
Saat di kamar Ira, Ira meronta dengan sekuat tenaganya.
"RAFAA... stop, apa yang kamu lakukan?" mendorong tubuh Rafa dengan kuat. Namun naas kekuatan Ira tidak sebanding dengan Rafa.
Rafa yang telah melepaskan semua pakaiannya dan pakaian Ira segera mencumbunya.
Rafa mencium leher Ira dan memberi tanda kepemilikan di sana.
"RAFAAA... hentikan!" mendorong dan.
PLAAKKK... suara tamparan yang keras mengenai pipi Rafa.
Ira segera berlari ke kamar mandi begitu juga Rafa yang mengejarnya. Ira segera mengisi bathup dengan air dingin.
"MAASUKKK...!" memapah tubuh Rafa agar masuk bathup.
"Kamu diam di situ!" perintahnya ke Rafa.
"Maaf...!" suara berat Rafa. Ira hanya melihat sekejab dan bergegas pergi, untuk memakai pakaian lagi dan menelpon Dokter.
Setelah menelpon dokter ia menunggu sebentar, karena jarak rumah sakit dan apartemen dekat tidak ada sepuluh menit. Dokter sampai, Ira yang mendengar suara bell bergegas membukanya.
"Dokter silahkan masuk!" ucapnya, bergegas menunjukkan Rafa berada.
Dokter tersebut membantu Ira memapah dan mengenakan pakaian Rafa, kemudian di baringkan ke ranjang tidur.
"Aku telah memberi obat peredanya, kira kira besok pagi sudah normal kembali. Saya permisi kalau begitu!" ucap Dokter.
"Terimakasih Dok!" ucap Ira.
Saat di dalam kamar setelah menghantar dokter. Rafa tidak sadarkan diri sebab efek obat yang di berikan Dokter.
"Dasar kamu Raf..., kenapa tidak kamu lakukan saja dengan Meisie, bukannya kamu mencintainya. Kenapa kamu malah pulang, membuatku hampir kehilangan mahkotaku!" keluhnya keluar pergi.
●●●
Pagi hari.
"Rafa sudah sadar belum ya?" masuk ke dalam kamar.
"Ternyata masih betah molorr...!" tidak membangunkan Rafa.
Ira bergegas memasak sarapan pagi, hari ini ia bermalas malasan di rumah. Hari libur cuma dua kali sebulan.
Rafa yang baru bangun bergegas keluar dari kamar. Mencari keberadaan Ira dan ingin meminta maaf secara sadar. Melihat Ira menyirami bunga di pagi hari, bergegas menemuinya.
"Iraa... maaf kan aku yang semalam itu, aku tidak bermaksud melukaimu!" ucapnya duduk di kursi taman.
"Iya tidak apa apa, aku paham Raf...!" jawabnya tersenyum.
"Apa kamu tidak marah Ira ke aku?" masih merasa bersalah.
"Tidak, aku cuma kesal denganmu, andai saja benar benar kamu lakukan aku pasti membencimu!" tatapan mengerikan.
"Sebenarnya aku belum pernah melakukan itu seumur hidupku, makanya aku pergi mencarimu!" ucapnya menahan malu.
__ADS_1
Ira yang mendengar Rafa belum pernah melakukan hal tersebut tertawa lepas, bagaimana tidak di jaman sekarang laki laki seperti Rafa tidak pernah melakukan hal tersebut. Apa lagi jika di pandang Rafa selain tampan juga berkarisma.
"Jangan tertawa Ira!" wajahnya memerah.
"Jadi... kamu masih perjaka?" tanyanya dengan senyum meledek dan mendekati Rafa.
"Iya... atau jangan jangan kamu tidak gadis lagi?" balik menanyai Ira.
PPLAAAKKK... suara tamparan keras, kedua kalinya yang Ira lakukan ke Rafa.
"Awwww... sakit!" memegangi pipinya yang merah.
"Itu balasan ucapanmu barusan dan untuk yang semalam!" ucapnya ketus pergi meninggalkan Rafa.
Ira marah dengan Rafa saat ini, tidak percaya kata kata tersebut keluar dari mulut Rafa.
Rafa bergegas masuk untuk mencari keberadaan Ira. Tetapi tidak menjumpai Ira.
"Sudahlah... kata kataku barusan memang menyakitkan untuknya!" segera masuk kamarnya dan membersihkan diri.
Rafa yang selesai bersiap siap, segera sarapan pagi.
Melihat Ira tidak kunjung keluar dari kamarnya ia mengetuk pintu kamar Ira.
Tokkk... tokkk... tokkk...
Ira yang selesai mandi dan mengenakan pakaiannya membuka pintu.
"Raf... mau berangkat kerja, apa sudah sarapan?" keluar dari kamarnya.
"Tanganku sudah puas menggamparmu dua kali, tapi jika kamu lakukan hal tersebut lagi aku tendang milikmu!" ucapnya melipat tangannya di depan dada.
"Aku tidak akan mengatakan hal itu lagi dan tidak akan memaksamu lagi, untuk melakukan hal seperti semalam tanpa izinmu!" janjinya dengan menautkan jari kelingkingnya.
"Bisa di percaya tidak ini?" melepaskan tautannya.
"Iyaa... aku bisa kamu percaya, lagian kita kan ada perjanjian hitam di atas putih!" ucapnya santai.
"Iya juga sih!" ucap Ira percaya.
"Ohh yaa Ira, bagaimana misimu ke Rais?" memastikan.
"Tetap saja, bahkan lebih parah dari yang dulu. Hampir setiap hari membawa wanita yang berbeda beda, di ruang pribadinya!" ucapnya Ira menyenderkan kepalanya di kursi.
Rafa tertawa melihat tanda kemerahan di leher Ira, yang baru ia tahu jika Ira menyibakkan rambutnya.
"Kenapa kamu tertawa Raf...?"
"Tuhhh...!" menunjukkan bekas semalam.
"RAFAAA...!" teriaknya, kemudian melempar bantal ke muka Rafa.
"Aahhhaaa... haaaa... haaaa..., Ira apa kamu tidak sadar itu terlalu terlihat. Apa kamu tadi sudah keluar apartemen belanja sesuatu?" tanyanya ke Ira.
"Belum!" jawabnya singkat.
__ADS_1
"Wajahmu sangat merah Ira, apa kamu malu?" tanyanya bercanda.
"Menurutmu, dasar laki laki ganas!" ucapnya tajam.
"Sana cepat berangkat!" ucapnya menyuruh Rafa segera pergi.
"Aku pergi dulu kalau begitu, jangan lupa itu di beri foundation!" ledeknya ke Ira.
"Sana sana!" mengibas ngibaskan tangannya, sebab wajahnya malu sekali saat ini.
_ _ _
Di restoran.
Rafa tersenyum saat di ruangannya, saat mengingat Ira. Suara ketukan membuyarkan lamunan Rafa. Tookkk... tok... tok....
"Masuk!" jawabnya tegas. Rafa terkejut saat Meisie datang ke ruangannya.
"Rafa... aku minta maaf, aku tidak bermaksud melakukannya. Aku ingin kita bisa sama sama itu saja!" memohon dengan rayuannya.
"Asalkan tidak kamu ulangi, aku memaafkanmu!" jawab Rafa.
"Aku berjanji!" ucap Meisie lalu memeluk Rafa.
"Ohh ya Raf, kita keluar yuk aku bosan apa bisa?" dengan nada lembut dan manis.
"Mau kemana sih?"
"Kemana gitu atau ke pantai, pleasee... sekali ini saja ya!" wajah memelas.
Rafa tidak tega. Ia mengambil nafas berat.
"Oke kalau begitu, ayo aku juga ingin ke sana!" beranjak dari kursi dan keluar menuju parkiran.
Para karyawan yang berkerja di sana tidak berani berbicara saat Rafa ada di resto.
"Aku kasihan dengan nona muda, jika melihat suaminya seperti ini pasti hatinya hancur!" ucap salah satu waiter Rafa, ke teman temannya satu shift kerja.
Teman temannya mengangguk dan bersedih.
"Apa kalian ada nomor nona muda?" tanya Lais(waiter Rafa).
"Tidak punya, tetapi temanku ada yang berkerja di resto Mewah Rais Said. Pasti punya, aku coba tanya ya...!" jawab waitres bernama Sekar.
Ia mencoba meminta ke Mahnoor temannya.Mahnoor yang sahabatnya Ira tentu saja memilikinya. Dan langsung mengirimkan nomornya.
"Aku sudah punya nomor nona muda!" ucap Sekar.
"Segera kamu kabari kalau begitu!" ucap Lais melanjutkan pekerjaannya.
Semua karyawan tahu jika Ira masih berkerja di restoran, saat Ira mampir di restoran Rafa ia selalu berbicara tidak ingin di layani seperti Rafa, ia ingin di pandang sebagai Ira seorang yang baik dan pekerja keras. Walaupun awalnya menolak di panggil nona muda, akhirnya Ira pasrah.
"Aku kabari nona muda ya!" ucapnya mengirim pesan dan meperkenalkan diri.
Setelah mengirim pesan ia kembali berkerja.
__ADS_1
Ira yang baru menerima pesan dari Sekar karyawan Rafa hanya diam tanpa ekspresi.