
Biasanya keadaan di rumah tidak seramai seperti sekarang, terutama sudah ada bibi yang lebih sering muncul tidak seperti sebelumnya yang hanya datang ketika Daisy tidur atau sedang tidak di rumah.
Zhafran dan Ren juga kembali keruang kerja pribadi untuk membahas pekerjaan mereka yang tertunda, Daisy dan Ran sedang bersiap untuk bertemu dengan Rose.
Ran yang melihat Daisy memakai pakaian sederhana seperti biasanya mulai angkat bicara.
Ran mendekat ke arah Daisy dan berkata," Nyonya kenapa anda tidak mencoba pakaian baru?"
"Apa bajuku tidak bagus?" jawab Daisy malu.
Ran tersenyum dan melanjutkan perkataannya," semua baju anda bagus, tapi coba pakaian baru ini." Rose membuka beberapa kotak yang berisikan banyak pakaian ber merk yang sempat Daisy lihat di Paris.
Daisy melongok kaget," kapan kamu membelinya Ran?" Daisy juga langsung membuka beberapa kotak, matanya berbinar terang takjub tapi seketika menjadi diam sendu.
"Tuan memberikannya sebagai hadiah untuk Nyonya, saya harap Nyonya menerimanya, jadi jangan pasang tatapan sendu seperti itu."
"Kenapa dia membelikanku banyak sekali, aku jadi merasa tidak enak Ran. Semuanya barang mahal, aku saja masih berhutang sama dia." Daisy duduk di sofa sambil memegang beberapa pakaian baru, jujur saja dia sangat suka dengan fashion tapi dia takut menghabiskan uang suaminya.
Nyonya kamu sangat berbeda, andai saja Nyonya tau kalau toko tersebut milik Tuan. Bagaimana reaksinya yah pasti akan syok berat.
"Nyonya lebih baik tidak membuat Tuan sedih, terima saja dengan tulus. Lagi pula kan ini hadiah dari suami untuk istrinya. Hutang? tanya Ran bingung.
Daisy memalingkan wajahnya tidak menjawab hutang yang dimaksud karna malu," Kau benar apapun itu seharusnya aku bersukur dan senang, nanti aku akan berterima kasih pada Zhafran." Daisy kemudian mencoba beberapa pakaian.
Beberapa menit kemudian.
"Nyonya anda sangat cantik." Kecantikan semakin bersinar ketika mengenakan pakaian yang cocok dengan si pemakai begitulah pemikiran Ran saat ini.
"Ran bisa saja, bagaimana kalau Ran mencoba pakaiannya juga. Selama ini selalu berpakaian formal bewarna hitam, nanti di kira sales."
"Saya...apa sales ?" Ran cemberut, Ran melanjutkan perkataannya," maaf Nyonya ini adalah pakaian kerja saya, jadi saya tidak bisa menggantinya."
"Tapi kan kita gak lagi di kantor, kita harus cari beberapa pakaian yang cocok denganmu. Soalnya kamu lebih tinggi dari pada aku." Daisy mulai memilah pakaiannya tapi tidak ada yang pas dengan ukuran Ran.
Nyonya mau sampai kapan kamu cari tidak akan ada yang cocok untukku. Semua pakaian sudah sesuai dengan ukuran anda. Ini adalah perintah mutlak dari Tuan Zhafran.
Ran mendekat lalu berkata," bagaimana kalau lain kali saya akan menyiapkan baju sendiri, saat ini biarkan saja saya memakai pakaian ini."
"Tapi Ran sewaktu kita ke Paris kan kamu bawa koper, jangan bilang semua isinya pakaian kerja."
Tidak menampik ucapan Daisy, dia hanya mengangguk.
Daisy mengambil nafas yang panjang, dia tidak mengira Ran sekaku itu. Apakah ini efek terlalu lama bekerja dengan Zhafran.
Kemudian Daisy mengetuk pintu ruang kerja Zhafran, dia berniat untuk pamitan.
"Sudah mau berangkat?" tanya Zhafran yang tidak melepaskan pandangannya dari Daisy.
"Iya aku akan pergi dan Ran akan menemaniku," Daisy mendekat lalu berbisik," terima kasih atas hadiahnya."
Zhafran tersenyum lalu mengecup bibir Daisy di hadapan si kembar tanpa sungkan.
Daisy kemudian mendorong pelan Zhafran," jangan menciumku ketika sedang ada orang lain."
"Siapa? anggap saja tidak ada orang," jawab Zhafran cuek.
__ADS_1
"Mana bisa begitu," ucap Daisy.
"Saya tidak melihat apapun kok Nyonya." Ren dan Ran saling menatap kosong.
"Kalian mau pura-pura gak lihat gitu? yaudah terserah, aku berangkat dulu ya."
"Hati - hati di jalan." Mata Zhafran menatap tegas ke arah Ran, dia memberi isyarat seperti biasanya. Ran yang sadarpun segera menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Daisy.
-
-
Di kediaman Ryan.
Ryan sedang berada di studio pribadi miliknya.
"Tuan Ryan semua lukisannya sudah di simpan dengan baik dan akan di pindahkan sesuai jadwal yang ditentukan," ucap asisten Ryan bernama Defa.
"Terima kasih ya, silahkan istirahat dulu."
"Oh iya Tuan, wanita yang dilukisan itu apakah seseorang yang spesial ? apakah lukisan itu akan di pamerkan juga? aduh maaf banyak tanya, saya penasaran.
"Dia sangat istimewa, entahlah aku tidak tau. Kalau aku pamerkan pasti akan banyak mata yang melihatnya, siapa yang mau membagi orang yang dia cintai pada orang lain, walaupun hanya sekedar lukisan."
"Ya ampun Tuan Ryan ternyata seromantis itu ya. Tapi gak salah loh kalau mau di pamerkan yang penting jangan di jual, atau anda ingin memberikan lukisan itu sebagai hadiah untuknya?"
"Entahlah kita lihat nanti, saat ini aku harus fokus di Perusahaan."
"Kenapa anda tiba-tiba memutuskan untuk serius di Perusahaan ?"
"Sejak kapan asistenku jadi cerewet begini."
Ryan pergi keluar berjalan - jalan sebentar sambil merokok, lalu ada lelaki seumurannya menyapa.
"Kamu Ryan kan ?" ucapnya.
"Arnold?" tanya Ryan.
"Aku Arnold masa lupa, kamu kemana saja baru kelihatan? katanya sudah jadi pelukis ya."
"hemm, kamu mau kemana?"
"Biasa lari sore, oh iya jangan lupa beberapa minggu lagi ada reuni kampus. Wajib datang ya jangan lupa ajak Daisy. Oh iya mana nomor whatsapp mu nanti aku chat kalau sudah jelas jadwal reuninya."
"Ini nomorku 088008000808."
"Ok kalau gitu aku lanjut ya. Bye."
"Daisy...apa Daisy akan datang ya," gumam Ryan pelan.
Di kampus Daisy dan Ryan cukup terkenal karna mereka pasangan yang lumayan berprestasi di kampus.
"
-
__ADS_1
-
Di Restoran Mr.Crab Daisy, Rose dan Ran bersama.
Ran yang melihat Daisy mengenakan baju baru mulai membuka obrolan," Beb, itu baju baru beli di Paris ya? gila mahal banget tuh."
"Kenapa fokus ke bajuku, habisin itu makanannya baru ngomong. Ran juga ayo makan, kalian tadi sudah berkenalan kan jadi jangan malu-malu gitu."
Rose dan Ran saling menatap lalu tersenyum.
"Oh jadi Ran sebagai asisten Daisy ya, jago bela diri gak?"
Ran tidak menjawab hanya mengangguk, dia tidak terbiasa mengobrol saat makan. Sudah terbiasa dengan kehidupannya bersama Zhafran.
"Ran bukan asistenku, kenapa kamu tanya gitu dia kan bukan bodyguard."
Rose masih mengabaikan Daisy, lalu bertanya lagi pada Ran," kapan- kapan kita sparring ya."
Daisy masih tidak sadar dan tidak tau kalau Ran juga sebagai pengawalnya sudah banyak pelatihan dan pengalaman yang dia lalui, tapi Rose tau itu hanya dari melihat kondisi tubuh Ran. Rose juga mengikuti banyak bela diri dan giat berlatih.
Ran tidak menjawab hanya mengangguk lagi.
"Asisten mu payah Beb, dari tadi cuma mengangguk jangan bilang dia takut sama aku."
"Sudah-sudah ayo habisi makananmu, nanti gak kukasih hadiah lo."
Ran sudah memeriksa latar belakang Rose, dan dia bukan wanita biasa. Ayahnya salah satu pembisnis handal yang pernah bekerja sama dengan Fryaga Grub, sedangkan ibunya adalah seorang artis senior terkenal yang sudah bermain dibanyak film dan kancah internasional.
Rose lumayan juga dia, ternyata peka dan instingnya tajam sayang dia seorang photographer.
"Beb mana hadiah buatku?"
Daisy mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Rose yang sedari tadi merengek seperti anak kecil.
"Jangan dibuka, nanti saja pas di rumah."
"Kan penasaran, jangan balas dendam dong."
Apa aku harus cerita mengenai Ryan yah, tapi saat ini Daisy terlihat sangat bahagia. Aku gak tega merusak moodnya.
"Pokoknya gak boleh, jangan pasang muka muram gitu dong. Kalau gak suka sini aku ambil lagi."
"Jangan dong kan sudah jadi punyaku, Beb bentar lagi ada reuni sekolah kamu ikutan gak?"
"Hemm kapan?"
"Belum tau sih nanti aku kabarin."
Apakah mereka akan ikut reuni dan bertemu Ryan ataukah sebagai rekan kerja...............?
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.
Jangan lupa berikan asupan nutrisi berupa
__ADS_1
Like, Komen, Vote, Klik ❤
Selamat Hari Kemerdekaan 🤗