My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Mode bucin


__ADS_3

**Menulis adalah hobby. Maka jadikanlah hobby sebagai inspirasi.


Author curhat teman-teman. Belajar dan terus belajar, jika ada masukan di gunakan jangan di abaikan oke.


Selamat membaca teman-teman**.


_ _ _


"Apa tidak bisa di kurangi mengumpatnya, aku sampai lelah bersin-bersin dari tadi." Rais melanjutkan pekerjaannya, karena sedari tadi hanya bersin-bersin Rais tidak jadi keluar dari ruangannya.


Rais memesan obat kepada karyawannya. Karena sedari tadi bersin-bersinnya terus berlanjut.


"Ini Tuan, apa Tuan mau pesan sesuatu lagi?" tanya waiter tersebut. Setelah membelikan obat pesanan Rais.


"Tidak, aku mau istirahat sebentar saja!" jawab Rais melambaikan tangannya. Waiter tersebut paham dan langsung berpamitan.


_ _ _


Meisie yang sedang asik di villanya terkejut dengan kedatangan Rudi mantan suaminya.


"Kamu keluar dari sini, aku tidak ingin melihatmu." Meisie mengusir Rudi. Tetapi tidak mempan untuk Rudi.


Tetapi Rudi masih bersihkukuh dengan pendiriannya, sebelum ia mendapatkan hasratnya ia tidak akan melepaskan mangsanya.


Dan terjadilah malam yang panjang untuk Rudi dan Meisie. Rudi tidak merasa bersalah setelah berbuat seperti itu ke Meisie. Setelah kepergian Rudi, Meisie segera menuju kamar mandi dan mengosok tubuhnya yang tersentuh oleh Rudi.


Dulu ia rela melakukan dengan Rudi namun saat ini ia begitu benci dengan sosok Rudi. Yang maunya menang sendiri dan tidak mau menerima kekalahan apa pun.


Beberapa hari kemudian.


Orang-orang suruhan Aldo Chand menemukan sesuatu yang begitu mengejutkan. Orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya keluar dari sangkarnya.


"Apa kamu suka dengan kejutanku ini bocah tengik?" tanya Aldo Chand mencengkram kuat dagu Rudi.


Saat ini Rudi tidak dapat melakukan apa-apa, sebab seluruh tubuh Rudi di ikat oleh orang-orang bawahan Aldo.


BUUGGHHH..., satu pukulan mendarat di pipi kiri Rudi.


"Itu belum seberapa dengan yang kamu perbuat. Seharusnya kamu mendapatkan yang lebih dari ini. Dasar bocah tengik." Aldo memberi kode agar anak buahnya yang turun tangan. Melepaskan tali yang melilit di tubuh Rudi.


Rudi hanya menyunggingkan senyum kecutnya.


"Dasar orang bodoh, kamu pikir dengan begini kamu bisa melemahkanku, anda salah Tuan pembunuh," Rudi menyinggung Aldo Chand.


Saat anak buah Aldo Chand akan memukul, di berhentikan oleh Aldo Chand.


"Sudah jangan basa basi lagi, mau apa kamu dariku?" tanya Aldo terang-terangan.

__ADS_1


"Simpel ko, aku cuma mau kamu mengalirkan dana ke perusahaanku!" jawab Rudi santai.


"Cihhh..., mata duitan. Aku tidak akan mengalirkan danaku ke perusahaan kotormu lagi. Merugikan." Aldo Chand melipat tangannya di dada dan segera duduk berhadapan dengan Rudi.


"Baik jika tidak mau, bersiaplah putri tercintamu ada di dekapku dengan kejam," ancamnya ke Aldo.


"Lelucon basi." Aldo memberikan kode agar Rudi di masukkan ke sel tahanan.


Rudi mengumpat Aldo Chand berkali-kali. Berharap putri semata wayangnya bertambah benci dengannya.


●●●


Rumah utama Rafa Aditya.


Ira bernyanyi ria dengan menyirami beberapa bunga kesayangannya, sebenarnya ada tukang kebun yang merawat tetapi Ira lebih suka langsung turun tangan sendiri kalau cuma 2 pot bunga saja yang ia rawat.


Ira tidak menanam banyak karena takutnya ada yang mencuri bunganya seperti waktu di kontrakan dulu. Sering sekali ia kehilangan bunga yang ia tanam. Bahkan satu minggu sekali pasti hilang. Entah siapa yang diam-diam mengngagumi bunga yang ia tanam.


Rafa yang berada di teras rumah langsung mengejutkan Ira.


"DOORRR..." dan langsung memeluk Ira. Ira yang terkejut langsung melempar penyiram tanaman atau gembor ke belakang dan mengenai tubuh Rafa.


"Awww sakit sayang," Rafa mengeluh ke Ira.


Ira melepaskan pelukannya.


"Rasain, makanya jadi orang jangan suka jahil. Kena karma kan jadinya. Mana yang sakit?" tanya Ira, menatap tubuh Rafa.


"Dasar mesum." Ppllaakkk..., Ira memukul lengan Rafa.


Rafa hanya tersenyum-senyum dengan tingkah istrinya ini.


"Bukannya boleh mesum dengan istri sendiri, kan sudah halal kita di mata hukum dan agama?" Rafa memegang jari jemari Ira.


"Tapi jangan di tempat umum dong Raf!" keluh Ira ke Rafa.


"Ini kan rumah kita bukan tempat umum. Lihat kita masih di rumahkan?" tanya Rafa menunjukkan sekeliling rumah.


Ira menepuk jidatnya.


Apa suamiku akan menjadi orang paling bodoh saat ini. Dalam batin Ira.


"Apa kamu tidak melihat banyak orang yang berkerja dirumah mu, itu?" Ira kesal dengan tingkah konyol Rafa.


"Tidak!" jawab singkat Rafa yang berhasil membuat Ira mendengus kesal.


"Dasar bucin." Pergi meninggalkan Rafa.

__ADS_1


"JANGAN LUPA IRA, BUCINMU INI SETIA," teriak Rafa dengan menangkupkan kedua tangannya di samping kanan dan kiri.


Ira hanya melambaikan tangannya saja tanpa menoleh. Melihat Ira tidak menanggapi Rafa segera menyusul dan mengganti pakaiannya yang basah.


"Karena kamu sangat cantik dan baik, pantas jika kamu membuatku bucin sayang." Gumam lirih dengan mengejar Ira.


Dulu tidak ada canda maupun tawa di rumah tersebut, sejak kematian kedua orang tuanya, para asisten Rafa tidak ada yang bisa bertahan lebih dari 1 bulan. Mereka di pecat hanya karena hal-hal sepele saja.


Tetapi semenjak menikah dengan Ira, sifat dingin itu mendadak sirna, bahkan sekarang Rafa tidak lagi memecat orang-orang dengan seenaknya.


Ira yang berada di dapur segera mengambil makanan, perutnya sudah tidak tertahan lagi. Rafa yang melihat Ira mengambil makanan segera mendekat.


"Aku mau," ucap Rafa duduk di meja ruang makan.


"Ini, habiskan ya." Ira menyodorkan satu piring penuh kepada Rafa.


"Aku hanya ingin mencicipi saja," dengan tersenyum manis. "Sisanya kamu habiskan ya, sayang." Rafa memakan 2 sendok saja.


"Awas kalau mengganggu aku lagi aku buang kamu nanti malam." Ucap Ira dengan tatapan menakutkan.


Rafa hanya menelan salivanya dengan kasar.


GGLEEGG....Apa yang akan di lakukan oleh istriku nanti.


Rafa tidak berani mengganggu Ira lagi, takut nanti malam di tendang dari ranjangnya. Rafa menatap Ira yang sedang makan dengan lahapnya. Badan kurus ramping tapi porsi makannya yang luar biasa.


"Sayang, makanmu banyak kenapa tidak gendut-gendut sih. Apa terlalu banyak cacing di perutmu?"


Ira menatap sekilas.


"Tidak tahu, coba kamu priksa saja!" jawab Ira yang asik mengunyah makanannya. Setelah habis Ira mengambil satu gelas susu putih.


"Sini aku bantu periksa perutmu yaa." Mendekat ke arah Ira. Ira langsung mendorong tubuh Rafa.


"Kenapa sayang, apa tidak boleh?" Rafa memelas.


"Apa kamu sesekali tidak menggangguku hidupmu hampa apa?" tanya Ira marah-marah.


"Hee... emm, hampa sekali. Mati rasa bahkan!" Rafa menganggukan kepala.


"Huuuhhhh..." Ira menghembuskan nafas dengan berat. Ira segera mencuci piring dan gelasnya.


"Kenapa sih kamu selalu turun tangan sendiri, mulai dari memasak bahkan kegiatan lainnya. Kan banyak pembantu di rumah ini. Apa masih kurang asisten rumahnya?" Rafa heran dengan istrinya ini.


"Aku bukan perempuan manja seperti di luaran sana, walaupun aku dari orang berada aku hidup sendiri yang membuat aku mandiri!" Ira duduk di samping Rafa.


"Sayang istriku. Memang aku tidak salah mencintaimu sayang, eeemmuahh..." Rafa mencium pipi Ira dengan kuat.

__ADS_1


"Sudah, jangan seperti ini terus. Malu di lihat Raf," Ira berlari menuju lantai atas.


Bersambung.


__ADS_2