
Setelah selesai Rafa sebenarnya penasaran dengan masakan ini, kenapa rasanya seperti masakan Ira. Rafa terus mengunyah makanan yang berada di piringnya.
Paman Adi heran dengan ekspresi yang di pancarkan oleh Rafa. "Kamu kenapa Raf?" tanya Paman Adi.
"Tidak apa apa Paman, cuma masakan ini mengingatkanku pada seseorang Paman!" Rafa membayangkan wajah cantik dan imut Ira.
Bibi Nilam langsung menjawab rasa penasaran Rafa. "Ini masakan Ira!" jawab Bibinya sambil tertawa kecil.
"Pantas saja!" Rafa melanjutkan makannya dan mengambil sendok bersih kemudian ia makan lagi.
"Kamu mencintainya?" pertanyaan Bibi Nilam membuat Rafa tersedak.
"UUHUKK... UHUKK..." Rafa terkejut dengan pertanyaan yang Bibi Nilam lontarkan barusan.
"Minumlah dulu!" Bibi Nilam langsung menyodorkan air putih kepada Rafa.
"Terimakasih Bi!" Rafa melanjutkan makan lagi.
"Ungkapkan jika kamu mencintainya, ia istrimu yang sah Rafa. Apa selama ini kamu tidak mengungkapkan perasaanmu?" tanya Bibi Nilam.
Rafa terdiam lalu.
"Mungkin! aku selalu merindukannya ketika aku jauh!" Rafa menyudahi makannya, karena perutnya sudah kekenyangan.
Sore hari.
Rafa kembali ke apartemen, setelah membuka password pintu ia masuk apartemennya. Rafa mencari keberadaan Ira tetapi semua ruangan begitu sepi.
"Kemana Ira?" mengetik ponselnya, mencari nomor Ira.
Suara deringan terdengar di kamar Ira. Rafa bergegas ke kamar Ira.
"Ponselnya di sini, terus Iranya kemana?" mengetuk pintu kamar mandi.
Ira yang baru selesai mandi keluar hanya menggunakan jubah handuk.
"Ada apa Raf?" Ira membuka lemari pakaiannya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, kamu pakailah pakaianmu dulu. Aku keluar sebentar!" ucapnya menutupi wajah malunya.
Ira bergegas berganti pakaian dan mengoles wajahnya dengan cream ringan. Rafa dan Ira duduk berjauhan ada rasa canggung di keduanya. Karena sudah lama mereka tidak saling berbicara.
"Raf tadi mau membicarakan apa?" Ira memberanikan diri berbicara.
"Kita liburan yuk!" ucapnya lirih.
"Liburan???" dengan wajah shock, binggung tergambar di wajah Ira.
__ADS_1
"Iya apa kamu tidak mau?" menatap mata Ira.
"Ya mau, di ajak liburan. Liburan ke mana?" Ira sudah antusias.
"Hiking ke gunung gimana?" Rafa tersenyum.
"Boleh, apa cuma kita berdua?" Ira tersenyum sangat terlihat imut dan mengemaskan.
"Iya, bisa di bilang ini kencan pertama kita!" jawab Rafa dengan wajah yang memerah.
"Raf... apa kamu sadar dengan ucapanmu barusan? kencan pertama. Bukannya itu untuk sepasang kekasih yang saling mencintai?" Ira menanyai Rafa seperti ini, dengan menahan hatinya yang bersedih.
"Tapi memang ini yang aku rasakan Ira, ayo akhiri perjanjian hitam di atas putih!" Rafa mengambil kertas dari tas yang ia bawa.
Lalu merobeknya menjadi serpihan kecil. Ira hanya terdiam melihat kelakuan Rafa barusan. Rafa duduk lebih dekat dengan Ira, Ira yang merasa di dekati Rafa, binggung harus bereaksi seperti apa. Jujur ini sesuatu yang membahagiakan atau tidak Ira terdiam.
"Aku mencintaimu Atiya Bahira istriku!" menggengam tangan jemari Ira dan mencium punggung tangannya.
Ira tersenyum bahagia cintanya dalam diam tidak tertolak, ia sempat hampir menyerah dengan perasaannya. Ia berpikir mungkin hanya dia yang mencintai sendiri tetapi saat ini tidak, orang yang ia cintai mengungkapkan perasaannya.
Ira masih terdiam belum menjawab ucapan perasaan Rafa.
Rafa menatap Ira lekat lekat. "Apa kamu tidak mencintaiku?" memastikan.
"Iya!" jawab Ira lirih.
"Jadi kamu tidak mencintaiku?" mengulang perkataannya.
"Benarkah?" Rafa bergegas mengangkat dagu Ira, agar Ira menatapnya.
"Kamu cantik Ira!" ucap Rafa dari hati yang terdalam.
Ira tersenyum manis ke arah Rafa.
Rafa yang melihat pancaran tulus Ira ia mendekatkan wajahnya.
Terus terang ini pengalaman pertama tanpa dorongan obat seperti waktu itu. Rafa masih menatap Ira, melihat Ira sepertinya setuju ia mencium bibir Ira sebentar. Tidak ada penolakan, dari Ira membuat Rafa mengulangnya lagi. Tetapi dengan penuh penekanan, kali ini sesekali Rafa memasukkan lidahnya dan mengabsen mulut Ira.
Ira yang kehabisan nafas mendorong Rafa sekuat tenaga. Dan mengusap bibirnya yang basah.
"Maaf Ira!" dengan menggengam tangan Ira.
"Tidak apa apa, kita suami istri dan sudah sah di agama dan negara bahkan kita..." tidak melanjutkan ucapannya.
"Kita apa Ira?" tanyanya pura pura tidak paham.
Ira langsung memunggungi Rafa. Rafa tidak tinggal diam langsung memeluk Ira.
__ADS_1
"Aku paham Ira, ayo kita lakukan?" tanpa basa basi Rafa mengendong Ira menuju kamarnya.
Saat berada di kamar terjadi keheningan lagi rasanya masih canggung sekali dan itu membuyarkan keromantisan yang baru terjalin.Didalam kamar Rafa, Ira terdiam melihat sekeliling ruangan yang sudah tidak ada foto atau apapun tentang Meisie.
"Apa yang kamu cari Ira?" Rafa bertanya, tahu jika Ira akan keheranan dengan kamarnya.
"Eemmm pigura besar yang kamu tutupi kain di situ!" Ira menujukkan dinding yang sudah kosong.
"Aku sudah membakarnya, seharusnya aku buang dan bakar dari dulu." Rafa duduk di samping Ira.
Ira terdiam binggung akan berucap apa lagi. Sampai suara perut membuyarkan kebisuan mereka berdua.
"Aku lapar, ayo turun dan makan!" ajakan Ira ke Rafa.
Bergegas keluar kamar menuju meja makan. Ira mengeluarkan beberapa makanan dari dalam tudung saji.
"Kamu masak apa Ira?" duduk di depan Ira.
"Masakan tadi siang, aku masak banyak jadi aku panaskan sebentarya!" memasukkan di microwive.
Dan mengambil dua piring nasi agar saat makan tidak semua makanan dalam keadaan panas. Melihat ketelatenan Ira merawat dirinya sejak menikah, membuat rasa cintanya ke Ira makin besar dan kuat. Cinta yang baru ia sadari.
"Aku sudah memanaskan lauknya, mau aku tambahi acar mentimun?" mengambil di dalam lemari pendingin.
"Boleh, tetapi waktu makan di rumah utama kenapa tidak ada acar?" dengan mencicipi acar buatan Ira. Dengan di selingi berdoa.
"Rumah utama, jadi itu rumahmu?" tanyanya balik.
"Bahkan kita hampir satu tahun menikah kamu tidak sekalipun mengajakku ke sana. Apa tidak ada angan angan mengajakku?" tanyanya melipat kedua tangannya di dada.
"Aku ada rencana mengajakmu kesana, tetapi kan kita belum resmi kemarin kemarin!" meneruskan makannya.
"Apakah janji pernikahan belum kuat Rafa?" tanya Ira, dengan memonyogkan bibirnya.
"Iya itu kuat, tetapi aku masih takut waktu itu!" menghabiskan makanannya.
"Iya terserah asalkan mulai saat ini, aku di ajak kemanapun kamu keluar apartemen ini!" menyelesaikan makannya.
Keesokan harinya.
"Apa kita jadi hiking hari ini Ira?" Rafa merapikan tempat tidur.
"Iya jadi, lagian aku sudah menyiapkan keperluan kita!" Ira menata beberapa pakaian yang di butuhkan.
"Apa kamu tidak berkerja?" Rafa bertanya, sebab ia tidak tahu jika Ira sudah mengundurkan diri dari restoran Rais.
"Aku sudah mengundurkan diri!" Ira berjalan ke arah kamar mandi.
__ADS_1
"Benarkah, kenapa tidak izin ke aku?" Rafa menatap kepergian Ira.
"Apa kamu peduli, lagian selama ini kamu tidak sekali pun menanyai aku tentang pekerjaanku di sana!" Ira berucap setengah menyindir Rafa.