My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.61 - Tunggu 2 minggu lagi !!!


__ADS_3

Daisy melanjutkan perjalanannya dengan membeli beberapa kopi susu hangat lagi. Setelah selesai membelinya dia kembali ke mobil dan melaju menuju ke Perusahaan I&T Corporation.


Dia sampai tepat waktu, dan menuju ruangan Departemen Bisnis sambil membawa kopi susu hangat di tangan kanannya.


Diana yang melihat Daisy datang segera menyambutnya dan mengambil kopi ditangan Daisy, begitupula dengan beberapa rekan kerja lain, dia mulai membagikannya.


"Des, terima kasih ya. Sering - sering loh." Diana tanpa segan langsung menyeruput kopinya.


Randy yang melihat kelakuan Diana langsung mencubit pipinya, dia berkata," dasar kebiasaan, nih anak. Makasih loh Des, jadi enak hehehe."


Adapun Pak Rafael yang juga tersenyum dan beberapa rekan lain yang berterima kasih padanya.


Daisy hanya membalas dengan senyuman dan anggukan pelan.


"Daisy, apakah kamu masih memikirkan masalah kita dengan Arsena Grub?" tanya Pak Rafael.


Daisy menjawab," tidak juga Pak. Saya lebih fokus ke pekerjaan selanjutnya dengan Mahesa Grub. Tenang saja tidak usah khawatirkan saya." Daisy melanjutkan dengan duduk di kursi kerjanya sambil meminum kopi susu hangat yang dia pegang.


Setelah sambutan dan obrolan singkat di pagi hari, beberapa pegawai Departemen Bisnis kembali ke meja masing - masing untuk melanjutkan pekerjaannya.


Daisy mulai membuka beberapa file yang ada di komputernya, tapi dia tidak fokus karna mengingat kejadian tadi pagi.


"Kenapa aku kepikiran si Nenek dan William. Rasanya aura yang mereka pancarkan itu gak asing, mengingatkanku pada seseorang. Huft dan seseorang itu membuatku kesal," gumam Daisy pelan lalu melanjutkan pekerjaannya.


Melanjutkan kalimatnya dengan suara pelan," pengennya berpikiran positif tapi kenapa kalimat tunangan itu selalu terngiang di kepalaku. Dari pada gak tenang gini sebaiknya nanti malam aku bicara pada Zhafran."


Randy yang melihat Daisy begitu gelisah, langsung menghampirinya dan bertanya," Des, kalau masih kepikiran sama kerjaan kemaren, kamu bisa curhat ke aku. Jangan di simpan sendirian."


Daisy yang kaget karna kehadiran Randy langsung menjawab," terima kasih Randy, tapi aku baik - baik saja kok."


"Perempuan kalau bilang aku baik - baik saja berarti sebaliknya loh Des. Aku gak maksa kok tapi jangan sampai sakit yah."


Peka banget sih Randy, heran lelaki ramah dan baik begini kok masih jomblo.


Diana yang diam - diam menguping pun datang mendekat lalu berbisik," setelah pulang kerja bagaimana kalau kita karakoean?"


"Setuju lah. Ayo Des, biar gak setres. Lagian nih ya, gosipnya Arsena lagi dalam keadaan sulit loh. Katanya banyak Perusahaan yang membatalkan kerja sama mereka dengan Arsena. Belum jelas masalahnya sih, masih simpang siur," tambah Randy yang mulai bergosip.


"Serius Dy?" tanya Daisy kaget.


"Baca berita dong Des. Gimana Des mau karakoean gak?" sambung Diana, sambil menggoyangkan bahu Daisy pelan.


"Gimana ya, liat nanti deh. Yuklah lanjut kerja." Daisy memalingkan wajahnya kembali ke layar komputer. Randy dan Diana kembali ke meja kerja mereka.


Aku gak mood mengetahui info apapun mengenai Arsena Grub. Bukan urusanku.


*


*


*


Zhafran dan Ren tidak langsung ke Perusahaan I&T Corporation, mereka menuju ke Hotel Atson untuk bertemu dengan keluarganya.

__ADS_1


Terdengar suara ketukan pintu. Tanpa fomalitas ataupun basa basi Zhafran langsung masuk setelah William membuka pintu kamarnya. Didalam ada Nenek yang tengah duduk sambil menonton tv.


Zhafran langsung duduk di sebelah Neneknya lalu bertanya," Nenek kenapa mendadak kemari? apakah ada sesuatu?" Zhafran bertanya dengan lembut sambil menatap Neneknya.


"Kamu gak nanya kabar Nenekmu hah? Nenek kan cuma mau menengok cucu. Kamu ini selalu sibuk sampai gak pernah pulang kerumah. Menelpon Nenek saja kamu tidak pernah. Mana bisa Nenek menunggu dua minggu lagi."


"Bukan begitu, kapanpun Nenek boleh datang menemuiku. Maaf ya karna sudah mengabaikan Nenek, itu karna aku sedang sibuk mengurus pekerjaan. Lagi pula aku tau Nenek baik - baik saja. Jangan lupa aku selalu mengecek kesehatan Nenek karna ada laporan dari Ren."


Aduh cucuku yang satu ini, gak bisa yang namanya basa basi apa.


"Sibuk kerja terus menikahnya kapan? kamu sudah tidak muda lagi loh. Nanti bisa kering, jangan menikah di usia tua !!! jangan sampai punya anak pas sudah ber uban. Kamu liat Nenek sudah beruban gak lama lagi menuju akhirat."


Zhafran menarik pelan nafasnya, dia tersenyum pucat lalu menjawabnya," Aku tau Nek."


"Jawab kok cuma seadanya. Kamu dan Willi sama saja, gak kasihan sama orang tua. Tau gak tadi Nenek ketemu gadis muda cantik dan baik, sepertinya cocok untuk Willi. Kalau sama kamu kan gak mungkin, karna sudah ada Jasmine hahahaha."


William, Ren dan Zhafran mulai mengeluarkan keringat dingin karna pernyataan Nenek barusan.


Zhafran dan Ren saling melotot.


Sementara William mengacuhkan Zhafran, tapi dia ikut duduk di atas sofa yang bersebelahan dengan Zhafran, sambil menyilangkan kakinya dan menatap ponselnya.


Ren sudah terbiasa melihat ke angkuhan William, dia pun ikut mengabaikannya dan masih berdiri di samping sofa dekat dengan Zhafran.


Melanjutkan kalimatnya si Nenek berkata," Ku dengar Jasmine akan datang hari ini. Apa kalian akan dinner? bagaimana kalau kalian dinner bersama. Hei Willi kamu jangan lupa ajak gadis yang tadi pagi juga jadi kalian double date." Merasa di acuhkan William, si Nenek melemparnya dengan bantal sofa.


William tersentak kaget, dia pun menjawab," Entahlah, aku tidak mengenal gadis itu. Kita jangan terlalu percaya sama orang asing. Biarkan saja Alex dan Jasmine makan malam berdua, biar lebih romantis. Benarkan Alex?" William mulai memasang senyum liciknya sambil menatap Zhafran.


Zhafran membalas tatapan William dengan mata menggelap tanda tak suka. Dia kesal dengan kalimat William yang sengaja membuatnya terjebak dengan perjodohan tersebut.


William yang mendengar kalimat Zhafran pun tertawa pelan, dia pun menyindir halus," sejak kapan kamu jadi seromantis itu? sejak kapan kamu memikirkan yang namanya cinta?"


"Aku akan memberikan kalian kejutan dua minggu lagi. Jadi jangan pernah membahas masalah perjodohan lagi." Zhafran mengabaikan pertanyaan William. Dia pun melanjutkan kalimatnya," aku akan kembali ke kantor, kita bisa makan siang bersama nanti."


William dan Nenek mulai mengkerutkan kening dan saling menatap, kemudian Nenek bertanya," apa kamu sudah punya seseorang? siapa dia?" William pun ikut menyimak dan penasaran.


Zhafran tidak menjawab tapi dia memasang senyuman tipis di wajahnya, lalu bangkit dari sofa dan berpamitan pergi ke Perusahaan I&T Corporation


Zhafran menghentikan langkahnya di depan pintu lalu berkata," Tunggu saja. Aku akan membuat kejutan besar untuk keluarga besar kita." Setelah itu dia pergi dengan cepat.


Melihat Zhafran dengan percaya diri mengutarakan pernyataannya, membuat Nenek semakin penasaran.


"Willi, kamu jangan kalah sama Alex, cepat sana telpon Daisy. Nanti ajak dia makan siang berdua."


William mendesah kesal," Nek, jangan memaksaku. Dia bukan typeku."


"Memangnya type kamu yang gimana? kamu kebiasaan selalu menganggap remeh orang lain. Gimana perempuan gak kabur, kalau kamu terlalu pemilih. Mulutmu terlalu tajam, coba lah lembut sedikit, biar gak jadi perjaka tua."


Kenapa aku punya Nenek secerewet ini.


"Typeku?... tentu saja dia harus seorang perempuan tulen."


"Hahaha kamu ini, memangnya Daisy bukan perempuan? kalau mau bikin alasan yang masuk akal dong. Jangan sampai kaya Alex yang selalu nempel sama Ren, sudah banyak yang bilang dia homo."

__ADS_1


Begitulah Nenek dan cucunya saling bergurau.


*


*


*


Di bandara


Jasmine berjalan bak supermodel diatas karpet merah, dan beberapa asisten dibelakangnya mengikuti sambil membawa 3 koper besar.


"Hah, siapa yang mau bertunangan dengan bocah dingin itu sih. Aku kemari juga bukan hanya untuk bertemu dengannya kok. Tapi itu karna besok ada konser Jullian, sudah jelas aku mau melihat biasku."


Pokoknya aku harus bertemu Jullian. Pokoknya jangan sampai ketahuan kakek dan Alex.


Jasmine mulai hanyut dengan khayalannya, dia pun membuka kunci layar ponselnya, dia mulai memandang walpaper dengan senyum sumringah. Ya, walpaper tersebut adalah foto Jullian.


*


*


*


Daisy mendapat pesan dari Zhafran


📩"Istriku, ada rapat nanti siang jadi aku tidak yakin kita bisa makan siang bersama. Apakah kamu tidak keberatan?"


📩"Tentu, pekerjaan lebih penting. Tapi ingat Suamiku jangan telat makan ya."


📩"Sungguh sayang? kamu juga jangan telat makan. Jangan sampai sakit. Aku akan meminta Ran untuk menemanimu."


📩"Baiklah aku akan makan siang bersama Ran. Hem sayang, apakah kamu akan lembur sampai malam?"


📩"Aku belum tau. Kenapa?"


📩"Diana mengajakku untuk karaoke setelah pulang kerja. Apa boleh aku pergi?"


Tidak ada jawaban dari Zhafran. Setelah 20 menit kemudian Zhafran membalasnya.


📩"Aku akan pulang tepat waktu. Jadi siapkan makan malam untuk kita."


"Jadi aku boleh pergi apa gak sih? kayaknya gak boleh deh. Langsung ngomong juga gak papa. Apa dia takut aku marah? hahaha lucunya," gumam Daisy pelan sambil memandang ponselnya.


Beberapa menit kemudian, ada panggilan dari nomor yang dia kenal.


Kayaknya ini nomor William? kenapa dia menelponku?


Bersambung.


Sedikit curhat, Readers yang baik hati dan pengertian, mohon dimaklumi ya karna author sedang ada kesibukan dan dalam suasana berkabung. Insya Allah nanti jadwal up akan kembali normal. Terima kasih atas doa dan pengertiannya.


Terima kasih atas segala dukungannya dan selalu setia membaca cerita receh ini.

__ADS_1


Jahat kalau kalian masih belum VOTE, Koment, Like dan Klik favorite ❤


__ADS_2