
Setelah perang manja di antara keduanya, Zhafran tidak banyak bicara tapi tanda merah terlihat jelas di leher seksinya. Daisy tidak berani menatap atau membuka obrolan dia takut membuat suasana hati Zhafran semakin memburuk.
Zhafran yang tidak bicara bukannya marah dia hanya kaget, tidak tau harus bereakasi seperti apa. Semua yang dia lakukan pada Daisy hanyalah instingnya sebagai lelaki dan untuk pertama kalinya dia ditandai seseorang. Ada perasaan puas tapi juga khawatir, setelah di berikan tanda Zhafran merasa itu seperti sebuah kontrak yang sudah di tanda tangani kepemilikannya. Dia merasa dia sudah menjadi milik Daisy, memikirkan hal itu saja sudah membuatnya tersenyum.
Bibi dan Ran yang melihat tanda merah di leher tuannya awalnya sangat syok. Tuan Zhafran adalah seorang pembersih, dia tidak akan membiarkan tubuhnya ternodai bercak apapun.
Lelaki dingin yang tidak pernah mengenal romansa cinta kini berubah menjadi sesosok yang penurut dan hangat, padahal umur pernikahan mereka baru beberapa bulan tapi sangat terasa perbedaannya.
Akhirnya setelah perjalanan panjang mereka kembali, sangat berbeda dengan Paris setelah tiba cuaca di sini menjadi sangat panas, Ren juga sudah ada di bandara untuk menjemput mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya, silahkan." Ren membuka pintu mobil untuk keduanya, tapi pandangan Ren sangat fokus di leher Tuannya.
"Tuan tunggu sebentar, sepertinya ada kotoran di leher anda." Ren mengambil sapu tangan khusus untuk Zhafran."
"Anu Ren itu....." Ran menarik tangan Ren.
Kenapa aku punya adik otaknya geser gini sih.
Ran berbisik pelan," Kalau be-go jangan kelewatan dong itu bukan kotoran itu cu-pang."
Ren yang masih tidak mengertipun menjawab," ikan cu-pang? apa sih Ran gak jelas."
Ran mulai kesal dan menginjak kaki Ren," Maksudku Kissmark, gini deh kalau punya adik gak pernah pacaran. Jangan kelamaan ngejones makanya."
Mendengar perkataan Ran, sontak wajah Ren memerah dia tidak menyangka Daisy yang terlihat anggun ternyata wanita yang agresif. Setelah itu dia menatap Daisy dengan tatapan bangga. Daisy dan Zhafran hanya menggelengkan kepala melihat aksi si kembar di hadapan mereka.
Setelah beberapa adegan konyol dari si kembar mereka kembali ke apartemen untuk istirahat. Mereka tiba dirumah, Daisy, Bi Yum dan Ran masuk terlebih dahulu kerumah sementara Zhafran dan Ren masih berdiskusi di dalam mobil.
Zhafran menatap dingin ke arah Ren lalu bertanya," apakah tanda nya terlihat jelas ?" Wajah Zhafran kaku berusaha menyembunyikan ekspresinya.
Aku harus jawab apa? kalau salah gajiku bisa di potong lagi nanti.
"Apa Tuan ingin menyamarkan tanda tersebut, saya akan mempersiapkan krimnya."
Yang jelas Tuan gak boleh merusak image nya sebagai Presdir dong. Dia itu sesosok pemimpin sempurna masa kekantor ada bekas kissmark di lehernya.
Tidak ada jawaban dari Zhafran beberapa lama kemudian," kalau disamarkan apakah Daisy akan sedih," gumamnya pelan.
Ren melotot kaget dia tidak menyangka Zhafran akan memikirkan hal tersebut," Saya pikir itu tidak masalah Tuan. Nyonya adalah wanita yang sangat toleransi dan pengertian, beliau pasti paham. Anda kan seorang Presdir jangan sampai merusak karir yang sudah lama anda bangun."
Zhafran tersenyum tipis," aku tau istriku memang sempurna." Muncul perasaan bangga sebagai seorang suami.
Apa aku gak salah dengar? Tuan memuji orang lain dengan menyebutnya sempurna? apa sih yang sudah terjadi sebenarnya. Apakah beliau sudah jatuh cinta pada Nyonya ? rasanya mustahil.
"Kalian pasangan yang sempurna nan ideal Tuan. Oh iya bagaimana dengan rencana mobil untuk Nyonya? kita hanya perlu mengambil..."
Zhafran memotong kalimat Ren," Jangan, biarkan istriku memilih mobilnya sendiri."
"Baik Tuan, saya juga sudah mengirimkan beberapa file ke email anda mengenai penawaran proyek kita dengan Arsena Grub dan beberapa perusahaan lainnya."
__ADS_1
"Apa kamu sudah memeriksa Arsena Grub?"
"Arsena Grub adalah anak Perusahaan dari Perusahaan keluarga Keanubroto dan detail lengkap laporannya ada didalam file yang sudah saya kirimkan."
"Hemm."
"Dia tidak ikut handil Tuan. Dia sibuk dengan melukis dan kabarnya akan menyelenggarakan pergelaran lukis di luar kota, jadi dia sama sekali tidak tau menau ataupun ikut berpastisipasi."
"Bagus. Aku tidak mau mencampuri urusan pekerjaan dan pribadi, tapi jangan sampai melonggarkan kewaspadaan. Kalau memang situasi tidak kondusif dan diluar kendali, kau tau kan harus bagaimana." Zhafran memberikan tatapan dingin dengan hawa membunuh.
"Siap Tuan."
Seram banget padahal sudah bertahun-tahun melayaninya tapi aku tetap merinding.
-
-
Didalam rumah Daisy, Ran dan Bi Yum sibuk membersihkan rumah dan berbenah. Awalnya Bibi menolak bantuan dari Daisy tapi dia bersikeras membantu membereskan barang.
[ Dering ] Suara Hp Daisy berdering, ada Rose yang menelponnya.
"Halo Beb, kamu sudah pulang?"
"Sudah barusan ini lagi berbenah. Kamu kangen banget ya?"
"Ketemuan yuk sore ini sekalian aku kasih oleh-olehnya."
"Kamu gak capek?"
"Gak capek kan cuma dalam pesawat bukannya maraton."
"Okedeh kamu jemput aku atau kita ketemuan di tempat biasa?"
"Aku jemput kamu. Lanjut sore ya. Bye."
Ran yang mendengar langsung berkata," Saya akan mengantar Nyonya."
"Terima kasih Ran."
Zhafran dan Ren yang sudah selesai berdiskusi kembali kerumah.
Bibi sudah menyiapkan minuman dingin untuk mereka. Suasana seketika hening seperti biasanya.
Daisy mengambil kotak kecil dari dalam tasnya lalu memanggil Ren dan Ran bersamaan.
"Ren, Ran ini ada hadiah kecil untuk kalian." Daisy menyerahkan kotak kecil pada keduanya.
Si kembar tampak kaget tapi masih bisa mengatur ekspresi mereka.
__ADS_1
"Nyonya kapan anda menyiapkannya untuk kami ?" Seingat Ran dia sudah mengawasi Daisy dengan ketat saat berbelanja.
"Sewaktu aku membeli dasi aku juga membeli sesuatu buat kalian, saat itu kamu sedang mengobrol bersama Zhafran lalu aku melihatnya dan langsung membelinya."
"Nyonya tidak perlu serepot itu pada saya," ucap Ran.
Padahal Nyonya tidak punya cukup uang setelah membeli dasi untuk Tuan.
Ren juga kaget dia mendapat hadiah tapi dia juga penasaran apa yang di berikan oleh Daisy.
"Saya tidak menyangka Nyonya mengingat saya sampai mau memberian saya hadiah," ucap Ren.
"Tentu saja aku mengingat kalian, ayo buka hadiahnya. Tapi maaf bukan barang mahal hanya biasa saja, aku harap kalian bersedia memakainya."
Di dalam kotak tersebut ada pin bros silver berbentuk sayap burung elang. Terlihat kokoh dan gagah, si kembar memancarkan senyuman yang hangat.
"Kenapa diam saja? kalian tidak suka ya?"
Daisy mulai salah tingkah, dia tau kedua asisten suaminya selalu memakai barang mewah dan branded.
Serempak si kembar berkata," terima kasih Nyonya, seumur hidup saya akan menjaga pin bros ini dengan nyawa saya."
Eh kok kaya adegan bangsawan sama pelayannya sih, ini kan bukan film barat.
Daisy memasang senyum hangat," jangan berlebihan, cukup kalian pakai aku akan sangat senang."
Melihat istrinya sangat baik dan loyal pada asistennya semakin membuatnya kagum tapi juga ada perasaan iri, sedari tadi dia menunggu tapi tidak mendapat apapun dari Daisy.
Bersambung.
Bonus:
"Ren kalau sampai kamu merusak pun bros dari Nyonya aku akan meninju perutmu sampai mengeluarkan usus."
"Aku akan menjaganya dengan nyawaku, tumben kamu semarah itu?"
"Asal kamu tau Nyonya membelinya dengan uang pribadinya bukan dari Tuan. Ini adalah uang hasil kerja kerasnya. Gaji kita bahkan jauh lebih banyak darinya."
"Apa? kamu serius? kalau gitu akan kusimpan ke Bank atau brangkas agar tidak rusak "
"Kenapa disimpan? Nyonya mau kita memakainya. Dia pasti akan sedih kalau kita tidak memakainya."
Semenjak itu si kembar semakin menghormati Daisy.
Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.
Jangan lupa berikan asupan nutrisi berupa
Like, Komen, Vote, Klik ❤
__ADS_1