My Boss My Hubby

My Boss My Hubby
Bab.48 - Ibu Angkat


__ADS_3

Yang nagih, langsung Vote biar diriku semangat.


Selamat membaca.


Setelah melihat Daisy pergi bersama rekan kerjanya, Zhafran dan Ran mengikuti mereka secara diam - diam dan bertindak senatural mungkin.


Zhafran mulai khawatir dan merasa bersalah karna sudah mengabaikan Daisy. Dia takut Daisy akan sakit hati lalu meninggalkannya.


Di kafe.


Diana yang penasaran kemudian berbicara pelan pada kedua temannya," Aku gak menyangka loh si Sarah yang terkenal tukang pamer kini malah bekerja sebagai pelayan di kafe ini." Diana mulai tertawa pelan sambil menikmati kue keju dan kopi lattenya.


Randy dengan santai menanggapi Diana," biarkan saja mungkin dia mau mencoba hal baru, selama masih halal kenapa tidak," ucapnya sambil mengunyah croissant yang empuk dan masih hangat.


Daisy hanya diam sambil mengangguk dia sudah terlalu lelah dengan masalah yang menimpanya.


"Ya deh kan cuma penasaran. Des kamu kok dari tadi diam terus. Lutut mu masih sakit ya ?" tanya Diana khawatir.


"Gak sakit cuma mikirin pekerjaan," jawab Daisy tanpa menatap Diana.


"Fokus boleh tapi jangan di porsir entar sakit loh, kan ada kami juga yang membantu. Kamu tuh kebiasaan semuanya di pikirkan sendiri. Kayaknya proyek kita gak ada masalah apapun deh tinggal tunggu hasil akhirnya kan. Kamu gak makan yang lain kok cuma minum kopi?" sambung Randy berusaha menyemangati Daisy.


"Terima kasih loh buat kalian yang sudah khawatir sama aku, duh jadi terharu hehehe. Masih kenyang jadi minum kopi aja," jawab Daisy santai.


Karna ingin menikmati suasana di luar ruangan, mereka memutuskan duduk di luar kafe.


Belum lama mereka menikmati hidangan ada suara anak kecil memecah suasana keramaian di kafe tersebut.


"Mamah." panggil anak lelaki itu lalu dia mendekati Daisy dan memeluknya.


Daisy kaget dan hampir menumpahkan minumannya ke lantai.


Ooooh No... Kenapa ada Evan. Astaga aku pengen pingsan saja sekarang kalau bisa.


Diana juga langsung memuncratkan minumannya di depan Randy.


Randy hanya mematung, hatinya kecewa sambil mengelap wajahnya yang basah.


Begitu juga dengan Sarah yang merubah ekspresi wajahnya yang tadinya kesal menjadi penasaran lalu diam - diam memperhatikan mereka.


Karna merasa tidak begitu bisa mendengarkan percakapan mereka dia mulai mendekat tapi tetap menjaga jarak.

__ADS_1


Untung saja tadi aku yang melayani mereka jadi bisa melihat adegan barusan. Aku gak tau kalau Daisy sudah punya anak, batin Sarah.


"Mamah kenapa gak pernah telpon Evan lagi. Katanya mau main bersama Evan tapi malah ninggalin Evan." Evan tidak melepaskan pelukannya dari Daisy sambil mengomel manja.


Daisy berusaha mengatur nafasnya yang hampir habis karna kaget dengan kedatangan Evan yang bisa membuat salah paham. Apalagi di sekitarnya ada rekan kerjanya. Tapi dia tau kalau kedua rekannya tidak akan mudah salah paham, karna mereka sudah mengenal selama 4 tahun ini.


Diana dan Randy saling menatap, mereka diam tidak bersuara sambil memperhatikan Daisy yang di peluk anak lelaki entah dari mana datangnya.


Daisy membalas pelukan Evan lalu menjawab," Maaf karna banyak kesibukan jadi gak sempat bermain bersama Evan. Oh iya, kenapa Evan bisa ada di sini?" tanya Daisy lembut, lalu diam - diam mengedipkan sebelah matanya pada kedua rekan kerjanya.


Belum sempat Evan menjawab ada suara berat lelaki yang memanggil nama Evan, melihat Evan bersama Daisy, lelaki itu pun menghampirinya.


Loh dia kan Pak Charles dari Mahesa Grub, apa Daisy dan Pak Charles sepasang suami istri dan bocah lelaki itu adalah anak mereka ? batin Randy.


What di resume Daisy belum menikah. Kenapa sekarang dia sudah punya anak? aduh aku jadi kepo!!! batin Diana.


" Diana ayo kita kembali ke Perusahaan, sebentar lagi waktu jam istirahat berakhir." Tanpa mau ikut campur Randy mencoba membantu Daisy dengan cara meninggalkannya lalu mengedipkan sebelah matanya, seperti memberi kode balasan pada Daisy.


Merasa paham dengan ajakan Randy. Diana dengan berat mengangguk lalu berkata," Des kami duluan ya. Permisi Pak Charles kami mau kembali ke Perusahaan." Dengan sopan Randy dan Diana meninggalkan kafe.


Setelah kedua orang tersebut meninggalkan kafe, Charles langsung bicara sambil menatap mata Daisy dengan sungkan," Maaf Daisy aku aku tidak bermaksud melibatkanmu lagi. Aku juga belum sempat menjelaskan pada Evan kalau kamu sudah menikah. Tadi kami mau membeli cemilan ringan tanpa sengaja dia melihatmu lalu melepaskan genggaman tanganku dan dia lari menghampirimu."


"Silahkan Pak Charles duduk. Mungkin ini saatnya kita menjelaskan pada Evan," terang Daisy dengan tatapan tegasnya.


Dari kejauhan Sarah mengambil Hp di kantongnya lalu memotret Daisy bersama dengan Charles.


Sudah punya suami malah mencoba dekat dengan Presdir. Lihat saja aku akan membalasmu !!!


batin Sarah.


Melihat anaknya sibuk bermain Hp. Ibu Sarah memanggilnya untuk mencuci piring di belakang. Dengan kesal dan masih penasaran terpaksa Sarah menuju ke belakang tanpa melanjutkan tontonannya.


Mendengar percakapan Daisy dengan Papahnya, Evan langsung bertanya," Mamah sama Papah lagi berantem ya?" Evan melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi sebelah Daisy.


Dengan berat Daisy menjawab sambil mengelus pipi Evan,"Evan sayang maafkan Kak Daisy ya. Tapi Kak Daisy tidak bisa menjadi Mamahnya Evan lagi. Karna Kak Daisy sudah menikah dan punya suami."


Sebenarnya aku gak paham Evan secerdas apa, tapi masa anak seusianya akan paham tentang pernikahan sih. Atau ini yang namanya anak jenius dengan IQ tinggi ? batin Daisy.


"Memangnya kenapa? kan masih bisa jadi Mamahnya Evan terus menikah sama Papah."


Charles menghela nafas lalu menjawab anaknya," tidak mungkin Kak Daisy menikah dengan Papah. Memangnya Evan mau punya dua Papah ?"

__ADS_1


Daisy menyambung kalimat Charles," itu benar Evan. Mana bisa Kak Daisy punya dua suami kan."


Dengan polos Evan menjawab," tapi teman Evan di sekolah punya dua Mamah. Masa Evan gak bisa punya dua Papah ? kan Kak Daisy bisa menikah lagi apa susahnya sih?"


"Maaf Daisy. Aku heran kenapa Evan bisa seperti ini. Perasaan aku gak pernah ngajarin dia begini, apa karna pergaulannya sering ikut bersamaku di kantor. Rasanya pembicaraan kita makin gak masuk akal dan melenceng."


"Pak Charles saja bingung apalagi saya." Evan sayang Kak Daisy..." terdengar langkah kaki dan suara berat menghampiri mereka, Daisy yang kaget menghentikan kalimatnya.


Mungkin ini saatnya aku pingsan. Kenapa Zhafran muncul sih. Mana Ran ngekor di belakang, batin Daisy.


Tanpa permisi Zhafran langsung duduk di sebelah Charles sambil menatap Evan dia berkata," Daisy adalah istriku, dia tidak bisa menjadi Mamahmu atau Istri Papahmu."


Tuan kalau kamu ngomong gitu sambil memasang tatapan menyeramkan yang ada bisa membuat anak ini menangis ketakutan!!! batin Ran, dia masih berdiri sambil memperhatikan.


"Evan kenalin Om di samping Papah ini suaminya Kak Daisy." Charles memperkenalkan Zhafran pada Evan yang mulai ketakutan melihat wajah Zhafran.


Walaupun Zhafran dan Charles saling kenal tapi ini pertama kalinya Zhafran bertemu dengan Evan. Biasanya Charles hanya menceritakan tentang anaknya pada Zhafran.


"Aku belum setua itu untuk menjadi Om anakmu."


"Dasar Om jelek. Kalau Kak Daisy gak bisa jadi Mamahnya Evan, biar Evan jadi suaminya Kak Daisy."


"Pfft." Ran mengalihkan wajahnya karna sempat tertawa pelan.


Karna takut adanya perang dunia ke tiga antara Evan dan Suaminya. Daisy mulai membujuk Evan dan pelan - pelan menjelaskan situasi dan kondisinya. Evan sempat menangis dan tidak melepaskan pelukannya dari Daisy.


Merasa kesal dan membuang waktu Zhafran berbicara dengan nada tegas sambil menatap Evan dengan dingin. Menerima tatapan menyeramkan dari Zhafran membuatnya menangis lalu lari ke pelukan Papahnya.


"Alex jangan kelewatan pada anakku. Dia masih kecil belum paham dan perlu di jelaskan dengan pelan. Aku kan sudah minta maaf."


"Bukan aku yang kelewatan. Tapi kamu yang tidak bisa menyelesaikan masalah ini sampai berlarut begitu lama. Itu justru yang membuat kesalah pahaman ini terus berlanjut."


"Jangan marahin Papahku dasar Om jelek."


Siapa yang Om jelek!!! batin Zhafran.


"Jangan bertengkar di depan anak. Tidak baik untuk tumbuh kembangnya. Evan sayang kita masih bisa bermain bersama jadi jangan marah dan menangis lagi ya. Nanti wajahnya jadi jelek." Daisy berusaha menenangkan Evan.


"Ehem maaf menyela. Bagaimana kalau Nyonya menjadi Ibu angkat Tuan Evan ? dengan begini masalah akan selesai bukan?" sambung Ran memberi saran.


Bersambung.

__ADS_1


Readers yg baik hati jangan lupa Vote nya yah 😊 atau Komen dan Like nya + klik ❤


Terima kasih atas segala dukungannya dan masih setia membaca cerita receh ini.


__ADS_2