My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Teman lama


__ADS_3

**Menulis memang membutuhkan kesabaran dan ketelatenan. Jadi hargailah orang lain jika ingin di hargai.


Karya asli pemkiran author, semoga teman-teman suka dan betah mampir ke karya author ini**.


Selamat membaca.


_ _ _


"Raf...," seseorang menepuk pundaknya. Rafa langsung melihat siapa yang menepuk pundaknya. Rafa begitu terkejut saat membalikkan badannya.


"Amir, kamu Amir kan?" tanya Rafa tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Rafa terus membolak balikkan tubuh Amir.


Amir adalah teman lama Rafa waktu SMA dulu. Amir yang pindah keluar pulau membuat Rafa kehilangan kontak karena mendadak kepergiannya.


"Apa kabar?" tanya Rafa pada Amir.


"Baik! kalau kamu sendiri?" Amir balik menanyai Rafa.


"Aku baik, bahkan sangat bahagia sekali!" jawab Rafa sambil menarik pinggang Ira sampai di pelukannya.


"Bucin," Amir mengejek Rafa dengan berterus terang.


"Bucin tapi setia, sah-sah sajakan." Jawab Rafa tidak mau kalah.


"Benarkah Rafa setia?" Amir menatap wajah cantik Ira. Ira hanya tertawa kecil. "Lihat Rafa istrimu bahkan tertawa waktu aku menanyai hal itu. Ayolah jujur denganku." Amir langsung berdiri dan membisikkan sesuatu.


Rafa hanya diam tanpa membalas ucapan Amir.


"Bagaimana dengan pacar pertamamu itu, apakah pernah kamu, kencani?" Amir mengucapkan tepat di telinga Rafa dan kalimat terakhir agak keras.


Ira langsung melototkan matanya. Rafa yang melihat tatapan tajam Ira berusaha meyakinkan istrinya.


Amir tertawa keras melihat Rafa yang sebegitu bucinnya dengan istrinya.


Kamu memang cantik Atiya Bahira istri Rafa, aku ingin berkenalan denganmu. Dalam batin Amir. Ira yang mendengar isi hati Amir langsung, membentengi hatinya agar tidak tergoda laki-laki lain.


"Ya sudah aku mau ke belakang, mau memberikan obat pesanan Mama Novi, bye bye." Dengan melambaikan tangannya.


Rafa yang melihat tatapan Amir yang tidak biasa ke istrinya langsung mengerutkan alis saat Amir pergi, dan langsung memeluk tubuh Ira lebih erat lagi.


"Rafa, kamu kenapa sih. Lepaskan, aku tidak bisa bergerak Raf." Protesnya ke Rafa, tetapi Rafa tidak memperdulikannya.


"Aku tidak mau kehilanganmu sayang, kamu begitu cantik dan menggoda," Rafa langsung mencium bibir Ira sekilas.


"Bukankah dari dulu memang cantik dan menggoda, Raf?" Ira langsung menunjukkan lekukan tubuhnya di depan Rafa.

__ADS_1


"Eeettsss..., jangan di sini sayang. Nanti ada yang menikmati pemandangan menakjubkan ini!" jawab Rafa menunjukkan semua anggota tubuh Ira.


Ira yang malu langsung menutupi tubuhnya dengan bantal kecil yang ada di sofa.


"Oke dehhh..., ayo kita ke tambak Raf." Ajak Ira kepada Rafa. Rafa hanya diam tanpa merespon ajakan Ira.


"Gak mau," Rafa memonyongkan bibirnya.


"Kenapa?" tanya Ira penasaran.


"Ada tamu yang tak di undang barusan, kamu mau tebar pesona dengan kecantikanmu ini?" memegang wajah Ira. Ira melepaskan dekapan tangan Rafa yang ada di wajahnya.


"Hhhaaaahhhh..., jangan terlalu bucin deh. Aku juga gak bakalan pindah ke lain hati jika tidak terluka!" Ira mulai kesal dengan tingkah Rafa yang seperti ini.


"Benarkah, horeee... aku sayang Ira." Langsung menarik tangan Ira ke arah tambak belakang rumah.


Ira hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena ulah Rafa yang seperti anak kecil saja.


Para pekerja yang ada di rumah sedari tadi ingin tertawa dengan tingkah konyol tuannya ini. Saat Nona dan Tuannya pergi barulah mereka tertawa dengan puas.


Mama Novi masih melamunkan dirinya di dalam kamar, ingin sekali ia marah tetapi semua sudah menjadi masa lalu. Dan rasanya ingin meluapkan emosi yang di tahan bertahun-tahun lamanya.


Tetapi ia teringat dengan senyum bahagia putrinya dengan Rafa, ia urungkan untuk membenci terlalu dalam sosok Rafa. Bagaimana pun Rafa tidak bersalah, hanya orang tuanya dan mantan suaminya yang bersangkutan.


Mbok Nani yang tengah mengemasi dapur terkejut dengan colekan di pundaknya.


"Iya, ada apa buk?" tanya Mbok Nani pada Mama Novi.


"Mana anak-anak Mbok?" Mama Novi melihat kesana kemari, tetapi tidak menemukan kedua anaknya.


"Saya dengar mereka tadi pergi ke tambak, belakang rumah buk!" Mbok Nani meletakkan peralatan dapur yang di gunakan memasak ke tempat pencucian.


Di tambak.


Sesekali Amir melirik ke arah Rafa dan Ira yang sedang bercanda. Amir belum kembali kerumahnya karena sedang melihat-lihat kodisi tambak Mama Novi.


Amir adalah seorang sarjana perikanan, maka dari itu Mama Novi meminta Amir untuk mengecek tambaknya.


"Sayang, Amir itu teman lamamu ya?" tanya Ira tiba-tiba. Rafa yang di tanyai Ira mendadak mengerutkan dahinya.


"Iya, teman satu kelas saja sayang. Kamu jangan membahas orang lain dong sayang saat berdua begini." Protes Rafa ke Ira.


Tuhkan bucin lagi, mana sih sifat Rafa yang dulu. Ngak bucin-bucin amat, kalau seperti ini terkesan mengekang. Cuma tanya saja sikapnya seperti itu. Gerutu Ira dalam hati.


Mama Novi yang baru saja sampai di tambak langsung mencari keberadaan kedua anaknya. Melihat Rafa dan Ira duduk di pondok kecil, Mama Novi segera menyusulnya.

__ADS_1


"Ira, Rafa. Kalian sudah makan?" tanya Mama Novi.


"Belum Ma!" jawab Ira.


"Kenapa tidak makan, ayo cepat makan sana." Langsung menarik tangan Ira dan Rafa agar segera berdiri dan kembali ke dalam rumah.


Mama Novi kemudian menyuruh beberapa orang untuk mengambil makanan yang sudah di sediakan Mbok Nani, setiap hari. Dan seperti ini lah suasana kediaman Mama Novi, ramai di belakang rumahnya.


Para pekerja tambak ikan milik Mama Novi, sangat bahagia lantaran gaji dan makanan saat di tambak Mama Novi tidak pernah telat.


Terkadang justru para pekerja yang tidak enak, terlalu banyak bonus dari gajian perminggunya.


Saat berada di ruang makan, Rafa dan Ira masih saling melempar senyum. Mama Novi yang mengajak Amir masuk ke ruangan makanan hanya membatin, kedua pasangan ini.


Andai aku lebih dulu mengenalmu Atiya Bahira, pasti sekarang kamu menjadi istriku. Ingin sekali aku memeluk dan memilikimu Atiya Bahira. Jika ada waktu luang aku akan merebutmu dari Rafa, walaupun harus ada yang di korbankan. Dalam batin Amir.


Ira hanya menatap sekilas wajah Amir, Ira segera mengambilkan makanan untuk Rafa. Setelah selesai makan Ira dan Rafa berniat pulang.


"Mah setelah makan kami berpamitan pulang ya." Ira meminta izin ke Mamanya.


"Apa tidak bisa menginap lagi?" Mama Novi menatap kedua anaknya ini.


"Tidak bisa Ma, Mama kan tahu sendiri Rafa memiliki beberapa restoran. Banyak pekerjaan yang harus di urus Ma!" Ira membuat alasan, agar Mama Novi mengijinkan.


"Ya sudah, terserah kalian saja," Mama Novi memeluk Ira.


Ira dan Rafa segera memasuki mobil setelah mengambil beberapa barang-barang pribadi di kamar.


Mama Novi melambaikan tangannya saat mobil Rafa keluar dari kediamannya. Rasa sedih menyelimuti hati Mama Novi kembali.


Amir yang menatap Mama Novi bersedih langsung saja berpamitan pulang.


Saat berada di dalam mobil, sesekali Rafa melirik ke arah Ira yang sedang melamun.


"Kamu kenapa sayang?" Rafa masih fokus menyetir.


"Aku tidak kenapa-napa Raf, mungkin baru kali ini aku kembali kerumah setelah beberapa tahun tidak ke rumah Mama!" jawab Ira mengelak.


"Jika ada masalah cerita saja ke aku sayang," Rafa menawarkan diri.


Aku tidak bisa cerita ke kamu Raf, jika aku bisa,membaca hati. Aku binggung jika aku cerita pasti kamu mikirnya aku ngelantur lagi. Dalam batin Ira kebinggungan.


Bersambung.


Tinggalkan komentar dll ya teman-teman.

__ADS_1


__ADS_2