My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.60 - Mimpi Buruk


__ADS_3

Pantulan sinar mentari dari balik kaca jendela menerpa kulitnya. Hangatnya menenangkan hati dari kegelisahan mimpi buruk.


"Istriku apa kamu mimpi buruk?" Zhafran mendekat karna Daisy menangis dan mengeluarkan beberapa kata saat dia tidur.


"Sayang, aku tidak apa." Daisy mulai menyentuh pipinya yang agak basah karna cairan panas yang keluar dari matanya.


Zhafran yang sudah rapi, lantas memeluk Daisy dan mengelus pipinya lalu dia berkata," kamu yakin? bagaimana kalau cuti kerja hari ini?" dia lalu mengecup kening Daisy pelan.


"Aku tidak ingat. Tenanglah hanya mimpi, aku lapar. Jangan khawatir sayang." Daisy memalingkan lirikan matanya. Dia masih ingat mimpi buruknya walaupun samar - samar.


"Basuhlah wajahmu lalu kita sarapan. Sarapan sudah di siapkan Bibi. Aku akan menunggu di meja makan."


Mata Zhafran memandang sendu, dia sempat mendengar teriakan pelan dari Istrinya dan menyebut nama Ryan, orang yang paling Zhafran benci. Ada perasaan panas yang keluar dari rongga hatinya.


Istriku apakah kamu masih mencintainya. Kenapa rasanya hati ini sakit seperti tertusuk paku tajam.


Daisy mengangguk tanpa menjawab, kemudian dia menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


Sambil menatap cermin dia pun bergumam," karna terlalu kepikiran tentang semalam, aku sampai mimpi tentang Ryan dan penghianatannya. Aku takut karna setelah Ryan, muncul Zhafran di dalam mimpiku, tapi dia seolah pergi dariku. Ya Tuhan, aku mohon jagalah hatinya hanya untukku."


Daisy menuju meja makan, dia tersenyum melihat Suaminya yang tengah duduk dengan tegak sambil membaca koran. Kemudian mata mereka saling bertemu, keduanya pun memerah salah tingkah.


Daisy menarik kursi lalu duduk diatasnya sambil memperhatikan beberapa hidangan diatas meja.


Mereka menikmati sarapan dengan khusuk tanpa ada yang berbicara ataupun merubah ekspersi wajahnya. Biasanya Daisy akan melirik Zhafran sesekali, tapi kali ini dia fokus menyantap tiap gigitan sandwich di mulutnya.


Setelah selesai sarapan dan mencuci piring.


Zhafran bertanya," Istriku, bagaimana kalau kita berangkat kerja bersama?"


"Kan aku sudah punya mobil, kita pergi masing - masing saja. Kamu bisa berangkat duluan, aku mau mandi dulu."


Daisy hendak melangkahkan kakinya, tapi Zhafran memeluk tubuhnya lalu mulai menciumi kening Daisy dan bibirnya yang tipis bewarna merah muda.


"Jangan cium aku, belum mandi dan sikat gigi. Kan bau." Daisy menutup bibirnya menggunakan tangan kanannya.


"Bau saja aku pengen cium, gimana kalau harum." Melihat Daisy dengan keimutannya pagi ini, dia langsung memberi tanda merah di dadanya. Melanjutkan kalimatnya," ayo kita lakukan." Zhafran mulai meraba dengan kasar sambil melanjutkan ciumannya.


"Sayang, kamu mau lakukan itu sekarang? bagaimana kalau kita terlambat kerja?" jantung Daisy berdegup kencang, pipinya merona merah dia mulai terangsang dengan tindakan Zhafran.


Zhafran menggendong Daisy lalu merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang, dia mulai membuka piyama tipis yang di pakai Daisy. Jarinya bermain di celah sensitif Daisy lalu lidahnya mulai menyapu pelan di kedua bukit kembar yang berukuran sedang tapi lembut dan berisi.


Zhafran tidak menjawab pertanyaan Daisy, tapi menunjukkannya dengan tindakan. Dia membuka celanya, merasa hasratnya mulai bangkit dan menegang diapun menusuk dan memompa Daisy dengan kuat penuh gairah.


"Katakan kalau kamu mencintaiku, katakan padaku kamu tidak akan meninggalkan aku Istriku." Zhafran terus memompa Daisy tapi gerakannya lebih lambat dan lembut.

__ADS_1


"Sayang...aku mencintaimu, aku tidak akan meninggalkanmu." Daisy menjawab dengan terengah - engah sambil mendesah pelan.


"Panggil namaku lalu katakan dengan lantang kalau kamu benar - benar mencintaiku dan hanya mencintaiku." Zhafran mulai melajukan gerakannya, dia semakin berhasrat.


"Zhafran aku ah..ah.. aku hanya mencintaimu." Daisy mulai menggeliat dan meremas rambut Zhafran.


"Istriku aku juga sangat mencintaimu jadi jangan pernah memikirkan orang lain atau berpaling dariku." Zhafran mendekap tubuh Daisy dengan kuat, tatapan yang tadinya lembut berubah seperti tatapan hewan buas yang kelaparan.


Setelah hasrat mereka terpuaskan Zhafran menggendong Daisy ke kamar mandi, kemudian mereka mandi bersama dan melakukannya lagi.


Setelah ritual pagi yang hangat penuh gairah, keduanya sudah berpakaian rapi.


"Kamu mau berangkat sendiri kan, kalau begitu aku duluan." Zhafran mencium kening Daisy.


"Suamiku, hati - hati di jalan. Aku mencintaimu." Daisy membalas ciuman di bibir Zhafran.


"Aku lebih mencintaimu. Pelan - pelan saja menyetir mobil. Aku berangkat, sampai jumpa di kantor."


Sembari keluar dari apartemen, Zhafran memeriksa ponselnya dan dapat kabar dari Ren, kalau Saudara dan Neneknya sedang menginap di Hotel Atson. Raut wajahnya pun berubah khawatir.


Harusnya kami bertemu dua minggu lagi. Nenek apalagi yang di rencanakannya.


*


*


*


Daisy kemudian mengambil tasnya, dia segera bergegas menuju Perusahaan. Selama perjalanan dia mencoba fokus dan menenangkan hatinya.


Sebelum ke Perusahaan, Daisy mampir untuk membeli beberapa kopi susu hangat dan membawanya ke Perusahaan untuk di bagikan ke beberapa rekan kerjanya.


Saat dia menuju parkiran kafe, tanpa sengaja wanita tua menabraknya, lalu beberapa kopi yang dia pegang tertumpah.


"Ah gadis cantik maafkan aku, sungguh wanita tua ini tidak sengaja. Biarkan saya mengganti biaya minumanmu yang tumpah."


"Tidak apa Nek. Saya bisa membelinya lagi tidak perlu ganti rugi. Apa Nenek sendirian?" bukannya marah tapi Daisy justru khawaitr.


Merasa ragu si Nenek menjawab," terima kasih ya, sebenarnya aku sedang tersesat. Cucuku pasti tengah mencariku sekarang haha." Di sela keraguannya dia malah menjawab sambil tertawa.


Merasa tidak tega, Daisy berkata," apa Nenek punya nomor telpon cucu Nenek? biar saya menelponnya. Jadi Nenek bisa menunggu di dalam mobil saya."


Wanita tua itu sedikit kaget dengan ajakan ramah dari Daisy. Dia mulai melirik Daisy dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Dia cantik dan berhati lembut, sangat cocok untuk cucuku yang juga tampan hahaha.

__ADS_1


Keduanya duduk di dalam mobil, mereka sempat mengobrol sebentar lalu Daisy menelpon cucu si Nenek tersebut. Setelah menjelaskan situasinya di telpon, cucunya segera mendatangi Daisy.


"Maaf Daisy, aku malah merepotkanmu. Pasti kamu sudah terlambat bekerja karna Nenek tua ini."


"Tidak perlu minta maaf Nek. Daisy ikhlas membantu. Apa Nenek baru pertama kali ke daerah ini? kok bisa sampai pergi sendirian dan tersesat?"


Belum sempat wanita tua itu menjawab ada suara ketukan dari kaca mobil. Daisy yang sadar akan ketukan tersebut, membuka kaca jendelanya.


"Apa kamu Daisy yang di telpon tadi?" tanya pria tampan itu, membuat Daisy tidak fokus.


Daisy kemudian keluar dari mobil lalu berbicara," Apa kamu William?"


Keduanya saling bertatapan kagum sambil berkenalan, Daisy menjelaskan situasinya pada William, tapi dari dalam mobil si Nenek memperhatikan sambil tersenyum. Dia pun keluar dan menghampiri keduanya.


"Daisy kita akan berjumpa lagi nanti. William pastikan kamu menyimpan nomor Daisy untuk membalas budinya nanti. Nenek tau Daisy sudah terlambat bekerja jadi pergilah."


Wanita tua itu memeluk Daisy dengan hangat.


"Baiklah, Daisy harap Nenek tidak kesasar lagi dan jangan pergi sendirian. Daisy pamit, selamat tinggal."


Setelah Daisy pergi, William mulai berkata," Aku tau Nenek membawa ponsel dan sengaja membuat ulah. Lain kali jangan merepotkan orang lain. Dan apa pula tatapan berbinar itu? ayo kita segera kembali ke Hotel Atson."


"Apa sih kok malah marah - marah. Jadi bagaimana apa Daisy cantik? kamu tertarik kan padanya. Jangan lupa nanti siang telpon lalu ajak dia lunch."


"Jangan mulai mendekatkanku pada Daisy apalagi sampai menjodohkanku seperti Alex.Oh iya apa Nenek gak bilang pada Alex kalau kita datang?"


"Hahahaha tentu saja akan suprise. Harusnya Jasmine juga akan datang karna Kakekmu memaksa akan menjodohkannya dengan Alex."


Suprise apanya? kalau tau Alex pasti akan kesal.


"Berhentilah menjodohkan. Nenek tau kan Alex tidak nyaman dengan hal itu."


"Kakekmu sudah tidak sabar. Kalian ini sudah dewasa tapi belum menemukan pasangan, tentu saja kami khawatir. Bagaimana kalau Nenek meninggal besok dan kalian masih jomblo?"


"Jangan bicara seperti itu. Ayo kembali ke Hotel. Ingat ya jangan buat ulah lagi."


Orang tua kami saja santai, kenapa Kakek dan Nenek masih begitu bersemangat mencarikan kami pasangan sih. Apa semakin tua semakin kekanakan?


Bersambung.


Note :


Maaf kemaren sibuk jadi Sinetronnya baru di sambung. Selamat membaca, eh kayaknya si Nenek juga gesrek deh......


Terima kasih atas segala dukungannya dan selalu setia membaca cerita receh ini.

__ADS_1


Author berjuang Update. Jahat kalau kalian masih belum VOTE, Koment, Like dan Klik favorite ❤


__ADS_2