My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.40 - Bertemu Dia


__ADS_3

Hari masih terlihat gelap, masih terasa hawa dingin disekujur tubuh, walaupun begitu Zhafran sudah bersiap seperti biasanya. Bibi juga sudah menyiapkan sarapan untuknya, tapi Daisy masih tertidur pulas.


Daisy yang baru bangun masih berbalut gaun piyama pendek lalu dia menghampiri Zhafran yang sudah siap dengan seragam tempurnya bewarna abu-abu seperti biasanya hanya saja motifnya berbeda, dia duduk dengan santai sambil meminum susu hangatnya dan membaca koran pagi.


Zhafran yang melihat istrinya bangun langsung berkata," morning," Daisy pun menjawab," morning."


Aku sudah berusaha sepagi mungkin tapi Zhafran tetap bangun lebih awal, istri macam apa aku tidak menyiapkan sarapan tepat waktu, bahkan tidak mempersiapkan baju dan kebutuhan lainnya untuk perjalanan bisnis. Kenapa dia begitu sempurna membuatku takut saja.


"Mandi lalu makanlah, semua sudah disiapkan oleh bibi." Zhafran berbicara tanpa menatap Daisy.


"Iya." Daisy kemudian menuju kamar mandi dengan raut wajah sedih.


Setelah selesai mandi, Daisy mengenakan pakaian lengkap bewarna biru langit, terlihat cerah dan segar, walaupun memakai rok tapi dibawah lutut serta sepatu bewarna putih. Kombinasi pakaiannya terlihat feminim dan elegan. Dia mengikat rambutnya kebelakang sehingga memperlihatkan leher mungilnya yang putih dan bersih.


Mereka kemudian makan bersama dengan suasana yang khusuk dan sunyi. Setelah selesai makan dan mencuci piring, Zhafran menghampiri Daisy sambil membawa dasi lalu dia menatap istrinya.


Daisy yang sadar akan tatapan suaminya dengan wajah memerah dia pun bertanya" apa aku boleh memasangkan dasinya?"


Zhafran tersenyum lembut lalu mengecup bibirnya," tentu," mereka berdiri berhadapan, tentunya Daisy harus berjinjit untuk memasangkan dasi tersebut pada Zhafran.


"Terima kasih," ucap Daisy sambil memasangkan dasi di kerah leher Zhafran.


Zhafran yang heran mengangkat sebelah alisnya berkata," bukannya aku yang harus berterima kasih?"


Daisy menatap mata Zhafran lalu membalas," terima kasih karna sudah mengingat dasi ini dan aku boleh memasangkannya, aku harap aku bisa selalu memasangkan dasi sebelum kamu bekerja." Daisy yang malu dengan perkataannya langsung membenamkan wajahnya di dada Zhafran.


Melihat tingkah Daisy yang dia rasa imut, Zhafran melingkarkan tangannya di pinggang Daisy lalu menjawab," tentu," kemudian mencium kening Daisy.


"Lain kali ketika kamu akan pergi, biarkan aku membantu mengemasi barang-barang dan kebutuhanmu Zhafran."


"Baiklah tapi aku takut akan merepotkanmu."


"Aku tidak kerepotan itu sudah tugasku menjadi seorang istri, harusnya aku juga bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan."


"Aku tidak masalah kapanpun kamu siap kamu bisa menyiapkan sarapan untuk kita, bukannya kamu juga sudah menyiapkan makan malam seperti biasanya."


"Terima kasih karna sudah mau mengerti dan tidak menuntut apapun padaku Zhafran."


"Kita kan sudah menikah, aku tidak akan pernah menuntut apapun pada istriku. Cukup temani aku seumur hidupmu."


"Pagi-pagi kamu sudah gombal."


"Gombal itu apa?" Zhafran mulai mengecup bibir Daisy dengan lahap namun lembut.


"Hemm." Daisy membalas ciumannya tanpa segan.


Serius dia gak tau gombal itu apa?


"Zhafran bagaimana dengan lehermu?"


"Bagaimana apanya?"


"Tidakkah kamu menutupinya dengan sesuatu?"


"Kamu tidak suka ada tanda ini di leherku?" Zhafran menatap kecewa ke arah Daisy.


"Masalahnya sekarang kamu kan mau bekerja dan ada pertemuan penting, aku tidak mau image mu menjadi rusak karnaku."


Mendengar ucapan Daisy membuat hatinya senang," aku akan mengurusnya kamu tenang saja, Ran sudah menunggu ayo kita turun."


"Ikutilah Ran dia akan membawamu memilih mobil yang ada dibagasi."


Daisy mengangguk lalu mencium pipi Zhafran," cepatlah kembali kalau sudah selesai dan jangan pernah mematikan Hpmu."


"Tentu." Setelah mengecup kening Daisy dia pergi bersama Ren.


Didalam mobil Ren membuka percakapan," Nyonya sangat cantik hari ini dia mengenakan pakaian yang bagus dia terlihat semakin menarik ya Tuan."


"Aku tau dan itulah yang membuatku khawatir."


Semakin hari dia semakin cantik bagaimana kalau makin banyak lalat yang menghinggap padanya.

__ADS_1


"Khawatir kenapa Tuan?"


Zhafran msngabaikan pertanyan Ren lalu dia memanggil nama asistennya dengan keras," Ren."


"Ya?" jawab Ren kaget.


"Jangan terlalu sering menatap istriku." Seketika ruangan didalam mobil semakin dingin karna aura yang dikeluarkan Zhafran.


"Maaf Tuan."


Kaget aku.


"Jadi menurutmu istriku cantik hari ini?"


Aku harus jawab apa ini.


"Nyonya sangat cantik hari ini Tuan."


"Jadi maksudmu dia hanya cantik saat hari ini saja?"


Astaga naga.


"Beliau selalu cantik Tuan, kapanpun dan dimanapun, anda juga terlihat semakin tampan dengan dasi tersebut, kalian berdua pasangan yang sempurna."


Bagaimana Tuan apa kau kenyang dengan pujianku.


Zhafran tersenyum sombong lalu berkata," aku tau."


Apa ini, aku mau bertanya tapi tidak berani. Melihat tingkah pasutri ini kurasa mereka sudah saling jatuh cinta. Apa Tuan sudah mengutarakan cintanya? aku tidak bisa membayangkannya, seorang Zhafran bisa melunak hanya kepada seorang wanita biasa.Bagaimana kalau Nyonya besar tau, aku penasaran apa yang akan terjadi.


"Tuan apa tidak ingin mengenalkan istri anda pada Nyonya besar?"


"Ibu sudah tau sih tapi mereka belum saling berkenalan, rencananya aku akan mempertemukan mereka kalau sudah tiba waktu yang tepat."


"Apa anda masih merahasiakan latar belakang keluarga anda Tuan? aku jadi penasaran bagaimana kalau istri anda tau siapa anda sebenarnya."


"Kenapa kamu yang jadi banyak tanya, aku saja masih bingung harus bagaimana, menghadapi Avril saja aku sudah kelabakan. Mungkin saja disana sudah heboh karna Avril."


-


-


"Benar, silahkan Nyonya pilih salah satu."


Anda belum melihat mobil lain seperti Rolls Royce dan masih banyak lagi yang ada di mansion.


"Aku naik taksi online saja lah."


"Kenapa?"


Apa kurang bagus ya.


"Mana berani aku mengendarai lamborghini, BMW, dan Ferrari. Belum lagi kalau ada staf kantor yang melihat mereka akan heboh. Mana ada staf biasa sepertiku punya mobil seharga miliaran."


Ran diam sejenak lalu bertanya," jadi Nyonya tidak suka ketiganya? kalau begitu kita bisa membeli mobil baru hari ini."


"Mana sempat kan kita mau kerja, sepenting itukah punya mobil ?"


"Showroom akan segera dibuka ketika kita kesana sekarang, masih ada 1 jam jadi kita masih sempat. Dan tentu saja penting, ini adalah amanah dari Tuan Zhafran."


Tidak bisa melawan Ran akhirnya Daisy menurut dengan pasrah, sesampainya di showroom mereka langsung disambut dengan hangat. Daisy yang penasaran masih menahan pertanyaannya di dalam kepalanya.


"Selamat datang Nona Ran, ingin memilih mobil yang mana kebetulan hari ini.."


Ran menghentikan kalimat manajer dan berkata," Nyonya yang akan memilih bukan saya."


Nyonya? apakah wanita cantik di sebelah Nona Ran, tapi siapa dia? ini pertama kalinya aku melihatnya.


"Selamat datang Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"


"Maaf aku tidak begitu mengerti tentang mobil, adakah yang terlihat sederhana dan cocok untukku?"

__ADS_1


Kenapa akhirnya malah membeli mobil sih padahal aku sudah menolaknya ketika Zhafran menawarkanku.


Karna semua mobil yang ditawarkan mahal akhirnya Daisy memilih Lexus GS bewarna biru, atas bantuan Ran yang sedari tadi lelah menunggu Daisy berpikir, dia tidak tau kalau harganya juga terbilang mahal, karna Ran yang mengurusnya jadi Daisy dengan pasrah hanya menerima. Dia tidak sanggup membayangkan berapa harga mobil tersebut, dia hanya berharap semoga harganya tidak begitu mahal. Padahal dia bisa memeriksa harganya kalau mau.


Tentu saja Ran yang mengemudikannya, karna Daisy masih takut menyetir bukannya tidak bisa hanya saja sudah sejak lama semenjak dia mengendarai mobil sendiri, butuh latihan lagi untuk meluweskan tubuhnya dan membuatnya menjadi terbiasa kembali. Begitulah ketika lama tidak menyetir maka kita pasti tidak akan terbiasa dan muncul rasa khawatir. Daisy juga masih belum percaya kalau sudah membeli mobil atas namanya. Dia ingin sekali bertanya siapa suaminya apa kah dia terlahir dari orang tua yang kaya dan mendapat warisan ataukah semua uangnya hasil kerja keras selama dia bekerja.


Banyak pertanyaan muncul di kepala Daisy, bagaimana bisa seorang Ran dengan mudah datang lalu memilih mobil sepagi ini, sang Manajer juga sangat menghormati Ran, bukan hanya sebagai pembeli tapi sesuatu yang lain seolah dia bawahan dengan atasannya. Sama halnya sewaktu di Paris semua terasa begitu mudah, indah dan terlalu nyaman seperti mimpi. Tapi akhirnya Daisy mengabaikan dan memendam semua pertanyaan di kepalanya, dia tidak mau merusak momen indah yang sudah dia bangun, dia hanya akan menunggu dan berharap suatu saat Zhafran akan terbuka padanya.


-


-


Setibanya di kantor, Daisy dan Ran seolah kembali menjadi pegawai biasa yang bertemu sebagai rekan kerja.


Ketika duduk di kursi dan bersiap untuk bekerja Daisy tidak bisa fokus justru larut dalam lamunannya.


Batinku gak siap terlalu banyak kejutan dari Zhafran, siapa sih suamiku ini. Sebanyak itukah uangnya sebagai Presdir?


Diana menghampiri Daisy yang tengah melamun," kemana saja sih cuti kok mendadak gitu. Daisy pulang cuti kok semakin wah banget sih itu semua pakaian sama tas nya bukannya HEMRES yah."


"Cuma KW kok. lanjutkan kerja sana, aku cuti kan ada urusan penting."


Randy yang mendengar percakapan keduanya pun menimbrung," tidak papa kali kalau Daisy mau cuti toh selama ini dia gak pernah absen kan."


Beberapa jam kemudian Rafael mendatangi Daisy," Daisy sejam lagi kita ada pertemuan sama Arsena Grub."


"Loh bukannya 2 minggu lagi, ada apa?"


"Sepertinya mereka mau menambahkan beberapa hal terkait proyek kemaren, tenang saja tidak ada perubahan besar lainnya, lagipula ini mengenai masa depan kita."


"Baiklah aku akan menyiapkannya."


Sejam kemudian.


"Pak Rafa kita mau kemana bukannya akan bertemu dengan Arsena Grub?"


"Mereka mengubah tempat pertemuan di Restoran Atson Private Room."


"Sungguh ? wah makanan enak lagi."


"Kau ini kalau sudah mendengar restoran langsung auto lapar ya "


Sesampainya di Restoran Atson Private Room


"Pak Rafa saya kebelet mau ke kamar kecil sebentar ya, nanti akan saya susul."


"Ya sudah jangan kelamaan."


"Selamat datang silahkan duduk." Rafael mempersilahkan kedua tamu untuk duduk sambil bersalaman.


"Terima kasih. Pak Rafael perkenalkan lelaki yang disamping saya adalah Manajer baru yang ditunjuk untuk proyek kita kali ini."


"Saya Ryan. terima kasih Pak Rafael mau meluangkan waktu untuk membahas ulang beberapa hal terkait kerja sama kita." Keduanya bersalaman dengan hormat dan ramah.


"Saya yang harus berterima kasih, selain saya masih ada Daisy, sebentar lagi dia akan tiba..."


"Krieek." Suara pintu terbuka.


"Nah baru saja dibicarakan orangnya muncul," ujar Rafael.


Daisy yang segan kemudian berkata," Saya minta maaf terlambat, perkenalkan nama saya Daisy..."


Daisy menghentikan kalimatnya, seketika kakinya lemas, telapak tangannya mendingin, wajahnya mulai memucat, suaranya menggetar itu karna batinnya masih tidak siap melihat seseorang yang tidak ingin dia lihat ataupun temui tapi kini orang itu berdiri tepat di hadapannya tengah memasang senyuman lembut sambil menjulurkan tangannya.


"Selamat datang Nona Daisy," ucap lelaki itu.


Bersambung.


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.


Jangan lupa berikan asupan nutrisi biar authornya makin semangat berupa Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Full Rate.

__ADS_1


__ADS_2