My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab. 50 - Rencana Ren


__ADS_3

Di Kafe


Suasana hati Sarah berbunga - bunga terkadang dia tersenyum samar sambil mencuci piring, dia sibuk membayangkan kejatuhan Daisy, dia berharap saingannya itu di pecat secara tidak hormat dan dihujani makian dan celaan dari orang - orang.


Setelah dia selesai mencuci piring dan mau istirahat, dia merasa suasana di dalam kafe sangat sepi, tidak ada satupun pelanggan kecuali seorang pria yang duduk diatas kursi dengan kokoh di dampingi beberapa pria berjas hitam lainnya sedang melotot ke arahnya.


Sarah melirik ke sebrang meja yang tepat berada di depan pria itu, ada ibunya yang diam menunduk cemas ketakutan.


"Silahkan Nona Sarah bergabung dengan kami." Dengan suara tegas dan berat pria itu mempersilahkan Sarah bergabung dengannya.


Bulu kuduk Sarah berdiri dia merasakan tekanan kuat dari pria tersebut. Dengan langkah pelan dia menuju kursi yang ada di depannya.


"Saya tidak perlu memperkenalkan diri bukan. Silahkan baca berkas ini." Pria itu membuka koper kerjanya, mengambil map coklat lalu di letakkannya di atas meja.


"Tentu saja saya tau anda adalah Pak Ren seorang Asisten Presdir. Tapi kenapa anda ke kafe kecil kami?" Dengan suara bergetar Sarah memberanikan diri bicara pada Ren sambil membuka map yang berisikan beberapa lembaran kertas.


Mata Sarah melotot kebingungan menatap lembaran demi lembaran kertas yang dia baca. Saat Sarah hendak bertanya, Ren langsung mengeluarkan kalimat," Nona Sarah bisakah anda menyerahkan ponsel anda sekarang?" tanya Ren dengan sopan tapi tatapan matanya sangat menusuk.


"Maaf saya tidak mengerti sama sekali maksud dari." Belum sempat Sarah menyelesaikan kalimatnya, Ren langsung berkata," siapa yang mengizinkan anda bicara. Kalau tidak mau menyerahkannya, jangan salahkan saya bertindak lebih dari ini."


Pria berjas hitam lain mulai mendekati Sarah, mereka berdiri di belakang Sarah dan hanya menunggu perintah lanjutan dari Ren.


Suasana menjadi lebih dingin mencekam, dengan berat hati Sarah mengeluarkan ponsel nya lalu meletakkannya di atas meja. Dia tidak berani menatap Ren, lengkuk lehernya sedari tadi menunduk.


Dengan santai Ren mengambil ponsel tersebut lalu memeriksanya. Beberapa lama kemudian Ren tersenyum sinis menatap Sarah sambil menunjukkan layar ponsel yang dia pegang."


Sadar dengan apa yang di lakukan Ren, Sarah mencoba mencari alasan. Tapi dia tidak bisa mengeluarkan suaranya.


"Nona sudah membacanya kan, dan tau apa saja kesalahan yang telah anda perbuat. Kalau masih tidak paham apa perlu saya jelaskan apa arti pencemaran nama baik? serta fitnahan kejam yang anda lakukan pada ketiga orang yang ada di foto ini?"

__ADS_1


Sarah masih diam bukan hanya karna takut dia juga kebingunan tidak menyangka kalau niatnya menjatuhkan Daisy justru berbalik ke arahnya.


"Sungguh saya tidak paham maksud Pak Ren. Foto tersebut sungguh tanpa sengaja. Lagi pula apa salahnya? toh perempuan itu berani menggoda Presdir padahal sudah menikah dan punya anak."


"Praaak." Ren memukul meja dengan kuat sontak membuat orang di sekitarnya kaget, terutama ibu Sarah yang sedari tadi berada disana hampir pingsan.


"Jangan memanggil Nyonya saya dengan sebutan perempuan itu. Bibir mu terlalu kotor untuk mengucapkannya. Saya juga sudah katakan baca dan telaah berkas nya. Yang anda lakukan saat ini adalah tindak kejahatan dan bisa di penjara, apalagi korbannya adalah Tuan Presdir, Pak Charles dari Mahesa Grub serta Nyonya saya. Bacalah tiap detail pasal serta hukumnya, jadi saya tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Sangat membuang waktu dan tenaga."


"Saya tidak melakukan kejahatan apapun, tolong percayalah pada saya. Apa yang saya sebarkan itu adalah bukti kejahatan Daisy." Sarah masih membuat alasan yang tidak masuk akal, dirinya semakin terlihat bodoh dihadapan Ren.


Nyonya siapa yang dia maksud apa itu Daisy? apa yang sebenarnya terjadi ? sialan aku tidak mau di penjara. Apa aku harus lari? tapi tidak mungkin.


"Kamu tau salah satu kejahatanmu adalah ancaman pidana dan juga fitnah. Apa saja hukum dan pasalnya kamu bisa membaca lagi berkas yang ada di tanganmu itu."


Setelah membaca lagi berkas yang dia pegang, Sarah mulai mengeluarkan air mata. Dia tidak mampu menyangga semua bukti kejahatan yang mengarah padanya.


"Oh sangat mudah membuat anda di penjara menemani ayah anda. Tapi sebelum itu silahkan Nona ikut saya." Ren berdiri dia mulai melangkahkan kakinya tapi tangannya di tarik oleh ibu Sarah yang menangis ketakutan. Tapi perjuangan ibu Sarah di hentikan oleh pria berjas hitam lain yang dibawa Ren khusus menjadi pegawalnya.


"Tolong jangan bawa anak saya. Pasti ada kesalahan, saya mohon Pak." Ibu Sarah berlutut memohon pada Ren lalu menarik Sarah untuk ikut berlutut padanya.


"Saya bukan Tuhan jadi jangan berlutut. Salahkan anak anda yang berani membuat masalah pada kami. Ketahuilah kami bahkan tidak pernah mengganggu anak anda. Sebagai ibu yang baik lepaskan saja anak anda dengan ikhlas karna dia perlu menebus dosanya." Ren kemudian keluar dari kafe serta membawa sarah yang di pegang paksa oleh beberapa pengawal. Meninggalkan ibunya sendiri yang terisak oleh tangisan keputusasaan.


Sarah di bawa di mobil yang berbeda dengan Ren.


Sarah terus merutuki perbuatannya yang ceroboh.


Di dalam mobil yang di tempati Ren, dia menelpon Charles Mahesa.


"Maaf Tuan Charles sampai harus menunggu. Saya perlu menyelesaikan sedikit masalah. Mengenai hal sebelumnya yang sudah kita bahas, apakah anda bersedia?"

__ADS_1


" Kenapa masih ditanya tentu saja saya akan kesana. Inikan menyangkut harga diri dan masa depan saya juga. Apalagi dia berani mencari masalah dengan ibu angkatnya Evan. Mana bisa saya diam saja."


"Terima kasih. Kalau begitu saya akan menunggu anda di Perusahaan I&T Corporation."


Cih ibu angkat. Kau pikir Tuanku mau berbagi.


Setelah percakapan tersebut selesai, Ren melajukan mobilnya menuju Perusahaan I&T Corporation.


Begitupula dengan Ran dan Zhafran yang juga menuju Perusahaan I&T Corporation dalam keadaan gusar dan menahan amarahnya.


"Tuan tenanglah, Ren sudah mengatur rencana sebaik mungkin. Kita akan menyiapkan hadiah besar di aula nanti."


"Aku tau." Zhafran menjawab dengan datar sambil menatap layar Hpnya. Dia mengirim pesan singkat pada Daisy agar tidak cemas ataupun sedih.


"Saya juga akan memberi hadiah perpisahan pada Sarah Tuan. Kau bisa dengan tenang menunggunya."


"Hemmm. Aku harap hadiah nya tidak mengecewakan." Zhafran masih terus menatap layar Hpnya, menunggu Daisy menjawab pesannya. Beberapa menit kemudian muncul senyuman tipis di wajah Zhafran, dia senang Daisy membalas pesannya.


Bersambung.


Note :


Sedikit curhat, beberapa hari ini gak enak badan + meriang (merindukan Zhafran pengen di rawat dia).


Tapi tenang cuma sakit manja kalau kalian dukung dan memberi semangat pasti langsung sembuh kok.


Readers yg baik hati dan nagih up jangan lupa VOTE atau Komen dan Like nya + klik ❤


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.

__ADS_1


__ADS_2