
Setelah keluar dari kantor Rudi. Ira menarik kuat-kuat rambutnya, Ira pusing dengan permasalahannya. Sementara suaminya dengan wanita lain.
"Apa yang harus aku lakukan, sementara aku tidak punya pendukung saat ini?" Ira memijat pelipisnya.
Tak terasa hari berganti, sementara Rafa masih bersihkukuh dengan pendiriannya, namun entah apa yang terjadi. Sampai saat ini misinya tidak ada tanda-tanda jika Meisie mau menjadi saksi.
Atau mungkin Rafa sudah tidak mau bercerita, setelah kejadian beberapa waktu lalu. Saat Ira tidak sengaja melihat Rafa dan Meisie di kantor Rudi. Rafa semakin berubah.
Entah apa yang sudah di ucapkan Meisie atau Rudi kepada Rafa, hanya mereka yang tahu.
Hari berganti bulan, hari ini hari pemeriksaan kandungan Ira, namun Rafa menolak mentah-mentah. Saat ini Ira dan Rafa pernikahannya seperti di ujung tanduk.
Untung bayi yang di kandung Ira tidak meminta macam-macam, hanya saja meminta makan yang mudah di jumpai oleh Ira.
Ira segera melajukan mobilnya ke puskesmas ia malas pergi ke RS, malas di tanyai tentang suami. Setelah melakukan pemeriksaan Ira menelpon Mamanya dan ingin mengajak bertemu.
Mama Novi begitu sangat bahagia setelah sekian lama akhirnya Ira mau menghubunginya lagi.
Restoran Bahagia.
Saat berada di restoran hanya ada keheningan yang terjadi. Padahal keadaan restoran begitu ramai. Ira menatap tajam mata Mamanya begitu juga dengan Mama Novi yang tidak kalah tajam.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan kepada Mama." Ucap Ira menghilangkan kecanggungan.
"Apa, apa yang ingin kamu ketahui dari Mama?" ucap Mama Novi tegas.
"Dimana Papa. Apa dia ada di Indonesia?" tanya Ira langsung tanpa basa basi.
Mama Novi diam sejenak dan mengambil nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya.
"Terus terang Mama tidak tahu Ira, semenjak kamu di dalam kandungan Papamu pergi meninggalkan kita. Sebenarnya Mama tidak ingin kamu membencinya, maka dari itu Mama menutupi ini semua sendirian. Dan satu lagi Mama dan Papamu sudah berpisah!" ucap Mama Novi bersedih.
__ADS_1
JJJEEDDEERRR..., Ira menutup mulutnya untuk menahan rasa sakit saat ini. Mendengar ucapan Mamanya barusan. Serasa tidak percaya dengan apa yang di dengar.
"Bukannya kata Mama barusan Papa meninggalkan kita, terus kenapa Mama bilang kalian sudah berpisah?" Ira mencari kejelasan tentang pertanyaan tersebut.
"Setelah satu bulan Papamu tidak ada kabar, tiba-tiba Mama menerima surat gugatan perceraian dari Papamu. Mama menandatangani surat itu karena orang yang mengirim surat itu adalah pengacara Papamu!" menghapus air mata yang hampir jatuh.
Ira menggengam erat kedua tangan Mamanya berusaha menguatkan.
Apa salah kami berdua Pa, sehingga Papa meninggalkan kita berdua. Pantas saja Mama seperti ini saat ini. Untuk menghibur dirinya yang terluka, Mama bermain cinta dengan orang yang bukan suaminya. Dalam batin Ira.
Setelah berbicang dengan Mamanya. Ira menuju tempat dimana ia bertemu Raden Sakti yaitu di sebuah padepokan pencak silat.
Ira memarkirkan mobilnya dan membawakan beberapa bingkisan untuk anak-anak yang sedang berlatih, sambil menanti anak kecil laki-laki itu datang.
Setelah selesai membagi-bagikan bingkisan Ira bertanya kepada guru yang melatih pencak silat.
Namun setelah Ira bertanya tentang salah satu murid bernama Raden Sakti, Guru pelatih tersebut menyatakan tidak ada nama murid Raden Sakti.
Seketika bulukuduk Ira merinding di tempat tersebut. Dan secara gamblang Guru pelatih tersebut menceritakan tentang orang yang mendapatkan titisan pembaca hati.
Ira segera berpamitan kepada Datuk Wagimin, nama Guru pelatih tersebut.
Ira masih dalam pikirannya yang kacau tiba-tiba ada anak kecil yang melitas secara tiba-tiba dan menyebabkan Ira banting setir sampai menabrak pohon besar.
Dan terjadilah kecelakaan tersebut, perut Ira yang masih rata terkena setir mobil dan mengakibatkan perut Ira kesakitan yang luar biasa. Para warga menolong Ira dan segera membawanya ke RS terdekat.
Saat di rumah sakit Ira melakukan operasi untuk pengangkatan bayi yang ada di dalam kandungannya. Karena pendarahan hebat yang membuatnya harus terpaksa melahirkan bayi yang belum genap 2 bulan tersebut.
Rafa yang menerima panggilan dari pihak rumah sakit segera pergi meninggalkan Meisie yang berada di restoran. Meisie kesal dengan perlakuan Rafa barusan.
Membuat Meisie bertekat menghancurkan rumah tangga Rafa dan Ira dengan cara lain.
__ADS_1
Sesampainya Rafa di ruangan Ira yang baru saja selesai operasai, tubuh Rafa lemas seketika. Calon bayi yang di harapkan kini kembali kepada Sang Maha Pencipta.
Rafa segera mengurus pemakaman anaknya tersebut, dan mengabari Paman Adi dan Bibi Nilam jika Ira baru saja mengalami kecelakaan dan menyebabkan kehilangan buah hatinya.
Langsung saja Paman Adi dan Bibi Nilam pulang dari luar kota dan menyusul ke rumah sakit tempat Ira di rujuk.
Sesampainya di rumah sakit, Bibi Nilam dengan Paman Adi bertanya kepada resepsionis ruangan ibu melahirkan. Setelah tahu keberadaan ruangan Ira, tubuh Bibi Nilam lemas seketika saat melihat Ira terbujur belum sadarkan diri setelah operasi.
Bibi Nilam masuk kedalam ruangan Ira. Menggengam erat tangannya dan mendoakan Ira agar segera sadar.
15 menit kemudian.
Ira membuka matanya sedikit dan terkejut saat merasakan perutnya yang masih sedikit sakit. Ira meraba perutnya, tangannya menyentuk plaster besar.
Air mata Ira seketika jatuh membasahi pipi. Bibi Nilam yang baru saja keluar dari kamar mandi. Langsung memeluk Ira sebentar dan menguatkan perasaan Ira saat ini.
Rafa yang baru saja selesai dari pemakaman langsung membersihkan diri sebelum masuk keruangan rawat Ira. Paman Adi yang melihat Rafa baru datang langsung mengulurkan tangannya.
"Yang sabar ya Rafa, Paman yakin kamu bisa kuat dan menguatkan Ira istrimu." Menepuk dan mengelus pundak Rafa.
"Terimakasih Paman. Paman apa Ira sudah sadar?" Rafa tidak sanggup melihat Ira dan tidak sanggup di tanyai macam-macam oleh istrinya.
"Masuklah, Paman akan melihat Ira juga, ayo." Ajakan Paman Adi kepada Rafa.
Suara pintu terbuka terdengar dari dalam ruanhan Ira. Ira menatap Rafa dan Paman Adi yang bersedih.
Rafa segera memeluk Ira dan menguatkan Ira. Tangisan Ira pecah di pelukan Rafa. Begitu juga Rafa, ia menangis tetapi tetap menguatkan Ira istrinya.
Setelah lelah menangis Ira tertidur di pelukan Rafa. Rafa yang merasa Ira tertidur langsung membaringkannya. Dan beranjak pergi dari ruang rawat Ira.
Bibi Nilam menanyai apa yang menyebabkan Ira keguguran bayinya pada Rafa, Rafa menjelaskan kronologi dari kecelakaan Ira waktu menanyai salah satu warga yang menjadi saksi.
__ADS_1
Bersambung.
Dukung Author biar bisa trus up ya teman-teman. Tinggalkan jejak yaaa😊