
Part II
Jangan lupa Vote, Like, Komen, Rate, dan Klik ❤
Sebelum kita melanjutkan pertemuan Daisy dan Ryan di bab sebelumnya silahkan simak masa lalu Daisy.
Keesokan harinya.
"Sayang kamu sudah siap belum gak usah dandan kamu sudah terlalu cantik." Ryan mengirim SMS kepada Daisy, dia sudah sampai di depan rumah Daisy tapi masih di dalam mobilnya.
"Sudah dong, kamu dimana?"
"Aku sudah di depan, aku masuk ya sekalian minta ijin ke ibu mertua buat ajak kamu kerumah hehe."
"Kan belum menikah sudah panggil ibu mertua, dasar kamu nih."
"Kan nanti kita menikah hehe."
Daisy mengabaikan perkataan Ryan tapi dia tersenyum riang membaca SMS tersebut.
[ Ning Nung ] Suara bell pintu.
"Selamat pagi tante, Ryan mau jemput Daisy ke rumah karna ada acara, Mami dan Papi juga pengen ketemu sama Daisy. Boleh kan."
"Boleh sih tapi pulangnya jangan larut malam, sampaikan salam ke orang tuamu ya."
Sejauh ini Ryan sangat baik pada Daisy, kalian berdua terlihat serasi. Semoga saja kalian jodoh.
Setelah berpamitan keduanya menuju ke rumah Ryan tapi sebelum itu Daisy mampir ke toko bunga untuk membelinya sebagai hadiah pada kedua orang tua Ryan.
"Sayang kamu perhatian banget sih sampai mau belikan bunga buat orang tuaku."
"Masa aku gak bawa apapun kan gak enak, lagian kan calon mertuaku heheh."
"Ciyeee."
"Apa an sih."
Setibanya di rumah Ryan, kedua orang tuanya menyambut Daisy dengan hangat. Awalnya kedua orang tua Ryan ragu tapi setelah bertemu Daisy tanggapan mereka berubah. Mereka merasa Daisy anak yang lemah lembut, sopan dan ramah. Ryan juga selalu membanggakan Daisy saat berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Daisy sering-sering main kerumah mami ya, biasanya cuma bertiga jadi sepi banget."
"Kalau boleh dan di izinkan Daisy pasti akan sering mamper kok tante."
Ryan yang mendengar percakapan tersebut langsung ikut berbicara," jangan tante dong, panggil Mami."
Daisy kemudian menjadi malu dan wajahnya memerah," apa an sih kan belum jadi..." Mami Ryan memotong kalimat Daisy," panggil saja Mami gak papa kok."
Sedari dulu Mami Ryan memang sangat menginginkan anak perempuan atau mendapat menantu seperti Daisy. Ketika Daisy datang dan mulai mengobrol bersama mereka, Mami Ryan mulai merasa cocok dengan Daisy dan langsung merestui mereka berdua.
Seiring berjalannya waktu dan tahunpun berganti Daisy menjadi lebih dekat dengan keluarga Ryan begitu juga sebaliknya.
__ADS_1
"Sayang kalau sudah lulus nanti kamu mau gak kalau kita menikah?"
"Kamu serius?"
"Aku serius jangan takut aku pasti menafkahi kita, kamu tau kan aku juga sambil bekerja saat ini di Perusahaan Papi."
"Dih dasar aku bukan takut itu, aku cuma kaget gak nyangka kalau kamu bakal bilang begitu."
"Kok gak nyangka sih kan sudah sering kita bahas."
"Bahas apanya kan kamu sambil bercanda."
-
-
Di kediaman Ryan.
"Ryan bagaimana kalau kalian bertunangan," ucap Maminya.
"Ryan malah mau langsung melamar Daisy Mi setelah lulus kuliah."
"Kerja dulu yang benar baru lamar anak orang. Papi mau kamu lanjut ke Harvard untuk meneruskan usaha bisnis dan Perusahaan kita."
"Tapi..." Papi memotong kalimat Ryan," gak ada tapi - tapian ini perintah. Kalau memang Daisy cinta sama kamu pasti dia mengerti, toh ini buat masa depan kalian."
"Ryan yang gak tega membuat Daisy menunggu lebih lama, kasihan Daisy Pi."
Dengan wajah menekuk kesal Ryan pergi ke kamarnya lalu menutup pintu dengan keras, dia menjawab Maminya hanya sekedarnya saja," Biarkan Ryan berpikir dulu."
2 minggu kemudian.
Saat itu Ryan dan Daisy tengah kencan dan menghabiskan liburan bersama.
Ryan berjalan sambil memegang tangan Daisy dan membawanya ke taman di sekitar rumahnya," Daisy aku ingin membicarakan hal penting padamu."
Melihat kekasihnya berwajah muram Daisy pun langsung mengelus pipinya," Ada apa sayang?"
Ryan mencium tangan Daisy lalu duduk disebelahnya," Aku akan melanjutkan kuliahku di Harvard. Jadi mengenai pernikahan kita.."
Mata Daisy menggelap seketika, dia sudah lama menantikan pernikahan itu," apa kamu ingin membatalkannya?"
Ryan segera melingkarkan tangannya di pinggang Daisy," siapa yang mau membatalkannya, aku hanya ingin menundanya. Jangan pernah katakan itu Daisy."
Daisy meremas punggung Ryan," sampai kapan aku harus menunggumu?"
"Tunggulah aku, jangan tinggalkan aku. Saat aku di Amerika kau bisa mengunjungiku, mengenai biaya dan semua hal aku akan mengurusnya. Jadi kumohon bersabarlah. Ini untuk masa depan kita."
Daisy masih diam tidak menjawab.
Ryan mencium kening Daisy lalu menatap lekat mata kekasihnya," aku sudah bicara pada mami dan papi, mereka setuju dengan rencana pertunangan. Jadi kamu tidak perlu khawatir aku akan selalu bersamamu walaupun terbentang jarak di antara kita. Daisy my Sysy aku sangat mencintaimu."
Daisy hanya melayangkan senyuman manisnya melihat Ryan yang memasang wajah muramnya bahkan meneteskan air mata untuknya," Aku percaya padamu. Tapi berjanjilah jangan pernah khianati cinta diantara kita."
__ADS_1
Kemudian Ryan mengeluarkan kotak kecil dari dalam sakunya. Dia membuka kotak itu didalamnya ada cincin berlian putih terlihat indah.
"Aku janji jadi terimalah cincin ini, bukti ikatan diantara kita. Aku juga sudah bicara sama kedua orang tuamu, mereka merestui pertunangan kita."
"Loh kapan kamu bicara sama orang tuaku kok gak ngomong sih."
"Minggu lalu, awalnya ayahmu gak setuju tapi setelah aku berjuang keras membujuknya akhirnya beliau berkata" kalau sampai kamu mengingkari janjimu aku akan membunuhmu, temui Daisy dan katakan niatmu jika dia setuju maka aku akan merestui kalian" itu amanah dari Ayahmu."
Daisy tertawa mendengarnya," ya aku kan sudah setuju."
"Daisy aku akan memakaikan cincin ini jadi tolong jangan pernah melepaskannya." Ryan memasangkan cincin di jemari Daisy dengan lembut.
-
-
1 bulan kemudian.
Sindy yang baru pulang langsung menggerebek pintu kamar Daisy. Sindy jarang hadir di rumah karna dia Sekolah di luar kota, hanya kembali ketika sedang berlibur.
"Kak serius kamu mau tunangan sama Kak Ryan? kok gak cerita sih, malah paman Tomo yang kasih tau aku kan gak asik."
Sindy pernah bertemu Ryan tapi hanya sesekali saat dia sedang berada di rumah.
"Serius dong masa bercanda, kenapa kamu iri? kakak malas cerita ke kamu. Kamu kan ember orangnya terlalu heboh sana sini."
"Iri darimana malah kasian sama Kak Ryan kok mau sama Kakakku yang super cerewet ini. Lagian siapa juga yang ember sih." Seperti biasa Daisy dan Sindy selalu akrab dan saling bergurau ketika bersama.
"Jadi kapan acaranya kak?"
"Lusa mereka akan kemari, hanya kerabat dekat saja yang datang bukan acara yang besar. Acaranya juga mendadak sih makanya sampai belum kasih tau kamu, sekalian aja pas kamu di rumah baru cerita hehehe."
"Yasudahlah aku ikut senang kalau kakak bahagia."
Lusa kemudian acara diadakan di halaman belakang rumah Daisy. Keluarga dan kerabat dekat hadir di acara pertunangan mereka, semua tampak bahagia terutama Daisy dan Ryan.
"Daisy pokoknya setelah aku ke Amerika kamu jangan nakal ya." Ryan menggenggam tangan Daisy lalu mencium tangannya.
"Kamu yang jangan nakal, apalagi di Amerika aduh aku takut kamu yang khilaf disana."
"Hust jangan ngomong gitu, aku janji cuma akan fokus belajar dan gak berbuat aneh-aneh, kapanpun kamu bisa datang dan ketika libur aku bisa pulang."
"Aku percaya kok."
"Daisy sayang pokoknya kamu jangan selingkuh ataupun dekat sama pria lain oke."
"Siap bos aku gak akan selingkuh atau apapun itu." Daisy membuat gerakan hormat sambil bercanda, keduanya pun tertawa bahagia.
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.
Jangan lupa berikan asupan nutrisi biar authornya makin semangat berupa Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Full Rate.
__ADS_1