My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Mesra


__ADS_3

Bibi Nilam yang melihat wajah bahagia Rafa membuatnya bertanya tanya ada apakah gerangannya pagi ini.


"Apa ingat Rafa mulai membaik?" Bibi Nilam menemui Rafa, Rafa yang bertemu Bibi Nilam hanya tersenyum.


"Raf, berhenti. Ada yang ingin Bibi tanyakan, apa bisa kita bicara sebentar?"


"Bisa Bi, ada apa?" Rafa duduk di meja makan.


"Apa kamu sudah mengingat Ira Istrimu?"


"Belum Bi, tapi aku yakin dia wanita yang aku cintai. Tetapi juga tidak yakin Bi!" ucap Rafa terdiam, kemudian Rafa melanjutkan pembicaraannya. "Bibi masak apa?" Rafa membuka tudung saji.


"Sambal goreng ati ampela. Ini Bibi yang masak?" tanyanya pada Bibi Nilam.


"Buka, itu masakan Ira. Cobalah siapa tahu kamu mengingat Ira melalui masakan itu!" Bibi Nilam menyodorkan piring yang sudah di isi nasi hangat.


Rafa langsung menerimanya. Dan mengambil lauk tersebut dan acar kesukaannya. Satu suapan masuk dalam mulut Rafa. Rafa begitu menikmati masakan buatan Ira.


Ira yang baru selesai mandi langsung menuju meja makan. Dan duduk di sebrang Rafa, menatap suaminya yang melahap hampir separuh masakannya. Ira tersenyum.


Saat makanan tinggal satu sendok lagi, gambaran wajah Ira melintas dan membuat kepala Rafa sakit tak tertahankan dan pingsan di meja makan.


Bibi Nilam langsung berteriak memanggil suaminya, sesampainya di meja makan Paman Adi langsung memanggil tukang kebun dan satpamnya untuk membopong tubuh Rafa untuk masuk kedalam mobil, sedangkan Paman Adi mengambil kunci mobil yang berada di lantai atas.


Ira menangis melihat suaminya pingsan di meja makan. Bibi Nilam yang berada di depan Ira menguatkan.


"Ira sabar. Berdoa semoga ini kabar baik, oke." Ucap Bibi Nilam.


Sesampainya di RS Rafa segera di bawa keruang khusus yang menangani cidera otak.


Ira berdiri di depan ruangan Rafa di periksa, mondar mandir dan menggigit kuku jari tangannya.


Bibi Nilam tidak memaksa Ira untuk duduk, di biarkan agar Ira lebih tenang dengan begitu.


Dokter keluar dari ruangan Rafa dan memberikan kabar baiknya. Perkembangan ingatan Rafa mulai pulih di sarankan istrinya harus terus mendampingi setiap aktivitas agar ingatannya segera pulih kembali.


Selang 30 menit Rafa sadar dari pingsannya. Ira bahagia dan langsung memeluknya.


Rafa tersenyum, saat membuka mata yang ia lihat sosok Ira wanita yang ia cintai.


"Sayang." Ucap Rafa lirih.


Ira meneteskan air matanya. "Kamu sudah mengingatku Raf?" mengenggam tangan Rafa. Rafa menganggukkan kepalanya.


"Tapi belum semua!" jawab Rafa tersenyum sedikit.

__ADS_1


"Seperti ini saja aku sudah bahagia Raf." Ira menciumi punggung tangan Rafa.


Bibi Nilam dan Paman Adi saling berpelukan melihat adegan ini.


Sore hari.


Rafa sudah di izinkan pulang ke rumah. Dokter memberikan beberapa resep agar ingatannya semakin mebaik. Tangan Rafa dari tadi menempel terus di lengan Ira.


"Raf..., lepas dulu tanganmu membuat lenganku kebas tahu." Protes Ira ke Rafa.


"Cium aku dulu baru boleh lepas, kalau tidak di cium tidak mau lepas." Bergelayut manja.


Ira menatap wajah Rafa serasa tidak percaya dengan suaminya ini. Tanda tanya begitu banyak muncul di kepala Ira.


"Kamu sehat kan Raf?"


"Sehat!" jawab Rafa masih tetap memeluk lengan Ira.


Ira yang melihat Bibi Nilam lewat langsung memanggilnya.


"Bi... tolong Ira?" Ira memasang wajah paling sedih.


Bibi Nilam mendekat ke Ira dan Rafa, tiba-tiba telinga Rafa di tarik dengan kencang oleh Bibi Nilam. "Dasar anak manja, lepaskan tanganmu. Atau aku buat kedua telingamu lebar, haaaa." Masih menjewer telinga Rafa sampai memerah padam.


Pagi hari.


Ada banyak notifikasi masuk ke ponsel Rafa berkali-kali sampai Ira geram.


"Siapa sih, berisik sekali. Rafa... bangun." Mengoyang-goyangkan tubuh Rafa tetapi seperti biasa tidak bangun-bangun.


"RRRAAAAFFAAA." Teriak Ira tepat di telinganya.


Rafa bangun seketika dan mendengus kesal. "Apa tidak bisa dengan pelan-pelan membangunkan suamimu ini?"


"Sudah pelan-pelan tapi kamunya tidak bangun!" jawab Ira memonyongkan bibirnya.


"Oke aku minta maaf ya sayang." Mencium bibir Ira yang monyong sebentar.


Ira jadi malu dengan apa yang barusan Rafa lakukan.


Rafa segera menatap ponselnya yang bunyi terus, suara notifikasi tidak berhenti. Rafa terkejut saat menerima notifikasi, sebuah data-data kecelakaan mobil yang menewaskan kedua orang tuanya. Rafa shock berat dan langsung meneteskan air matanya.


Ira terkejut dengan suaminya ini.


"Raf... ada apa? apa kamu baik-baik saja?" menatap layar ponsel Rafa. "Ini apa Raf?"

__ADS_1


"Itu kecelakaan orang tuaku sayang!"


Ira menutup mulutnya seketika.


"Aku akan mencari orang ini Ira, tetapi orang yang aku suruh menyelidiki bilang ini berkaitan dengan Meisie, Ira. Aku harus memastikannya Ira, apa aku boleh berpura-pura hilang ingatan di depan Meisie?" menangkup kedua bahu Ira.


Ira menatap mata jernih Rafa, ada rasa takut jika terjadi apa-apa pada suaminya ini. Ira hampir tidak mengizinkan, namu melihat kesedihan Rafa ia menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih sayang, eeemmm boleh minta ini?" tanya Rafa menyentuh sesuatu yang Rafa suka.


Ira mengangguk. Dan terjadilah pertarungan panas keduanya di pagi hari. Bibi Nilam yang tadinya mau menawarkan sarapan ia urungkan saat mendengar suara desahan kedua insan tersebut.


"Sebentar lagi aku akan memiliki cucu." Bibi Nilam tersenyum lebar dan langsung menemui suaminya.


"Ada apa sih, pagi-pagi sudah bahagia seperti ini?" tanya Adi suaminya.


"Sebentar lagi kita akan memiliki cucu!" Bibi Nilam tersenyum lebar.


"Benarkah?" tanyanya tidak percaya.


"Iya, barusan saat aku akan ke kamarnya mereka berdua sedang melakukan hubungan suami istri!"


"Apa kamu melihatnya?" tanya Adi.


"Tidak, jangan asal mencurigaiku seperti itu. Aku mendengarnya dari luar kamarnya!"


"Hhhaaaa... lega, aku kira kamu melihat hal tersebut, takutnya kamu jadi menginginkannya." Ucap Adi memancing istrinya sambil mengedipkan matanya.


"Dasarrr sudah tua, jangan menghayal yang bukan-bukan. Biarkan yang muda-muda saja."


Nilam mengalihkan pembicaraan. "Ayo sarapan pagi." Ajak Nilam ke suaminya.


"Tapi aku masih kuat loh, apa kamu meragukan keperkasaanku?"


"Tidak, aku percaya ko!" Nilam segra pergi meninggalkan suaminya.


Adi mengikuti langah istrinya, sampai sarapan selesai Rafa dan Ira masih belum turun juga.


"Apa mereka tidak lelah?" tanya Nilam, saat akan melangkah Rafa dan Ira sudah menuruni anak tangga.


"Ayo yang baru pemanasan pagi hari, sarapan dulu nanti lanjutkan lagi." Sindir Paman Adi melihat dua insan yang masih menggengam tangan satu sama lain.


Rafa dan Ira malu langsung melepas genggamannya masing-masing.


Sarapan pagi ini terasa sangat nikmat untuk Ira dan Rafa. Seperti pengantin baru saja. Bibi Nilam tersenyum melihat hal tersebut dan bersyukur sebesar-besarnya Kepada Sang Pencipta.

__ADS_1


__ADS_2