My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Mulai terungkap


__ADS_3

Setelah menjelaskan semuanya dan menceritakan kejadian tadi pagi. Ira sebenarnya meminta untuk menghantar pemeriksakan kehamilan namun di tolak oleh Rafa dengan alasan menuntaskan misi, membuat Paman Adi dan Bibi Nilam marah.


Bibi Nilam sudah kehabisan kata-kata, mau menghanjar Rafa juga tidak mungkin begitu juga dengan Paman Adi. Sebagai orang tua pengganti setelah Kakaknya meninggal, membuatnya tidak bisa mengkekang atau memarahai Rafa.


Rafa laki-laki dewasa pasti tahu mana yang baik dan tidak, jika keputusannya seperti itu harus bagaimana lagi.


Rafa masih merutuki kebodohannya tadi pagi, andai saja ia menemani Ira memeriksakan calon anaknya mungkin kejadian ini tidak menimpa istrinya.


Beberapa anggota kepolisian mendatangi TKP sebelum ke rumah sakit, para polisi melihat pengemudi menggunakan plat palsu. Setelah di cek ternyata hanya plat yang di tempelkan saja, segera aparat kepolisian mencari keberadaan korban.


Sesampainya di rumah sakit, para anggota kepolisian menanyai korban kecelakaan yang di larikan di rumah sakit ini.


Saat berada di depan ruangan yang di tuju, para polisi menanyai keadaan pasien pada Rafa, Rafa menceritakan jika istrinya masih shock atas kehilangan bayinya.


Paman Adi dan Bibi Nilam berbicara panjang lebar dengan aparat kepolisian dan juga dengan Rafa.


Rafa menjelaskan jika istrinya terpaksa menggunakan plat tersebut lantaran nyawanya dalam incaran orang yang berbahaya, ucap Rafa menutupi kebohongannya.


Para polisi akhirnya tidak melanjutkan kejadian ini.


Rafa bernafas lega saat para kepolisian berpamintan undur diri.


Ira yang mendengar suara ramai di luar ruangannya bangun dan mendengarkan semua percakapan tersebut, terdengar jelas di tangkap oleh telingannya.


"Apa Rafa selama ini tahu jika aku menggunakan plat mobil palsu?" tanya Ira pada dirinya sendiri. Ira berusaha bangkit dan menyenderkan tubuhnya ke ranjang rumah sakit.


Rafa yang tadinya ingin melihat keadaan Ira terkejut saat Ira sudah duduk dan menatap ke arah cendela.


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku pagi tadi mengantarmu." Ucap Rafa dengan meneteskan air matanya. Ira mengusap air mata Rafa yang jatuh.


"Ini semua takdir yang harus kita lalui, aku ikhlas mungkin Yang Maha Pencipta belum memberi kepercayaan untuk kita merawat anak." Ira berusaha tenang dengan kenyataan ini.


Selain itu, agar aku tidak menderita terus-terusan karena ulahmu Rafa, demi misimu yang tidak berujung. Dalam batin Ira menjerit.


Rafa langsung duduk di ranjang Ira dan memeluknya dengan erat. Ira menepuk-nepuk punggung Rafa karena kehabisan nafas. Rafa langsung melepas pelukannya.


Beberapa hari kemudian.


Ira sudah di perbolehkan pulang, suasana rumah sakit begitu ramai banyak suara bayi yang menangis dari ruangan bayi. Ira hanya menatap sekilas dan melanjutkan jalannya.

__ADS_1


Rafa mendorong kursi roda yang di gunakan Ira. Bibi Nilam dan Paman Adi berpamitan lebih dulu untuk memasukkan barang-barang Ira dan menyiapkan mobil.


Sesampainya di parkir area samping rumah sakit, Rafa membantu Ira masuk kedalam mobil. Hanya ada keheningan di dalam mobil.


Ira juga tidak meminta menghentikan kendaraannya saat melewati TPU tempat anaknya di kebumikan. Ira masih tidak sanggup melihat kenyataan ini.


Sesampainya di rumah utama Ira berjalan langsung menuju kamarnya dan mengeluarkan foto USG bayinya dari dalam dompet yang beberapa hari lalu ia simpan.


"Mama akan mendoakanmu selalu nak. Mama sedih nak kamu pergi meninggalkan Mama." Ira meneteskan air matanya.


Rafa yang baru masuk kamarnya, langsung mendekati istrinya dan memeluk dengan erat. Ira menerima pelukan suaminya. Sesekali Rafa mencium kening Ira.


"Maafkan aku, maafkan aku Ira. Andai saja aku menemanimu memeriksakan anak kita pasti tidak akan terjadi seperti ini. Maafkan aku sayang." Mencium kening Ira berkali-kali. Ira hanya menganggukkan kepalanya.


Satu bulab telah berlalu, kini Ira sudah bisa tersenyum kembali, namun orang-orang yang berada di dekat Ira merasa hawatir. Pasalnya Ira selalu mengucapkan orang ini punya tujuan lain bahkan ada yang lebih parah jika orang itu ingin menghabisi nyawa seseorang.


Rafa mulai hawatir dengan ucapan Ira yang menurutnya ngelantur. Apalagi Meisie sudah mulai mau menjadi saksi kecelakaan tersebut.


Meisie berjalan cantik setelah keluar dari mobilnya menuju restoran Rafa. Sesampainya di dalam ruangan Rafa, Meisie bergelayut manja di lengan Rafa.


Rafa segera menepis lengan Meisie yang manja.


"Kenapa sih Raf?" membelai pipi Rafa.


"Oke, dengan satu syarat!" ucap Meisie manja.


"Hhhuhhhh......, apa syaratnya?"


"Ceraikan Ira, baru aku akan menjadi saksi kecelakaan itu!" jawab Meisie duduk di sebelah Rafa.


"Apa kamu gila ya, menyuruhku menceraikannya." Rafa menjawab dengan amarah dan meninggalkan Meisie.


Pikiran Rafa kacau balau saat ini, hal gila yang tidak ingin ia dengar, hari ini di ucapkan oleh orang yang ia tidak sukai. Rafa melajukan mobilnya ke arah pegunungan.


Suara kicauan burung membuat hati dan pikiran Rafa tenang seketika, Rafa melupakan semua kejadian yang membuatnya bersedih.


Rafa kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.


"Bagaimana, penyelidikanmu? ucap Rafa.

__ADS_1


"Semua beres bos, ternyata ini bersangkutan dengan tuan Aldo Chand bos!" jawab orang du balik telpon Rafa.


"Aldo Chand..., apa aku tidak salah dengar?" Rafa memastikannya lagi.


"Benar Tuan, dari penyelidikan orang bawahanku yang berkerja di perusahaan Rudi dan Aldo Chand seperti itu, saya yakin kecelakaan itu sudah di rencanakan lama!"


Rafa mengepalkan tangannya.


Aku akan membalasmu Aldo Chand dan Rudi, aku akan musnahkan orang-orang terdekat kalian. Ucap Rafa dalam hati, dengan amarah yang menggebu-gebu.


_ _ _


Rumah utama.


Rafa yang sudah memarkirkan mobilnya segera masuk kedalam rumah. Ira sudah mulai memasak lagi terlihat jelas ia sedang mengenakan celemek motif bunga.


Rafa langsung memeluk Ira posesif, setelah makan malam Rafa mengajak Ira berbicara serius.


"Ada apa Raf?" tanya Ira yang bersender di dada bidang Rafa. Rafa membelai lembut Rambut Ira.


"Aku mau bercerita sayang, ternyata orang yang menyebabkan orangtuaku tiada ada dua orang sayang!"


"Siapa?" tanya Ira mendongakkan kepalanya menatap Rafa.


"Aldo Chand!" jawab Rafa.


DDEEGGGHHH..., pikiran Ira sudah kemana-mana mendengar ucapan barusan Rafa.


"Darimana kamu tahu Raf, jika Aldo Chand berkaitan?"


"Dari anak buahku yang berkerja di perusahaan Aldo Chand dan Rudi. Sudahlah sayang ayo tidur." Ajakan Rafa ke Ira sambil merebahkan tubuhnya.


Ira menyusul memeluk Rafa, rasa takut kehilangan semakin menjadi.


Aku akan menghabisi keluarga yang bersangkutan dengan Aldo Chand dan Rudi. Tapi sebelum itu aku harus mencari tahu keluarganya. Ucap Rafa dalam hati, namun terdengar jelas di telinga Ira.


Ira selama ini bisa membaca hati semenjak kematian bayinya, tetapi ia tidak membicarakannya kepada Rafa.


Ira juga ingin tahu, Rafa seperti apa kedepannya. Apakah ada kesetiaan di kelanjutan pernikahannya ini.

__ADS_1


Bersambung.


Ayo dong dukungannya biar tmbah semngat upnya teman-teman.


__ADS_2