
Setelah bertengkar dengan mantan tunangannya. Ryan meninggalkan Restoran dan kembali ke kantor bersama Farel.
Seperti tidak ada masalah ekspresi Ryan kembali normal, seolah kejadian barusan tidak ada. Tapi di dalam batinnya dia merasakan kesal dan sakit yang luar biasa.
Dia melakukan aktifitasnya seperti biasa di kantor, sampai jam kerja berakhir dia pulang ke studio. Ya dia tidak lagi tinggal bersama orang tuanya, tapi dia pindah ke studionya.
Setelah mandi dan makan malam kemudian Ryan memegang kuasnya lagi, lalu melukis seorang wanita yang sangat dia cintai. Setiap dinding dan celah semua terisi dengan lukisan wanita itu. Selama 4 tahun dia hanya bisa menuangkan rasa bersalah dan kerinduannya melalui lukisan.
"Daisy aku merindukanmu, hari ini kamu sangat cantik." Gumamnya pelan sambil melukis Daisy persis dengan pakaian yang dia kenakan hari ini.
•
•
•
Di Rumah Sakit.
Daisy terbangun, samar - samar dia mendengar percakapan Zhafran dengan Ren. Dia pun berjalan menuju arah suara tersebut untuk menghampiri suaminya.
Sambil mengucek mata dan menguap dia menuju ruangan dimana Zhafran berada, saat itu dia masih mengenakan kemeja Zhafran yang terlihat kedodoran di tubuhnya sampai bisa memperlihatkan sedikit bahunya dan lekukan kakinya yang mungil.
"Zhafran." Panggil Daisy dengan manja.
Melihat istri Tuannya mengenakan kemeja tanpa bawahan dan memperlihatkan lekukan kakinya yang seksi membuat Ren kaget dan memuncratkan teh yang dia minum, wajahnya memerah dia pun langsung memalingkan tatapannya.
Zhafran yang peka dan sangat sensitif berdecak kesal menatap Ren. Karna sadar akan tatapan membunuh dari Tuannya dia langsung meminta izin berpamitan.
Dengan sigap Ren hendak melangkahkan kakinya tapi tersandung dengan meja yang ada di depannya. Dia sempat terpeleset dan terdengar keras suara hantuman dari kaki meja tersebut. Sambil menahan malu dia melajukan langkahnya.
Aduh kakiku sakit. Mana Tuan menatap buas ke arahku. Aduh Nyonya kenapa kamu keluar mengenakan pakaian begitu sih.
Daisy yang masih setengah sadar tidak begitu memperhatikan Ren yang kalang kabut melajukan langkahnya meninggalkan ruangan tersebut.
"Kenapa kamu keluar ?" tanya Zhafran yang kemudian mengancing kemeja yang di pakai Daisy lalu menarik kerahnya agar bahunya tertutup.
"Aku mau bertanya, apa kita tidak pulang? aku sampai lupa kembali ke kantor tadi, pasti Pak Rafael mencariku." Daisy menyenderkan tubuhnya ke Zhafran dia masih merasa ngntuk.
"Kenapa masih memikirkan pekerjaan, semua sudah diatur oleh Ran. Ini pakaianmu tadi diantar Ren, bersiaplah kita akan pulang." Sambil menyerahkan tas berisi pakaian Zhafran mengecup kening Daisy.
Sesampainya di rumah.
Setelah sampai di rumah Daisy mengecek kulkas dia melihat ada sedikit sisa bahan yang dapat dimasak.
"Kamu lapar?" tanya Zhafran peka.
"Ya aku lapar jadi mau masak. Kamu juga pasti lapar kan." Daisy mulai mencuci sayuran yang akan dia masak.
Zhafran mengangguk, dia baru merasakan lapar setelah sampai di rumah," Tidak usah masak, aku akan memanggil bibi." Zhafran mendekat sambil memegang tangan Daisy yang sibuk mencuci sayuran.
"Sudah larut malam jangan mengganggunya, bibi pasti sudah tidur. Kamu tunggu saja di sofa sambil menonton TV." Daisy berbicara tanpa memandang Zhafran.
Mengingat kecelakaan jari di masa lalu membuat Zhafran tidak berani menggangu Daisy masak. Dia pun menuju ruang kerjanya.
Sembari menunggu Daisy dia mengecek beberapa file mengenai Arsena Grub dan juga Ryan.
"Kenapa Daisy tidak bilang atau mengajakku ke reuni di kampusnya. Apa dia malu? kita kan cuma merahasiakannya di kantor saja.
"Aku masih kesal. Kenapa dia kembali lagi. Jangan berharap bisa merebut istriku. Apa yang sudah menjadi milikku selamanya akan menjadi milikku."
"Wajah istrinya juga sangat menjijikan dia bahkan berani menabrakku. Mereka berdua terlalu menjijikan. Sampah yang kotor sebaiknya di buang pada tempatnya, kalau kelamaan di biarkan baunya akan semakin membusuk dan menyebabkan kematian."
Begitulah Zhafran menganggap keduanya seperti sampah dia pun sibuk bergumam pelan sambil membaca file tersebut.
"Zhafran makanannya sudah siap."
Daisy mengetuk pintu sambil memanggil pelan suaminya.
Zhafran membuka pintu, keduanya menuju ruang makan.
"Maaf menunya sangat sederhana aku hanya membuat tumis kangkung dengan tambahan kecambah juga ada ikan goreng saja."
"Aku bisa makan apapun yang kamu masak. Aku tidak pemilih." Zhafran mulai melahap makanan tersebut tapi sama sekali tidak menyentuh kecambahnya.
Seperti biasa setiap kali mereka makan suasana akan menjadi sangat sunyi dan sepi. Sesekali Daisy melirik Zhafran.
Makan saja dia begitu anggun layaknya seorang pangeran. Perempuan sehat mana yang gak jatuh cinta padanya.
Selesai makan Zhafran membersihkan meja lalu mulai mencuci piring, sudah menjadi kebiasaan dan tanggung jawabnya mencuci piring.
Suamiku saat mencuci piring pun terlihat profesional. Hahaha cuci piring kok profesional, ada - ada saja aku ini.
Merasa di perhatikan oleh Daisy dia pun bertanya," kenapa ?" Zhafran masih mencuci piring, kini gerakannya lincah tidak kaku seperti sebelumnya.
"Kamu semakin terlihat tampan saat mencuci piring." Goda Daisy sambil tersenyum dan mendekati Zhafran.
Mendengar pujian Daisy membuat pipinya memerah dan tersirat senyuman tipis di wajahnya," aku tau," jawabnya bangga.
Semua tugas sudah di selesaikan mereka kemudian masuk ke kamar bersiap untuk tidur, karna hanya tersisa 6 jam sebelum bekerja besok.
__ADS_1
Sambil merebahkan tubuhnya Zhafran berbicara," Daisy aku memang memberikanmu waktu 3 hari tapi kalau.." Daisy menghentikan kalimat Zhafran," sayang percayalah aku akan berhasil jadi jangan khawatir."
Daisy sebelumnya memang menceritakan kejadian tadi siang saat bertemu mantan tunangannya tapi dia tidak bilang kalau Ryan sempat melecehkannya bahkan terluka karnanya. Jadi Daisy pikir Zhafran tidak mengetahui detail permasalahannya.
"Apa kamu tidak masalah bertemu dengan mantanmu, pasti kamu tidak nyaman kan. Jangan memaksakan dirimu." Zhafran masih berusaha membujuk Daisy.
Daisy bicaralah. Katakan padaku dia telah melecehkanmu bahkan sampai melukaimu. Kenapa kamu masih menyimpan masalah mu sendiri. Sebegitu tidak percayakah kamu padaku. Padahal hubungan kita sudah sedalam ini. Ataukah kamu hanya ingin menyelesaikan semuanya sendirian lagi?
"Pertemuan selanjutnya aku tidak akan sendirian. Kamu tau kan aku sangat berusaha keras dalam proyek itu. Aku sudah mencurahkan semua usaha dan keringatku di dalamnya. Kalau masih khawatir aku akan meminta Ran ikut bersamaku. Bagaimana?"
Aku harus segera menyelesaikan masalahku dengan Ryan. Aku akan meminta Rose menemaniku nanti.
Melihat Daisy bersikeras, Zhafran hanya bisa menghela nafasnya pelan lalu menjawab," Aku tau dan aku sangat paham. Tapi suami mana yang senang melihat istrinya bertemu dengan mantan tunangannya? aku bukan berbicara sebagai atasanmu tapi sebagai suamimu Daisy." Tatapan mata Zhafran memancarkan kekecewaan dia pun memalingkan tubuhnya memunggungi Daisy lalu menarik selimut bersiap untuk tidur.
Bodohnya aku terlalu fokus dengan pekerjaan dan masalah pribadiku, sampai tidak memikirkan perasaan suamiku sendiri. Dia pasti sangat cemburu dan kecewa padaku.
Dari belakang Daisy memeluk Zhafran dengan erat sambil berkata," Suamiku maafkan aku. Aku tidak memikirkan perasaanmu, aku juga tidak sengaja bertemu dengannya. Percayalah aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padanya. Aku hanya ingin menyelesaikan pekerjaanku dengan profesional. Kalau ada sesuatu mendesak terjadi aku akan langsung menghubungi Ran dan kamu."
Masih tidak ada jawaban dari Zhafran.
"Suamiku apa kamu tidur?" Daisy melihat Zhafran tengah memejamkan matanya.
"Suamiku selamat tidur, mimpi yang indah. Percayalah padaku dan berikan aku kesempatan. Setelah urusan pekerjaan selesai aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi." Daisy mengecup bibir Zhafran lalu ikut merebahkan tubuhnya di samping suaminya.
Daisy aku percaya padamu.Tapi tidak percaya pada bedebah itu. Sekarang aku mulai takut pada diriku sendiri. Rasanya aku ingin mengurungmu dan menguasai dirimu, aku tidak mau berbagi pada siapa pun, aku tidak mau lelaki lain menyentuhmu.
•
•
•
Ke esokan harinya mereka sarapan seperti biasanya, dan berangkat masing - masing ke kantor. Zhafran tidak banyak bicara pada Daisy. Ran juga sudah menjemput Daisy dan bersiap menjadi supir untuk mengendarai mobil barunya.
"Ran maaf ya jadi merepotkanmu. Sebenarnya aku bisa naik mobil tapi karna sudah 4 tahun tidak menyetir aku jadi takut. Kalau ada waktu senggang kamu bisa membantuku kan?"
"Tentu saja itu sudah tugas saya."
Apa mungkin Nyonya trauma menyetir karna mengalami kecelakaan di masa lalu. Tapi tidak ada laporan mengenai itu.
Sesampainya di perusahaan Daisy dan Ran kembali dengan posisi mereka masing - masing tidak ada yang menyadari kedekatan mereka.
Daisy bekerja seperti biasa dan menjelaskan pada Rafael kalau dia mengalami kecelakaan ringan jadi tidak bisa kembali ke kantor.
Hari mulai siang tiba - tiba ada panggilan telpon dari Rose.
"Beb aku dapat kabar kalau reuninya di percepat hari minggu nanti. Kamu mau ikut kan?"
"Kamu akan mengajak suamimu gak?"
"Aku lupa bilang sama dia. Tapi aku gak enak kalau harus sampai merepotkan Zhafran."
"Bicara saja padanya. Dia pasti mau kok."
"Baiklah aku coba nanti. Oh iya bisa gak nanti malam kita ketemu ada hal penting yang mau ku bahas."
"Sore ini aja sekalian kamu jemput aku ya. Soalnya aku pengen liat mobil barumu hahaha."
•
•
•
Setelah panggilan tersebut, Ren memanggil Daisy dan memintanya ke ruangan Presdir untuk membahas proyek kemaren.
Daisy kemudian menuju ruang Presdir sambil membawa beberapa berkas di tangannya.
Dengan sopan Daisy masuk dan menyerahkan berkas yang ada di tangannya lalu berkata," Pak sebaiknya kita memanggil Pak Rafael karna beliau juga berperan dalam rancangan proyek ini."
Zhafran diam tak menjawab, matanya hanya tertuju pada dokumen yang ada di tangannya.
Apa Zhafran masih marah padaku? kenapa diam begini sih. Terlalu menyeramkan.
Daisy kemudian mendekat lalu menyentuh tangan Zhafran," Zhafran apa kamu masih marah padaku?"
Zhafran menepis pelan tangan Daisy," Kita sedang di Perusahaan, kenapa kamu berani menyebut namaku se enteng itu. Bukankah kamu harus memangilku dengan hormat dan sopan ? sekarang duduklah kita bahas pekerjaan."
Sontak Daisy kaget, jantungnya pun berdegup kencang. Pertama kalinya Zhafran berbicara seketus itu padanya. Dia hampir meneteskan air matanya, tapi di tahannya lalu duduk di kursi sambil menunduk tanpa berbicara.
Zhafran dan Daisy membahas proyek tersebut selama kurang dari 1 jam. Setelah itu dia kembali ke ruangannya dengan ekspresi tidak karuan. Tatapan matanya terlihat kosong lalu dia segera ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Sampai air matanya pun ikut keluar. Dia tau sudah selayaknya dia menghormati atasannya. Tapi biasanya saat berdua di ruangan itu Zhafran akan menggodanya, tapi tidak kali ini. Zhafran sama sekali tidak memandangnya bahkan hanya fokus membicarakan pekerjaan.
Hp Daisy bergetar dia mendapat pesan dari Zhafran
"Sudah waktunya makan siang.Temui aku di hotel."
Kenapa dia mengirim pesan. Harusnya bilang saja tadi saat berdua. Apa dia mau menunjukkan padaku beginikah profesional bekerja.
__ADS_1
" Baiklah aku akan kesana."
Setelah memperbaiki riasan Daisy diam - diam ke hotel untuk makan siang bersama Zhafran.
Keduanya bertemu tanpa berbicara. Mata Daisy mulai memerah lagi. Tidak biasanya dia menangis dengan mudah kecuali mengalami kesakitan.
Setelah makan siang berakhir, Daisy memulai obrolan," aku akan pulang terlambat nanti."
Butuh sekitar 10 detik lalu Zhafran menjawab," iya."
Dia gak mau bertanya gitu aku mau kemana? atau kenapa pulang terlambat? Zhafran kalau marah tolong jangan diam.
"Kalau begitu saya akan kembali ke kantor Pak. Terima kasih atas makan siangnya." Daisy meninggalkan Zhafran yang masih duduk di atas kursinya.
Setelah Daisy pergi, Ran datang menghampirinya dengan mata melotot.
"Tuan sebaiknya jangan terlalu lama marah dengan Nyonya. Coba lihat mukanya tadi seperti kelinci yang ketakutan bahkan Nyonya hampir menangis."
Zhafran masih diam tidak menjawab.
Ran melanjutkan kalimatnya," Tuan tau tidak berdasarkan survey 65 % hubungan rumah tangga berantakan bahkan sampai menuju perpisahan karna kurangnya komunikasi dalam pernikahan. Takutnya Nyonya akan terbiasa lalu menjadi bosan dengan anda loh. Coba pikir kalau Nyonya sudah terbiasa bisa - bisa dia meninggalkan anda."
Ayo puji aku Tuan. Berkatku kamu menjadi paham kan betapa pentingnya komunikasi itu. Sudah tau Nyonya sangat keras kepala dan selalu menyimpan masalahnya sendiri jangan tunggu dia berbicara. Kadang kala kita perlu sedikit memaksa. Sama halnya dengan Nyonya dia terlalu yakin bisa menyelesaikan masalahnya sendirian alhasil hanya membuat orang khawatir. Lain kali aku akan memberi arahan padanya Hahaha !!! Ran mulai asik dengan pikirannya sendiri.
Mendengar kalimat Ran, hati Zhafran tergoyah lalu keluar mengejar Daisy.
•
•
•
Ketika Daisy keluar dari hotel dia bertemu dengan Randy dan Diana. Bukan kebetulan Perusahaan dan Hotel bersebelahan.
Dari kejauhan Zhafran melihat Daisy bersama rekan kerjanya dia pun memundurkan langkahnya lalu mengikuti mereka diam - diam bersama Ran yang sedari tadi menahan senyumnya.
Tuan kamu lucu banget. Aduh Ren mana sih, dia harus melihat Tuan yang lagi terpojok gini. Inikah yang namanya pacaran setelah menikah, ternyata seru juga Hahaha!! Ran tertawa puas di dalam hatinya.
"Loh Des. Kamu dari hotel ngapain?" tanya Diana polos lalu menggandeng tangan Daisy.
"Ada barangku yang tertinggal di sana, jadi aku mampir sebentar buat mengambilnya," jawab Daisy membuat alasan.
"Oh iya kamu kemaren kan rapat di sana. Oh iya mau ikut gak? kami mau ke kafe baru katanya cemilan disana enak."
Merasa suasana hatinya sedang buruk, Daisy memutuskan untuk ikut bersama Diana dan Randy.
Sesampainya di kafe betapa kagetnya mereka bertiga melihat Sarah sedang melayani tamu.
Sarah yang juga melihat ketiga orang tersebut langsung memancarkan ekspresi aneh. Dia sangat malu karna bekerja di sebuah kafe kecil dan berpakaian layaknya pelayan. Dia ingin berlari meninggalkan kafe tapi itu percuma karna ketiganya sudah melihatnya.
Ketiganya lalu duduk dan berniat memesan cemilan dan minuman sambil menatap Sarah.
Sarah yang enggan tapi memberanikan dirinya lalu bertanya pada pelanggan.
"Selamat datang. Mau memesan apa?" tanya Sarah dengan suara datar.
"Loh Sarah resign di I&T Corporation ternyata kerja di kafe ya?" jawab Diana dengan pertanyaannya.
Aku gak resign tapi di pecat. Kamu pikir aku mau apa kerja kasar begini. Sialan kenapa harus bertemu mereka sih. Ada Daisy pula, bikin emosi melihat wajahnya.
"Kenapa memangnya ? aku cuma lagi mencoba usaha baru. Kalau mau pesan makanan cepat dong." Sarah menjawab dengan ketus sambil memutar bola matanya dan berdecak pelan.
Beberapa lama kemudian setelah itu pesanan mereka datang. Sarah pun melanjutkan pekerjaannya sambil mengomel pelan. Diana dan Randy juga langsung menikmati hidangan di atas meja. Kecuali Daisy yang hanya minum Kopi Americano.
Belum lama mereka menikmati hidangan ada suara anak kecil memecah suasana keramaian di kafe tersebut.
"Mamah." panggil anak lelaki itu lalu dia mendekati Daisy dan memeluknya.
Daisy kaget dan hampir menumpahkan minumannya ke lantai.
Ooooh No... Kenapa ada Evan. Astaga aku pengen pingsan saja sekarang kalau bisa.
Diana juga langsung memuncratkan minumannya di depan Randy.
Randy hanya mematung, hatinya kecewa sambil mengelap wajahnya yang basah.
Begitu juga dengan Sarah yang merubah ekspresi wajahnya yang tadinya kesal menjadi penasaran lalu diam - diam memperhatikan mereka.
Bersambung.
Note :
Daisy type wanita strong yang pernah menderita dan mengalami kehilangan yang tragis jadi dia takut ketika percaya dan bergantung pada seseorang akan menjadi kebiasaan buat dia. Sementara Zhafran sendiri masih belum terbuka dengan Daisy. Keduanya masih menyimpan rahasia. Memang berumah tangga itu gak mudah yah genks 😊
Sedikit curhat :
Seharusnya sudah rilis tapi proses Review semakin lama dari sistem mohon dimaklumi.
Jujur akutuh Penulis Baru alias Newbie, jadi gak selalu bisa up tepat waktu tapi akan selalu berusaha up jika ada kesempatan. Kadang dukungan pembaca walaupun hanya 1 orang bisa menambahkan energi dan semangatku untuk melanjutkan naskahnya.
__ADS_1
Readers yg baik hati jangan lupa Vote nya yah 😊 atau Komen dan Like nya + klik ❤
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.