
Peringatan keras.
Genre romantis penuh drama, bacalah sesuai umur di sarankan umur yang kurang dari 20 jangan membaca.
Ira yang secara tidak sengaja melihat adegan tersebut dari layar ponselnya, berkobar-kobar api di dalam tubuhnya.
"RAAFAAA......, aku habisi kamu malam ini." Dengan mengepalkan tangannya.
_ _ _
Rafa yang masih mengajak Meisie mengobrol, dengan membahas tentang orang kecelakaan. Rafa berusaha memancing pertanyaan tersebut.
Secara tidak sengaja Meisie bercerita jika Rudi mantannya pernah menabrak dua orang yang berada di dalam mobil, saat Rudi sedang mabuk berat.
"Meisie apa kamu tahu di mana Rudi pernah menyebabkan kecelakaan. Sampai-sampai korban meninggal?"
Meisie menceritakan tempat kejadian kecelakaan, yaitu tempat di mana orang tua Rafa kecelakan mobil. Yang menabrak pembatas jalan.
Tangan Rafa mengepal menahan amarahnya. Rafa memukul meja di depannya dengan keras.
BBBRRRAAAGGGG..., pergi meninggalkan Meisie sendiri. Meisie terkejut dengan apa yang di lihat barusan. Dan baru kali ini melihat Rafa tiba-tiba marah tanpa sebab.
Rafa menuju mobilnya dan langsung menancapkan pedal gasnya dengan cepat. Tidak sampai setengah jam sudah sampai di rumah utamanya.
Rafa berjalan langsung menuju ruang keluarga, di mana ada tempat foto orang tuanya yang baru saja menikah dan berbulan madu.
"Maa... Pa... aku janji, akan menjebloskan orang yang membuat Mama dan Papa tiada. Aku janji." Ucap Rafa meneteskan air mata.
Ira yang tadinya berkobar-kobar ingin memarahi suaminya tidak jadi, sebab melihat Rafa pulang dalam keadaan marah di wajahnya.
"Sayang..." Ira mendekati Rafa. Rafa membalikkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Ira.
"Lepaskan Rafa, apa kamu tidak ingin menjelaskan sesuatu, antara kamu dan dia?" memanyunkan bibirnya.
"Aku tidak melakukan apa-apa sayang, apa yang perlu aku jelaskan!" melonggarkan pelukannya.
"Apa kamu mencintainya?" Ira penasaran dengan hati suaminya.
"Tidak!" melepas pelukannya. Rafa duduk di kursi panjangnya. Dengan memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Dan mengabaikan keberadaan Ira.
Ira masih bertanya-tanya apa yang terjadi. Karena merasa diabaikan, Ira langsung duduk di samping Rafa dan memandangi wajah Rafa.
__ADS_1
"Jelaskan padaku apa yang terjadi Raf, jika tidak bisa-bisa terjadi kesalah pahaman di antara kita. Meisie bicara apa ke kamu Raf, tolong jawab?" Ira masih menatap wajah Rafa.
Rafa masih diam dan tidak menjawab pertanyaan Ira, kemudian Rafa beranjak pergi dari duduknya dan meninggalkan Ira sendirian. Rafa melajukan mobilnya menuju ke tempat menenangkan diri di sebuah club.
Rafa meminum banyak minuman di sana sampai tidak sadarkan diri. Dan bertepatan juga Meisie ada di tempat tersebut. Seperti mendapatkan angin segar, Meisie tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut.
Meisie membopong tubuh Rafa dengan bantuan waiter di tempat tersebut. Waiter tersebut tidak curiga sebab Meisie bilang jika dia istrinya yang tengah mengandung.
Meisie mengajak Rafa masuk ke sebuah hotel dekat club tersebut. Setelah memesan kamar hotel Meisie membopong tubuh Rafa yang setengah masih sadar.
Sesampainya di dalam kamar hotel Meisie melucuti pakain Rafa. Dan Meisie juga melepas pakaiannya. Dan mengambil kesempatan emas tersebut. Tanpa melakukan hubungan badan, Meisie hanya memfotonya saja. Kemudian Meisie meninggalkan kamar Rafa sendirian dan bergegas pergi dari hotel tersebut.
Sebenarnya Meisie ingin sekali merasakan tubuh Rafa, mengingat ia terancam oleh Rudi mantan suaminya membuat ia mengurungkan niatnya.
Mantan suaminya mengancam jika sampai ia menyakiti istri orang lagi, maka akan melaporkan Meisie kepada Sugar daddynya. Orang yang memberinya pundi-pundi kekayaannya saat ini.
Dan sugar daddynya ternyata mitra bisnis Rudi. Rudi tega menukar istrinya sebelum jadi mantannya untuk sejumlah uang yang besar.
Walaupun sudah berpisah, Rudi tetap melampiaskan hasratnya kepada Meisie. Baginya Meisie surga dunianya. Meisie juga tidak menyadari kelicikan Rudi demi harta.
Meisie sampai di villa tempat tinggalnya, yang di belikan oleh Aldo sugar daddynya. Meisie merebahkan tubuhnya. Tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka, Meisie terkejut dengan kedatangan Rudi.
"Apa lagi kalau bukan menginginkanmu sayang!" membelai rambut Meisie. Meisie risih dengan keadaannya seperti ini.
Mulutnya menolak tetapi tubuhnya menerima. Terjadilah kejadian yang tidak di inginkan oleh Meisie, setelah puas bermain Rudi pergi begitu saja dan dia berpesan untuk tidak menyakiti Ira istri Rafa.
Pertanyaan muncul di kepala Meisie. Mengapa ia begitu peduli dengan Ira. Meisie mengepalkan tangannya serasa ingin sekali menghancurkan Ira.
Ira memang wanita cantik dengan wajah imut dan mata bulatnya yang bersinar.
Meisie tertidur setelah memikirkan rencana menghancurkan Ira. Dengan mengirimkan foto-foto Rafa dan dirinya di dalam kamar hotel.
Ira yang mendengar beberapa kali notifikasi membiarkan ponselnya, karena rasa kantuk yang teramat berat, menunggu kepulangan Rafa.
Pagi hari.
Ira baru membuka ponselnya dan alangkah terkejutnya Ira serasa tidak percaya suaminya semalam tidak pulang dan melihat tubuh suaminya telanjang dengan seorang wanita yang begitu Ira kenali.
Ira menutup mulutnya menahan tangisnya, agar Bibi Nilam tidak mendengar isak tangisnya. Hal yang tidak pernah ia harapkan terjadi menimpa hidupnya.
Rafa yang baru bangun segera duduk dan mengumpulkan kesadarannya. Melihat sekeliling bukan kamarnya Rafa beranjak pergi, alangkah terkejutnya saat menatap tubuhnya polosan tanpa sehelai pakaian.
__ADS_1
Rafa mengumpat dan merutuki kebodohannya sendiri. Rafa berdoa semoga baik-baik saja hubungan rumah tangganya.
Rafa memesan jasa ojek onlen dan menuju ke tempat club semalam, yang ia datangi untuk mengambil mobilnya.
Rafa segera memacu kendaraannya menuju rumah utamanya. Sesampai di gerbang masuk rumahnya begitu was-was.
Bibi Nilam sedang membersihkan kandang burung, Rafa segera mencari istrinya. Memasuki kamarnya dan melihat Ira sedang melamun menatap luar cendela, Rafa segera mendekat dan memeluk tubuh istrinya.
Ira masih dengan tatapan kosong dan tidak menghiraukan Rafa yang memeluknya dengan erat, tanpa memberontak dan mencaci maki Rafa.
Ira memendamnya sendirian.
"Sayang, kenapa kamu diam. Bicaralah seperti biasanya sayang. Aku mohon." Menciumi leher jenjang Ira.
Ira masih diam saja tanpa bicara dan tanpa mengeluh saat Rafa menyenderkan dagunya di pundak Ira.
Rafa memberanikan diri bercerita dan menjelaskan semuanya tanpa ada yang tertinggal. Rafa juga jujur semalam seperti melihat Meisie membopongnya. Dan menceritakan bahwa ia tidak melakukan apa-apa dengan Meisie.
Ira tidak percaya dengan ucapan Rafa barusan. Ira lebih percaya dengan apa yang ia lihat. Ira menyodorkan ponselnya ke wajah Rafa. Rafa terkejut bukan main dengan apa yang ia lihat.
"Kita sudahi saja hubungan ini Raf. Hatiku hancur, aku kira kamu tidak seperti dia." Ira berbicara dengan gemetar dan menangis.
"Beri aku kesempatan Ira, aku mohon." Masih memeluk erat tubuh Ira.
"Buktikan Raf, jika kamu ingin aku memberimu kesempatan." Ucap tegas Ira melepas pelukan Rafa.
Hatiku teramat sakit Raf dengan kelakuanmu seperti ini. Apa kamu tidak memikirkan akibat yang kamu lakukan. Dalam batin Ira.
Ira segera menuju balkon paling atas rumah Rafa di lantai 4. Pikiran kosong menyelimuti tubuh Ira.
Rafa mencari-cari keberadaan Ira tetapi ia tidak menemukan keberadaan Ira, ia tidak berpikir jika Ira berada di lantai 4 sebab selama ini lantai tersebut tidak pernah di jamahnya. Semenjak kematian orang tuanya.
Rafa yang lelah mencari Ira terbesit mencarinya ketempat yang selama ini ia tidak kunjungi.
DDDEEEGGHHH..., jantung Rafa mau copot saat melihat Ira.
Sesampainya di sana ia melihat tubuh Ira yang berada di pingir balkon. Rafa segera berlari dan menarik tubuh Ira dalam pelukannya.
"Apa yang kamu lakukan, jangan bertindak bodoh Ira." Nada hawatir Rafa.
"Hatiku sudah retak dan hancur kedua kalinya." Ucap lirih Ira kemudian pingsan.
__ADS_1