My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.36 - Kembali


__ADS_3

"Maaf ya lain kali kita bisa pergi lagi."


"Tenang saja, aku paham kok. Kalau mau kencan lain kali tidak usah keluar negri dan aku akan membawamu ke tempat yang lebih menarik."


"Kemana?"


"Rahasia."


"Hemmm."


Keduanya memutuskan untuk kembali karna banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan, bagaimanapun juga mereka pergi mendadak.


Butuh sekitar 17-20 jam sampai tiba tapi perjalanan tersebut tidak terasa membosankan karna mereka pergi bersama.


Daisy sendiri masih belum tau kalau Zhafran membelikannya banyak barang, semua sudah diatur oleh Ran.


-


-


Di Arsena Grub.


Ryan sudah selesai memperkenalkan dirinya sebagai Manajer Bisnis yang baru, banyak wanita yang meliriknya. Bagaimana tidak dia sangat terlihat tampan, karakternya lembut, dia juga punya senyum yang hangat dan suaranya terdengar berat namun halus. Wanita normal mana yang tidak terpikat padanya. Sudah jelas dia adalah sesosok pria idaman para wanita.


Setelah sesi perkenalan Ryan dan beberapa staf memutuskan untuk makan siang bersama di kantin, sambil makan mereka mengobrol.


"Pak Ryan sudah punya pacar belum?" tanya seorang wanita dia adalah salah satu rekan kerjanya.


"Ada," jawab Ryan malu-malu.


"Wah beruntung banget dong pacar Pak Ryan."


"Saya yang beruntung memilikinya."


"Aduh Pak Ryan pasti orangnya romantis banget yah. Kalau menikah jangan lupa undang kami loh."


[ Dering ] Suara Hp Ryan.


"Maaf ya saya sudah selesai jadi duluan sekalian mau terima telpon."


"Silahkan Pak."


-


"Halo!!!"


"Ryan aku akan kembali."


"Terserah, aku sibuk."


"Ryan bisa gak sih kamu gak sekasar itu sama aku."


"Aku sudah bersabar selama 4 tahun Lin."


"Tapi kan, aku masih mencintaimu."


"Mananya yang cinta? selama ini kamu cuma bermain, kamu tau aku sudah mengorbankan banyak hal termasuk wanita yang sangat kucintai."


"Kenapa selalu dia sih, 4 tahun ini kamu cuma mikirin perempuan gak jelas itu."


"Linda jangan sampai aku khilaf padamu, jangan pernah menghina dia."


"Terserah dasar lelaki pengecut."


Ryan menyudahi panggilan telpon tersebut. Dia pergi keluar mencari udara segar sambil menghisap rokoknya.


Dia kembali membuka galeri yang ada di Hpnya hanya dengan melihat foto-foto Daisy hatinya menjadi sedikit lebih tenang.


"Harusnya aku hanya butuh waktu sebentar kenapa jadi 4 tahun, kamu pasti sudah menungguku selama itu Daisy," gumam Ryan pelan.

__ADS_1


Sembari duduk dan menikmati rokoknya, Farel sang sekretaris datang menghampirinya.


"Lagi santai ya Ryan?"


"Iya nih mau rokok?"


"Kirain kamu tidak merokok."


"Sudah 4 tahun saya merokok pak."


"Jangan panggil pak, nama saja. Kan tidak ada siapa-siapa juga."


"Tetap saja saya harus menghormati atasan saya kan pak Farel."


"Hahaha kamu ini bisa saja, kan kamu anaknya Pak Direktur."


"Tapi kan saya cuma manajer biasa, kalau di perusahaan."


"Iya deh terserah kamu saja. Kenapa mukanya suram gitu?"


"Kelihatan banget ya?"


"Jangan terlalu bermuram durja. Sudah ganteng gitu jangan murung dong. Sebentar lagi kita ada rapat. Kalau begitu saya kembali ke kantor duluan ya.


Ternyata Ryan orangnya rendah hati, sangat cocok untuk jadi penerus perusahaan ini.


-


-


Saat ini di pesawat Daisy dan Zhafran.


"Tuan saya sudah mengirimkan rekaman dan foto Nyonya ke Hp anda," ucap Ran dengan tatapan penasaran.


Zhafran mulai membuka Hpnya dan berkata," terima kasih," dia melanjutkan menatap dengan hangat semua foto tersebut. Dia memakainya sebagai walpaper Hpnya, saat momen mereka berciuman sambil dihujani salju. Bahkan mengubah nama Daisy menjadi Istri Cantikku di nomor telpon dan whatsappnya.


"Dari mana?" tanya Daisy.


"Kenapa? sudah kangen ya?"


"Cuma nanya lagian kamu keluar baru beberapa menit."


Makin lama Zhafran makin nyebelin.


"Hemmm." Zhafran menatap datar tanda kecewa.


"Daisy yang melihatnya langsung tak enak hati, dia lalu mendekat dan menarik tangan Zhafran," ayo sini tiduran disampingku, istirahat kan besok kita harus bekerja seperti biasa lagi."


Zhafran tidak menjawab dia hanya menurut sambil membuka sedikit kancing bajunya lalu merebahkan tubuhnya," Daisy," ucapnya.


Daisy menjawab tapi matanya fokus ke TV," hemm?"


"Kau menamaiku apa di Hpmu?"


"Zhafran." Daisy masih menonton TV tanpa perduli perasaan Zhafran yang menunggu jawaban lebih.


Zhafran memunggungi TV dan memegang wajah Daisy," Hanya Zhafran?" tanya nya.


"Loh aku lagi nonton sinetron, jadi kamu mau dinamai siapa?" berusaha melepaskan diri dari tangan Zhafran.


"Lupakan." Zhafran melepaskan tangannya lalu merebahkan badannya memunggungi Daisy.


Dia ngambek?


Daisy langsung membuka Hpnya dan merubah nama panggilan Zhafran menjadi Suamiku," Zhafran," panggilnya.


Zhafran tidak menjawab, Daisy lalu memeluknya dari belakang dan berbisik," jangan marah aku hanya bercanda. Kalau marah akan akan menggigitmu loh." Zhafran masih tidak bergeming.


"Masih cuek nih, aku gigit yah." Daisy lalu menggigit telinga Zhafran dengan pelan, bukannya marah Zhafran justru langsung memeluk Daisy," kamu berani menggigitku," ucap Zhafran.

__ADS_1


"Habisnya sedari tadi aku dicuekin sih, kalau masih marah aku akan gigit kamu terus."


"Hemmm tidurlah." Zhafran melepaskan tangan Daisy lalu berbalik dan menarik selimutnya.


Dia masih ngambek toh.


Daisy lalu menggigit Zhafran lagi, bukannya di tepis tapi Zhafran membiarkannya," puas?" ucap Zhafran.


"Kamu gak kesakitan aku gigit?"


"Gigit macam apa itu serasa di gigit kucing."


"Serius? aku gigit lagi ya?"


"Kamu sejak kapan jadi suka menggigit ?"


Daisy tidak menjawab dia justru langsung menggit leher Zhafran," masih tidak sakit?"


"Sama sekali tidak terasa."


"Hah serius?" Daisy yang tadinya bercanda justru menjadi kesal dan mulai menggigiti tubuh Zhafran, mulai dari leher, tangan, perut sampai dadanya.


"Puas?" tanya Zhafran yang mulai menahan senyumannya.


"Aku lelah. Yasudah aku akan tidur, kalau masih marah lanjutkan saja."


"Sudah menyerah?" tantang Zhafran.


"Kamu...Ok!!!" Daisy mendekatinya tapi kali ini bukan gigitan melainkan kecupan di leher Zhafran, kecupan itu menari di sekitar telinga dan lehernya.


Zhafran hanya diam, dia merasa kenyamanan saat dikecup Daisy. Dia melingkarkan tangannya di pinggang Daisy, lalu membalas dengan mengecup lehernya.


Mulai merasa Zhafran membalasnya Daisy tidak mau kalah jadi mereka beradu perang panas, bukan hanya sekedar kecupan tapi memberikan tanda merah dimasing-masing tubuh.


"Stop ini sudah kebanyakan." Daisy menutup bibir Zhafran menggunakan kedua tangannya.


"Bukannya kamu suka?" tanya Zhafran yang kemudian memeluk Daisy.


"Siapa yang suka, kalau di teruskan lagi aku akan menandai lehermu." Daisy mulai mengancam Zhafran, bukannya waspada Zhafran justru menyodorkan lehernya pada Daisy.


Tanpa pikir panjang Daisy menandai leher Zhafran dengan dua tanda merah masing-masing di kiri dan kanan leher Zhafran.


"Puas?" tanya Zhafran.


"Astaga maaf, aku tidak sengaja. Mana besok sudah kerja pasti bekasnya belum hilang."


Mati aku dia pasti marah, mana mungkin seorang Presdir sempurna seperti dia pergi dalam keadaan bertato merah di lehernya.


"Kalau begitu aku harus membalasnya." Zhafran mulai mendandai Daisy tapi tidak di leher, itu jauh lebih kebawah. Daisy hanya pasrah sambil menikmati sentuhan suaminya.


Bersambung.


Bonus :


Pegawai perkebunan : pak Tomo lagi apa?


Tomo : lagi ngasah parang.


Pegawai perkebunan : kan panennya sudah lewat.


Tomo : bukan buat panen tapi nyembeleh kepala [ Ryan ].


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca sejauh ini.


Jangan lupa berikan asupan nutrisi berupa


Like, Komen, Vote, Klik ❤


Note: Rencana mau Up lebih tp mendadak gak enak badan, see you tomorrow.

__ADS_1


__ADS_2