
Malam itu Ryan dan Rose sedang berdialog serius di ruang tunggu di dalam studionya.
Awalnya Rose tidak berniat untuk menerima Ryan tapi dia tidak mau ada keributan dan mengganggu warga, dia tau betapa keras kepalanya Ryan. Mereka sudah saling mengenal sejak masa sekolah.
Rose memandang kesal ke wajah Ryan lalu berkata," cepatlah kalau mau bicara, aku super sibuk dan harus segera pulang. Jangan berharap aku kasih minum ya, nanti gelasku kotor."
Ryan diam sejenak lalu menghela nafas dia pun bertanya," dimana Daisy?"
Rose berdecik kesal," sialan jadi kamu kesini cuma buat nanya di mana Daisy?"
"Apalagi kalau bukan untuk dia?"
"Aku gak tau, kenapa pula sih cari Daisy. Bukannya kamu sudah nikah."
"Kalau sudah menikah memangnya aku tidak boleh mencari dan bertemu Daisy kah?"
"Astaga kamu bodoh apa gimana sih, pulang lah bisa emosi aku dibuatmu."
"Aku tau Daisy masih menungguku Rose, aku kemari mau menjelaskan semua yang terjadi di masa lalu."
"Jangan terlalu percaya diri, mungkin dia dulu sangat cinta sama kamu tapi sekarang kan kamu sudah menikah dan Daisy hanya mantanmu jadi jangan membuat masalah baru. Hargai istrimu di rumah dengan cara tidak berhubungan dengan mantan. Dan lagi masa lalu ya masa lalu, kemana saja kamu 4 tahun ini kok baru mau jelasin sekarang. Sangat amat tidak dewasa."
"Aku sudah berpisah sama istriku. Kamu tau kan betapa aku mencintai Daisy. Aku punya alasan Rose dan sekarang aku sudah sadar, memang butuh waktu tapi inilah kenyataannya."
"Stop. Jangan bicara lagi aku gak mau tau apapun tentang masalah kalian. Please stop kasihan Daisy, aku juga gak tau dia dimana sekarang. Mungkin dia sudah bahagia jadi jangan ganggu dia lagi.
Ryan menatap dingin ke arah Rose," Aku kan sudah katakan ini semua demi Daisy."
"Kenapa melototin kamu pikir aku takut hah. Demi Daisy dari Hongkong, cuma demi dirimu sendirikan, dari awal kamu tuh memang egois."
"Aku sudah bilang dari tadi kan aku akhirnya sadar, makanya aku mau bertemu sama Daisy dan menjelaskan semuanya. Dia pasti mengerti dan maafin aku. Aku tau betul bagaimana Daisy, kamu tau kan aku sudah 7 tahun pacaran sama dia."
"Helo. Percaya diri banget ngomong gitu, pulang sana atau aku teriak maling, kenapa kalau 7 tahun? pada akhirnya kamu berkhianat kan. Pergi atau aku teriak maling?"
Ryan berdiri menatap tajam," Rose jangan lupa aku siapa, jangan sampai aku khilaf."
__ADS_1
"Kamu juga jangan lupa aku siapa, kamu pikir aku gak bisa lawan kamu. Jangan lupa siapa Papahku."
"Ok Fine. Aku pergi tapi ingat aku gak akan nyerah."
Setelah Ryan pergi, Rose mulai terduduk di kursinya dia merasa tenaganya hampir terkuras habis. Dia takut Ryan akan melukai sahabatnya lagi. Dan tatapan Ryan tadi seperti elang mengejar mangsanya persis 4 tahun yang lalu.
Rose mengambil Hp yang ada dikantongnya lalu mengirim pesan pada Daisy.
📩"Beb lagi dimana? apakabar? sudah pakai kadoku belum? suka kan? sudah makan apa belum?"
📩"Honey aku lagi di Paris, Aku baik banget lagi bahagia dan sehat. Kamu apa kabar? kamu nakal banget kok kasih kado ituuu sih!!!! aku sudah makan barusan sama suami xD."
📩"Serius di Paris kok gak ngabarin, kirimin foto menara monas eh menara Eiffel maksudku xD. Lagi honeymoon ya, mentang-mentang sudah nikah sekarang manggilnya suami huhuhu."
📩"Makanya nikah xD. Nih aku kirimin foto Eiffelnya, Kenapa kangen Paris ya?"
📩"Kangen dong. Kalau gitu kamu harus kunjungi.........Yauda deh aku cuma mau tau kabar kamu aja, jangan lupa kunjungi tempat-tempat yang kusebutkan tadi ya. Bye Beb."
📩"Bye Honey."
-
-
Saat ini di Paris.
Zhafran dan Daisy berencana mengunjungi beberapa tempat di Paris, Daisy menjadi lebih antusias karna obrolannya barusan dengan Rose.
Zhafran dan Daisy sedang berbelanja di salah satu store terkenal yang ada di Paris, setiap mereka melangkahkan kaki banyak pandangan takjub mengarah pada orang yang ada disampingnya, siapalagi kalau bukan Zhafran.
Terkadang Daisy menjadi tidak percaya diri kalau bersebalahan dengannya, seolah dianggap perusak pemandangan oleh mata yang menatapnya.
Melihat Daisy diam, Zhafran menggenggam tangan Daisy semakin erat," kamu kenapa? sakit?" tanya Zhafran yang tangannya sudah memegang kening Daisy dihadapan orang banyak.
"Ah gak kok cuma kedinginan." Wajah Daisy makin memerah, lalu dia menggandeng Zhafran dengan menempelkan tubuhnya sambil tersenyum angkuh dihadapan para wanita yang sedari tadi memelototinya.
__ADS_1
"Puas?" ucap Zhafran.
Zhafran tau Daisy sengaja, tapi Zhafran menyukai tingkah Daisy yang cemburu. Dia pun langsung mencium kening Daisy, Ran yang memperhatikan mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
--
--
Di Hotel Atson, tempat Ryan menginap.
Ryan mulai histeris dan melemparkan barang pecah belah ke lantai. Dia tidak perduli dan merasa bisa mengganti biaya ganti ruginya.
Dia tau betapa bodohnya dirinya di masa lalu dan sekarang kelabakan mencari dimana Daisy. Orang tua Daisy pun tidak tau dimana keberadaannya, dan Rose yang dia harapkan juga tidak memberikan informasi apapun. Entah apakah mereka sungguh tidak tau atau sengaja merahasiakannya.
Sesungguhnya Ryan tidak bisa bergerak bebas karna akses dan segala fasilitas yang biasa dia pakai sudah di batasi oleh orang tuanya. Keluarga mereka cukup terpandang jadi Ayah Ryan tidak mau sampai anaknya ketahuan membuat ulah lagi seperti di masa lalu. Padahal dulunya Ryan adalah anak berbakat dan berbakti pada orang tua. Tapi semenjak dia kehilangan Daisy, Ryan mulai mabuk - mabukan dan tidak terkontrol. Yah itu salahnya sendiri.
[ Dering ] Suara dering Hp Ryan.
"Selamat malam Tuan Ryan, saya Joni detektif yang anda sewa. Apa bisa kita bertemu besok, saya punya info mengenai Nona Daisy."
"Apa sungguh? bagaimana kalau kita bertemu sekarang?"
"Saat ini saya berada di luar kota, besok pagi akan kembali."
"Yasudah kalau begitu di tempat biasa."
Ryan merebahkan tubuhnya ke ranjang sambil menatap langit-langit.
"Daisy maafkan aku. Aku sama sekali tidak berniat meninggalkanmu, maafkan kebodohanku di masa lalu. Andai kamu tau apa yang terjadi padaku waktu itu." Setelah dia bergumam sendiri akhirnya Ryan tertidur dalam keadaan kamar yang berantakan.
Bersambung.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca sejauh ini.
Jangan lupa berikan asupan nutrisi berupa
__ADS_1
Like, Komen, Vote, Klik ❤ dan Rate Bintang Lima biar author semakin semangat.