My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.46 - Kekhawatiran Zhafran


__ADS_3

Hari itu cuaca sangat cerah tapi suasana hati Daisy dan Ran menjadi gelap kelabu.


Di perjalanan Daisy hanya diam dan berusaha keras mengatur emosi dan ekspresinya. Dia tidak mau melibatkan orang luar ke dalam masalah pribadinya. Sejak dahulu Daisy selalu memendam dan menyelesaikan masalahnya sendiri, karna dia tidak suka diremehkan dan dipandang rendah orang lain.


Ran memberanikan diri bertanya," Nyonya mohon tunggu, kita akan sampai ke Rumah Sakit sebentar lagi. Maaf saya tidak datang tepat waktu, saya pantas di hukum." Ran amat sangat kesal pada dirinya sendiri, dia mendapat tugas dan amanah dari Tuan Zhafran tapi tidak mampu menyelesaikannya dengan baik. Bukan hanya takut melapor pada Zhafran dia juga merasa sangat tidak berguna.


"Kenapa harus di hukum kan aku hanya jatuh. Karna terlalu sakit aku menangis, kamu kan gak bisa selalu ada bersamaku. Sudahlah tidak usah di pikirkan." Daisy berbicara tanpa memandang Ran, dia hanya melihat sekeliling dari balik kaca mobil.


Saya tau anda berbohong Nyonya. Percuma kalau saya bertanya, anda pasti akan tetap merahasiakannya.


Sesampainya di Rumah Sakit, Dokter Farhan langsung menyambut Daisy. Tanpa ada yang bicara semua petugas langsung bertindak dengan sigap sesuai prosedur, dia pun berada di Ruang VIP kelas I.


"Nyonya kenapa bisa sampai terluka begini?" tanya Dokter Farhan curiga.


"Aku terpeleset lalu terjatuh."


Tidak mau bertanya lebih jauh, Farhan hanya mengangguk sambil mengobati Daisy.


Meninggalkan Farhan dan Daisy berdua, Ran pergi sambil memegang Hp nya. Dia menelpon Zhafran untuk memberi kabar buruk pada Tuannya.


Setelah mendengar penjelasan dari Ran. Tidak ada reaksi dari Zhafran, beberapa lama kemudian mereka berbincang lagi.


"Aku akan kembali, siapkan semuanya."


"Baik Tuan."


--


--


Saat ini di Malaysia.


Hari itu mereka tengah makan siang tapi setelah mendapat kabar buruk dan mendengarkan penjelasan Ran membuat Zhafran menjadi gusar, makanan pun terasa hambar, dia langsung tidak nafsu makan.


Melihat Tuannya gelisah Ren pun berkata," makanlah walau sedikit Tuan. Karna kita butuh banyak energi dan tenaga saat pulang untuk menyelesaikan masalah nanti."


Dengan berat Zhafran mulai mengunyah makanannya, dia sadar kalau mau berperang harus dalam keadaan sehat. Setelah keduanya selesai makan mereka bergegas untuk pulang menggunakan private jet milik Zhafran.


Di Rumah Sakit.


Beberapa jam kemudian dan hari juga sudah mulai gelap akhirnya mereka sampai, tanpa mengenal lelah Zhafran dan Ren langsung menuju Rumah Sakit. Setelah sampai tanpa memandang sekitar Zhafran melajukan langkah kakinya, jantungnya berdegup sangat kencang. Dia sangat takut kalau Daisy terluka lagi dan saat itu dia tidak berada di sisinya membuatnya semakin khawatir.


"Krieek." Suara pintu terbuka.


Melihat istrinya sedang tidur dia segera mendekat dengan langkah pelan. Dia mengelus pipi istrinya lalu mencium keningnya. Dia tarik sedikit selimutnya dan melihat ada luka kecil di lutut istrinya. Bagi sebagian orang mungkin hanya lecet biasa tapi bagi Zhafran luka tetap saja luka dan pasti ada bekasnya.


Zhafran berbicara pelan," Daisy pasti kamu kesakitan, maafkan aku tidak berada di sisimu." Zhafran mengelus kaki Daisy sambil menatapnya dengan dalam. Lalu dia mengecup bibir Daisy dan merebahkan dirinya di samping istrinya.


2 jam kemudian Daisy terbangun dia sempat kaget melihat Zhafran di sampingnya.


"Kamu bangun?" tanya Zhafran sambil membelai rambut Daisy.


Daisy menggeliat kecil lalu menjawab," Heemm. Kapan kamu tiba? kenapa tidak memberi kabar?"


"Aku sudah menelpon tapi istriku tidak menjawabnya. Aku baru saja tiba kok." Setelah membelai rambut lalu dia mulai menyelusuri wajah Daisy dengan ciuman lembutnya.


"Hemm sudah dong nyiumnya. Maaf aku lupa mengaktifkan dering Hpku." Pipi Daisy memerah dia merasa sangat senang melihat Zhafran di depannya.


Zhafran menghentikan ciumannya lalu bertanya," masih sakit? sudah makan apa belum ? sudah minum obat kah?"


"Tidak sakit hanya lecet. Aku juga sudah makan dan minum obat tadi sebelum tidur. Kamu sendiri sudah makan apa belum?"


Zhafran menjawab, " Ya aku sudah makan."


Zhafran kemudian bangun lalu menarik selimut dan mulai menciumi kaki Daisy, dia tidak perduli dengan adanya luka yang berbalut perban tersebut.


Dengan malu Daisy berkata," jangan di cium aku kotor belum mandi dan ada luka disitu."


Zhafran masih mengabaikan Daisy, tapi ciuman Zhafran terus menyelusuri kaki Daisy. Setelah puas dia berbisik," maaf kan aku."


"Kenapa minta maaf lagi. Ini bukan kesalahanmu, hanya aku yang ceroboh." Daisy membalas tatapan sendu suaminya dengan memberikan senyuman hangatnya.


"Tidurlah." Zhafran mengabaikan ucapan Daisy lalu mencium keningnya lagi.


"Hemmm. Kamu mau kemana?"


"Ada urusan sebentar, tidurlah."


Dia pasti sangat sibuk, aku cuma bisa menyusahkannya. Harusnya dia tetap melanjutkan pekerjaannya.


Ran dan Ren tidak ikut masuk mereka berdua menunggu dari balik pintu. Setelah Zhafran keluar mereka menuju ruang pribadi khusus di lantai atas miliknya. Ya dia adalah pemilik dari Rumah Sakit Fryaga Grub. Setelah pergi dia memberi perintah pada Farhan untuk mengawasi Daisy.


Ketiganya duduk saling berhadapan. Raut wajah Ran sangat pucat dan dia siap akan konsukuensinya karna lalai melaksanakan tugas.


Ran menyerahkan video rekaman cctv, ketiganya menyimak dengan serius. Zhafran melihat semua adegan yang menimpa istrinya. Melihat perjuangan Daisy membuatnya bangga tapi juga membuat perasaannya campur aduk seperti kemarahan, kekecewaan, kesedihan, ketidakberdayaan semuanya menjadi satu.


Zhafran terus memutar video itu berkali - kali sampai dia ingat semua adegannya. Suasana menjadi sangat sunyi dan canggung, Ren atau pun Ran tidak berani berkomentar. Mereka sibuk berdebat dengan batin mereka sendiri.

__ADS_1


"Seandainya aku datang lebih cepat dan lebih perhatian pada Nyonya, kejadian menjijikan ini tidak akan pernah terjadi. Apa perlu aku membunuhnya diam - diam." Ran bergumam pelan tapi terdengar oleh Ren dan Zhafran.


"Aku juga terlalu ceroboh dan meremehkan lawan, harusnya aku lebih detail dan mendalam memeriksa Arsena Grub tidak ku sangka bedebah itu kembali dan bekerja di Perusahaan orang tua nya. Menurut sumberku dia sedang sibuk melukis dan tidak tertarik pada Perusahaan." Sambung Ren yang menutupi niat jahatnya yang sudah dia rencanakan dalam kepalanya.


Zhafran tidak berkomentar dia hanya terus menatap rekaman cctv sambil mengepalkan tangannya dengan erat dan menggertakan giginya, bahkan tatapan tajamnya seolah bisa menembus ke dalam jantung.


Zhafran memang tidak terbiasa menunjukkan emosinya bahkan tidak tau bagaimana cara menghibur Daisy.


Ran kemudian memberanikan diri memulai percakapan," Tuan saya sedang menyelidiki masalah ini sampai ke akarnya, kalau perlu kita membuat Arsena Grub mengalami kerugian yang besar atau kita bisa membeli Perusahaannya."


"Kamu pikir itu cukup Ran? aku kira kamu orang yang kreatif. Apakah kemampuanmu sudah tumpul?" ungkap Zhafran dengan nada tinggi sambil menatapnya dengan dingin.


Ran yang sadar atas kekurangan dan kesalahannya terdiam malu sambil meminta maaf. Kemudian dia menyimak Ren dan Zhafran berdialog berat.


Ren juga ikut berbicara," maaf menyela tapi saat ini kita bukan sebagai Fryaga Grub melainkan I&T Corporation yang sedang bekerja sama dengan Arsena Grub. Kalau mau menyakiti jangan setengah - setengah lebih baik kita hancurkan secara perlahan termasuk menanam saham di Arsena Grub. Berikan mereka kesakitan yang luar biasa, bukan hanya menjadi bangkrut tapi hantam si bedebah itu dengan mempublikasikan hubungan anda dengan Nyonya."


"Aku juga maunya begitu, tapi Daisy pasti akan menolaknya. Ini sungguh merepotkan, ingin rasanya aku membunuhnya langsung."


"Maaf Tuan akan saya perjelas. Keanubroto akan menggelar acara mewah di kediamannya dan tentunya acara tersebut hanya akan di hadiri oleh beberapa orang penting saja. Kita juga sudah mendapat undangan. Walaupun meriah tapi mereka tidak mengundang awak media. Itulah waktu yang tepat untuk anda membawa Nyonya dan memperkenalkannya pada mereka."


Zhafran pun tersenyum dan menyetujui rencana Ren. Lalu dia memerintahkan Ran untuk menyelidiki semua berita terbaru mengenai Ryan dan keluarganya.


"Tuan ada sesuatu yang ingin saya sampaikan lagi." Ran memberi map berisikian file seorang wanita.


Zhafran membuka lalu membacanya, lalu dia menatap Ran seolah meminta penjelasan.


"Namanya adalah Melinda Rivaldo, kita pernah bertemu dengannya sewaktu di Paris. Tidak lain dan tidak bukan dia juga adalah istri dari Ryan Keanubroto. Dan saya tidak tau apakah ini takdir atau suatu kebetulan tapi dia minggu lalu melamar di Perusahaan kita untuk posisi Sekretaris. Sayangnya waktu itu saya tidak begitu memperhatikannya jadi saat kita di Paris saya juga tidak mengenalinya.


Ren terkekeh pelan," suami dan istri sama saja, satunya ular satunya lagi buaya. Kabarnya mereka akan bercerai tapi selalu tertunda sepertinya masalah mereka jauh lebih rumit. Kabarnya perempuan itu juga sangat licik dan Ryan kesulitan menceraikannya."


"Jadi apakah sebaiknya kita menolak lamarannya?" sambung Ran.


"Kita bisa menundanya sambil memikirkan langkah selanjutnya. Fokuskan tugas kalian dengan rapi dan teliti jadi kerjakan tanpa cacat karna aku tidak menerima kegagalan lagi." Setelah memberi perintah Zhafran meninggalkan keduanya.


Tapi langkahnya terhenti di depan pintu lalu berbicara nyaring," Ran jangan lupa hukumanmu." Dia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan Daisy.


Ran yang kaget atas perkataan Tuannya sudah mempersiapkan hatinya untuk menerima hukuman.


Ren diam - diam menghubungi bawahannya yang di latih khusus oleh keluarga Drajad untuk menculik Ryan. Tapi Ran yang menyadari gerak saudaranya yang mencurigakan langsung berkata," kamu bilang kita harus bertindak waspada dan bersih kan, jadi jangan melakukan tindakan tidak etis begitu dong."


"Kita ? kamu dan Tuan cukup tutup mata, biarkan aku yang bertindak dalam bayangan." Ren membuat alasan.


"Jangan menculik atau membunuhnya. Lakukan saja seperti rencana awal. Di mulai dengan istrinya. Kau paham kan apa maksudku." Ran menyerahkan berkas barusan untuk di periksa Ren.


"Apa kamu lupa Ran, bukankah tadi kamu juga berniat membunuhnhya diam - diam." Balas Ren sambil membaca berkasnya.


"Cih. Aku cuma emosi tadi, selanjutnya aku akan meningkatkan penjagaan pada Nyonya." Ran berjalan keluar ruangan di susul oleh Ren.


Tapi aku memang ingin membunuhnya sih. Sabar lah sabar diriku, kita masih akan bermain sebentar.


--


--


Zhafran kembali ke ruangan Daisy, disana ada Farhan yang sedang mengobrol dengan istrinya.


Dengan langkah cepat dia mendekati Daisy lalu mengusir halus Farhan.


Daisy kemudian berdiri lalu berjalan mengarah kamar mandi.


"Kamu mau kemana?" Zhafran menghentikan Daisy lalu memegang pinggangnya dengan erat.


"Aku mau mandi, rasanya gerah banget."


"Tapi kamu masih terluka."


"Hanya lecet kan, akan ku usahakan saat mandi lukanya tidak terkena air."


"Kalau begitu jangan mandi disini." Zhafran menggendong Daisy, tidak perduli pada orang sekitar lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang pribadinya yang tadi, betapa kagetnya Daisy melihat ruangan tersebut seperti di dalam hotel bahkan kamar mandinya ada bathtub.


Zhafran hendak melepaskan pakaian Daisy, tapi ditahan," Aku bisa membuka baju sendiri."


Dahi Zhafran mengernyit," diam dan dengarkan saja jangan membantahku." Suara Zhafran seakan menggema dan membuat Daisy merinding. Akhirnya dia menuruti Zhafran dengan pasrah.


Zhafran mengangkat Daisy yang sudah tidak berpakaian menuju kamar mandi.


Padahal cuma lecet, aku masih bisa jalan tapi dari tadi dia menggendongku. Memangnya gak cape apa.


"Kenapa merengut? kamu tidak suka?" Zhafran meletakkan Daisy duduk diatas kursi kamar mandi lalu dia juga menanggalkan pakaiannya.


"Kenapa buka baju segala?" Daisy menutup matanya.


"Buka matamu. Kenapa masih malu ? kamu tidak suka pada tubuhku?" tanya Zhafran yang tanpa pakaian sehelaipun berdiri tepat di depan Daisy.


Daisy yang masih duduk kemudian membuka matanya, pipinya langsung memerah dia melihat perut seksi suaminya dan ada sesuatu yang menonjol di bagian bawah.


Daisy bingung tapi tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari tubuh Zhafran. Melihat Daisy salah tingkah membuat Zhafran makin menegang. Mengingat rekaman cctv membuatnya panas. Dia tidak suka Daisy menggigit lelaki lain selain dirinya.

__ADS_1


"Daisy gigit aku." Zhafran memberi perintah sambil memegang kepala Daisy.


Apanya yang di gigit ? yang bawah gak mungkin aku gigitkan.


Melihat Daisy kebingungan Zhafran sedikit merendahkan badannya lalu menyodorkan lehernya," cepat gigit aku."


Baru ini ada permintaan aneh gini. Kenapa dia pengen di gigit sih.


Karna ingin cepat mandi, Daisy menggigit pelan leher Zhafran," gigit semuanya," perintah Zhafran sambil menekan tubuh Daisy. Mereka saling menempel dan merasakan kehangatan suhu tubuh masing - masing.


"Daisy." Sambil memanggil namanya, dengan lembut tangan Zhafran menyentuh paha Daisy lalu berbisik ," jangkangkan kakimu," Merasa paham dengan maksud Zhafran, dengan malu - malu dia menjangkangkan posisi bagian bawahnya.


Jemari besar Zhafran mulai bermain di area sensitif Daisy, kemudian mereka bercinta lalu melanjutkannya dengan mandi bersama. Zhafran yang teringat kejadian menjijikan itu melampiaskan amarah dan hasratnya pada Daisy. Dia terus memompa tubuh Daisy dengan kuat dan penuh gairah.


"Zha...Zhafran kamu terlalu cepat." ucap Daisy terengah - engah sambil menggit bagian bawah bibirnya.


"Jangan bicara aku sedang kesal sekarang." Gerakan Zhafran semakin cepat membuat Daisy kesakitan.


Kenapa dia kesal. Apa karna pekerjaannya?


"Aku aah...." ucap Zhafran lalu mencium Daisy dengan ganas.


Walaupun sudah melakukan ritual penuh gairah membara selama beberapa kali, Zhafran masih belum puas. Tapi dia kemudian diam sejenak lalu menghentikan aksinya. Menatap mata Daisy lalu memulai percakapan.


"Bisakah kita bicara sebentar." Zhafran menempelkan tubuhnya dekat dengan Daisy. Sangking dekatnya nafas mereka saling terdengar memecah kesunyian.


"Kamu mau bicara apa?" tanya Daisy kelelahan.


"Katakan apa yang terjadi tadi siang." Zhafran mulai melotot, jarinya mulai bermain di sekitar leher Daisy.


Daisy akhirnya menceritakan kejadian tadi siang pada Zhafran, termasuk Ryan yang adalah mantan tunangannya. Tapi dia masih merahasiakan beberapa hal terkait masa lalunya. Walaupun Zhafran sudah tau tapi ketika Daisy yang menceritakannya dia kembali menjadi sangat cemburu dan marah.


"Jangan pernah bertemu dengannya. Masalah proyek serahkan pada Ren. Setelah ini kamu akan mengambil cuti lagi."


"Tidak bisa. Aku sudah menunggu kesempatan ini dengan lama." Daisy memandang mata Zhafran dengan penuh manja.


"Tidak mungkin aku membiarkanmu terluka lagi." Zhafran memalingkan tatapan matanya ke arah lain, dia merasa lemah ketika menatap mata manja istrinya yang saat ini tanpa kain sehelaipun menutupi tubuhnya.


"Biarkan aku berpikir dulu. Ku mohon."


Pinta Daisy manja sambil memeluk lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Zhafran.


"Entahlah kamu harus membuatku puas." Zhafran membalas pelukannya dengan sentuhan hangat bibirnya yang menjelajahi setiap celah di leher mungil Daisy.


"Baiklah kalau begitu." Daisy memulai aksi liarnya, tangannya yang halus dan kecil mulai bermain di sekitar daerah sensitif suaminya. Akhirnya malam itu menjadi malam penuh gairah dan hasrat yang membara. Zhafran mendongak kaget dengan ritual lembut dari istrinya. Pipinya memerah seperti tomat tapi perlahan dia mulai menikmati kenikmatan nan agresif dari Daisy.


Istriku luar biasa.


Setelah selesai melakukan kesenangan yang mendebarkan dia juga sudah membersihkan diri beberapa kali sampai mandi bersama Zhafran dengan air hangat. Karna kelelahan dan mengantuk akhirnya Daisy tertidur memakai kemeja Zhafran. Walaupun lututnya terluka tapi lekukan tubuhnya masih tampak jelas memancarkan keindahan.


Ren yang dari tadi menunggu di luar akhirnya masuk sambil menyerahkan file berisikan data Ryan di antaranya rincian pengeluaran dan pemasukan keuangannya, siapa saja yang dekat dengannya, kemana saja dia 4 tahun terakhir. Semua datanya lengkap untuk menghancurkan Ryan. Termasuk adanya acara reuni di kampusnya.


Bersambung.


Bonus :


[ Ren sedang menelpon ]


Ren : Kamu ku tugaskan untuk menculik seseorang, profil lengkapnya sudah ku kirim ke emailmu.


[ Ran sengaja dengar alias nguping ]


Ran : Sudah ku bilang jangan coba - coba menculiknya. Langsung saja di bunuh.


Ren : Kita bukan pembunuh.


Ran : Tapi kita juga bukan penjahat.


Ren : Terlalu merepotkan, Tuan terlalu berubah sekarang. Kalau dirinya yang dulu mungkin akan membuat lawannya gila dalam semalam.


Ran : Makanya jatuh cinta cari pasangan sana. Tuan hanya memikirkan perasaan Nyonya. Dia tidak mau menjadi sesosok kejam seperti dulu.


Ren : Itu mengingatkan ku waktu Tuan kuliah, ada wanita yang mengejar bahkan sampai menguntitnya. Bukannya Tuan senang malah mengirimkan wanita itu ke Afrika.


Ran : Bukan cuma itu, hampir saja keluarga Sarah bernasib sama kan. Tapi karna sudah mengenal Nyonya. Tuan jadi lebih lembut dan berbelas kasih.


Ren : Mungkin sekarang Tuan sedang menabung amarah dan dendamnya, kita tunggu saja kehancuran Ryan.


Apa aku racuni saja dia jadi tidak akan menghalangi hubungan Tuan dan Nyonyaku.


Akhirnya mereka cuma berdebat.


Readers yg baik hati jangan lupa Vote nya yah 😊 atau Komen dan Like nya + klik ❤


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.


Sedikit curhat, author amat sangat berbahagia pd siapapun yg sdh memberi vote ataupun komen, hampir semua aku hapal. Kalian tuh semangatku. Sekali lagi aku sangat amat berterima kasih. Utk yg type diam tapi tetap memberi suport. Atau pun yg sering ngobrol sama aku ❤ kalian istimewa.

__ADS_1


__ADS_2