
Setelah sarapan pagi Rafa dan Ira langsung menuju garasi mobilnya. Sopir juga sudah stay di depan garasi.
"Sayang, aku berangkat yaa. Eemmm... aku mencintaimu." Mencium bibir Ira sebentar.
Ira yang mendapatkan perlakuan seperti itu, langsung wajahnya memerah. Rafa yang melihat itu langsung menariknya masuk kedalam mobil. Rafa memeluk erat tubuh istrinya.
"Raf... sudah. Nanti kamu kesiangan ke restonya. Bukannya mau buka cabang lagi katanya, sana cepat berangkat." Melepas pelukannya dari Rafa.
Ira melambaikan tangannya saat suaminya keluar dari rumah. Hawatir yang Ira rasakan saat ini. Suaminya berpura-pura masih hilang ingatan untuk menguak kematian orangtuanya.
Dan pasti semua butuh perjuangan, tetapi harus dengam cara halus untuk menguaknya.
Meisie yang menunggu Rafa di restorannya tersenyum penuh kemenangan. Meisie mengira Rafa masih dalam ingatannya yang lupa, akan tetapi kenyataannya Rafa sudah kembali ingatannya.
Meisie tidak malu-malu memeluk lengan Rafa di dalam restorannya. Untung para karyawan Rafa sudah tahu perihal tentang ini. Ira bergerak dengan cepat dan hati-hati, kali ini yang di hadapi cinta masa lalu Rafa.
Ira memberi tahu kepada semua karyawan di restoran Rafa baik pusat maupun cabang, untuk berpura-pura jika Rafa masih hilang ingatan.
Ira juga menambahkan pemasangan CCTV di semua restoran Rafa. Guna menyelidiki tingkah Meisie seperti apa kepada suaminya.
Melalui layar ponselnya Ira bisa melihat apapun kegiatan Meisie sesuai yang Ira ingin melihat.
Ira tertawa geli saat melihat Meisie begitu manja kepada Rafa.
"AAA... HAA... HAA..., jadi perempuan murahan sekali sana sini menempel. Aku jadi teringat kata-kata Mbak Mahnoor jika ia juga mendekati Rais. AAA... HAA... HAA...." Ira masih tertawa terpingkal-pingkal dengan apa yang barusan terjadi.
Bibi Nilam yang tidak sengaja melihat Ira tertawa langsung mengejutkan.
"EEHHEEMM..." deheman Bibi Nilam berhasil membuat Ira melompat dari tempat duduknya dan terjatuh dari kursi.
BBRRUUGGG...
"AWW... sakit." Berdiri dan segera duduk. "Bibi mengejutkanku, Bibi sedang apa?" tanya Ira saat melihat begitu banyak bungkusan di tangan Bibi Nilam.
"Ini, Bibi mau memberi makan burung-burung Ira. Apa Ira bisa membantu Bibi?" Bibi Nilam meletakkan bungkusan-bungkusan tersebut di atas meja.
Ira segera mengecek, seperti apa makanan burung yang di rawat Paman Adi dan Bibi Nilam. Ira segera membantu membawakan bungkusan tersebut.
"Ayo Bi, Ira bantu!" dengan menenteng bungkusan yang berada di kantong kresek.
__ADS_1
Saat berada di dalam kandang burung Ira tersenyum bahagia, begitu banyak burung di dalamnya.
"Apa ini semua peliharaan Paman Adi, Bi?" tanya Ira dengan menyentuk kandang burung.
"Ini sebagian kecil saja Ira. Paman Adi juga peternak burung di beberapa Kota. Maka dari itu Paman Adi sering keluar Kota untuk mengecek keadaan di sana!" Bibi Nilam menjelaskan.
Ira mengangguk-angguk paham dengan ucapan Bibi Nilam. Ira sebenarnya binggung harus membuka percakapan apa lagi. Mau berbicara tentah burung peliharaan Paman Adi, ia tidak tahu jenis apa burungnya.
Ira hanya menggaruk kepalanya. Melihat Bibi Nilam memberi makanan Ira pun berani bertanya lantaran penasaran.
"Bibi itu apa?" Ira menunjuk pakan burung berwarna putih.
"Ini Milet Ira!" Bibi Nilam menuangkan bungkusan kecil kedalam wadah-wadah sesuai takaran dan tempat. Bibi Nilam menjelaskan semua pakan burung yang ada di kandang besar ini.
Di tempat ini Paman Adi hanya merawat beberapa saja dan tidak menernakkannya. Hanya burung-burung dewasa yang ada di sini.
●●●
Rafa yang masih berpura-pura melakukan perannya tiba-tiba Meisie pingsan.
"Sekenario apa ini?" Rafa heran dengan tingkah Meisie.
Rafa tidak tinggal diam ia menyuruh bawahannya untuk membopong Meisie ke dalam ruang kesehatan. Rafa segera menelpon Dokter. Dokter yang memeriksa keadaan Meisie binggung saat mengecek denyut nadi Meisie.
"Sepertinya dia sedang mengandung! tetapi jika ingin memastikan coba cek dulu keadaan wanita ini!" jawab Dokter dan segera berpamitan kepada Rafa.
"Aduhhhh, kenapa aku terjebak dalam keadaan ini. Bisa-bisa aku di bunuh Ira. Tuhannn tolong hambamu yang lemah ini." Rafa bersedih. Rafa meratapi kesedihannya.
Ira yang sedari tadi menatap layar ponselnya tersenyum penuh makna.
"Aku akan mengukuti permainanmu selanjutnya Meisie. Seperti apa jal***nya dirimu kepadaku." Ira memutar-mutar ponselnya.
"Aku coba kirim pesan ke Rafa, apa tanggapannya mengenai hal ini." Mengetik beberapa pesan ke Rafa, setelah berhasil terkirim Ira tersenyum lega.
Rafa yang mendapat pesan mendadak dari Ira kebinggungan harus menjawab apa.
Isi pesan singkat di dalam ponsel Rafa. Melihat Ira mengirim pesan. Rafa menelan salivanya dengan kasar.
💬 Sayang lagi apa?
__ADS_1
Rafa dengan hati-hati menjawab.
💬 Lagi di resto sayang. Eemmm ada apa?
💬 Jangan nakal sayang. Aku tahu kamu lagi apa. Dan satu lagi aku tidak mau berbagi suami!
💬 Aku tidak melakukan hal itu sayang. Percayalah.
💬 Awas kalau sampai aku mendengar dan melihat sesuatu yang tidak aku inginkan. 😡😡😡😡
💬😭😭😭
Ira tidak membalas pesan Rafa barusan yang emotikonnya menangis.
"Dasar wanita tidak berperasaan. Pantas saja baru menikah sudah bercerai dengan suaminya, ternyata tingkahnya seperti cacing yang di beri air garam." Geram Ira kepada Meisie.
Meisie yang baru sadar langsung mencari keberadaan Rafa, melihat Rafa tidak ada di sekitarnya ia turun dari tempat ia berbaring.
"Kemana sih Rafa? kenapa juga aku ada di sini. Aduh kepalaku sakit. Ada apa dengan tubuhku seperti ada yang berbeda." Meisie berlari ke toilet dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya.
"Apa aku hamil, dasar laki-laki baj*****. Memaksaku dengan sesukanya (mengumpat mantan suaminya yang bernama Rudi). Kamu kira aku pemuas nafsumu tanpa imbalan." Marah Meisie.
Tiba-tiba terlintas ide liciknya.
"Dengan keadaan Rafa seperti ini. Aku harus memanfaatkan keadaan, aku akan bermanja-manja dengan Rafa. Agar rumah tangga Rafa hancur dan Rafa akan memilihku." Meisie segera keluar dari toilet.
Rafa yang duduk termenung memikirkan Ira menjadi gelisah. Meisie yang melihat Rafa duduk di teras segera menghampiri.
"Raf..." sapa Meisie.
"Kamu sudah bangun. Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya basa basi Rafa, rasanya Rafa ingin muntah saat bertanya seperti itu.
"Aku baik!" langsung bergelayut manja di lengan Rafa.
Aduhhhh ini orang, ganjen banget jadi wanita. Apa tidak bisa mengontrol dirinya. Dalam batin Rafa.
Rafa segera melepaskan tangan Meisie yang bergelayut manja. Meisie yang tangannya di lepas Rafa langsung mencium pipi Rafa. Rafa terkejut dengan tingkah Meisie, demi melancarkan aksinya Rafa pura-pura tersenyum bahagia. Padahal dalam hatinya menangis.
Aduhhh benar-benar mati aku, Ira pasti akan mengantungku hidup-hidup hiks... hiks.... Dalam batin Rafa.
__ADS_1
Ira yang secara tidak sengaja melihat adegan tersebut dari layar ponselnya, berkobar-kobar api di dalam tubuhnya.
"RAAFAAA......, aku habisi kamu malam ini." Dengan mengepalkan tangannya.