
Daisy masih merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dengan mata sedikit bengkak yang terpejam seakan tidak ingin bangkit. Tapi sinar matahari yang mengintip dari balik jendela menerobos masuk, memaksanya untuk membuka mata.
Dia berusaha mengatur energi dan kesadarannya agar berkumpul kembali untuk melanjutkan aktivitasnya. Dengan langkah berat dia bangun lalu menggerakkan tangannya menarik gorden karna silauan terang yang menerpa wajahnya.
Daisy mengambil ponselnya, di dalamnya ada pesan dari Rose yang memintanya untuk menjemputnya siang nanti dan pergi bersama ke acara reuni. Daisy yang mulai sepenuhnya sadar bergegas ke ruang makan.
"Aku tertidur 4 jam setelah menangis. Syukurlah makananya di simpan dengan baik dan masih terlihat segar. Terima kasih untuk Bibi yang telah menyiapkan sarapan sehat untukku," gumamnya pelan sambil menikmati sandwich berisikan bahan lengkap dan teksturnya masih hangat dan lembut.
Kenapa masih hangat? apa Bibi menyiapkannya lagi? apa dia berjaga dari pagi menungguku bangun? dia pasti sudah kerepotan karnaku. Tapi rasanya sungguh nikmat, setiap lapisannya di lumuri bumbu yang sedap ada tambahan mayones dan daging di dalamnya. Membuat suasana hati menjadi lebih baik.
Setelah selesai menikmati hidangan ringan dia membuka kulkas untuk mengambil susu lalu menuangkannya kedalam gelas.
Kalau lihat susu aku jadi ingat Zhafran. Apa dia masih sibuk? sama sekali tidak menghubungiku setelah pergi. Tidakkah dia merasa bersalah.
"Ning nung ning nung." Suara bell pintu.
Merasa ada yang membunyikan bell, Daisy dengan pelan berjalan untuk membuka pintu. Setelah pintu terbuka ada Ren dengan pakaian formalnya sedang berdiri sambil memegang ponselnya.
"Selamat pagi Nyonya. Apakah anda tidur dengan nyenyak?" tanya Ren kemudian menaruh ponselnya kedalam sakunya. Tapi matanya mulai tidak fokus karna Daisy masih memakai piyama tipisnya.
"Selamat pagi. Aku baru saja bangun. Masuklah."
Merasa aneh dengan sikap Ren, Daisy tersadar dia masih memakai piyama. Dengan cepat dia kembali ke kamar untuk mengambil sweater dan memakainya.
Keduanya tengah duduk di ruang tamu. Tapi suasana menjadi lebih tegang dan sepi. Biasanya Ren memang sudah sering datang tapi tujuannya hanya untuk bertemu dengan Zhafran dan urusan pekerjaan.
"Ren kenapa aku jarang melihat Ran?" tanya Daisy meletakkan teh hangat di meja untuk Ren.
"Ran sedang menemani Tuan, selain itu dia juga mendapat tugas khusus. Jadi sementara saya yang akan menemani Nyonya. Ah terima kasih untuk tehnya." Merasa sungkan dan tidak enak Ren mulai menyeruput teh hangat yang di buat untuknya.
Aku tidak bisa bilang kalau Ran juga sedang di hukum sambil menemani Tuan.
"Pasti Ren kerepotan, maaf ya. Aku sudah besar begini masa harus sampai di temani. Kalau boleh tau ada urusan penting apa Zhafran pergi pagi - pagi sekali?" tanya Daisy ragu sambil menyeruput susu dingin yang dia pegang sejak tadi.
"Sudah tugas dan kewajiban saya jadi Nyonya tidak perlu meminta maaf. Tuan sedang bertemu keluarganya, ini juga menyangkut pekerjaan."
Daisy meletakkan gelas yang dia pegang ke atas meja. Matanya mulai memerah, lalu meninggalkan Ren yang masih duduk santai di atas sofa.
__ADS_1
Daisy menuju kamar mandi membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia mulai menatap cermin dan bertanya - tanya pada dirinya sendiri.
Kenapa tidak bilang kalau mau ketemu keluarganya. Kenapa aku menjadi sangat kecewa. Harusnya aku ingat tujuan awal pernikahan kami apa. Dari awal kami juga tidak pernah membahas keluarga. Tapi kenapa sekarang aku merasa bodoh, tidak tau apapun mengenai suamiku.
Setelah beberapa menit Daisy kembali.
"Maaf Ren tadi aku buru - buru karna kebelet. Bukankah keluarga Zhafran ada di luar negri. Mungkinkah Avril kembali?" tanya Daisy penasaran.
"Nona Avril masih di Amerika. Yang menemui Tuan adalah Ayah dari Nona Avril." Merasa tidak enak dan obrolan mereka semakin berat. Ren memulai pertanyaan lain.
"Bukankah hari ini ada reuni, jam berapa Nyonya akan pergi? perlukah saya mengantar Nyonya?"
Daisy diam lalu menggelengkan kepalanya dan menjawab," nanti siang aku akan pergi bersama Rose, jadi kamu tidak perlu mengantarku."
"Maaf sebenarnya Tuan memerintahkan saya untuk menemani dan menjaga anda Nyonya. Ini karna beliau khawatir mengenai peristiwa yang lalu."
"Baiklah kalau begitu. Aku mau mandi, apa kamu akan menunggu disini?"
"Saya akan menunggu anda di ruang kerja Tuan."
Ren kemudian menuju ruang kerja Zhafran sambil membawa teh yang belum habis di tangannya.
"Seharusnya aku tau itu, dia masih saja khawatir dan meminta Ren menjagaku. Kenapa aku begitu cengeng akhir - akhir ini sih. Zhafran tidak mungkin tega meninggalkanku tanpa sebab, apalagi ada urusan pekerjaan. Akulah yang harusnya terbiasa, toh suamiku pekerja keras, bukannya pengangguran yang punya banyak waktu luang."
Setelah merasa puas berendam dia hendak berdiri dan membersihkan dirinya, tapi ada cairan merah yang keluar dari daerah sensitifnya.
ASTAGA !!! pantas saja aku moody ternyata sudah masa periodeku. Bagaimana ini aku belum ada persiapan.
Daisy keluar mengenakan handuk kimono lalu memakai selimut tebal menyelimuti tubuhnya setelah itu menuju ruang kerja milik suaminya sambil mengetuk pintu.
Melihat Ren membuka pintu, dengan pipi merah sambil menunduk Daisy bertanya padaya," Ren aku bisa minta tolong tidak?"
"Silahkan Nyonya?" balas Ren gembira, akhirnya Daisy berani meminta sesuatu padanya.
"Belikan aku roti basah yang tidak bersayap di toko terdekat kalau tidak ada coba ke apotik atau supermarket."
"Roti basah? rotinya basah? sayap?" tanya Ren polos.
Untuk pertama kalinya Daisy merindukan Ran. Dia tidak menyangka harus menjelaskan dan meminta pertolongan pada Ren.
__ADS_1
Setelah memberi penjelasan detail dan memberikan daftar serta foto merk pembalut khusus wanita, akhirnya Ren paham sambil memasang wajahnya yang memerah.
Pertama kalinya Daisy meminta bantuannya dan dia senang akan hal itu. Tapi permintaannya lebih berat dari pada pekerjaan yang biasa dia kerjakan.
•
•
•
Ren sudah sampai di apotik terdekat, dia kemudian menyerahkan lembaran kertas ada catatan dari Daisy serta foto yang ada di ponselnya kepada salah satu apoteker perempuan yang bertugas.
Perempuan itu tersenyum kagum sambil meletakkan beberapa minuman herbal pereda nyeri haid dan pembalut di dalam kantung plastik," Silahkan Mas. Harganya Rp 150.000 rupiah."
Ren megeluarkan 2 lembar kertas merah lalu memberikannya pada perempuan tersebut.
"Terima kasih Mas. Ini kembaliannya." Perempuan itu menyodorkan 1 lembar kertas bewarna biru.
"Tidak usah. Ambil saja kembaliannya." Ren memegang kantung plastik saat dia hendak berbalik si perempuan menjawab," Terima kasih Mas. Pasti pacarnya Mas bahagia mendapat kekasih pengertian dan perhatian seperti Mas. Silahkan datang lagi ya."
Ren tidak menjawab dia terus melangkahkan kakinya sambil mendengus kesal.
Tidak terasa dia sudah berada di apartemen mewah milik Tuannya. Sebenarnya dia bisa masuk karna sudah tau dan hafal kode aksesnya. Tapi dia menghormati Daisy yang saat ini ada di dalam.
Daisy membuka pintu lalu dengan kilat mengambil kantung belanjaan berlari menuju ke kamar mandi tanpa bicara pada Ren.
Melihat tingkah Daisy membuatnya tertawa pelan, sambil berucap," kekasih dari mana? kalau Tuan tau mungkin gajiku akan di potong lagi." Ren kembali masuk keruang kerja Zhafran.
Daisy kemudian mandi lagi untuk membersihkan dirinya. Setelah merasa bersih dan wangi dia mulai memoles tubuhnya dengan beberapa body lotion.
Masuk ke kamar lalu memilah beberapa pakaian casual yang cocok untuk dia kenakan hari ini.
Di lihatnya di dalam lemari banyak pakaian baru yang belum sempat dia pakai. Karna tema acaranya bukan tema resmi nan formal dia memutuskan memakai pakaian ringan yang nyaman di gunakan serta menambah kesegaran dengan motif bunga.
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.
READERS yang kusayangi. Proses Review lama dari sistem dan satu persatu Babnya baru rilis. Silahkan dinikmati kalau sudah ada yang rilis. Akutuh selalu berusaha Up jadi doakan dengan sabar sambil memberikan dukungan berupa Vote, Komen, Like dan Berikan Rate ⭐⭐⭐⭐⭐ + Klik ❤ sebagai tambahan di list Favorite kalian.
__ADS_1