
**Sabar dan terus berjuang, usaha tidak akan menghianati hasil. Maka berusahalah selagi mampu asalkan baik.
Semoga teman-teman suka part ini.
Selamat membaca**.
_ _ _
Mobil yang di kendaraai Rafa melaju dengan normal di jalanan, jarak antara rumah Mama Novi dan rumah Rafa tidak jauh, masih bisa di tempuh hanya 1 jam perjalanan saja.
"Raf ayo kita berhenti di situ?" Ira menunjukkan sebuah warung kecil yang bernuansa bunga-bunga ke Rafa.
"Iya, apakah kita akan makan lagi?" mencari tempat parkir, setelah menempatkan mobilnya, Rafa dan Ira keluar.
"Kita nikmati pemandangan ini ya Raf, apa kamu suka dengan ini?" tanya Ira kepada Rafa. Rafa menganggukkan kepala.
Rafa yang melihat hamparan sawah dan aliran sungai, begitu kagum. Apalagi ini masih bisa di bilang pagi jadi pemandangannya sungguh luar biasa.
Ira bangkit dari duduknya dan memesan makanan ringan dan minuman teh hangat.
"Ini," Ira menyodorkan teh hangat ke Rafa.
"Terimakasih sayang, rasanya sangat nyaman melihat pemandangan seperti ini sambil meminum teh. Apa sebaiknya kita buat rumah dekat persawahan sayang?" tanya Rafa masih fokus melihat area sawah.
"Aku ikut kamu saja Raf, asalkan bersama kamu keliling dunia juga mau!" ucap Ira dengan tersenyum.
"Benarkah, aku sayang kamu. Tapi maaf sayang...," Rafa tidak melanjutkan ucapannya.
"Maaf kenapa?" Ira binggung dengam Rafa.
"Hiks..., aku tidak bisa mengajakmu keliling dunia!" Rafa bersedih.
Ira yang melihat tingkah konyol Rafa, ingin sekali tertawa. Akhirnya tawa pun pecah dari mulut Ira.
"AAA... HHAAA... HHAAA..." Ira tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Rafa.
"Aku berucap sungguhan sayang, kenapa kamu tertawa?" Rafa memegang pipi Ira. Ira masih menyungginkan senyum di wajahnya.
"Ya lucu saja, aku kan mengibaratkannya saja tidak mengajak keliling dunia betulan!" Ira masih tertawa saja.
"Jangan tertawa lagi aku cium di sini kalau tertawa." Ancaman Rafa, dengan senyum liciknya. Wajah Rafa mendekat, sebenarnya ingin mengerjai Ira, tetapi malah terbawa suasana.
Cuuppp, ciuman mendarat di pipi Ira. Ira terkejut dengan tingkah Rafa barusan.
"Memang yaa..., pasangan muda jaman sekarang terlalu aktif yaa," ledek seseorang yang juga berada di warung tersebut.
Rafa dan Ira wajahnya langsung memerah. Betapa malunya kejadian barusan. Karena malu mereka berdua segera menghabiskan teh dan makanan ringannya.
__ADS_1
●●●
Rumah utama Rafa.
Rafa yang tengah duduk di kursi goyangnya, mengayun-ayunkan tubuhnya, rasa lelah hilang dengan bersantai seperti ini.
Suara deringan ponsel Rafa terdengar nyaring, Rafa kesal dengan suara ponselnya yang bising.
"Hallo ada apa?" tanya Rafa dengan meninggikan suaranya.
"Haiii..., apa kabar. Apa kamu lupa sama aku?" tanya sesorang dengan nada manja.
"Aku tidak kenal, jika tidak ada kepentingan aku tutup!" jawab Rafa malas menanggapi.
"Tunggu dulu, jangan terburu-buru Raf. Gimana kalau kita ketemuan di restoranmu, aku sudah di sini loh, aku tunggu yaa." jawab orang di balik telepon Rafa.
Rafa segera beranjak dari kursinya dan mengambil kunci mobil. Ira yang melihat Rafa terburu-buru tanpa berpamitan langsung mengumpat Rafa.
Dasar Rafa, apa tidak melihatku di sini. Mau kemana sih sebenarnya Rafa. Nanti jika pulang aku tanyai deh, eeehhh...... ko aku bisa lupa, kan aku memasang CCTV di restoran. Coba aku cek deh CCTV yang ada di restoran utama Rafa. Ira segera berlari menuju kamarnya dan mengambil ponselnya.
Rafa yang sudah sampai di restoran bergegas masuk, ada sesorang yang melambaikan tangannya ke arah Rafa. Rafa segera saja menuju meja orang yang ingin mengajaknya bertemu.
"Ada perlu apa, tidak usah basa basi?" tanya dingin Rafa.
"Ayolah Raf, aku tidak akan mengambil milikmu dengan terang-terangan. Aku hanya mengingatkan saja, sampai kapan kamu memasukkan Papa mertuamu di tahanan?" tanya Rudi.
Ternyata orang yang menelpon tanpa nama ke Rafa adalah Rudi.
Rafa sebenarnya sangat malas sekali bertemu dengan Rudi. Apalagi beberapa waktu lalu Meisie memberi tahu jika mantan suaminya ini menyukai Ira diam-diam.
"Aku tahu kamu penasaran apa maksudnya, kamu salah aku tidak akan merebut istri cantikmu. Aku hanya ingin kamu mengeluarkan Aldo Chand dari tahanan. Kamu tahu sendirikan perusahaanku dan Aldo Chand berkerja sama. Bukannya itu akan memperburuk perusahaan mertuamu juga jika ia berlama-lama di sel tahanan." Rudi sedang memancing Rafa.
"Maaf, aku tidak bisa. Biarkan dia terkena karmanya," Rafa berdiri dan meninggalkan Rudi sendiri.
Rudi mengepalkan tangannya.
Jangan salahkan aku Raf, jika aku melakukan hal buruk ke istrimu. Aku memintamu dengan baik-baik, tetapi kamu masih bersih kukuk dengan pendirianmu. Dalam batin Rudi.
Rudi segera membayar bil minuman yang ia pesan dan bergegas pergi ke sel tahanan tempat Aldo Chand di tahan.
"Ada apa kamu kesini?" tanya Aldo dingin.
"Aku akan membebaskanmu, asalkan kamu mau berkerja sama denganku!" Rudi menelpon seorang pengacara hebat yang siap meringankan hukuman Aldo Chand dengan segala cara.
Sebenarnya Aldo Chand bisa saja menyewa pengacara handal, tetapi melihat kemarahan putri tercintanya membuatnya lemah dan pasrah.
"Tidak usah, aku akan menebus semua kesalahanku di sini. Kamu pergilah." Ucap Aldo melambaikan tangannya, menyuruh Rudi segera meninggalkan sel tahanan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin membebaskan putrimu dari jeratan orang yang pernah berhianat?" Rudi memancing Aldo agar mau berkerja sama.
Aldo diam sebentar dari tempat ia di tahan. Ada pikiran ingin merebut putri semata wayangnya. Aldo menengok ke arah Rudi.
"Akan aku pikirkan!" jawab Aldo berlalu pergi.
Rudi yang merasa telah berhasil menghasut Aldo tersenyum penuh kemenangan.
"Uang yang aku dapatkan tidak akan berhenti jika aku berpura-pura baik dengan orang bodo* ini. Mudah sekali di tipu," gumam lirih Rudi saat meninggalkan sel tahanan Aldo.
Setelah Rudi pergi Aldo Chand langsung menghubungi seseorang.
"Awasi bocah tengik itu." Aldo langsung memartikan ponselnya. Dan memberikan ponsel tersebut ke pengawas sel tahanan.
Pengawas sel tahanan tersebut sebenarnya orang-orang Aldo sendiri. Aldo berada di sel tahanan untuk memancing seseorang yang telah lama ia tunggu-tunggu.
Orang-orang suruhan Aldo Chand menyelidiki gerak gerik Rudi. Saat tiba di sebuah lokasi lebih tepatnya sebuah hutan belantara.
"Ini ada telpon untukmu Tuan," memberikan ponsel ke Aldo.
"Bagaimana?" tanya Aldo menuggu informasi menarik.
"Begini tuan Rudi masuk ke dalam hutan, sepertinya ada transkasi besar di sini!" jawab orang suruhan Aldo.
"Tetap kamu awasi gerak geriknya, jangan sampai lengah." Perintah Aldo mematikan ponselnya.
Orang bawahan Aldo melihat banyaknya kotak kardus yang di tutup rapat dari dalam mobil box pengiriman. Orang suruhan Aldo mengambil gambar dan vidio sebagau bukti nyata. Dan mengirimkannya ke Aldo Chand.
_ _ _
Rafa yang masih kesal dengan kata-kata Rudi langsung melepas bajunya dan sesegera menyalakan sower dan mendinginkan kepalanya. Setelah merasa dingin Rafa mengenakan jubah handuknya. Kemudian Rafa duduk di kursi ruang tv.
"Memang orang aneh, aku harus waspada dengan Rudi, jika aku lengah bisa-bisa, Ira jatuh di pelukannya." Gumam Rafa.
Ira yang tidak sengaja mendengar gumanan lirih Rafa langsung bertanya.
"Siapa yang jatuh di pelukannya?" tanya Ira langsung duduk di samping Rafa.
"Tidak, bukan apa-apa sayang. Hari ini kamu masak apa?" tanya Rafa mengalihkan pembicaraan.
"Masak seadanya Raf, lagi mager!" Ira terlihat kelelahan. Tiba-tiba Rafa mengendong tubuh Ira. Ira terkejut dan memukuli dada Rafa.
"Awww... sakit jangan memukulku lagi. Jika kamu jatuh, jangan salahkan aku." Rafa mendudukkan Ira di kursi meja makan.
Ira tersenyum dengan keromantisan Rafa.
Kenapa Rafa tidak mengucapkan apa-apa di hatinya. Kan aku jadi tidak tahu ia sedang memikirkan apa. Dalam batin Ira.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung author trus yaa, tinggalkan jejak kalian. Rate n' vote juga yaa😊