My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab. 45 - Pertengkaran


__ADS_3

Suasana kantor masih tenang seperti biasanya, Ran yang masuk ke ruangan Departemen Bisnis mulai melihat sekitar dalam diam.


Ran yang melihat Diana kemudian memanggilnya," Hei kamu yang disana, dimana Daisy ?"


Diana yang merasa terpanggil pun menjawab," Daisy dan Pak Rafael sedang keluar, mereka sedang bertemu dengan Arsena Grub di Restoran Hotel Atson."


Hiks dia lupa namaku kah.


Dengan ekspresi datar sambil menaikkan sebelah alisnya Ran berkata," baiklah kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu."


Kenapa perasaanku gak enak ya. Sejak kapan aku pakai perasaan dalam bekerja sih.


Di Restoran Hotel Atson.


Suasana rapat kali ini tidak begitu kaku dan lebih santai makanya di adakan di Restoran Atson sekalian menikmati hidangan khas dari Restoran ini.


Setelah berbincang sebentar, pintu terbuka dengan pelan. Orang yang mereka bicarakan akhirnya bergabung.


"Krieek." Suara pintu terbuka.


"Nah baru saja dibicarakan orangnya muncul," ujar Rafael.


Daisy yang segan merasa tidak enak karna terlambat kemudian berkata," Saya minta maaf terlambat, perkenalkan nama saya Daisy..."


Kalimat Daisy terhenti, tanpa di duga ada seorang lelaki dari masa lalunya sedang berdiri di hadapannya memasang senyuman yang lembut sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Selamat datang Nona Daisy," ucap lelaki itu masih mengulurkan tangannya.


Daisy masih terdiam sejenak, tapi jantungnya tidak berhenti berdegup kencang. Lututnya terasa lemas, tanpa sengaja langkahnya mundur ke belakang. Tapi tidak butuh waktu lama, ekspresinya kembali normal.


"Terima kasih." Daisy menjawab dengan nada datar tapi dia memasang senyuman yang tidak kalah menawan sambil berjabat tangan dengan lelaki itu.


Setelah sesi perkenalan singkat, mereka fokus membahas pekerjaan. Ryan ataupun Daisy bertingkah sangat profesional.


"Saya senang karena Pak Rafael dan Nona Daisy menyempatkan waktu untuk menghadiri pertemuan penting yang berhubungan dengan perusahaan kita ini. Saya juga sangat mengapresiasi sekali karna tidak adanya keberatan dari pihak I&T Corporation, apalagi karna permintaan kami yang mendadak begini." Farel memberikan sambutan hangat untuk memulai rapat tersebut.


"Tidak perlu sungkan begitu, Saya juga senang karna kita akan melanjutkan diskusi tentang kelanjutan proyek tersebut." Dengan jawaban ramah dari Rafael rapat di buka dengan nyaman dan berjalan lancar.


"Jadi, mari kita mulai rapat hari maka izinkan saya untuk menyerahkannya kepada Pak Ryan yang akan memulainya." Farel mempersilahkan Ryan membuka diskusi tersebut.


Ryan dan Daisy saling berargumen dengan sempurna keduanya juga saling memuji, mereka sangat terampil dan profesional.


"Apa bisa kalau saya menambahkan beberapa perubahan didalam aplikasi tersebut, termasuk warna logonya diganti dengan red metalic." Ryan meminta perubahan desain kepada Daisy, tatapannya tidak pernah luput saat Daisy menjelaskan detail pekerjaannya.


"Tentu kita bisa melakukannya jadi tidak perlu cemas, tim kami akan bekerja sebaik mungkin untuk memuaskan klien." Daisy tidak menyukai tatapan Ryan jadi terkadang dia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Demikian acara rapat telah kita lalui bersama. Mudah-mudahan apa yang kita rencanakan bisa berjalan sesuai harapan kita." Daisy mengakhiri diskusi tersebut dengan lancar dan sukses.


"Akhirnya selesai, bagaimana kalau kita makan dulu. Tidak perlu formalitas lagi. Saya bisa sesak nafas hahaha." Suatu kebetulan Rafael dan Farel ternyata adalah teman lama jadi mereka mengobrol seperti biasa setelah rapat.


Setelah hidangan siap mereka kemudian menikmati makanannya. Tapi Daisy merasa mual dia ingin sekali pergi tapi tidak bisa.


"Daisy kenapa diam saja, bukannya kamu sangat suka seafood? jangan malu - malu ayo makan saja." Rafael dengan santai menawarkan makanan yang ada di meja makan.


"Saya juga sangat suka seafood, sepertinya Daisy kesulitan membuka kulit udang ya. Apa Daisy mau saya kupaskan kulit udangnya?" Ryan tanpa ragu berbicara dengan Daisy dengan nada menggoda.


Daisy lama tidak bertemu kamu semakin cantik, senyumanmu juga semakin manis. Aku jadi ingin membungkusmu dan membawamu pulang.


"Anda bisa bercanda juga ternyata. Saya biasa memakan udang dengan kulitnya kok. Tapi kebetulan hari ini saya sedikit tidak enak badan." Daisy berusaha mencari alasan agar bisa keluar secepatnya dari sana.


"Kalian berdua tampak akrab ya. Jangan - jangan..." Rafael mulai menggoda keduanya.


"Sebenarnya kami seangkatan waktu kuliah." Ryan menjawab Rafael dengan tenang sambil menikmati makanannya. Tapi matanya tidak berhenti menatap Daisy dengan lekat.


Ryan kamu mau apa sih, apa perlu cerita ke mereka. Aku gak betah rasanya mual dan pusing. Kenapa dia ada di Arsena Grub sih.

__ADS_1


"Serius kamu Ryan? kebetulan banget ya kita bertemu teman lama begini hahaha." Farel yang tanpa curiga ikut tertawa bersama Rafael.


Merasa semakin tidak nyaman, Daisy meminta izin untuk ke kamar mandi. Tidak lama kemudian Ryan menyusulnya. Tidak ada yang curiga, Rafael dan Farel larut dalam obrolan mereka.


Setelah membasuh wajah dan menenangkan hatinya Daisy berniat kembali, tapi di balik pintu ada Ryan yang menantinya.


Keduanya saling bertatapan, tapi saat Daisy mau melanjutkan langkah kakinya, tangannya di tarik pelan oleh Ryan.


Ryan memegang pergelangan tangan Daisy lalu berkata," bisa kita bicara sebentar?" lalu dia mendekatkan tubuhnya pada Daisy.


"Silahkan bicara tapi tolong Pak Ryan jangan menyentuh tangan saya, sungguh tidak sopan. Bagaimana jika ada yang melihat?"


Ryan tersenyum sambil berkata,"Jadi kamu mau kita ketempat yang sepi?"


"Bukan begitu. Maaf saya mau kembali. Bukankah kita sudah selesai membahas pekerjaaan." Daisy meninggalkan Ryan dengan langkah laju.


Keduanya kembali ke ruangan, Rafael dan Farel masih asik mengobrol, hanya Daisy dan Ryan yang saling diam.


Kedua perwakilan saling memberi hormat karna diskusi rapat dan acara makan siang telah berakhir. Karna ada keperluan mendadak Rafael meninggalkan Daisy yang masih membereskan berkasnya.


"Daisy istri saya menelpon, Saya izin pulang sebentar sepertinya dia jatuh dari tangga."


"Duluan saja Pak, setelah berberes saya akan kembali ke kantor."


Melihat Daisy yang masih membereskan berkas dan beberapa bahan lain, Ryan ikut membantunya dan meminta Farel menunggunya di lobi.


Oh mungkin Tuan Ryan masih mau mengobrol dengan teman lamanya sebaiknya aku menunggu saja di lobi.


Setelah Rafael dan Farel pergi di dalam ruangan tersebut hanya tersisa Daisy dan Ryan.


"Apa yang kau lakukan, jangan menyentuh barangku." Daisy menepis tangan Ryan yang hendak membantunya.


"Daisy sejak kapan kamu jadi kasar begini." Ryan merebut dokumen dari tangan Daisy lalu mengangkatnya dengan tinggi.


Daisy berusaha mengambil dokumen tersebut tapi apa daya dia lebih pendek dan tangannya tak sampai.


Daisy yang kaget lalu melotot dan mendorong Ryan dengan sekuat tenaga. Bukannya lepas justru Ryan semakin erat memegang kedua tangan Daisy. Daisy yang mulai putus asa ingin berteriak tapi Ryan lebih dulu mendaratkan kecupan di kening Daisy sambil menghirup aroma tubuhnya. Sontak membuat Daisy emosi lalu menggigit leher dan tangan Ryan sambil berusaha melepaskan dirinya lagi.


Setelah berhasil melepaskan diri dia langsung menampar pipi Ryan dengan sangat kuat sampai meninggalkan bekas merah. Tapi tamparan itu seolah tidak terasa oleh Ryan. Ryan hanya membalas tamparan itu dengan tatapan yang sendu.


Sialan aku tidak boleh membuat keributan disini. Ryan kamu selalu saja membuatku dalam masalah. Aku harus cepat keluar dan kembali ke kantor.


"Dasar gila. Aku sudah berusaha sabar sejak tadi karna hubungan kerja sama kita, jadi jangan memanfaatkan kondisiku. Kelakuanmu sekarang sangat menjijikan." Tangan Daisy bergetar, pertama kalinya dia menampar seseorang dalam hidupnya.


Apa salahku padamu sih.


"Kamu boleh menamparku lagi. Aku pantas menerimanya, tapi ku mohon jangan membenciku. Aku hanya ingin minta maaf."


"Maaf ? setelah barusan kamu menyentuh keningku dengan bibir kotormu itu ? sinting."


"Itu tidak sengaja." Ryan berlutut di depan Daisy sambil meminta maaf.


"Jangan menggangguku Ryan. Ingatlah kamu sudah menikah dan kita saat ini hanya berada di kondisi hubungan kerja sama. Jadi jangan berlebihan."


"Aku sudah berpisah. Makanya aku memberanikan diri untuk menemuimu. Kita bisa memulainya lagi."


"Sinting. Kamu pikir aku mau kembali padamu? setelah apa yang kamu lakukan padaku 4 tahun lalu."


Dia pikir aku apa? setelah berpisah dari istrinya kini mau kembali padaku. Dasar sinting.


"Aku akan memperbaikinya. Aku tau aku salah dan berengsek tapi aku bisa menjelaskan semuanya padamu."


"Kamu memang berengsek tapi kita tidak perlu memperbaiki apapun dan juga kamu tidak perlu memberi penjelasan. Karna aku tidak akan pernah kembali padamu."


"Daisy aku tau jauh di lubuk hatimu yang paling dalam kalau kamu masih sangat mencintaiku."

__ADS_1


"Ya aku mencintaimu."


"Aku tau aku juga mencintaimu.." belum selesai Ryan berbicara, Daisy memotong kalimatnya," Aku mencintaimu tapi itu dulu."


"Aku tegaskan sekali lagi 4 tahun yang lalu aku memang mencintaimu tapi sekarang perasaan itu sudah mati. Aku juga sudah menikah dan hidup bahagia bersama suamiku. Jadi ketahuilah posisimu saat ini dan jangan meminta lebih.


"Aku tau kamu berbohong. Kamu hanya ingin menghindariku karna masih marah."


Kenapa berbohong. Aku tau kamu belum menikah karna kamu masih menugguku.


"Terserah kalau tidak percaya."


Daisy yang muak langsung meninggalkan Ryan, tapi Ryan menariknya lagi. Kali ini tarikannya lebih kuat sampai tas Daisy terjatuh ke lantai.


"Lepaskan aku Ryan, atau aku akan teriak." Daisy menahan sakit dan berusaha melepaskan cengkraman Ryan yang begitu erat dan kuat.


"Kalau teriak orang - orang akan datang, dan itu akan membuat malu dirimu dan I&T Corporation. Bahkan bisa membahayakan hubungan kerja sama kita."


"Sialan kamu mau apa sih. Begini caramu meminta maaf?" Merasa di permainkan Daisy langsung menendang area sensitif Ryan dengan sebelah kakinya lalu Daisy mengambil air yang ada diatas meja dan menyiramkannya ke wajah Ryan.


Ryan melepaskan Daisy, dia merintih menahan sakit. Matanya menggelap menatap Daisy.


Melihat Ryan membungkuk kesakitan, Daisy berniat lari menajuh dan meninggalkannya tapi bajunya di tarik oleh Ryan. Akhirnya keseimbangannya goyah lalu Daisy terjatuh, lututnya pun terluka dan mengeluarkan darah karna terhantam lantai yang keras. Melihat Daisy terluka Ryan langsung menolongnya sambil meminta maaf tanpa henti.


"Jangan menyentuhku. Cukup jangan sakiti aku lagi. Aku mohon pergilah Ryan jangan lukai aku lagi. Aku mohon." Pinta Daisy dengan suaranya yang bergetar dan air mata mulai membasahi pipinya.


Ryan diam mematung. Dia sama sekali tidak berencana menyakiti Daisy. Dia sudah menantikan 4 tahun lamanya untuk bertemu dengan Daisy dan bertekat untuk membahagiakannya. Tapi kejadian hari ini malah membuat rencanya berantakan.


"Maaf. Maaf. Maaf. Maafkan aku. Marahlah tapi biarkan aku membawamu ke Rumah Sakit. Aku janji tidak akan menyentuhmu. Maafkan aku yang barusan bukan diriku. Aku hanya tidak tau harus bagaimana menghadapimu. Kamu sangat berbeda, dirimu yang dulu tidak akan kasar padaku, bahkan kamu sampai berbohong tentang pernikahanmu."


"Ryan." Teriak Daisy.


"Aku tidak perduli dengan masa lalu dan aku juga tidak berbohong. Aku sudah menikah. Dan sekarang karna ulahmu aku terluka lagi. Jadi pergilah jangan menampakkan mukamu di depanku."


Kenapa dulu aku bisa sangat menyukaimu. Zhafran 100 % jauh lebih baik darimu. Dia bahkan selalu memperlakukanku dengan lembut dan penuh kehangatan.


"Aku akan membawamu ke Rumah Sakit dan juga mengenai kerja sama Perusahaan kita, akan tetap berlanjut jadi jangan khawatir."


Caraku salah, Daisy paling benci kekerasan aku hanya butuh waktu untuk membuatnya luluh lagi.


"Kriek." Suara pintu terbuka.


"Nyonya anda terluka?" Ran yang gelisah kemudian menyusul Daisy. Saat dia melihat Daisy terluka dia mulai kesal sambil mengepalkan tangannya. Tapi fokusnya terganggu dengan adanya Ryan disana.


"Aku hanya jatuh, ayo kita pergi," jawab Daisy sambil menghapus air matanya.


Setaunya Daisy dan Rafael sedang rapat bersama Arsena Grub tapi sepertinya rapat sudah berakhir dan Daisy sekarang dalam keadaan terluka. Sedangkan lelaki di depannya seperti ingin menolong Daisy.


Tapi dia tetap merasa curiga, ketika Ran berniat mengintrogasi lelaki yang ada di depannya. Daisy langsung menghentikannya dan membuat alasan.


"Ran kaki ku sakit, ayo kita ke Rumah Sakit." Daisy mulai merintih kesakitan.


Jangan sampai Ran ikut campur, aku tidak mau masalah ini melebar dan melibatkan perusahaan dan suamiku.


Tidak tega melihat Daisy kesakitan serta muncul perasaan bersalah dia mulai mengutuk dirinya sendiri di dalam hatinya sambil memapah Daisy menuju mobil dan meninggalkan Ryan yang diam mematung dengan wajah khawatir.


Aku harus memeriksa cctv dan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Lelaki barusan juga sangat mencurigakan. Sialan aku harus melaporkan apa pada Tuan.


Ryan terdiam, tubuhnya bergidik ngeri melihat tatapan Ran. Setelah mereka pergi Ryan hanya bisa menatap punggung Daisy yang sudah menjauh lalu bergumam pelan," Kenapa perempuan itu memanggil Daisy dengan sebutan Nyonya? apa dia sungguh sudah menikah?"


Bersambung.


Note : Please jangan bully authornya xD


Readers yg baik hati sedekah kan sedikit Vote nya yah 😊 atau Komen dan Like nya + klik ❤

__ADS_1


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.


__ADS_2