
Rafa begitu merutuki kebodohannya saat sudah sampai di Mansion Aldo Chand. Rafa di sambut baik oleh pelayan di Mansion. Ira segera berlari menemui sang suami yang ia rindukan pelukan sangat erat dari tubuh keduanya.
Rafa mencium puncak rambut Ira berkali-kali. Kemudian menangkup kedua pipi Ira dan menatapnya mata Ira dengan teliti.
"Apa kamu baik-baik saja sayang?" membelai surai rambut Ira. Ira menganggukkan kepala dan membenamkan wajahnya di dada bidang Rafa. Rafa membalas dengan pelukan hangatnya.
Aldo Chand yang baru saja dari samping kolam renang tersenyum melihat kedua insan saling melepas rindunya.
Maafkan Papamu yang bodoh ini Ira, Papa janji tidak akan mengulanginya lagi di kemudian hari. Dalam batin Aldo Chand berjalan menjauh dari anaknya.
Rafa segera melepas pelukannya dan menarik tangan Ira dengan lembut. Ira yang mendapat gengaman hangat dari Rafa tersipu malu. Seperti anak ABG yang baru jatuh cinta. Wajah Ira bersemu kemerahan seperti orang yang baru saja berlari jarak jauh.
"Kenapa wajahmu memerah sayang apa kamu sakit?" Rafa menyentuh dahi Ira. "Tidak panas apa kamu baik-baik saja?" Rafa kembali menanyai pertanyaan yang membuat Ira tambah malu.
Benar-benar seperti anak SMA saja yang baru berpacaran. Rafa yang masih menatap wajah cantik istrinya punya ide jahil.
"Sayang ada kecoa." Rafa menujuk ke arah sofa besar.
"AAA... di mana?" Ira langsung berlari dan memeluk tubuh Rafa dengan eratnya. Rafa yang di peluk Ira dengan kuat merasakan kenyamanan di dada Ira.
"Aaahhh... hangatnya." Rafa mengosok-gosokkan kepalanya di dada Ira. Ira menjadi sangat malu dan segera mendorong tubuh Rafa.
"Dasar mesum," Ira memukul tubuh Rafa dengan bantal yang ada di sofa. Rafa masih tertawa dengan pukulan Ira.
"Bukannya itu hal yang wajar bagi seorang suami berbicara seperti itu?" Rafa berusaha menghindari pukulan Ira.
"Wajar sih wajar tapi lihat kondisi dong!" Ira berusaha menyadarkan Rafa jika di dalam Mansion ini banyak sekali orang yang berkerja di kediaman Aldo Chand.
__ADS_1
Rafa dan Ira langsung terdiam tanpa suara setelah bertengkar kecil. Sampai pada akhirnya Ira membuka percakapan.
"Raf aku mau bercerita tentang penculikanku sampai Aldo Chand menyerahkan aset perusahaanya ke Rudi." Ira menatap mata hitam milik Rafa.
"Ceritakanlah sayang, aku ingin mendengar semua yang kamu alami hari ini," Rafa menghadap ke Ira begitu juga dengan Ira ia menghadap ke Rafa.
Ira menceritakan kejadian saat ia keluar dari Mansion sampai di sekap ke gudang tua, dan hampir di lecehkan oleh bawahan Rafa sampau Ira menceritakan jika ia di cium oleh Rudi untuk yang kedua kalinya. Sampai Aldo Chand menyerahkan aset perusahaan atas nama Rudi dan tentang Mansion ini yang beratas nama Atiya Bahira Chand.
Rafa mengepalkan tangannya dan rahang Rafa begitu terlihat keras.
"Aku tidak akan mengampunimu Rudi. Kamu melecehkan istriku. Aku berjanji sayang akan membuat Rudi jatuh dan bersujud di kakiku atas perbuatannya ke kamu." Rafa mencium bibir Ira dengan ******* ia berusaha menghapus bekas dari Rudi.
Ira sangat bahagia bisa mendapatkan cinta kasih sayang dari Rafa sang suami. Ira meneteskan air matanya saar Rafa mencium kening Ira sangat lama. Rafa yang menyadari Ira menangis dengan segera Rafa menghapusnya dan menenagkan hati Ira.
"Aku akan selalu di sampingmu suka mau pun duka sayang." Rafa memberikan keyakinan penuh ke Ira. Ira mengangguk paham dan percaya dengan ucapan Rafa.
"Ayo kita mulai lembaran baru Rafa, aku ingin baik-baik saja di kehidupan ini tanpa permasalahan rumit yang tak berujung seperti kemarin?" Ira menatap wajah teduh Rafa.
"Ayo sayang aku akan memegang dan menggengam erat tanganmu agar kamu selalu baik-baik saja dan jangan kamu lepaskan gengaman tangan ini!" Rafa tersenyum bahagia.
Aldo Chand bahagia melihat ketulusan dan kesungguhan Rafa kepada Ira putrinya. Rasa benci akan bayang-bayang orang tua Rafa kini semakin memudar dengan melihat Rafa dan Ira saling menguatkan satu sama lain.
Semoga tidak ada yang berusaha menghancurkan rumah tangga bahagia ini. Cukup aku yang menghancurkan rumah tanggaku dengan Mamanya Ira, tidak untuk anak-anakku kelak. Aldo Chand berdoa dalam hatinya.
Aldo Chand berjalan mendekat kearah Rafa dan Ira. Aldo Chand menepuk pundak Rafa. Rafa terkejut dengan tepukan di pundaknya yang tiba-tiba dan Rafa langsung melihat siapa yang menepuk pundaknya ternyata Aldo Chand sang Papa mertua.
Aldo Chand duduk di sebrang Rafa dan Ira. Aldo Chand bersedih dengan sikap egoisnya selama ini.
__ADS_1
"Papa minta maaf kepada kalian berdua. Papa sangat merasa bersalah dalam kejadian ini dan Papa tidak bermaksud memisahkan kalian berdua. Papa hanya takut putriku terluka seperti yang Papa alami dulu." Aldo Chand menundukkan kepalanya.
"Aku memaafkan anda Tuan Aldo Chand. Ini semua bukan kesalahan anda tetapi juga kesalahan orang tuaku yang menghianati anda dulu, jadi saya pribadi telah memaafkan anda begitu juga saya meminta maaf atas nama almarhum kedua orang tuaku." Rafa berdiri dan mengulurkan tangannya ke Aldo Chand.
Aldo Chand yang melihat uluran tangan Rafa langsung berdiri dan memeluk Rafa. Aldo Chand sangat bahagia dengan sikap dewasa Rafa, ia tambah yakin dengan Rafa jika putrinya akan bahagia dengan Rafa.
Aldo Chand menatap wajah cantik putrinya. Ira masih terdiam dengan pemandangan yang mengharukan ini. Pemandangan yang baru ia lihat seumur hidupnya.
Papa sebenarnya orang baik bahkan sangat baik. Tetapi kenapa aku masih sulit menerima jika dia adalah Papa kandungku. Rafa saja bisa memaafkannya kenapa aku sulit sekali. Ira masih bertengkar dengan akal logikanya.
Ira berdiri dan berusaha melangkah mendekat ke Rafa dan Aldo Chand. Ira terdiam ia binggung harus memulai dari mana rasa canggung menyelimuti ucapannya.
Aldo Chand melepas pelukannya dan langsung memeluk tubuh putri tercintanya air mata menetes deras di wajah Aldo Chand. Begitu juga dengan Ira rasa rindu dengan sosok seorang ayah kini terobati sudah.
Ternyata seperti ini rasanya di peluk seorang Papa. Ira masih meneteskan air matanya.
"Maafkan Papa yang selama ini egois dan meninggalkanmu Ira. Maafkan Papa nak." Memeluk erat tubuh Ira.
Ira menganggukkan kepala. "Iya aku memaafkan Papa," Ira melepas pelukannya.
Setelah kejadian itu dan saling berlapang dada kini rasa canggung sudah tidak ada dengan berjalannya waktu.
2 bulan kemudian.
Ira merasakan perutnya sakit dan seperti akan mual saja. Rafa sangat binggung dengan sikap Ira yang barusan tidak seperti biasanya Ira mengeluk kesakitan seperti itu. Rafa segera membawa Ira ke Rumah Sakit.
Bersambung.
__ADS_1