My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.44 - Perpisahan & Pertemuan


__ADS_3


Last Part "Kisahku yang menyedihkan"


Langsung " Vote " biar saya lebih semangat melanjutkan ceritanya.


Sebelum kita melanjutkan pertemuan Daisy dan Ryan di bab sebelumnya kita akan kembali ke serpihan masa lalu Daisy.


Sebulan kemudian


Ryan dan Linda sudah sampai di rumah orang tua Ryan, setibanya di sana betapa kagetnya Mami dan Papinya melihat anaknya membawa wanita muda yang cantik tapi berpakaian sangat minim dan terbuka.


Setelah perkenalan singkat antara Linda dan orang tuanya. Mereka berkumpul di ruang keluarga, duduk di atas sofa sambil menikmati teh hangat tapi suasana menjadi sangat senyap hanya terdengar suara seruputan teh, kemudian Ryan membuka percakapan.


"Ryan akan menikah dengan Linda, jadi mohon doa restu dari Mami dan Papi." Ryan memohon tapi lekuk wajahnya menunduk ke arah lantai, dia mulai mengeluarkan keringat dan mengepalkan tangannya.


"Aku menyekolahkanmu jauh - jauh dengan biaya yang sangat mahal, baru beberapa bulan kamu kembali membawa wanita murahan ini dan ingin menikahinya? apa kamu buta dan menjadi bodoh bagaimana dengan tunanganmu? aku tidak ingat membesarkan anak sepertimu." Keanu sangat menahan emosinya tapi tetap saja suara yang keluar dari mulutnya langsung menggema di ruangan tersebut. Mendengar suara keras Keanu membuat Linda ketakutan lalu mulai menangis.


Maminya Ryan langsung menyambungkan kalimat dari suaminya," Mami tidak setuju." Mami memalingkan wajahnya ke sisi lain, dia mau beranjak pergi tapi Linda langsung berbicara," Aku hamil anak Ryan, jadi kami harus menikah." Linda berteriak keras sontak semua kaget, dan Mami mulai emosi dia langsung menyiramkan teh ke wajah Linda.


"Dasar perempuan ini beraninya memotong pembicaraan orang tua, sungguh Ryan kamu mau menikahinya? percuma sekolah tinggi tapi tidak punya attitude yang baik."


"Tapi dia hamil anak Ryan Mi." Ryan menatap sinis ke arah Linda, dia tidak suka sikap Linda yang murahan di depan keluarganya sangat berbeda dengan Daisy yang begitu ramah dan lembut.


Setelah menghabiskan waktu seharian penuh akhirnya dengan terpaksa kedua orang tua Ryan setuju dan mereka akan menikah minggu depan, tapi dengan syarat akan adanya perceraian setelah Linda melahirkan nanti.


"Lalu bagaimana dengan Daisy?" tanya Mami dengan suara sedih menatap mata Ryan.


"Daisy tidak tau Mi, sampai sekarang kami masih berhubungan seperti biasa."


"Astaga Ryan kamu beraninya selingkuh begini, Mami gak nyangka kamu jadi playboy begini. Kamu gak kasihan sama Daisy?"


"Makanya jangan sampai Daisy tau dan Ryan akan tetap menikahi Daisy setelah bercerai."


Mami Ryan mulai marah dan emosi kemudian dia menuju kamar sambil menutup pintu dengan keras.


Seminggu kemudian.


Tidak ada pergelaran acara mewah hanya orang tua dari masing - masing mempelai, pernikahan pun berlangsung tanpa Daisy ketahui. Ketika acara usai keduanya berencana langsung kembali ke Amerika, ke esokan harinya saat Ryan dan Linda hendak keluar rumah lalu membuka pintu, ada Daisy yang hendak mengetok pintu. Keduanya kaget, terutama Ryan. Daisy tanpa ragu yang tadinya kaget langsung memeluk Ryan yang mematung.


"Sayang, kapan kamu kembali? kenapa gak ngabarin aku sih?" tanya Daisy bahagia.


Ryan memasang senyum hangatnya lalu memeluk Daisy dan berkata," maaf ya aku ada keperluan mendadak jadi..." Linda kemudian memanggil Ryan dari dalam rumah," suamiku ayo kita berangkat." Walaupun samar tapi suara wanita muda itu masih terdengar oleh Daisy.


Daisy kaget dia ingin menghampiri wanita tersebut tapi Ryan menahannya lalu menarik tangan Daisy menuju halaman belakang, dia tidak mau mempertemukan Daisy dan istrinya. Melihat Ryan pergi membawa Daisy, Linda hanya diam dan tersenyum licik lalu bergumam pelan," akhirnya drama akan di mulai." Linda memperhatikan keduanya dari kejauhan, jadi dia tidak bisa melihat jelas wajah Daisy.


Aku memang berjanji tidak akan menemui Daisy tapi aku gak berjanji kalau gak akan menghancurkan hubungan kalian kan.


"Daisy itu tadi..." Ryan masih kebingungan ingin mejelaskannya pada Daisy.


Daisy menatap mata Ryan dengan tegas, tapi hatinya berdegup sangat kencang, dia pun berkata," Ryan suara itu dia siapa ? suami apa maksudnya?" Tatapan dingin Daisy menusuk sampai kedalam jantungnya Ryan.


Belum sempat Ryan berkata dia mendapat pesan dari Linda," Katakan padanya kamu sudah menikah atau aku akan menyebarkan video intim kita berdua." Seketika mata Ryan menggelap, langkah kakinya mundur dua langkah.


"Ryan?" panggil Daisy yang kemudian memegang tangan Ryan, dia melihat Ryan seperti akan jatuh dan wajahnya sangat pucat.


Ryan tidak bisa berpikir jernih dia takut Linda akan nekat dan menyebarkan video tersebut, bagaimanapun juga sudah banyak masalah yang dia sebabkan, jadi Ryan tidak mau melibatkan kedua orang tuanya lebih jauh. Kalau sampai tersebar reputasi Keanubroto akan runtuh.


Daisy maafkan aku. Aku gak tau wanita sialan itu merekamnya.


"Aku tidak bisa melanjutkan hubunganku denganmu."


Tanpa memandang Daisy, Ryan berbicara dengan pelan namun masih bisa terdengar.


Daisy masih diam dia tidak melepaskan tangan Ryan dan semakin erat genggamannya," Ryan jangan bercanda kita sudah tunangan dan akan menikah."


"Suara wanita tadi adalah istriku." Ryan melepaskan tangannya dari Daisy kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Daisy.


Daisy menarik tangan Ryan lalu memeluknya dari belakang," kamu bohong tadi kamu memelukku di depan pintu, tapi tiba - tiba kamu mengatakan hal konyol ini. Kamu bohongkan." Daisy mulai meneteskan air mata, dia tidak melepaskan pelukannya pada Ryan.


Hati Ryan sakit, dia menyesal tapi sudah terlanjur dan sekarang dia harus memilih.


Ryan menatap Daisy lalu membalas pelukannya," aku mencintaimu Daisy lalu mengecup keningnya."


"Aku juga mencintaimu, kamu tadi gak seriuskan ? kamu gak akan ninggalin aku kan?"


"Tapi aku sudah menikah maafkan aku." Ryan masih memeluk Daisy.


Daisy melepaskan pelukan Ryan dan berkata" katakan yang jelas !!!"


"Aku sudah menikah jadi kita tidak bisa melanjutkan hubungan kita."


"Kamu bohong itu gak mungkin."


"Aku sudah menikah dan aku tegaskan padamu sekarang jadi jangan menggangguku lagi."


"Kenapa kamu menikah, padahal kita sudah tunangan. Sejak kapan? sejak kapan kamu mempermainkan aku hah?"


"Sejak di Amerika."

__ADS_1


"Jadi selama ini kamu mempermainkan aku? kita sudah 7 tahun pacaran, kenapa kamu tega?"


"Maaf aku sudah bilang maaf."


"Aku gak percaya." Daisy melangkahkan kakinya menuju ke rumah Ryan untuk bertemu dengan wanita tadi." Tapi Ryan menahannya dengan kuat lalu berteriak," Kamu gila ya, jangan seenaknya masuk ke rumahku. Jangan pernah datang lagi kesini atau sampai mengganggu orang tuaku."


"Daisy maaf, aku mohon pergilah. Jangan pernah datang kemari ataupun menemui orang tuaku. Aku mau kembali ke Amerika dan tinggal disana sambil menyelesaikan kuliahku." Ryan meninggalkan Daisy yang tengah menangis sendirian.


"Ryan aku mencintaimu." Teriak Daisy.


Ryan tidak berbalik dia menuju ke dalam rumah dari balik pintu dia menitikkan air mata, dia menyesali perbuatannya tapi semua sudah terjadi.


Daisy masih tidak terima dia menggedor pintu rumah Ryan sambil memanggil namanya tapi tidak ada jawaban. Orang tua Ryan juga tidak ada di rumah, Papinya sedang pergi urusan pekerjaan, sementara Maminya pergi setelah pernikahan anaknya.


Daisy menyerah dia kembali ke mobilnya untuk menenangkan diri, di hapusnya air mata di pipinya, hampir semalaman dia menunggu tapi Ryan masih tidak keluar dari rumahnya akhirnya Daisy pergi dalam keadaan pikiran yang kacau.


Setelah Daisy pergi Ryan dan Linda menuju bandara, Ryan tidak berbicara apapun atau membahas mengenai video tersebut, dia sudah terlalu lemas untuk bertengkar.





Saat ini Daisy terpuruk dan bersembunyi di dalam kamarnya sambil menangis.


Luka


Semua dilalui bersama selama 7 tahun entah itu masa sulit ataupun bahagia, semenjak itu mereka saling mengikat janji, menjalin hubungan dengan lelaki itu adalah masa terindah bagi Daisy.


Setidaknya itulah yang dia rasakan ketika mengenal yang namanya cinta. Namun perasaan yang dia jaga dan junjung tinggi kini hancur bagaikan serpihan kaca. Hatinya seperti teriris pisau tajam terasa perih dan menyakitkan.


Semakin di tatapnya foto yang terbingkai di dinding membuat deritanya makin terasa panas.


Dalam lamunannya, tetesan air mata mulai mengalir deras dan membasahi pipi pucatnya.


Mengenang sebuah penghianatan diatas semua janji manis dari lelaki yang dia cintai.


Di ambilnya foto yang berbingkai indah itu, di pandangnya dengan lembut sambil duduk di tepi ranjang.


"Aku rindu kamu, aku rindu melihat senyuman di wajahmu, aku rindu pelukan hangat darimu, aku rindu bicara dan bercanda denganmu."


"Setiap hari aku merindukanmu. Sakit rasanya menahan rindu yang tidak tersampaikan. Aku tidak pernah membayangkan berpisah denganmu. Seandainya kamu bisa melihatku sekarang, betapa rapuhnya aku. Mungkin kamu akan mengerti bagaimana rasanya dikhianati atas cinta yang penuh racun tak bewarna."


"Aku menanti tapi juga merasakan gelombang penuh amarah. Kenapa kamu bisa sejahat ini padaku. Apa salahku? salahkah aku terlalu mencintaimu? salahkah aku yang selalu sabar menantimu? salah kah aku yang terlalu mempercayaimu?"


"Apakah cintamu palsu? ataukah perasaan cintamu sirna dengan mudah hanya karna seseorang yang baru hadir bersamamu? lalu aku ini apa?"


Dua minggu kemudian


Sudah dua minggu Daisy larut dalam kepedihannya, dia terus mengirim pesan pada Ryan tapi tidak di balas, telpon pun juga tidak di jawab.


Seharusnya hari itu aku gak meninggalkan rumah Ryan dan menunggunya.


Keluarga termasuk Ayahnya sudah membujuk Daisy tapi dia tetap tidak bicara, matanya terlihat bengkak dan hanya mengurung diri di dalam kamarnya.


Karna khawatir, Ayahnya menelpon Rose yang sedang berada di Paris. Mendengar kabar sahabatnya sedang terkena masalah Rose kemudian memesan tiket pesawat untuk menemui Daisy.


Beberapa hari kemudian tanpa mengingat lelah Rose langsung ke rumah Daisy.


"Maaf ya Rose jadi kerepotan."


"Kenapa baru sekarang ngabarin Rose sih om, Rose tuh gak masalah kok jadi jangan sungkan. Rose ke atas dulu ya coba bicara sama Daisy."


"Daisy buka pintunya." Ketuk Rose dari balik pintu.


Mendengar suara Rose, Daisy langsung membuka pintu dan memeluk Rose.


"Kamu kenapa Beb, jangan bikin orang tua mu khawatir gitu."


Untuk pertama kalinya dia melihat sahabatnya dalam keadaan lusuh dan berantakan. Dia tau Daisy orang yang tegar dan kuat tapi pemandangan yang ada di depannya kini membuatnya terdiam ragu.


"Daisy." Rose terus memanggilnya tapi Daisy hanya diam dan berpindah duduk di dekat jendela.


"Rose aku gak tau harus gimana, selama ini Ryan selalu mendukung dan menemaniku. Bahkan ketika aku bertengkar dengan ibu dia selalu ada untukku. Ketika aku sakit dia menjagaku. Sudah banyak waktu ku lalui bersama dengannya. Aku mempersiapkan diriku untuk menjadi seorang istri. Yang tadinya gak suka masak aku sampai belajar masak, semua aku lakukan buat jadi istri yang sempurna."


"Kamu bertengkar sama Ryan?" Rose mendekat dan ikut duduk di samping Daisy.


"Dia batalin pertunangan secara sepihak, katanya dia sudah menikah."


Rose kaget kemudian dia berdiri menghadap Daisy sambil memegang kedua pundak sahabatnya.


"Serius kamu ?"


Daisy menatap kosong lalu menjawab," Ya." Dia pun menangis lagi, kini tangisannya semakin nyaring.


Kemudian Daisy mulai menceritakan hal yang terjadi minggu lalu bersama Ryan.


"Berengsek, terus gimana tanggapan orang tuanya Ryan?" Rose sangat geram berusaha menahan amarahnya dia ingin sekali ke Amerika lalu menyeret Ryan untuk meminta maaf pada Daisy.

__ADS_1


"Mereka belum kembali sampai sekarang, katanya bibi mereka keluar kota tapi gak taulah aku pusing memikirkannya. Aku sempat bolak balik kerumah Ryan tapi tetap tidak ada siapapun."


Rose tidak tau mau berkata apa, menghiburpun percuma tapi melihat sahabatnya dalam keadaan terpuruk membuat hatinya sakit. Yang di butuhkan Daisy hanyalah waktu dan ketenangan.


Setelah percakapan yang cukup panjang, akhirnya Daisy memberanikan diri menceritakan masalahnya pada kedua orang tuanya, disana juga ada Tomo dan Sindy yang menyimak.


Seperti yang dia duga reaksi keluarganya sangat marah bercampur emosi. Kemudian Qiran mulai marah kepada Daisy dan menyalahkan putrinya, merasa tidak terima Daisy kemudian pergi dari rumah dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Kamu kenapa marah ke Daisy sih." Bentak Ray pada istrinya.


"Aku bukan marah, gak mungkin Ryan meninggalkan dia tanpa sebab apalagi menikah. Kamu tau kan mereka keluarga Keanubroto, Daisy bisa jadi menantu nya millionaire. Aku sangat yakin kalau Ryan mencintai Daisy gak mungkin dia meninggalkan Daisy tanpa sebab dan tiba-tiba menikahi wanita lain."


"Anak kandungmu lagi bersedih sempat - sempatnya kamu berpikir duniawi. Apa sih yang gak mungkin, selama ini kan Ryan di Amerika jadi segalanya bisa berubah. Ibu macam apa kamu." Ray yang selama ini lembut pada istrinya kemudian menamparnya.


Sindy dan Tomo berusaha melerai pertengkaran mereka. Rose yang mau menyusul Daisy terhenti karna keributan barusan. Tiba - tiba Ray terjatuh.


"Sakit dadaku sakit..Panggil Daisy," ucapnya menahan sakit, segera Tomo bergegas membawanya ke Rumah Sakit.


Rose segera menyusul Daisy karna khawatir dan juga untuk memberitahukan kondisi ayahnya, Rose menelpon dan mengirim pesan tapi tidak ada jawaban balasan dari Daisy.


Hari sudah mulai larut cuaca pun berubah mendung dan hujan mulai turun membasahi bumi. Aspal jalanan mulai licin tapi Daisy tetap melajukan mobilnya tanpa berpikir mau kemana.


"Braaaaaaaaak." Suara tabrakan.


Kepala Daisy terluka dan sedikit mengeluarkan darah kemudian dia membuka pintu mobilnya lalu berjalan lemas.


Pria muda berjas abu - abu keluar dari mobilnya dengan sigap lalu mencoba menolong Daisy.


"Hei, Nona apa kamu tidak apa?" tanya nya khawatir.


Daisy kemudian berkata," sakit sangat sakit," lalu dia terjatuh di pelukan pria tersebut.


"Apa kepalamu yang sakit, ayo kita ke Rumah Sakit."


Biasanya dia di temani asistennya tapi karna kondisi tertentu dia menyetir sendiri. Kemudian dia menelpon asistennya," Ren jemput aku, aku baru saja kecelakaan." Ren yang kaget sontak mematikan telponnya lalu segera menyusul Tuannya.


"Tuan." Ren berlari lalu memanggil Tuannya yang tidak lain adalah Zhafran. Dia tau Zhafran pecinta kebersihan dan tidak sembarangan mau disentuh ataupun tersentuh dengan benda ataupun orang lain, tapi dia melihat seorang wanita muda menempel di pelukan Zhafran.


"Buka pintunya, kita ke Rumah Sakit sekarang." Perintah Zhafran. Ren pun mengabaikan pikirannya lalu segera melaksanakan perintah Tuannya.


Daisy yang setengah sadar lalu menangis dan mengigau tak karuan sepanjang perjalanan Daisy berceloteh mengenai masalahnya kemudian menangis lagi.


Awalnya Zhafran mengabaikannya tapi dia mulai ingat kalau wanita disampingnya adalah wanita yang sama beberapa waktu lalu yang juga hampir menabraknya.


Zhafran menyentuh kening wanita itu lalu berkata," Sepertinya dia demam juga, suhu badannya terlalu panas."


"Ren lebih cepat."


"Siap Tuan."


Zhafran menggendong Daisy lalu menempatkannya di ruangan kelas I, bukan kebetulan dia punya akses mudah dan tidak perlu mengantri. Sementara Ren sibuk mengurus beberapa hal lain dan harus menyembunyikan fakta kecelakaan tersebut.


Setelah selesai di periksa dokter dan melakukan perawatan Zhafran hendak meninggalkan Daisy dan pergi keluar. Belum sempat keluar dia mendengar suara Daisy pelan lalu mendekatinya.


"Kamu sudah sadar?" tanya nya mendekatkan diri sambil menyentuh kening Daisy.


Daisy masih setengah sadar kemudian dia memegang tangan Zhafran lalu meremasnya dan berkata," kamu jangan pergi, kamu kan sudah janji kalau kita akan menikah." Daisy menangis, hingusnya pun membasahi dan menempel di tangan Zhafran.


Zhafran yang menahan jijik berusaha melepaskan tangannya, tapi dia juga tidak tega. Akhirnya Zhafran hanya diam sambil mendengarkan Daisy.


Mendengar semua celotehan Daisy dia mulai merasa lelah dan pegal kemudian dia berkata," tenang aku gak kemana - kemana setelah ini kita menikah."


Lucu juga dia tapi kasihan sepertinya dia punya banyak masalah, sayangnya itu bukan urusanku.


"Bohong kamu bilang begitu tapi pasti tetap pergi kan."


"Aku janji. Jadi sekarang istirahatlah."


Karna efek obat Daisy pun tertidur dan melepaskan genggamannya pada Zhafran.


Dia sadar gak sih ngomong begitu, kok jadi lucu ya tapi kasihan juga sih. Hah aku mikir apa sih.


Ren kemudian datang dan berkata," Tuan semua sudah selesai tidak akan ada yang tau masalah ini, kita juga harus segera ke bandara Tuan. Mengenai Nona Daisy tenang saja saya juga sudah mengurusnya." Ren mendekat dan meletakkan tas Daisy diatas meja.


"Jadi namanya Daisy. Yasudah ayo kita berangkat."


Kemudian keduanya meninggalkan Daisy dan menuju bandara.


Keesokan harinya.


Daisy bangun dari tidur nyenyaknya dia kaget karna berada di Rumah Sakit, yang dia ingat hanyalah kecelakaan yang menimpanya kemaren. Kemudian dia mengambil Hpnya, banyak sekali pesan dan panggilan tidak terjawab dari Rose dan keluarganya.


Daisy langsung menelpon Rose, setelah mendengar penjelasan dan kabar buruk dari Rose, Daisy langsung berlari sambil membawa tasnya lalu menemui Ayahnya yang juga berada di Rumah Sakit yang sama.


Daisy langsung masuk keruangan yang ditempati ayahnya, melihat Daisy masuk Ray tersenyum lalu menghembuskan nafas terakhirnya.


Bersambung.


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.

__ADS_1


Jangan lupa berikan asupan nutrisi biar authornya makin semangat berupa Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Full Rate.


__ADS_2