
"Pak Zhafran?" Zhafran menyipitkan matanya.
"Karna kau memanggilku Pak Zhafran kalau begitu jangan salahkan aku..."
Merasa salah atas perkataannya barusan, Daisy hanya menunduk tidak berani menatap mata suaminya.
Zhafran langsung berdiri dan mendekat ke arah istrinya, spontan Daisy langsung berdiri tapi kepala dan dagu mereka saling bertabrakan dan memecah suasana.
Ran dan Ren dari balik pintu kaget mendengar suara keras dari Daisy, apakah mungkin terjadi sesuatu didalam tapi keduanya tidak berani masuk karena belum ada perintah dari Tuannya jadi mereka hanya menunggu lagi.
"Maaf, apa sakit?" Daisy langsung menyentuh dagu suaminya tanpa malu-malu khawatir jika dia terluka dan akan marah padanya.
Melihat kekhawatiran istrinya senyum licik muncul di bibir Zhafran, dengan cepat tangan kirinya menarik pinggang Daisy dan tangan kanannya mendorong leher Daisy mendekat kearah wajah Zhafran. Sambil tersenyum Zhafran langsung mengecup hangat bibir Daisy semakin dekat lekat dan panas.
Daisy yang kaget mencoba mengatur nafasnya, walaupun hanya kecupan singkat, Daisy menjadi sulit mengatur emosi dan ekspresi wajahnya.
Zhafran yang mulai bergairah mengarahkan tangannya masuk ke dalam baju Daisy menyentuh kulitnya, setelah kecupan singkat dia melanjutkannya dengan mencium leher istrinya, suara nafas Zhafran terdengar sampai ke telinganya.
Dengan perlahan Daisy ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya tapi pelukan itu terlalu berat, Daisy takut kalau mereka akan melakukan itu disiang hari jadi dia mencoba melawan dengan lembut.
Zhafran melonggarkan pelukannya dan Daisy langsung pamit meninggalkan Zhafran sendirian di ruangan itu.
Tidak puas dengan kejadian barusan Zhafran menjadi semakin kesal tapi dia hanya membiarkan istrinya pergi begitu saja.
"Sia-lan aku terlalu ceroboh dan adik kecilku sampai bangun," merebahkan tubuhnya di sofa sambil mengatur nafas agar adik kecilnya kembali tidur.
Beberapa saat kemudian.
"Tuan apa kau baik- baik saja? tanya Ren dan Ran bersamaan.
__ADS_1
"Hemmm," jawaban singkat seperti biasanya.
Tidak ada yang tahu kalau Hotel Atson adalah miliknya dan ruangan dengan fasilitas lengkap ini adalah kamar pribadi yang khusus di desain untuk dirinya, ruangannya sangat bersih dan tidak ada yang pernah masuk kecuali kedua asisten dan bibi nya. Biasanya setiap makan siang dia pasti ke Hotel Atson karena dia tidak bisa makan sembarang makanan dan disini dia bisa istirahat dengan nyaman diruang pribadinya.
Daisy keluar dari Hotel Atson dengan ekspresi campur aduk, dia segera melangkah laju takut kalau ada orang yang melihatnya, muncul rasa lega karena tidak ada orang yang memperhatikannya. Sejujurnya dia merasa tidak enak dan kurang pantas karena langsung meninggalkan suaminya seperti itu, tapi Daisy hanya kebingungan dengan menjadi salah tingkah, dia berharap suaminya akan mengerti akan tindakannya.
"Kenapa aku harus sekhawatir ini makan siang dengan suamiku sih," gumamnya pelan, ada rasa takut dan khawatir kalau ada orang yang melihat mereka, setiap hari mendengar para wanita membicarakan suaminya bagaimana jika mereka tahu kalau sekarang dirinya sedang makan makan siang mesra bersama Zhafran.
Baru saja menyelesaikan pekerjaannya, mendadak ada rapat penting jadi dia dan beberapa rekannya harus segera mempersiapkan dan bertnggung jawab atas proyek baru yang dia kerjakan sebelumnya, rapat untuk mendapatkan proyek penawaran kepada Perusahaan Arsena Grub yang terkenal. Arsena Grub adalah salah satu perusahaan besar dari Korea dengan beberapa cabang di Asia.
Semua rekan percaya pada Daisy untuk memimpin.Dia ingin fokus dan tampil sempurna bukan hanya karena sebagai pegawai teladan tapi juga menunjukkan kualitasnya sebagai seorang istri dihadapan Zhafran.
Suaminya yang ikut hadir pada rapat tersebut tidak lantas membuatnya kehilangan fokus, dengan stabil dan profesional Daisy berhasil memimpin rapat dengan sempurna, pada akhirnya dia menerima banyak tepukan tangan.
Zhafran memandang Daisy dengan bangga, dan saat mata mereka bertatapan tersirat senyuman tipis dari Zhafran kepada Daisy. Daisy yang sadar akan senyuman itu membalasnya dengan senyuman sambil menunduk layaknya atasan dan bawahan, sehingga tidak ada satupun yang sadar kalau senyuman itu mempunyai arti yang khusus di tujukan pada istrinya.
Rapat pun berakhir dengan tenang semua orang secara teratur keluar dari ruangan tersebut.
"Bos bagaimana jika malam ini kita makan malam untuk merayakan keberhasilan kita," ucap Diana dengan girang.
Randy meletakkan tangan dibahu Daisy tanpa jarak juga ikut berkomentar," Benar bagaimana jika malam ini kita pesta seafod, ya kan Des."
Daisy yang masih gembira tidak begitu memperhatikan sekelilingnya hanya mengangguk.
Rafael yang tidak bisa menolak rekan dan bawahannya segera menyetujui permintaan mereka.
"Baiklah jam 8 nanti malam di Restoran Cina Fox kalian jangan sampai lupa." ucap Rafael.
"Des, kamu ikutkan," Randy langsung menggenggam tangan Daisy dengan erat, tapi Daisy tidak peka dan hanya mengangguk.
__ADS_1
Rafael yang melihat Randy menggenggam tangan Daisy dihadapannya, dengan spontan langsung menarik tangan Randy dan masuk ke posisi tengah diantara mereka bertiga, seperti anak kecil berebut permen.
"Daisy!" ucap Zhafran dengan keras dan lantang.
Suasana menjadi dingin karena suara berat yang muncul dari arah belakangnya, seketika semua orang terdiam bisu bertanya - tanya.
"Apakah bapak memanggil saya?" tanya Daisy dengan khawatir.
Ren yang menemani Zhafran paham kenapa Tuannya sampai seperti itu langsung menjawab Daisy dengan sopan.
"Bisakah kau ikut keruangan Pak Zhafran karena ada beberapa hal yang perlu dibahas perihal proyek tadi." ucap Ren dengan sopan tapi tatapan matanya menusuk.
Setelah itu Daisy mengikuti mereka masuk kedalam ruangan eksklusif Presiden, tapi Ren tidak ikut masuk dan menunggu diluar pintu.
"Apa ada sesuatu yang salah ?" tanya Daisy dengan wajah polosnya.
Zhafran langsung mengambil tisu basah untuk mengelap tangan Daisy, tidak puas dengan tisu basah Zhafran membawa Daisy ke kamar mandi untuk membasuh tangannya, sebelum bertanya kenapa suaminya melakukan hal itu, Zhafran langsung berkata," tanganmu kotor harus dibersihkan tidakkah kau tahu banyak kuman nakal yang menempel jika kau tidak rajin membersihkannya," Daisy yang merasa suaminya berlebihan hanya bisa menurutinya tanpa mengeluh.
Setelah selesai dia langsung mengelap tangan istrinya dengan handuk kecil yang dia ambil dari dalam lemarinya, betapa kagetnya dia melihat banyaknya handuk kecil tersusun rapi di dalamnya. Apakah suaminya penggila kebersihan.
Mereka berdua hanya diam, merasa tidak ada yang di bicarakan Daisy berniat untuk kembali bekerja, dengan spontan Zhafran menarik tangan istrinya lalu menggenggam erat tangannya, mengecup jarinya satu persatu.
Daisy yang kaget spontan memundurkan langkahnya menjauh dari Zhafran, Zhafran yang tidak suka karena penolakan halus Daisy, langsung mengecup memeluk erat dan mengecupnya lagi dan lagi.
Kali ini kecupannya lebih lama bukan hanya sekedar kecupan tapi ciuman panas, lidah Zhafran bermain didalam mulut Daisy. Daisy yang tidak mampu melawan hanya bisa pasrah di ci um suaminya.
Ciu man itu semakin dalam dan Daisy ikut hanyut dalam permainan lembut Zhafran memainkan lidahnya, Zhafran seperti serigala lapar dia mulai menggigit leher istrinya sampai terlihat jejak bekas gigitannya, hampir saja terhanyut Daisy langsung mengepalkan tangannya dan berkata," maaf pak, bukankah sekarang jam kerja sangat tidak etis jika kita melakukannya di sini."
"Hemmm," terasa erangan nafas berat yang didengar Daisy, Zhafran masih menatapnya dingin dan kesal.
__ADS_1
"Sebagai suami mu aku tidak suka ada yang menyentuhmu, bukan hanya satu tapi dua ekor lalat, kau tahu kan betapa kotornya itu hah, jangan lakukan itu lagi karena ketika aku menjadi cemburu kau akan kerepotan nantinya," ucapnya dengan tatapan serius lalu membenamkan wajahnya ke dada Daisy.
Bersambung.