran juga menjelaskan tempat tujuan yang mereka datangi adalah mansion utama alias rumah pribadi Zhafran yang dia desain sendiri dan di bangun 4 tahun yang lalu sebagai rumah masa depannya.
Akhirnya mereka sampai di pagar atau gerbang utama dari dua pagar yang sebelumnya mereka lewati, totalnya ada tiga gerbang.
Saat keluar dari mobil ada banyak pelayan wanita dan pelayan pria memakai seragam bewarna hitam putih yang berdiri berjejer menyambut kedatangan Daisy dan Zhafran.
"Selamat datang Tuan muda," ucap para pelayan sopan dan penuh hormat tapi mereka sedikit bingung karna ada seorang wanita muda yang ikut keluar dari mobil.
Sebastian sebagai kepala pelayan yang membuka pintu mobil juga sedikit kaget tapi dengan santai dia kembali tersenyum menyambut kedatangan majikannya.
Bibi Yum yang ikut keluar dari mobil yang berbeda juga di sambut hangat oleh para pelayan, seolah dia juga bagian dari keluarga Zhafran. Daisy bisa melihat tatapan penuh hormat yang ditujukan pada Bibi Yum.
Semua pelayan juga menyambut hangat ketika Ren dan Ran hadir mengikuti Daisy dan Zhafran dari belakang.
Ya Tuhan, suasananya terlalu canggung bahkan mereka lebih menghormati Bibi Yum dari pada aku.
Zhafran memegang erat tangan Daisy yang bergetar, dia tau kalau Istrinya saat ini tengah kebingungan apalagi dengan sambutan yang berlebihan dari para pelayan, tapi itu adalah aturan mendasar dan wajib dilakukan. Jadi dia berharap agar Daisy terbiasa menerimanya.
Bibi Yum berbicara pada Sebastian agar memerintahkan pada semua pelayan untuk berkumpul di ruang tamu utama, tanpa bertanya Sebastian segera mengangguk dan melaksanakan perintah tersebut. Walaupun Sebastian adalah kepala pelayan yang posisinya bahkan lebih tinggi dari Bibi Yum. Tapi Bibi Yum merupakan pelayan utama dan pelayan pribadi yang di tunjuk langsung mengurus Tuan muda Zhafran mulai saat dia berumur 10 tahun. Oleh sebab itu Sebastian dan semua pelayan yang bekerja di mansion utama sangat menghormati Bibi Yum.
Sebastian membawakan perlengkapan 1 teko berisikan teh lemon hangat dan beberapa cangkir yang terukir indah diatas troli meja dorong. Kemudian dia menghidangkan minuman hangat tersebut keatas meja agar bisa dinikmati oleh Zhafran dan tamu wanitanya.
Karna kode tatapan yang diberikan oleh Ren, semua pelayan menjadi diam dan berdiri tegap menanti perintah yang akan diberikan oleh majikan mereka.
Tanpa melihat sekitar Zhafran mengambil cangkir teh lalu memberikannya pada Daisy sambil berkata," Istriku silahkan di minum tehnya, kamu pasti hauskan."
Daisy yang berusaha fokus langsung memegang cangkir berukir indah tersebut," terima kasih Suamiku, apa kamu gak haus. Ayo kamu juga minum." Tanpa ragu Daisy menyuapi minuman hangat tersebut ke mulut Zhafran. Tentunya Zhafran tidak menolak dan langsung menerimanya sambil memegang tangan Daisy lalu mencium tangannya.
Semua mata pelayan tertuju pada pasangan mesra di depan mereka seolah dunia hanyak milik berdua dan lupa kalau di ruangan ini ada banyak mata yang memperhatikan.
Daisy yang tersadar segera meminta maaf pada Zhafran, pipinya pun memerah dia ingin segera berlari dan menutup wajahnya tapi dia tidak bisa melakukan hal itu. Zhafran yang melihat tingkah lucu Daisy segera menggenggam erat tangannya.
Sebastian sebagai kepala pelayan keluarga Zhafran tersentak kaget pada adegan romantis di depannya. Tuan muda yang dia layani memang terkenal dingin, bahkan tidak pernah membawa seorang wanita ke mansion utama, tapi barusan dia mendengar sebutan Suamiku, Istriku dan Sayangku membuatnya semakin bingung bahkan sampai meneteskan keringat. Tapi dia tidak berani bertanya, siapa wanita yang tengah bersama Tuan muda tampan tersebut.
"Wanita muda cantik yang duduk disampingku adalah Istriku." Zhafran tidak butuh formalitas apapun, dia langsung mengenalkan Daisy pada pelayannya.
Daisy yang masih berusaha mengatur emosi dan ekspresinya mulai tersenyum lembut kepada beberapa pelayan di hadapannya.
"Perkenalkan namaku Daisy. Senang berjumpa dengan kalian hari ini, mohon bantuannya di masa depan." Daisy menahan gugup.
Segugup ini aku bicara dengan pelayannya bagaimana nanti ketemu keluarganya Zhafran, bagaimana aku berhadapan dengan ayah dan ibunya nanti?
Sebastian tersentak kaget tapi tidak butuh waktu lama dia langsung menunduk hormat dan juga memperkenalkan dirinya serta 10 pelayan wanita dan 10 pelayan pria yang berada di bawah Sebastian sebagai kepala pelayan utama. Sebenarnya masih ada pekerja lain yang tidak hadir karna sedang bekerja di lapangan.
Selama masa perkenalan semua pelayan diam - diam mulai melirik dan memperhatikan Daisy. Tapi karna didikan yang sudah tertanam di benak para pelayan tentunya mereka menghormati Daisy dengan baik walaupun masih canggung.
Setelah itu Zhafran membawa Daisy ke kamar mereka. Sekali lagi Daisy takjub dengan kamar yang super besar namun tetap terlihat elegan, dinding yang bewarna white gold menambah nuansa mewah, serta ukuran ranjang yang lebih besar akan membuat tidur terasa lebih nyaman. Ada juga tambahan beberapa furniture dengan warna senada yang menghiasi ruangan tersebut semakin membuat Daisy betah.
"Sayang apa rumah ini sungguhan rumahmu? dan semua pelayan itu juga pelayanmu? aku sampai gak bisa menghitung berapa hektar dan berapa jarak dari gerbang pertama sampai yang terakhir !!! untuk sampai kekamar saja kita butuh satu lantai, syukurnya ada ekskalator di dalam rumahmu."
Daisy tidak berhenti bicara dan wajahnya semakin murung.
"Istriku tenanglah, tentu saja ini adalah rumah kita dan aku berencana secepatnya kita akan pindah kemari. Bagaimana apa kamu senang?"
__ADS_1
"Aku...rumah ini terlalu besar, aku cukup nyaman dengan apartemen kita. Maaf bukan berarti aku tidak bersyukur, aku senang kok."
"Aku sengaja membangunnya sesimple mungkin bahkan merubah desainnya beberapa kali. Aku juga tidak terlalu suka yang begitu besar. Kalau tidak suka kita akan tetap bisa tinggal di apartemen sebelumnya."
HAH INI SUDAH BESAR DAN GAK SIMPLE
"Kita bisa pindah kok, aku senang banget sayang. Terima kasih ya. Aku mencintaimu." Daisy yang tidak tega melihat tatapan mendalam Zhafran segera memeluknya.
"Aku juga mencintaimu sayang. Syukurlah, aku khawatir kamu tidak nyaman apalagi dengan begitu banyak orang dirumah kita. Tapi percayalah mereka adalah pelayan utama yang berada di bawah didikan Sebastian, jadi kita bisa percaya pada mereka."
"Lalu bagaimana dengan...kau tau..keluarga.."
"Semuanya sudah disiapkan Bibi Yum dan Sebastian, jadi kamu bisa berkeliling sebentar sambil menunggu keluarga kita datang."
Zhafran dan Ren berada di ruang kerja pribadi miliknya yang bersebelahan dengan kamarnya. Sementara Daisy mulai berkeliling dengan Ran sambil menyapa para pelayan yang sibuk dengan tugasnya.
"Ran aku rasa kalau sendirian bisa kesasar, padahal cuma 4 lantai tapi rasanya terlalu besar."
"Awalnya Tuan mendesain rumah ini dengan 7 lantai, tapi dia merubahnya lebih kecil dan mengurangi banyaknya pelayan yang tinggal di rumah ini. Kalaupun kesasar kan, di setiap lantai dan beberapa ruangan punya telpon pribadi, jadi Nyonya cukup menelpon para pelayan tanpa perlu memanggilnya."
Daisy sudah kehabisan reaksi jadi dia hanya mengangguk kagum sambil menikmati suasana sekitar, termasuk ada ruangan bioskop, ruangan gym, ruangan bersantai yang dilengkapi dengan minibar dan bilyard serta masih banyak ruangan lainnya.
Daisy sampai di lantai 4 yang ternyata adalah taman terbuka dengan banyak bunga Daisy, bunga Rose dan beberapa bunga lain yang menghiasi sekelilingnya dengan indah, kemudian memandangi suasana sekitar rumahnya, dia sempat kaget kalau keseluruhan area tersebut adalah lahan milik Zhafran. Dia hanya bisa menghembuskan pelan nafasnya dan berdecak kagum tapi juga penuh kekhawatiran.
Ditemani Ran, dia melanjutkan turnya melihat dan mengecek persiapan acara makan malam nantinya bersama keluarga besar Zhafran.
"Nyonya, kenapa murung?"
"Bukan murung lebih tepatnya, agak sedikit kecewa. Harusnya sejak awal aku ikut mengurus kebutuhan dapur dan mempersiapkan semuanya. Tapi sepertinya Bibi Yum dan Sebastian sudah menyelesaikan segalanya. Aku tidak mengira akan sebesar dan semegah ini."
"Mulai sekarang Nyonya harus terbiasa, apalagi sudah ada para pelayan yang akan mengurus segala keperluan rumah tangga, selanjutnya Nyonya akan bertindak selayaknya seorang istri yang melayani suami seutuhnya."
"Melayani suami seutuhnya?" tiba - tiba pipi Daisy merona merah.
"Benar Nyonya. Jadi jangan khawatir, sebaiknya Nyonya nikmati saja semua yang telah diberikan Tuan. Tidak ada ruginya bukan? jadi tidak perlu membereskan rumah ataupun memasak, cukup layani Tuan dan berikan dia cinta yang penuh kehangatan."
Melanjutkan kalimatnya," saya tau Nyonya suka memasak, jadi kapan saja Nyonya tetap bisa memasak untuk Tuan muda. Nyonya juga bebas melakukan apapun dan memerintahkan para pelayan sesuka hati Nyonya."
Mendengar semua kalimat Ran membuat Daisy semakin khawatir tapi juga ada rasa lega.
"Aku akan membantu di dapur, tidak apa kan Ran?"
Daisy mulai memperhatikan beberapa pelayan yang menyiapkan makanan, dia ingin membantu tapi bingung harus memulai dari mana, sementara para pelayan sibuk dan tidak menyadari kedatangan Daisy.
Bibi Yum yang hadir kemudian bertanya," Nyonya kenapa berdiri disini, sebaiknya istirahat saja."
"Aku cuma mau membantu."
Para pelayan yang tadinya sibuk tersentak kaget lalu menunduk hormat kepada Daisy dan melanjutkan pekerjaan mereka.
"Kalau begitu apa Nyonya bisa membantu saya menyiapkan beberapa hidangan kesukaan tuan dan nyonya besar." Karna tau sifat Daisy akhirnya Bi Yum mengajaknya ikut berpastisipasi dalam hidangan yang akan di sajikan nanti malam.
*
*
*
Hari sudah semakin sore dan beberapa keluarga Fryaga sudah datang ke rumah pribadi milik Zhafran.
Yang pertama tiba adalah Nyonya Vivian dan Suaminya Raksa Frayaga, mereka adalah adik dari ayahnya Zhafran beserta kedua anaknya yang bernama Vendy berumur 17 tahun dan Aurel berumur 15 tahun.
Ketika Vivian hendak menuju ruang tamu utama dia berpapasan dengan Daisy. Merasa asing, kemudian Vivian memanggilnya.
"Nona bisakah kamu membawakanku air dingin, rasanya kepalaku pusing setelah perjalanan jauh."
Ah kalau gak salah dia adalah tantenya Zhafran, yang bernama Vivian. Untung saja aku ingat, kok mereka sudah datang yah?
Daisy memberikan senyuman hangatnya lalu mengangguk kemudian membawakan air dingin, Vivian yang sedang duduk sendirian diatas sofa kemudian meminumnya.
"Terima kasih ya. Sejak kapan kamu bekerja disini?"
Bekerja? apa dia kira aku pelayan?
apa aku selusuh itu?
Daisy dengan lembut menjawab," saya baru saja memulainya siang ini."
"Kalau begitu hari ini adalah hari pertama mu? semangat ya, jangan terlalu gugup begitu. Keluarga kami selalu menerima siapapun dengan hangat. Siapapun yang bergabung dengan Fryaga mereka merupakan keluarga kami, termasuk para pelayan."
"Saya yakin semua pelayan sangat bahagia bekerja di bawah Fryaga, apalagi kakak sangat cantik dan hangat."
__ADS_1
Vivian sempat kaget dipanggil kakak lalu dia menjawab," hahahah apanya yang kakak, lebih pantas jadi tantemu. Aku ini sudah punya dua anak berusia belasan tahun. Kamu lucu juga ya, jadi siapa namamu?"
"Nama saya Daisy."
"Oh nama yang bagus, kalau begitu kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu."
Daisy mengangguk kemudian dia pergi keluar, dan melihat dari kejauhan ada dua orang yang tiba yang disambut hangat oleh Sebastian dan beberapa pelayan.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, silahkan istirahat di ruang tamu utama. Tuan Raksa beserta istrinya sudah menunggu."
Orang kedua yang tiba adalah kedua orang tua Zhafran, Ibunya bernama Revalina yang terlihat cantik dan menawan walaupun sudah berumur dan Suaminya bernama Andreas Fryaga, fitur wajahnya yang tegas dan auranya yang berkarisma sangat mirip dengan Zhafran.
Saat masuk kedalam rumah pandangan mata Revalina dan Daisy saling bertabrakan, Daisy yang gugup dan hampir salah tingkah kemudian tersenyum dan menunduk.
Vivian yang tau kakak iparnya datang kemudian menyambut Andreas dan Revalina dengan pelukan hangat.
"Selamat datang kakak ipar, kamu pasti lelah. Daisy tolong siapkan minuman hangat untuk kakakku."
Daisy langsung memberikan respon dan memasang senyum lembut lalu pergi ke dapur.
Sebastian yang masih berdiri di dekat mereka, agak kaget. Apakah Nyonya Vivian sudah sangat akrab dengan Nyonya muda? tapi dia tidak berani berkomentar. Karna khawatir dia pun menyusul Daisy ke dapur.
"Nyonya biarkan saya yang menyiapkan minuman hangat untuk Nyonya besar. Sebaiknya Nyonya muda beristirahat saja."
"Tidak masalah kok, tentunya aku harus membuat minuman hangat dan sehat untuk ibu mertua."
Sebastian kemudian mengangguk dan menatap bangga ke arah Daisy.
Nyonya sangat ramah dan lembut itulah kenapa mungkin Tuan muda luluh dan jatuh hati.
Setelah itu Sebastian pergi meninggalkan Daisy tapi diam - diam tetap memantaunya dari kejauhan.
Karna rumah yang begitu luas dan besar juga setiap ruangan berjarak agak jauh, para pelayan sibuk dengan tugas mereka masing - masing jadi tidak begitu memperhatikan dan juga masih asing dengan kehadiran Daisy.
Daisy kemudian kembali sambil membawa nampan yang diatasnya ada teh mawar hangat.
Dengan sopan dan lembut Daisy menaruh cangkir berisikan teh mawar hangat diatas meja.
"Terima kasih, kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu." Revalina yang merasa lelah dan memijat sebelah pundaknya lalu mengambil cangkir teh dan meminumnya.
"Apa mau saya pijat?"
Revalina yang tadinya ragu saat melihat tatapan Daisy menjadi tidak tega lalu berkata," memangnya kamu bisa?"
"Saya sudah biasa memijat pundak ayah saya di masa lalu.Beliau berkata pijatan saya sangat enak dan nyaman loh."
"Hemmm baiklah tapi pelan - pelan saja ya."
Daisy mulai memijat pelan tapi sentuhannya terasa panas, membuat Revalina merasa sedikit nyaman.
"Siapa namamu tadi?"
"Saya Daisy. Bagaimana pijatan saya nyaman bukan hehehe."
"Hemm terasa nyaman, padahal masih muda tapi pandai memijat yah. Pasti ayahmu sangat bangga padamu."
"Terima kasih Bu. Sayangnya saya sudah tidak bisa memijat ayah saya lagi karna beliau sudah meninggal."
"Ya ampun maaf ya. Pundakku sudah baikan terima kasih sudah memijatnya."
"Tidak apa kok, saya senang melakukannya. Mengingatkan saya pada orang tua saya."
Kasihan sekali Wanita muda ini. Di usia muda dia sudah kehilangan ayahnya.
"Kami adalah Fryaga yang selalu menjaga dan melindungi keluarga kami. Tidak perduli asal usulnya, selama dia tinggal bersama kami, mereka sudah menjadi bagian dari Fryaga. Jadi anggaplah kami sebagai keluargamu. Dan selamat datang di keluarga Fryaga kami."
Mata Daisy memerah, kemudian dia menunduk lalu berkata," terima kasih."
Vivian dan beberapa anggota keluarga yang berada di ruangan tersebut ikut tersenyum.
Tidak ku sangka Ibu mertua dan tante sangat ramah pada pelayan. Bagaimana reaksi mereka kalau tau aku adalah Istri Zhafran yah. Karna sudah dikira pelayan aku jadi malu mengakui diri sendiri sebagai menantu.
Sebastian yang mulai sadar lalu mencari Bi Yum dan bertanya," Bi Yum. Apakah keluarga besar tidak tau kalau Nyonya Daisy adalah istri tuan muda?"
Bi Yum menjawab dengan anggukan pelan. Kemudian keduanya menghela nafas yang panjang.
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan selalu setia membaca cerita receh ini.
Jahat kalau kalian masih belum VOTE, Koment, Like dan Klik favorite ❤
__ADS_1