
Tidak perduli dengan sekitar, Zhafran mendekatkan ujung bibirnya menyentuh bibir Daisy terjadilah kecupan hangat di hadapan Rachel dan Ren.
Setelah mengecup lembut bibir Daisy, Zhafran berucap," istriku."
Daisy menerima kecupan tersebut dengan pasrah, pikirannya menghanyut bagai dedaunan yang jatuh diatas aliran sungai, dia takut menyelesaikan adegan mendadak itu karna harus menjelaskannya pada Rachel.
Rachel diam dari tangisannya tapi matanya fokus menatap Presdir dan Daisy yang saling beradu mesra bagai bara api yang membara.
Kenapa Presdir mencium Daisy. Apakah ini hubungan terlarang antara atasan dan bawahan? lalu aku yang menyaksikan adegan terebut lantas akan disingkirkan seperti drama yang ku tonton?
Ren mulai terbiasa dengan kejutan panas dari majikannya. Terkadang dia menyeka keringatnya dengan sapu tangan yang dia simpan di kantung bajunya. Karna tidak sanggup menatap dia hanya bisa memalingkan wajahnya, sambil meneguk air salivanya.
Tuan lanjutkan saja. Mataku sudah sering ternodai.
Daisy hampir lupa mengatur nafasnya, karna tergoda oleh lilitan lembut yang menjelajahi setiap rongga di dalam bibirnya yang membasah. Dia mendorong pelan tubuh Zhafran dengan kedua tangannya yang kecil dan halus.
Zhafran masih merasa tidak puas, lalu dia mulai mendekat sambil memegang kedua tangan Daisy yang menempel di dadanya, menghirup aroma disekitar leher Daisy. Wajah Daisy memerah tapi kesadarannya kembali normal karna mengingat kehadiran Rachel yang sedari tadi menontonnya.
Zhafran menghentikan aksi liarnya kemudian berkata," sudah terjawab bukan jadi silahkan anda keluar dari ruangan saya." Zhafran memberikan tatapan menusuk ke arah Rachel.
Daisy yang mendengar perkataan Zhafran juga ikut kaget, tapi dia tidak berani memulai percakapan. Dia masih mencerna dan menunggu.
"Pak Presdir saya minta maaf. Saya tidak akan pernah lancang lagi, jadi saya mohon tolong maafkan saya." Rachel kembali menitikkan air matanya dia masih terduduk lemas di kursi.
"Bu Rachel silahkan mengikuti saya keluar."
Ren yang sedari tadi sabar mendengar suara tangisan Rachel, langsung membawanya keluar ruangan.
Setelah Rachel dan Ren keluar, Daisy langsung lemas dan membenamkan wajah mungilnya ke dada Zhafran yang bidang dan kokoh.
"Apa yang terjadi pada Bu Rachel ?"
Akhirnya apa hubungan kami akan tersebar sampai keluar? padahal aku sudah bersusah payah merahasiakannya.
"Dia melakukan kesalahan fatal dalam pekerjaannya oleh karena itu Perusahaan tidak bisa menerima orang seperti dia lagi. Ini keputusan yang berat tapi demi Perusahaan harus di lakukan."
Mendengar penjelasan dari Zhafran, Daisy tidak membantah dia hanya mengangguk tanda mengerti. Karna paham betul bagaimana kerasnya dunia kerja.
Daisy masih membenamkan wajahnya di dada Zhafran, merasa khawatir dia pun bertanya," Apa kamu khawatir dia akan menyebarkan hubungan kita di Perusahaan?"
Daisy mengangguk tanpa mengeluarkan suara lembutnya.
"Tenang saja semua aman terkendali." Zhafran kemudian menempelkan telapak tangan Daisy menyentuh pipinya sambil tersenyum.
Melihat tingkah manja suaminya membuat suasana hatinya membaik. Dan tidak mempertanyakan perihal Rachel lebih jauh lagi.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Daisy merasa aneh dengan tatapan suaminya itu.
"Istriku, kamu tidak lupa kan pada hutangmu waktu di Paris?"
"Aku ingat kok, tapi aku belum punya uang sebanyak itu untuk melunasinya."
"Aku tidak butuh uangmu Istriku."
Zhafran mulai mendaratkan bibirnya di kening Daisy.
Melanjutkan kalimatnya," Kamu bilang sore ini akan pulang terlambat, mau kemana? bertemu siapa?"
" Jadi kamu mau apa? tadinya sih aku mau bertemu Rose tapi tidak jadi. Aku berniat pergi bersamanya untuk menemui Ryan. Tapi setelah percakapan kita waktu itu, aku kan sudah berjanji padamu untuk tidak menemuinya."
"Kamu sudah tau mauku masih bertanya?
Bagus, jadi sore ini pulanglah tepat waktu dan masakkan makanan enak untukku."
Pipi Daisy memerah lalu memalingkan tatapan matanya ke arah lain dia tau apa yang Zhafran maksud kemudian berkata," tentu saja itu sudah tugasku kan."
Di sisi lain Ren dan Rachel sedang berdialog berat.
"Bu Rachel gaji anda sudah di transfer, mulai besok tinggalkan Perusahaan kami."
"Saya mengerti. Dan mengenai hubungan Presdir dan Daisy apakah?"
__ADS_1
"Sesuai perjanjian yang sudah anda tanda tangani jangan pernah berbicara atau membuka masalah ini ke publik kecuali yang bersangkutan membukanya sendiri."
"Maafkan atas kelancangan yang sudah saya lakukan. Dan maafkan atas segala perbuatan jahat yang di lakukan sepupu saya. Kalau begitu saya undur diri dan tolong sampaikan maaf terdalam pada Daisy dan Presdir."
•
•
•
Seminggu kemudian
Rumor tidak sedap yang menghampiri Daisy semakin menyurut dan kondisi kerja kembali normal. Posisi kosong yang berada di Departemen Humas juga kabarnya akan di isi dengan orang baru yang berpengalaman.
"Des, aku masih penasaran sama masalah minggu lalu jadi dimana suamimu ? kenapa anaknya Pak Charles bisa jadi anak angkatmu? sejak kapan kalian berteman ?" tanya Diana selama seminggu.
"Suamiku, Pak Presdir."
Daisy menjawab sambil mengetikkan jarinya di keyboard komputer, berusaha fokus walau sedang di ganggu Diana.
"Hais. Aku tanya serius malah bercanda."
Diana mulai memonyongkan bibirnya tanda kesal.
Giliranku bicara serius malah di kira bercanda. Memang gak mungkin kayaknya rakyat jelata bisa menikahi Presdir. Ya sudahlah mungkin mereka beranggapan begini.
"Kalau dia tidak mau bicara jangan di paksa itu kan urusan pribadi." Randy yang sedari tadi memperhatikan kemudian membela Daisy.
"Ya sudah kalau gak percaya. Aku mau mengantarkan berkas ke ruang suamiku. Kalian makan siang saja duluan tidak usah menungguku." Daisy melanjutkan langkahnya menuju ruang Presdir sambil membawa tumpukan berkas.
Ren yang juga hendak keruangan Presdir, langsung mengambil beberapa berkas yang di bawa oleh Daisy," terima kasih," ucap Daisy.
Mereka berdua masuk ke ruangan Presdir tapi tidak ada seorang pun di dalamnya.
"Tuan sedang keluar sebentar bersama Ran. Jadi makan siang nanti Nyonya bisa langsung ke Hotel seperti biasa." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ren mulai menyusun berkas diatas meja Zhafran.
"Cliing." Suara kancing jatuh di lantai, pelan tapi terdengar karna ruangan sangat sepi.
Daisy keluar ruangan lalu mengambil jarum dan benang yang ada di dalam laci mejanya.
Ren tidak sempat menghentikan langkah Daisy jadi dia menunggunya di dalam.
Daisy kembali keruangan sambil tersenyum.
"Nyonya kenapa anda punya jarum dan benang di kantor?" tanya Ren bingung.
Daisy terkekeh pelan tersirat senyuman lembut di bibirnya," aku memang terbiasa membawanya, pernah suatu waktu bajuku robek atau kancingku terlepas jadi aku selalu membawanya. Apalagi kadang kita sering rapat dan dinas mendadak."
Tidak ada laporan mengenai ini. Ternyata masih banyak rahasia kecil Nyonya.
"Kemarikan tanganmu."
Daisy sudah memegang jarum yang terkaitkan benang.
"Saya bisa melepaskan jas saya Nyonya."
"Tidak perlu." Daisy menarik tangan Ren, tidak butuh waktu lama kancingnya sudah menempel erat di lengan jasnya.
Pipi Ren memerah, baru kali ini dia sedekat ini dengan seorang wanita kecuali Ran.
Tuan anda sangat beruntung saya jadi sedikit iri.
Setelah selesai mereka berdua keluar ruangan tanpa ada yang menyadarinya. Tidak hanya dengan Ren, Daisy juga mulai dekat dengan Ran yang selama seminggu ini melatih Daisy mengemudi. Tidak butuh waktu lama karna Daisy hanya perlu membiasakan dirinya menyetir lagi.
Sudah tiba waktunya makan siang, Daisy pergi ke Hotel lalu makan siang bersama Zhafran seperti biasanya.
Suasana hangat menyelimuti keduanya walaupun tidak ada yang bersuara. Setelah selesai makan, Daisy bangkit untuk meninggalkan Zhafran dan kembali ke Perusahaan.
"Istriku apa kamu tidak mau mengatakan sesuatu padaku?" tanya Zhafran menatap Daisy manja.
Besok acara reuni tapi dia masih diam. Sangat tidak pentingkah membahasnya denganku.
__ADS_1
"Apa kamu masih lapar?" tanya Daisy tidak peka.
Zhafran menatap lemas mata Daisy lalu menjawab," tidak. Kamu hati - hatilah saat kembali ke Perusahaan."
•
•
•
Malampun tiba, ritual makan malam nan sunyi sudah di selesaikan. Keduanya sudah berada di atas ranjang. Melihat Zhafran sedari tadi murung Daisy mulai membuka obrolan.
"Besok aku ada acara. Apakah aku boleh pergi?"
Timbul senyuman tipis di wajah Zhafran lalu memeluk Daisy sambil mengelus pipinya dan bertanya," acara apa? dengan siapa?"
"Acara reuni bersama Rose." Daisy menyandarkan tubuh mungilnya di dekapan Zhafran.
"Hanya pergi berdua?" tanya Zhafran mulai menelusuri leher Daisy dengan bibir dinginnya.
Dia tidak mau mengajakku?
"Aku sih tidak berniat pergi tapi Rose memaksaku. Kamu juga pasti tidak tertarik dengan acara seperti reuni kan."
"Aku memang tidak tertarik tapi aku bisa menemanimu kalau kamu mau?" Zhafran menatap lekat mata Daisy berharap istrinya mengajaknya.
Daisy diam sejenak lalu membalas tatapan manja Zhafran," Aku tidak mau merepotkanmu. Tidurlah."
Zhafran menarik nafasnya pelan sambil memeluk erat Daisy," besok adalah waktu istirahatku jadi aku bisa menemanimu Istriku."
"Kamu yakin? acaranya juga siang kok jadi tidak perlu buru - buru besok," balas Daisy dengan ragu.
"Ya besok aku akan menemanimu. Sekarang tidurlah." Zhafran mengecup kening Daisy lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua.
Walaupun mata Daisy sudah terpejam dan tertutup selimut, dia mulai menantikan hari esok karna Zhafran akan ikut bersamanya.
•
•
•
Ke esokan harinya
Cahaya mentari terpantul dari balik jendela, Daisy pun terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Morning." Dengan pakaian rapi berekspresi kalut Zhafran mendatangi Daisy yang masih merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Morning, kenapa sudah rapi? bukannya kamu bilang hari ini libur?" tanya Daisy cemas memasang ekspresi kecewa.
"Maaf. Mendadak ada pekerjaan, apa kamu tidak masalah pergi berdua saja dengan Rose?"
"Ya." Daisy yang kecewa menarik selimut menutupi tubuhnya.
Dia yang pengen ikut, malah sekarang gak jadi. Aku kan sudah berharap.
"Daisy, aku pergi hanya sebentar. Sarapan sudah disediakan oleh Bibi. Secepatnya aku akan kembali." Zhafran mengecup kepala Daisy dari balik selimut lalu meninggalkannya sendirian dengan langkah berat sambil mengepalkan tangannya.
Kenapa Paman harus datang hari ini. Daisy pasti sangat kecewa sekarang.
Setelah Zhafran meninggalkan rumah, tanpa Daisy sadari dia sudah mengeluarkan air mata. Muncul rasa sesak di dadanya. Dia sadar seharusnya tidak berharap tinggi, dia hanya merasa kecewa. Dengan yakin nya Zhafran menawarkan diri untuk ikut bersamanya tapi ke esokan harinya malah tidak jadi. Rasanya seperti tertusuk duri yang tajam menembus sampai ke jantung.
"Hiks kok aku malah nangis sih. Kan dari awal aku memang tidak berniat mengajaknya. Tapi kenapa rasanya aku kecewa banget yah," gumam nya pelan sambil menangis.
Melanjutkan isakan tangisnya sambil bergumam," padahal aku tidak berharap tapi kenapa jadi lemas begini sih. Hah sudahlah lanjutkan saja seperti rencana awal. Mungkin pekerjaan nya hari ini sangat mendesak sebagai istri yang baik aku harus mengerti."
Walaupun pelan suara tangisan Daisy masih bisa terdengar dari balik pintu. Bibi yang masih di luar langsung mengirim pesan pada Zhafran.
Bersambung.
Readers yg baik hati dan nagih up jangan lupa VOTE atau Komen dan Like nya + klik ❤
__ADS_1
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.