My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab. 54 - Menjemput Istriku & Bonus ( Visual )


__ADS_3

Daisy begitu pandai memoles wajahnya senatural mungkin dengan make up sederhana. Dia memang punya wajah bersih dan cantik jadi make up ringan hanyalah pelengkap untuknya.


Tubuhnya yang langsing menambah poin plus pada tampilannya hari ini terutama dengan gaun ringan bewarna biru bermotif bunga, semakin membuatnya terlihat segar dan menawan.


Menghiasi mahkota dikepalanya dengan memblow rambutnya hingga membentuk gelombang kecil lalu mengikatnya sedikit ke belakang. Sungguh dia terlihat lebih muda dari umurnya sekarang.


Daisy sadar dia tidak pernah sekalipun ikut datang dan memeriahkan acara reuni yang diadakan di kampusnya. Oleh sebab itu dia mempersiapkan dirinya sebaik mungkin agar saat datang tidak ada satupun yang meremehkannya. Reuni sudah menjadi khas ajang pamer, itulah yang dikatakan Rose.


Melihat Daisy sangat cantik mempesona membuat fokus Ren teralihkan," Anda sangat cantik Nyonya. Tuan pasti menyesal tidak bisa melihat anda sekarang." Tanpa sepengetahuan Daisy. Ren memotret dirinya lalu megirimkan gambar tersebut pada Zhafran. Ren mulai mengeluarkan senyum licik penuh kebanggan.


Nyonya sangat menawan. Tuan silahkan menikmati foto cantik istri anda dari kejauhan.


"Terima kasih Ren. Ayo kita berangkat menjemput Rose sekarang." Senang mendengar pujian dari Ren, Daisy terus memasang senyum manis di wajahnya.



Kurang dari setengah jam mereka tiba di daerah kawasan apartemen Rose. Daisy pun mengirimkan pesan pada Rose dan menunggunya di parkiran.


Rose yang sudah rapi menerima pesan dari sahabatnya segera bersiap dan menuju parkiran.


Tidak kalah menawan, Rose mengurai rambut panjangnya dengan balutan baju bewarna putih tulang menghiasi tubuhnya. Siapa sangka dulunya dia sangat tomboy kini tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik.



@Alrisaa


Nama : Rose Anatasya Alrega


Usia : 25 tahun


Hobi : Moge dan Fotografi


Makanan Kesukaan : Brownies & Nasi goreng


Minuman Kesukaan : Kopi Latte & Sprite


Daisy keluar dari mobil Lexus GS bewarna biru, lalu memeluk Rose yang sudah tiba di depannya.


Selain menanyakan kabar dia tidak berhenti memuji mobil baru yang kendarai Daisy. Rose juga sangat bahagia atas baju baru yang dibelikan sahabatnya dia pun mengenakannya sekarang.


Ren dan Rose berkenalan singkat, keduanya tidak begitu tertarik mengobrol.


Di dalam mobil Ren berusaha fokus menyetir tapi suara kedua wanita yang duduk di belakangnya kadang membuatnya tertawa pelan.


Dasar perempuan sukanya gosip.


Di perjalanan kedua sahabat berparas cantik tersebut duduk santai sambil menyaksikan jalanan kota yang sibuk dengan lalu lalang kendaraan. Gedung - gedung tinggi yang berdiri kokoh mencakar langit, deretan toko yang ramai pengunjung.


"Aku bahagia banget Beb, akhirnya kita bisa berkumpul di acara reuni. Sudah 4 tahun kamu gak pernah ikut."


"Aku juga bahagia bisa kesana bareng kamu. Kalau sendirian aku gak bakal pergi. Tau sendiri kan aku gak begitu kenal banyak orang."


"Kamu harus bersyukur punya sahabat kaya aku. Bebebku my Sysy aku mau cerita tapi kamu jangan marah ya."


"Kapan aku marah sama kamu. Ya sudah cerita gih. Kita punya waktu panjang sebelum sampai."


Akhirnya Rose mulai menceritakan masalah Ryan yang pernah menemuinya di studio. Merasa kaget Daisypun ikut menceritakan masalahnya bersama Ryan di Restoran. Juga Suaminya yang ikut ngambek dan khawatir karna ulah Ryan.


"Parah banget si tinja itu sih Beb. Sudah pisah sama istrinya terus sekarang mulai ganggu kamu lagi. Sudah gak beres otaknya."


"Sudahlah gak usah kita bahas. Nih minum tadi aku sempat beli sprite kesukaanmu."


"My Bebeb Sysy memang selalu perhatian. Oh ya Suamimu katanya mau ikut. Kok malah lelaki tampan lain yang menemanimu?"


Mendengar pertanyaan Rose. Kemudian Ren menjawab dengan cepat dan sopan," Tuan tadinya akan menemani Nyonya tapi mendadak ada urusan keluarga yang berhubungan dengan pekerjaan, jadi beliau terpaksa harus menyelesaikannya. Makanya saya di tugaskan untuk menjaga Nyonya."


Mendengar kalimat Ren, sontak memunculkan senyuman manis di wajah Daisy. Rose yang melihat sahabatnya tersenyum tidak membalas kalimat Ren.


2 jam kemudian mereka sampai di depan gedung raksasa mewah di belakang kampusnya. Mereka kuliah di salah satu Universitas bersejarah dan terkenal.


Setibanya di parkiran kawasan gedung acara


Ren membuka pintu mobil untuk Daisy tapi tidak dengan Rose. Melihat aksi pilih kasih Ren, membuat Rose mengernyitkan dahinya.


Aku berasa nonton Nyonya besar beserta pelayannya. Apalah aku yang cuma figuran.


Suasana sekitar sangat ramai, acaranya juga terlihat mewah. Arnold salah satu teman dan panitia menghampiri ketiga orang yang barusan datang.


Mereka saling bertukar sapa dan menanyakan kabar, lalu menuju ruangan besar yang ada di dalam gedung. Mereka datang tepat waktu karna ada Jullian yang menjadi bintang tamu akan segera bernyanyi di atas panggung untuk memeriahkan acara mereka.


Melihat suasana begitu berisik dan ramai ketiganya mencari tempat duduk yang agak jauh agar bisa menikmati hidangan dengan santai.


"Rose. Kamu bilang acaranya biasa saja. Kok acaranya besar begini? untung loh pakaianku masih lumayan!!! Omel Daisy.


Nyonya kamu sudah sangat cantik dan pakaian yang kamu kenakan itu cukup mahal. Apanya yang lumayan.


"Aku kirain juga gitu Beb. Untung saja kita datang style nya cetar gini. Apa kubilang acara begini cuma buat ajang pamer. Tunggu saja sebentar bakal ada yang tanya. Kamu kerja dimana? sudah nikah apa belum? Hah aku kebelet. Aku ke kamar mandi sebentar." Rose melangkah pergi meninggalkan Ren dan Daisy.


Ren dan Daisy yang mendengar kalimat cibiran dari Rose tersenyum tipis.


"Ren, kamu serius gak masalah ikutin kami? kalau bosan boleh pergi kok." Daisy berbisik.


"Abaikan saja saya Nyonya. Silahkan nikmati waktu anda berkumpul bersama teman - teman anda." Jarak di antara Ren dan Daisy cukup dekat. Dari kejauhan Arnold yang melihat Daisy bersama lelaki asing langsung menghampirinya.


"Kamu gak datang bersama Ryan? apa dia akan menyusul nanti? padahal aku sudah mengiriminya pesan loh." Tanpa tau apapun Arnold dengan polosnya menanyakan Ryan pada Daisy.

__ADS_1


Ren yang merasa kesal ingin menjawabnya tapi di tahan Daisy. Ketika Daisy hendak memberitahukan kalau dia sudah tidak lagi bersama Ryan.Terdengar suara langkah kaki menghampiri mereka berempat.


"Bro kamu datang." Arnold langsung memeluk Ryan yang juga ikut hadir sambil menatap pedas ke arah Ren yang berdekatan dengan Daisy.


Merasa suasana menjadi canggung. Arnold kemudian meninggalkan mereka bertiga.


Mungkin Ryan dan Daisy sedang bertengkar dan lelaki disamping Daisy adalah kekasih barunya. Sebaiknya aku gak ikut campur, batin Arnold.


Ryan menatap keduanya tanpa ekspresi tapi terlihat jelas dari pantulan matanya kalau saat ini dia tengah cemburu dan ingin menarik Daisy kedalam pelukannya. Tapi dia harus menjaga imagenya.


"Jadi Suami yang kamu maksud adalah lelaki di sampingmu?" tanya Ryan sambil menarik kursi lalu duduk di depan Ren dan Daisy.


Daisy memalingkan wajahnya, dia sama sekali tidak menyangka Ryan akan ikut reuni. Suasana hati Daisy menjadi buruk kembali, ingin rasanya dia segera meninggalkan tempat itu segera.


"Saya bukan Suaminya Nyonya. Dan alangkah baiknya kalau Tuan Ryan tidak mengganggu kami."


Ren sudah mengira kalau Ryan akan datang. Tapi dia yakin kalau Ryan tidak akan membuat keributan di acara ramai begini. Itulah sebabnya dia menemani Daisy dan menjaganya.


"Tentu aku tidak akan mengganggu kalian. Aku hanya bertanya dengan sopan karna penasaran. Jadi kamu memanggilnya Nyonya? aku tidak menyangka kalau Daisy memelihara lelaki lain selain suaminya."


Kenapa aku mengucapkan hal kasar barusan. Kenapa kalimat yang keluar dari mulutku berbeda dengan kehendakku. Daisy pasti akan marah lagi. Sebaiknya aku pergi menenangkan diri.


Mendengar hinaan dari Ryan, membuat Daisy dan Ren geram. Ren sudah bersiap untuk meninju wajah lelaki di depannya tapi dia tidak mau membuat Daisy malu dan memancing keributan.


"Tuan Ryan mengingat hubungan kerja sama Perusahaan kita, saya akan menahan diri kali ini. Tapi kalau anda terlalu berlebihan saya tidak segan bertindak lebih jauh."


"Kerja sama? jadi kamu bagian dari I&T Corporation? kalau begitu aku minta maaf silahkan lanjutkan kemesraan kalian."


Ryan pergi dengan langkah kasar meninggalkan keduanya. Tatapan matanya tajam ingin menerkam Daisy dan memukul mundur lelaki yang ada di samping wanitanya.


Rose yang kembali tanpa tau apapun mulai curiga. Setelah Ren menjelaskan Rose mulai mengomel dan mengajak Daisy pulang.


"Sudahlah toh dia sudah tidak mengganggu, sebaiknya kita nikmati lagu yang akan dibawakan Jullian." Daisy menarik tangan Rose untuk duduk bersama.


Rose dengan pasrah duduk dan mulai menikmati lantunan lagu yang dinyanyikan Jullian.


"Aku ke belakang dulu ya." Daisy beranjak dari kursinya. Ren yang sadar lalu mulai berdiri hendak mengikutinya dari belakang.


"Ren bisa gak kamu ambilin minuman herbal di mobil. Perutku sudah mulai sakit."


"Maukah Nyonya menunggu? saya khawatir kalau lelaki itu datang mengganggu."


"Tenang saja. Kita lagi di tempat ramai, mana mungkin dia bisa bertindak lebih. Lagi pula ada Rose."


Merasa khawatir Ren segera pergi untuk mengambil minuman herbal tesebut. Sayangnya Rose mulai terhanyut dengan lantunan lagu yang dinyanyikan oleh suara merdu Jullian.


"Rose aku kemar mandi bentar ya."


Daisy merasa tidak enak badan mungkin karna pengaruh periodenya di hari pertama membuatnya lemas dan nyeri.


Rose hanya mengangguk tanpa melihat. Daisy hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya itu.


Ryan yang hendak ke kamar mandi tanpa sengaja melihat Daisy bertingkah aneh, akhirnya dia mendekat karna khawatir.


Dia memegang tangan Daisy yang lemas seperti hendak jatuh.


"Sy kamu kenapa?" Daisy mendengar suara Ryan yang memanggil namanya tapi badannya terlalu lemas lalu dia mulai hilang kesadaran. Dengan sigap Ryan menangkap tubuh Daisy yang hampir jatuh ke dalam dekapannya.


Ryan yang kebingungan kemudian menggendongnya keruangan yang lebih dekat lalu merebahkannya diatas kursi. Dia mau memanggil Rose tapi takut meninggalkan Daisy sendirian.


Ryan kemudian menelpon Rose tapi tidak dijawab, mengirim sms pun tidak di balas. Jarak kamar mandi dan tempat acara memang agak jauh. Suasana juga menjadi lebih sepi karna banyak yang menonton Jullian bernyanyi. Akhirnya Ryan menunggu sampai Daisy akan siuman nantinya.


Dia mulai memperhatikan wajah mungil Daisy dan bibirnya yang bewarna terang. Terhanyut dalam suasana dia mendekatkan bibirnya hendak mendaratkan kecupan hangat di bibir Daisy.


Belum sempat dia menempelkan bibirnya, ada suara keras dari luar. Ryan pun menghentikan aksinya.


Ya, suara keras dari luar berasal dari Zhafran dan Ren yang memasang wajah kesal penuh amarah.


Zhafran geram melihat istrinya yang terkapar di samping lelaki lain. Dia datang mendekat hendak menghabisi Ryan tapi di tahan Ren.


"Jangan kotori tangan anda Tuan." Ren berlari kemudian menonjok wajah Ryan sampai mengeluarkan darah.


Zhafran yang kesal lebih fokus ke tubuh istrinya yang terbaring diatas kursi. Dia mendekat lalu memangkunya. Saat hendak menggendong, Daisy sadar dari pingsannya.


"Zhafran kamu kah itu?" Perlahan Daisy mengumpulkan nyawanya yang berpencar.


"Ya, aku Suamimu. Apa yang dilakukannya sampai membuatmu pingsan begini."


Daisy mulai mengingat dia pun berkata," aku merasa pusing lalu terjatuh, samar - samar aku mendengar Ryan memanggil tapi aku keburu pingsan. Mungkin justru dia yang menolongku."






@Zhuyilong


Nama : Ryan Keanubroto


Usia : 26 tahun


Hobi : Melukis

__ADS_1


Makanan Kesukaan : Masakan Daisy


Minuman Kesukaan : Jus Avocad


Karna kesal Ryan mulai melawan dan memukul balik tapi dia kalah kuat dan tidak punya pengalaman bertarung.


"Harusnya kalian harus berterima kasih padaku. Bukannya bertindak kasar begini."


"Kamu beraninya membuat Nyonya pingsan, bagaimana kami harus berterima kasih."


"Cih sialan. Sebaiknya kamu tanya pada Rose. Aku disini hanya menolong Daisy."


Rose yang baru datangpun kebingungan dan bertanya," Apa maksudmu?"


"Periksa ponsel mu bodoh."


Rose kemudian mengambil ponselnya yang ada di dalam pesan, dia melihat banyak panggilan tidak terjawab dari Ryan dan baru membaca pesannya. Sesegera mungkin Rose memberikan ponselnya pada Ren.


Untung aku sempat meninju wajahnya.


Ren berjalan mendekat kemudian meminta maaf. Tapi Ryan masih tidak menerima permintaan maaf Ren. Dia pun mengancam untuk membatalkan kerja sama proyek Arsena Grub dan I&T Corporation.


Mendengar kalimat yang dilontarkan Ryan. Membuat Daisy gusar lalu berkata," tunggu ini hanyalah kesalah pahaman. Bisakah kita bicara baik - baik?"


"Maaf tapi aku tidak akan menarik perkataan yang aku ucapkan." Fokus Ryan teralihkan dengan seorang lelaki lain yang berada di samping Daisy.


"Hah Daisy kamu terlalu banyak memelihara lelaki muda atau kamu yang menjadi peliharaan mereka?"


Rose yang kesal hendak menampar Ryan tapi ditahan oleh Ren, lalu berucap," jangan mengotori tangan anda Nona Rose. Berikan tugas kasar pada lelaki saja."


Karna keributan yang disebabkan oleh mereka. Ruangan tersebut menjadi ramai banyak orang yang datang lalu memulai gosip.


Zhafran berdiri tegap mendatangi Ryan yang sudah setengah babak belur lalu berkata," Saya adalah Zhafran Suami sah dari Daisy Qirani Alfaris. Dan lelaki yang barusan memukul anda adalah asisten saya bernama Ren. Kalau memang anda ingin membatalkan proyek kerja sama kita, saya akan menyetujuinya dengan suatu kondisi tertentu. Pastinya asisten saya yang akan mengurusnya." Zhafran berbalik lalu menggendong Daisy yang masih lemas. Dengan gagah dia membawa istrinya keluar ruangan sampai di lihat banyak orang.


Setelah menggendong tubuh Daisy sambil melewati Ryan. Zhafran berkata dengan suara berat namun lantang," Aku bukan peliharaannya dan Daisy juga bukan peliharaanku. Kami adalah sepasang Suami Istri."


Dominasi yang kuat dari Zhafran memancarkan aura gelap pekat disekitarnya. Ryan pun memundurkan langkahnya mulai merinding dan memucat.


Daisy yang tidak bisa berkata apapun hanya membenamkan wajahnya di depan dada Zhafran.


Dari luar sudah terdengar suara helikopter yang mendarat di tengah lapangan luas yang berada di sekitar gedung.


Semua mata tertuju pada kedua pasangan tersebut. Termasuk Ryan yang melemas kesakitan.


Para wanita pun histeris melihat aksi berani Zhafran yang menggendong Daisy lalu menuju helikopter yang ada di tengah lapangan terbuka.


Mulai terdengar suara kicuan kalau Daisy meninggalkan Ryan dan berselingkuh dengan dua pria sekaligus.


Ada pula yang mengatakan, kalau Daisy mencampakkan Ryan karna pria barusan lebih kaya.


Tapi tidak sedikit juga ada yang membela Daisy.


Kerumunanpun di bubarkan oleh Ren dan para staf panita yang bertugas.


Arnold yang penasaran akhirnya memberanikan diri bicara pada Ryan. Tapi Ryan mengabaikannya lalu pergi meninggalkan acara tanpa berpamitan.


Rose mendekat dan berpamitan pada Arnold dia juga menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi. Dia juga memberitahu lelaki yang barusan menggendong Daisy adalah Suami sahnya. Sedangkan Ryan juga sudah menikah dengan wanita lain.


Arnold yang paham dengan drama barusan hanya mengangguk pelan sambil berkata," ternyata begitu mungkin inilah yang namanya jodoh di tangan Tuhan."


Setelah berpamitan Ren mengantar Rose pulang ke apartemennya.


Epilog.


Zhafran masih berdialog berat dengan Pamannya. Bukan hanya membahas pekerjaan tapi juga masa depan untuk keponakannya termasuk rencana pertunangan yang dia ocehkan tanpa jeda.


Bukan hanya Bibi yang khawatir tapi Ren juga mulai mengiriminya pesan dan foto istrinya yang sangat berbeda dari biasanya. Dia pun menjadi gundah galau dan tidak fokus.


Dia mau reuni tapi berdandan secantik ini. Bersamaku pun dia tidak pernah membuat rambutnya bergelombang begini. Lihat bahkan bulu matanya menjadi lebih lentik.


Beberapa jam kemudian dia menerima pesan lagi kalau mantan tunangan istrinya ikut menghadiri acara reuni. Sangking kesal dan tidak tenang dia pun bangkit dari kursi hangatnya lalu berpamitan dengan pamannya.


"Paman, aku ada urusan mendesak dan harus cepat kembali. Istriku sedang membutuhkanku sekarang."


Pamannya terdiam kaget, sejak tadi Zhafran tidak bicara apapun bahkan membahas pernikahan saja tidak pernah. Banyak keluarga yang mencoba untuk menjodohkannya tetapi selalu dia tolak dengan halus. Karna ekspresi keponakannya sangat serius akhirnya dia mempersilahkan Zhafran pergi tanpa bertanya.


Aku baru saja mau menjodohkan dan merencanakan pertunangannya tapi baru saja dia berkata, Istriku? apa Avril tidak bercanda saat itu. Kenapa Alex tidak pernah mengatakannya pada kami.


Saat sampai dengan helikopter, ada Ren yang menyambutnya. Ketika kembali ke dalam aula mereka tidak menemukan Daisy.


Merasa khawatir merekapun mencari Daisy, beberapa lama kemudian Ren dan Zhafran mendapati Daisy yang ada di dekat Ryan sedang dalam keadaan tertidur.


Keributan sudah terjadi tapi cepat terselesaikan. Setelah meluruskan masalah Zhafran membawa Daisy ke Rumah Sakit menaiki helikopter.


Note :


Maaf semua boleh bebas berimajinasi, nah author juga hanya memvisualisasikan sesuai imajinasi author jadi kalau ada yang merasa tidak sesuai bisa menghalu bebas dengan visual masing - masing.


Bonus :


Nama : Zhafran ( Back Bab 49 )



Bersambung.

__ADS_1


Readers yg baik hati dan nagih up jangan lupa VOTE, Komen dan Like nya + klik ❤


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.


__ADS_2