My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Terkejut


__ADS_3

Rafa sudah seperti orang gila saja mencari keberadaan Ira. Setelah beberapa jam kemudian namun tidak membuahkan hasil sama sekali itu membuat Rafa tambah shock. Rafa akhirnya memutuskan untuk mengunjungi restoran milik Rais.


Sesampainya di sana ia bertepatan ada Meisie juga sedang mengaduk-aduk milkshake. Meisie yang melihat Rafa masuk ke restoran Rais dengan segera melambaikan tangannya.


Rafa yang melihat Meisie duduk dengan Rais ia segera menghampirinya. Ketiga orang ini menjadi kompak jika mengenai Ira. Dulu hanya ada persaingan sekarang bagai sahabat yang saling membutuhkan bantuan.


"Ada masalah apa sepertinya penting?" tanya Rais yang melihat mimik muka Rafa yang sembab seperti habis menangis.


"Iya ada masalah apa sih?" Meisie ikut-ikutan menanyai Rafa.


"Ira hilang!" jawab singkat Rafa. Dua kata yang berhasil membuat Rais dan Meisie terkejut dan hawatir.


"Sejak kapan, bukannya kemarin sore kamu mengejarnya?" Rais seakan tidak percaya jika Ira hilang sementara Rafa kemarin mengejar sang istri.


"Dan itu kenyataannya, aku bahkan tidak tau dia dimana sekarang!" Rafa menatap layar ponselnya berharap berita yang ia sebar di medsos membuahkan hasil.


"Coba aku temui Rudi, takutnya ia menyekap Ira lagi." Jawab Meisie yang berhasil membuat kedua laki-laki tersebut berdiri dan langsung menuju parkiran mobil masing-masing.


Meisie yang di tinggal sendirian berdecak kesal.


"Hhaaahhh di tinggal sendirian, siapa yang bayar?" Meisie segera menuju kasir. Setelah membayar Meisie melangkahkan kakinya menuju parkiran mobil.


Perusahaan Surya Chand kini berganti dengan nama Rudi Salim.


Rafa memarkirkan mobilnya ke area parkir mobil begitu juga dengan Rais. Setelah berdepat panjang akhirnya satpam mengijinkan Rafa dan Rais untuk masuk. Namun sebelum masuk ruangan Rudi mereka berdua kembali di tanyai pertanyaan apa sudah membuat janji.


Rudi yang baru keluar dari lift pribadi terkejut melihat dua insan yang tengah berekspresi matah tersebut. Rudi menyuruh Rafa dan Rais untuk duduk di salah satu sofa yang ada di lobby kantornya.


"Ada keperluan apa kesini?" tanya Rudi sesantai mungkin.


"Dimana kamu sembunyikan istriku, pasti kamu yang menculiknya kan?" tanya Rafa dengan tangan mengepalnya yang siap untuk memukul wajah Rudi.


Rais mencegah Rafa yang ingin melayangkan pukulan. Akhirnya Rafa melonggarkan gengaman tangannya yang mengepal.

__ADS_1


"Aku tidak tau keberadaannya!" jawab Rudi apa adanya.


"Pasti kamu berbohong???" Rafa berdiri dan mencengkram erat kerah baju Rudi. Rudi segera menepis tangan Rafa yang mencengkram kerah bajunya.


"Aku berucap jujur buat apa aku menculik Ira sementara aku sudah hidup bergelimang harta ini. Kamu pikir dulu, lebih berharga harta atau Ira jika kamu jadi aku?" Rudi tidak mau ambil pusing dengan permasalahan hilangnya Ira, baginya saat ini Ira tidak penting. Yang terpenting adalah harta kekayaan untuk menunjang kehidupannya mendatang.


Rafa berpikir sejenak. "Bukannya kamu ada rasa dengan istriku sampai pernah menciumnya dua kali?"


Rais yang terkejut dengan ucapan Rafa barusan ia hanya terbengong dengan apa yang baru ia dengar.


"Jujur aku memang ada rasa dengan istrimu yang cantik itu, tapi itu dulu kalau sekarang aku tidak menyukainya setelah mendapatkan yang aku mau saat ini. Jadi sudah jelas kan jika aku tidak menyembunyikan istri tercintamu!" Rudi berbicara apa adanya.


"Jadi kalau bukan kamu siapa. Pasti kamu orangnya tidak ada orang yang obsesi tingkat tinggi selain kamu?" tuduh Rais ke Rudi.


Rafa masih mencerna ucapan Rudi. Jika penculiknya Rudi pasti Rudi langsung terang-terangan mengirim bukti ia menculik Ira seperti dulu-dulu tetapi ini berbeda tanpa memberikan ancaman atau sejenisnya.


Rafa yang mendengar perdepatan antara Rudi dan Rais langung menghentikan mereka berdua dengan bogeman mentah.


BBUUGG... BUUGGH...


"Apa tidak bisa diam. Kepalaku mau pecah, bantu cari solusi jangan berdebat lagi." Rafa segera mengambil kunci mobil yang ia letakan di saku celanannya. Rais juga mengekori Rafa yang keluar tanpa pamit ke Rudi.


"Dasar datang tak di undang pulang tak di antar. Kurang sopan." Rudi segera menyuruh sekertarisnya mengambil kantong es batu.


Rudi segera menempelkan kantong es batu ke sudut bibirnya yang membiru dan meneluarkan sedikit darah.


Rafa begitu frustasi dengan keadaannya sekarang. Kemudian Rafa memutuskan untuk kembali ke rumahnya dengan hati yang sangat sedih. Istri tercintanya belum juga di ketemukan keberadaannya.


1 minggu kemudian.


Ira yang berada di kediaman Amir Phelan berusaha sekuat tenaga untuk pergi dari rumah Amir. Amir yang hari ini baru berkunjung di kediamannya terkejut dengan sikap Ira yang tetap saja memberontak seperti kabar yang di berikan oleh para bodyguardnya.


"Lepaskan aku dasar pria breng***. Aku sumpahi kamu mendapat karma karena menculik istri orang." Ucap Ira yang memukul-mukul pintu kamar yang tempati Ira di sekap. Namun tidak ada hasil sikap memberontak Ira.

__ADS_1


Amir tetap saja menyekapnya di dalam kamar rumahnya. Seperti seorang pesikopat yang akan merenggut kehidupan orang lain dengan paksa. Bukannya termasuk kelakuan seperti ini.


Amir berjalan mendekati pintu dan cklek..., suara pintu di buka.


Ira segera berdiri saat mendengar pintu di buka. Ira langsung memohon kepada Amir untuk melepaskannya.


"Aku mohon lepaskan aku Amir. Aku ingin pulang." Ira bersimpuh di kaki Amir. Baru kali ini ia bersimpuh di kaki orang lain, bahkan untuk kedua orang tuannya ia belum pernah hanya sekali untuk Mamanya saat acara sungkeman pernikahannya beberapa tahun yang lalu.


"Oke, aku akan melepasmu hari ini tapi aku punya satu pertunjukkan. Lihat ini, apakah Rafa suamimu akan mau bersamamu lagi saat melihat foto ini?" Amir menujukkan fotonya sedang telan**** di ranjang dengan Amir.


"Aku mohon jangan berikan ke Rafa. Amir, aku mohon!" Ira berharap jika Amir mengurungkan niatnya untuk mengirim foto tersebut.


"Sudah terlambat aku sudah mengirimkan ke Rafa suamimu." Amir mengisyaratkan asisten perempuannya untuk mendandani Ira sebelum ia di hantarkan ke rumah Rafa.


Rafa yang mendapat notifikasi pesan di ponselnya langsung melihat. Matanya melotot dan mulutnya terbuka.


JEEDEERRR..., pagi hari yang cerah ia mendapatkan foto yang seharusnya tidak ia lihat seumur hidupnya. Foto sang istri telan**** bulat dengan laki-laki lain yang tak lain adalah Amir.


Rafa mengenal Amir sebagai kepribadian baik dan tidak suka main-main dengan perempuan. Namun saat ini ia terkejut dengan Amir yang bersama Ira sang istri.


Pikiran Rafa beradu. Bahkan pikiran ingin mengakhiri rumah tangganya dengan Ira melitas bahkan menari-nari di otaknya. Rafa mengepalkan tangannya dan langsung memukul meja rias yang biasa di gunakan Ira untuk merias diri.


Semua barang-barang yang ada di dalam kamarnya ia lempar kesembarang arah, kamar Rafa bahkan sudah seperti gempa bumi saja.


TIINGG... TOONNGG..., suara bell rumah berbunyi dengan nyaring.


Rafa segera turun dan membuka siapa gerangan yang datang, saat melihat Ira dan Amir yang datang Rafa langsung mengepalkan tangannya.


Dan BBUGGHHH... BUUGHH... BBUGHH..., Rafa menghajar Amir habis-habisan dan langsung memeluk tubuh Ira dengan erat.


Amir tidak tinggal diam ia langsung berdiri dan tersenyum licik ke Rafa. Kemudian Amir berucap sambil melambaikan tangannya.


"Tibuh istrimu sangat mengairahkan, aku berharap benihku tidak tertanam di tubuhnya." Amir tersenyum licik dan pergi dari kediaman Rafa. Akting berbohongnya untuk mengancurkan rumah tangga Rafa dan Ira sangat meyakinkan sehingga Rafa marah.

__ADS_1


Rafa langsung kesal dengan ucapan Amir barusan ia segera menarik kasar tangan Ira dan menghempaskannya ke sofa yang ada di ruang tamu.


Bersambung.


__ADS_2