My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.57 - Sweet Rain


__ADS_3

VOTE


Like


Koment



Setelah meredakan kebangkitan yang penuh hasrat keduanya menikmati malam yang ditemani suara tetesan gemercik hujan yang paling menenangkan, menghempas segala kegundahan, tetesannya masih setia menemani dari balik kaca. Melalui hujan yang enggan berhenti menjadi saksi akan momen peristiwa terindah malam ini. Tak kala hujan menjadi obat penenang hati.


Terdengar suara ketukan dari balik jendela kaca mobil. Ada sepasang Saudara kembar memasang ekspresi sedih dan khawatir.


Kedua pasangan Suami Istri yang dilanda asmara kini membuka pintu mobil mereka keluar dengan wajah penuh bahagia.


Dengan kening mengkerut Ran berbicara," Nyonya, sebaiknya anda pulang dan beristirahat. Kami akan merawat Tuan dengan baik, saya akan mengantar anda pulang sekarang."


"Tapi aku mau menemani Suamiku, kamu tau kan dia terluka karna aku." Lekuk leher Daisy menunduk menahan deraian air mata yang akan keluar.


"Istriku kembalilah pulang. Aku hanya akan diperiksa sebentar, sebaiknya kamu menurut." Zhafran menyentuh pipi Daisy lalu mengecup keningnya.


"Baiklah tolong kabari aku." Daisy memeluk erat Zhafran lalu mengecup lembut bibir Suaminya.


Dokter Farhan dan Ren mendekati mereka, lalu membawa Zhafran dengan mobil yang berbeda meninggalkan Daisy bersama dengan Ran.


Daisy menangis dari kejauhan dia sangat ingin menemani Suaminya tapi tidak ada satupun mata yang menyambutnya.


Ran kemudian mengemudikan mobil mengantarkan Daisy pulang ke apartemen.


Melihat Daisy merengut, Ran berusaha menghiburnya dia pun berkata," Tuan akan melakukan perawatan dan pengobatan, karna tidak mau membuat Nyonya sedih makanya Tuan ingin Nyonya hanya di rumah saja untuk beristirahat. Karna besok adalah hari kerja, beliau tidak mau Nyonya kelelahan. Apalagi saat ini Nyonya sedang masa periode. Saya harap Nyonya bisa mengerti."


"Aku tau Ran. Aku hanya ingin menemaninya, tapi tidak ada satupun yang menyambutku. Zhafran juga hanya bicara sebentar lalu pergi."


"Ternyata secepat itu Nyonya merindukan Tuan. Besok kita akan ke Rumah Sakit menjenguknya. Sepertinya lukanya tidak begitu parah tapi tetap harus ada pemeriksaan intensif. Bukannya tidak ada yang menyambut Nyonya, kami hanya khawatir dan syok lebih baik jika Nyonya istirahat itu akan sangat membantu kami."


"Terima kasih Ran. Tapi bisakah kamu berhenti bicara kaku dan formal padaku. Ku kira kita sudah dekat dan berteman."


"Maaf Nyonya tapi beginilah cara saya berbicara. Apa Nyonya menganggap saya teman? Muncul senyuman tipis dari bibir Ran, dia merasa senang atas ucapan Daisy.


"Baiklah terserah kamu saja. Tentu saja kita teman kan. Aku lelah, rasanya hari ini begitu panjang. Dan kami menjadi lebih sering ke Rumah Sakit. Hah kalau bisa tadi aku menghabisi perempuan itu."


Daisy mulai menggerutu pelan, perasaannya saat ini sedang campur aduk. Ran hanya mendengarkan dari balik senyumnya.


Tenang saja Nyonya, saya akan membalas mereka dengan lebih menyakitkan lagi.


Setelah mengantar Daisy, Ran kembali menuju Rumah Sakit. Daisy yang lelah langsung mandi, tidak lupa dia menikmati makan malam yang sudah disediakan Bibi Yum.


"Bagaimana aku bisa makan enak kalau Suamiku saja tadi tidak sempat makan. Bagaimana ini apa aku ke Rumah Sakit saja ya. Bi Yum juga sudah seperti hantu saja, dia tau aku akan datang lalu menyiapkan makanan tapi mukanya saja tidak kelihatan dari tadi. Aku penasaran dia kemana," guman Daisy sambil menatap makanannya.


Setelah makan, Daisy memeriksa bahan makanan yang ada di kulkas. Dia mulai membuat bubur dengan tambahan rempah sehat di dalamnya. Setelah selesai dia berganti pakaian dan mengenakan mantel serta syal yang melilit di lehernya lalu menuju ke Rumah Sakit.





Di Rumah Sakit Fryaga Medical


Daisy menelpon Ran lalu bertanya di ruang mana Suaminya di rawat. Ran yang kaget segera menyambut Daisy yang sudah ada di depan Rumah Sakit.


"Nyonya kan saya sudah bilang kalau.." Ran terdiam saat Daisy memotong kalimatnya.


"Ran, diam dan dengarkan. Aku adalah Nyonyamu, suamiku adalah Tuanmu. Sebaiknya kamu antarkan aku sekarang !!! tegas Daisy dengan suara lantangnya membuat Ran tercengang.


Kenapa Nyonya jadi terlihat keren. Ternyata dia bisa membentakku, lucunya. Terlihat jelas Nyonya sangat mengkhawatirkan Tuan.


Ran yang masih kaget lalu mengangguk sambil berkata," silahkan ikuti saya Nyonya."


Keduanya menuju ke bangsal/ruangan khusus yang di desain lebih mewah dari ruangan yang pernah dia tinggali saat di rawat.


"Tuan tertidur mungkin karna pengaruh obat. Tapi tenang saja tidak ada kelainan ataupun kerusakan pada kepalanya. Syukurnya pecahan kaca tidak masuk dan melukainya lebih dalam, hanya goresan ringan tapi tetap saja berbahaya kalau tidak segera di obati takutnya akan ada infeksi."


"Terima kasih Ran. Aku akan menemaninya malam ini. Sebaiknya kamu pulang."


Ran mengangguk lalu mengambil selimut dari dalam lemari yang ada di dalam ruangan tersebut.


Daisy duduk disamping ranjang pasien sambil menggenggam tangan Suaminya.


Mendengar ada suara berisik Zhafran membuka kedua matanya lalu menatap Daisy.


"Kenapa kamu kemari kan aku sudah bilang istirahat saja di rumah."

__ADS_1


Daisy diam, wajahnya merengut lalu menyembunyikan kotak makanan yang dia bawa di belakang tubuhnya sambil memegangnya.


"Apa yang kamu sembunyikan?"


"Tidak ada. Aku datang karna khawatir, memangnya seorang Istri tidak boleh merawat Suaminya?"


Zhafran menarik pelan hembusan nafasnya," perlihatkan tanganmu."


Daisy memegang kotak makanan sambil menunduk malu, pipinya terlihat memerah.


"Apa kamu memasaknya untukku?"


"Aku tadi memasaknya sebelum kemari. Apa kamu sudah makan? pasti sudah makan ya. Kalau begitu biar aku berikan saja pada Ren atau Ran."


Melihat kekhawatiran yang tersirat dari wajah Istrinya membuat Zhafran semakin luluh, hatiny bahagia, dia pun berkata," tapi aku masih lapar. Bisakah Istriku menyuapiku makan? bukankah kamu kemari untuk merawatku?"


Daisy tersenyum, dia mulai membuka kotak makan tersebut lalu menyuapi Zhafran dengan pelan.


Melihat ada bekas makanan yang menempel di bibir Suaminya. Daisy lalu membsrsihkannya dengan jarinya yang kecil dan halus.


Ketika jari Daisy menempel di bibirnya. Zhafran langsung mengemutnya bak lolipop.


"Sayang, jariku kotor." Daisy menarik tangannya lalu menaruh kotak makanan ke atas meja. Dia pun kembali duduk di samping ranjang pasien.


"Apa kamu mau tidur di Rumah Sakit?"


"Tentulah aku akan menemanimu. Kenapa tidak boleh lagi?"


"Kemarilah tidur disampingku. Jangan ngambek lagi."


Melihat tatapan manja Zhafran membuatnya luluh, dia melepaskan mantelnya lalu merebahkan diri disamping Zhafran.


"Terima kasih karna sudah membuat bubur dan menemaniku Istriku." Zhafran memeluk tubuh Daisy. Mereka saling bertukar nafas dalam pandangan yang hangat dan lembut.


Zhafran mengelus punggung Daisy lalu melepas kancing bra nya. Daisy yang kaget hanya diam dengan wajahnya yang masih memerah, kemudian mereka saling menempelkan bibir, memainkan lidah yang saling menjelajah di dalam mulut, sambil meremas dada Daisy dengan penuh gairah.❤


Daisy yang sudah terhanyut kehangatan Zhafran mulai berhenti memainkan lidahnya lalu berkata," itukan tugasku sebagai Istri. Apa kamu ingin melakukannya lagi? tadi kan sudah di mobil."


"Aku kan hanya sedikit mencicipimu. Memangnya kamu mau kita melakukan itu lagi?"


Pipi Daisy memerah lalu membenamkan wajahnya di pelukan Zhafran," kamu sedang sakit masih saja menggodaku. Tidur saja tidak usah nakal, atau aku ikat tanganmu itu."


"Istriku, maukah kamu menemaniku ke acara ulang tahun pernikahan rekan bisnisku, sekaligus pertemuan penting minggu ini?"


"Tentu sayang. Sebaiknya kita tidur sekarang. Jadi berhentilah merabaku. Kamu ingin banget aku ikat?"


Ke esokan harinya, si kembar dan Dokter Farhan di kagetkan dengan Zhafran yang tangannya masih terikat lalu Daisy yang masih tertidur pulas.


Zhafran yang sudah bangun lalu memberikan kode pada bawahannya untuk keluar tanpa bersuara.


Di ruangan Dokter Farhan.


"Hah apa mereka melakukan itu di Rumah Sakit. Kalian lihat sampai tangan bos terikat begitu, mungkin temanya tadi malam hardcore." Farhan yang biasanya berisik mulai penasaran.


"Sudah jangan membayangkan hal aneh, Tuan tidak mungkin melakukannya. Dia kan sedang terluka." Bela Ren tidak mau kalah.


"Kalian berdua ini pria apa bukan sih, kok malah bergosip. Mungkin Tuan memang tidak melakukannya, tapi kan bisa saja Nyonya yang memulainya. Kalian lihat kan siapa yang di ikat." Ran justru menambahkan bumbu dalam cerita mereka.


[ Heran ini bertiga malah ngegosipin atasannya, author mah cuma bisa nyimak kelakuan mereka ]





Beberapa hari kemudian


Di Perusahaan I&T Corporation


Daisy sedang berada di ruangan Pak Rafael bersama Randy dan juga Diana. Mereka sedang membahas proyek bersama Arsena Grub.


"Pak, ada masalah apa sepertinya serius sekali?" tanya Randy yang khawatir melihat raut pucat Pak Rafael.


Pak Rafael yang mondar - mandir kemudian duduk di atas kursinya sambil mendengus kesal, dia pun menjawab," Arsena Grub membatalkan kerja sama kita." Melanjutkan kalimatnya." Daisy apa kamu yakin kita tidak punya masalah dengan mereka?"


Belum sempat Daisy menjawab, ada Ren yang mengetuk pintu dari luar. Daisy kemudian membuka pintu dan mempersilahkan Ren masuk. Tanpa basa - basi Ren langsung ikut ke dalam rapat kecil mereka dan menjelaskan kondisi kerja sama yang telah batal dengan Arsena Grub.


Ren tidak menjelaskan secara rinci kalau pembatalan kerja sama dikarenakan masalah personal.


"Bukankah sangat tidak profesional membatalkan kerja sama karna merasa tidak puas dengan kinerja kita? padahal rapat waktu itu mereka sangat menyambut kita." Rafael mengomel kesal lalu menatap Daisy yang sedari tadi diam, dan bertanya," Daisy, aku tau kamu sangat berjuang dan bekerja keras. Apalagi pekerjaan itu adalah proyek pertamamu dan menjadi kepala Tim di divisi kita. Tapi aku harap kamu tidak bekecil hati."

__ADS_1


"Bagaimanapun juga ini adalah resiko dalam bekerja. Saya bisa memakluminya Pak."


Diana memeluk Daisy yang terlihat sangat sedih, begitu juga dengan Randy yang saat ini ikut menyemangatinya.


Setelah rapat panas tersebut, mereka bubar untuk beristirahat. Seperti biasa Daisy pergi ke Hotel Atson untuk makan siang bersama Zhafran.


Setelah selesai makan siang, Zhafran memulai obrolan sambil menatap Daisy.


"Malam ini kita akan pergi ke acara rekan bisnisku. Apa kamu serius mau menemaniku?" Melanjutkan obrolannya saat di Rumah Sakit beberapa hari lalu.


"Acaranya malam ini kah? aku hampir saja lupa. Tentu aku harus ikut menemanimu. Tapi aku tidak punya dress bagus hanya dress biasa yang sering aku pakai. Apakah acaranya sangat meriah?" tanya Daisy khawatir, dia tidak suka dengan keramaian pesta.


"Jangan khawatir mengenai pakaian. Kenapa kamu tidak enak badan? apa masih khawatir mengenai Arsena Grub?"


"Entahlah semua berantakan karna aku."


Zhafran mendekat lalu mengecup bibir Daisy sambil berkata," kamu tenang saja semua akan baik - baik saja. Bergantunglah padaku, serahkan semuanya padaku. Tugasmu hanya perlu menjadi pegawai dan Istri yang selalu ada di sisiku."


"Terima kasih Suamiku." Membalas kecupan Suaminya sambil memainkan lidah kasarnya.


Setelah diskusi singkat Daisy kembali ke kantor. Ren dan Ran kemudian masuk kedalam. Lalu si kembar memulai dialog mereka di hadapan Zhafran.


"Saya akan menjemput Nyonya nanti sore. Ran jangan lupa persiapan kita. Apa kamu sudah menyiapkan dress dan beberapa aksesoris lengkap lainnya?" perintah Ren dengan penuh semangat.


"Tenang saja Ren. Aku sudah menyiapkan semuanya, dan mengosongkan jadwal Mua terbaik dari Fryaga Grub. Khusus untuk merias Nyonya."


Begitulah ketiganya memasang senyuman sambil menanti senja.





Sore harinya


Hampir semua pegawai sudah pulang kerja. Ren datang menjemput Daisy lalu membawanya lagi ke Hotel Atson. Di perjalanan Ran menjelaskan kalau sudah menyiapkan gaun untuknya.


Betapa tercengangnya Daisy saat memasuki ruangan yang dipenuhi beberapa dress dengan kualitas terbaik dan terlihat indah.


"Nyonya silahkan pilih satu dress untuk di kenakan malam ini." Seorang desainer terkenal Rivan Gunawan datang menghampirinya dengan senyuman hangat di wajahnya.


"Anda? terima kasih. Tapi bukankah ini terlalu berlebihan?" tanya Daisy sambil menatap Ran dan Rivan sang desainer.


Bukankah dia Rivan Gunawan dan yang di sebelah adalah Christine Mua terkenal yang berada dibawah Fryaga Grub.Bagaimana bisa Suamiku menyiapkan semua ini.


Rivan Gunawan dan Crhistine mulai memperkenalkan diri sambil membantu Daisy memilih pakaian dan mendadaninya dengan maksimal.


Daisy terlihat sangat anggun dengan dress putih melilit di tubuh indahnya. Bibir merahnya menambah pesona dia pun terlihat semakin seksi, semua mata pasti akan tertuju padanya. Tidak lupa anting berlian yang dipesan khusus hanya untuknya sebagai pemanis penampilannya malam ini.



Setelah Daisy selesai berpakaian. Semua orang yang ada didalam memasang mata takjub penuh bangga. Rivan dan Christine pun menjadi sangat puas atas hasil seni dari tangan hangat mereka.


Tidak lama kemudian Zhafran dan Ren datang. Zhafran pun takjub, pupil matanya membesar, hatinya berdegup kencang. Ingin rasanya dia langsung menerkam Istrinya yang sangat terlihat cantik dan seksi.


Ren sudah menyiapkan kamera untuk mengenang momen bahagia dan istimewa malam ini. Dengan cepat Zhafran mengambil kamera tersebut lalu memotret Daisy.



Ren dan Ran yang melihat tingkah Zhafran hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Setelah itu mereka berempat pergi menujuke acara yang diadakan oleh Keanubroto. Tentunya Daisy tidak tau kemana tujuan mereka. Dia hanya tau menghadiri acara ulang tahun pernikahan rekan bisnis Suaminya.


Di dalam mobil, Ren tengah menyetir, Ran berada di kursi penumpang disamping Ren. Sedangkan Daisy dan Zhafran berada di belakang, mereka berempat saling mengobrol ringan.


Melihat Istrinya sedari tadi diam, Zhafran menggenggam tangannya lalu berkata," Istriku malam ini kamu sangat cantik, rasanya aku tidak rela membawamu, dan membagi kecantikan itu pada yang lain saat acara nanti."


Si kembar yang mendengar kalimat Tuannya, langsung merinding. Pertama kalinya dia mendengar Zhafran menggombal, terlihat sangat natural.


"Sayang, aku kan jadi malu. Kamu tau tidak aku sangat gugup. Mana pernah aku menghadiri acara besar seperti ini. Aku takut akan membuatmu malu."


"Tenanglah kamu tidak sendirian ada aku dan Ran yang akan menemanimu."


Bersambung.


Terima kasih atas segala dukungannya dan selalu setia membaca cerita receh ini.


Maaf kalau ceritanya membosankan aku pertama kalinya bikin cerita romantis tapi kayaknya gak romantis.


Jahat kalau masih belum VOTE, Koment, Like dan Klik favorite ❤

__ADS_1


__ADS_2