
Pagi hari.
Suara kicauan burung terdengar jelas dari luar cendela kamar Rafa dan Ira.
Ira hari ini bangun terlambat, baru kali ini ia tidur senyaman ini di dekapan Rafa. Bahkan Rafa tidak melepaskan pelukannya. Ira yang merasa di dekap Rafa sangat erat, memberontak berkali-kali tetapi Rafa tetap tidak melepaskan Ira dari pelukannya.
"Sayang, aku mau ke toilet." Ucap Ira dengan meggoyang-goyangkan rambutnya ke wajah Rafa.
Rafa yang dari tadi pura-pura tertidur akhirnya tertawa juga. Dan melepaskan dekapannya ke Ira. Ira segera melarikan diri dari pelukan Rafa.
Saat berada di dalam kamar mandi, Ira memegang dadanya yang berdegup kencang sampai membuat Ira lemas di kamar mandi. Ira malu dengan kelakuannya barusan, dan baru kali ini ia merasakan benar-benar jatuh cinta yang kedua kalinya untuk Rafa.
Ira begitu lama di dalam kamar mandi. Sudah hampir satu jam telah berlalu.
Rafa hawatir dengan keadaan Ira di dalam kamar mandi. Rafa segera beranjak dari tempat tidur dan mengetuk pintu kamar mandi. Tetapi setelah beberapa kali di ketuk Ira tidak menjawab ketukan pintu dari Rafa.
"Sayang, kamu baik-baik sajakan di dalam?" tanya Rafa hawatir.
"Iya aku baik-baik saja, tunggu sebentar!" tak selang beberapa lama. Ccekklekk suara handel pintu terbuka. Rafa segera memeluk erat Ira.
"Raf..., lepaskan. Kamu belum mandi, mandi sana dulu." Mendorong tubuh Rafa ke kamar mandi.
Saat berada di kamar mandi Rafa tertawa kecil, melihat wajah Ira yang memerah karena kelakuannya barusan. Rafa segera membersihkan diri, setelah selesai mandi Rafa segera keluar kamar dan menyusul istrinya di dapur yang bersama Bibi Nilam.
Bibi Nilam bercerita banyak sekali kepada Ira, sesekali Ira membalas candaan Bibi Nilam. Rafa langsung saja ikut-ikutan menjahili Ira. Rafa mengeluarkan benda kecil berbentuk seranga dan menempelkannya di lengan Ira.
"Sayang ada kecoa di lenganmu." Rafa mengejutkan Ira dengan memberikan kecoa karet. Ira langsung saja berteriak.
"AAAA......" Ira memeluk tubuh Rafa dengan kuat sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Rafa. Rafa tersenyum penuh kemenangan.
Paman Adi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kekompakan istri dan keponakannya yang saling mengerjai. Sedangkan Bibi Nilam langsung duduk di dekat suaminya.
__ADS_1
Ira masih memeluk Rafa dengan erat. Karena takut dengan hewan kecil yang menggelikan itu. Kemudian Rafa melepaskan pelukannya.
Ira langsung menatap Rafa dengan tatapan membunuh. Dan memonyongkan bibirnya.
"Kenapa???" tanya Rafa pura-pura tidak bersalah.
"Kamu barusan mengerjaiku dengan hewan kecil itu?" tanyanya menunjuk kecoa plastik yang ada di lantai.
"EEE... HE... HEE..., maaf ya sayang sekali-kali membuat ramai pagi hari!" Rafa menggaruk pelipisnya.
"Jangan sarapan pagi kalau gitu sebagai hukuman." Ira langsung duduk tanpa menawari Rafa sarapan pagi.
Perut Rafa tiba-tiba terdengar nyaring berkali-kali. Ira menghela nafas saat menatap wajah Rafa yang tertindas.
"Hhhuuuhhh..., ayo makanlah." Menarik tangan Rafa agar duduk di sampingnya. Ira begitu telaten mengambilkan makanan untuk Rafa.
Rafa menatap seluruh wajah Ira saat sedang mengambilkan makanan dan minuman. Segera Ira juga mengambilkan sendok dan garpu untuk dirinya dan Rafa.
"Terimakasih sayang," Rafa tersenyum saat menerima pemberian Ira istrinya. Ira mengangguk.
"Ya hallo ada apa?" tanya Rafa saat menerima panggilan dari seseorang.
"Bos ini sesuatu yang mengejutkan sekali, ternyata Aldo Chand dulu pernah punya hubungan dengan Ibu Bos!" jawab bawahan Rafa.
"AAPPAA..., kita langsung saja bertemu di tempat biasa." Rafa segera berdiri dari duduknya dan segera mencium kening Ira.
"Aku pergi dulu ya sayang." Mengacak-ngacak rambut Ira.
Ira hanya menatap punggung Rafa yang sudah jauh tanpa menanyai suaminya kemana, karena Ira sudah mendengar dengan jelas telpon Rafa barusan. Sebab volume ponsel Rafa terdengar jelas di telinga Ira.
Rafa segera melajukan mobilnya ke club tempat ia biasa nogkrong. Rafa memesan ruangan khusus untuk membahas permasalahan saat ini, tanpa ada sesuatu yang memabukkan.
__ADS_1
Bawahan Rafa memberikan beberapa dokumen dan foto yang terlihat jelas, walaupun gambarnya berwarna hitam putih. Rafa membaca semua data yang di dapat dari bawahannya. Dan dua buah foto, Rafa meremas data yang baru ia dapat. Di data tersebut ada sebuah catatan jika Ibu Rafa dan Aldo punya hubungan hampir ke jenjang pernikahan.
"Kamu dapat dari mana data ini?" tanya Rafa dengan wajah yang memerah karena marah.
Beno menjawab dengan gugup. Dan takut jika di jadikan lampiasannya saat ini.
"Saya dapat dari seseorang yang waktu itu, saya tidak sengaja menabrak orang tersebut, dan foto yang aku bawa jatuh tepat di kakinya, orang itu mengambilnya. Dia sempat terkejut dengan foto yang aku bawa, foto Aldo Chand waktu masih muda. Perempuan itu umurnya hampir sama dengan almarhum orang tua Bos!" jawab Beno lirih.
"Lanjutkan aku ingin mengetahui kisah itu." Rafa melipat tangannya kedepan dada.
Beno menceritakan semua yang ia ketahui. Dari orang yang mengetahui kisah percintaan keduanya. Rafa hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, sesuatu yang mengejutkan sekali.
Ternyata Aldo dan Ibunya sempat akan menikah, tetapi 3 hari sebelum acara besar itu terjadi. Tiba-tiba Ibunya mengungkapkan jika dirinya berbadan dua (mengandung Rafa) dengan laki-laki yang menjadi ayahnya Rafa.
Aldo seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari bibir wanita yang akan dinikahinya 3 hari lagi. Setelah hampir 5 tahun bersama sejak di bangku SMA.
Kemarahan Aldo sampai mengakar kepada kedua orang tua Rafa. Tetapi misteri kematian orang tua Rafa masih menjadi misteri sampai sekarang.
Rafa memijat pelipisnya yang berdenyut pusing, bagaimana tidak ibunya sendiri berhianat dengan kekasihnya yang akan menjadi suaminya dan lebih memilih laki-laki lain yang membuatnya mengandung.
Kenapa semua tambah rumit, apa yang terjadi sebenarnya, apa betul Aldo Chand yang merencanakan semua ini. Ucap Rafa dalam hati, Rafa mengepalkan tangannya.
"Kamu tolong cari data-data keluarga Aldo Chand sampai tuntas. Apa dia pernah menikah atau tidak setelah di hianati ibuku." Perintah Rafa kepada Beno dan anak buahnya.
Rafa segera keluar club tersebut setelah membayar ruangan yang ia pesan. Pikiran Rafa saat ini kacau, bagaimana tidak seorang Ibu yang amat ia banggakan selama ini mempunyai masa lalu yang begitu menyakitkan untuk orang lain.
Rafa melajukan mobilnya ke Restorannya. Suasana ramai seperti biasanya. Rafa berjalan dengan gagahnya, meskipun tampilannya hanya menggunakan pakain biasa tidak formal seperti biasa.
Para karyawan Rafa menyambutnya dengan Ramah. Rafa hanya diam saja tanpa membalas sapaan karyawannya. Para karyawan hanya menelan salivanya, pasti hari ini akan ada yang di pecat seperti kejadian dulu-dulu.
Bersambung.
__ADS_1
Dukung author terus ya teman-teman dan terimakasih yang sudah meninggalkan jejak di karya author yang masih amburadul ini.
Semua yang mampir di karya author ambuaradul ini aku fav ya, jadi kalau boleh fav juga ya teman-teman karya author. Terimaksih yaa😚