
**Sabar saat menghadapi ujian. Memang kita di ciptakan punya indra yang lengkap, tapi hargailah mereka yang punya kekurangan jika ingin kamu di hargai. Perbedaan itu adalah kita.
Tetap semangat di musim seperti ini dan jangan lupa jaga kesehatan.
Selamat membaca**.
_ _ _
Setelah bertelepon dengan Rafa panjang lebar. Ira memberitahukan ke Rafa keberadaannya, jika dirinya ada di kediaman Aldo Chand. Rafa memberi sedikit saran ke Ira agar berhati-hati dengan Aldo Chand. Takutnya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Ira hanya terdiam setelah bertelpon dengan Rafa, rasa sedih dan bersalahnya kian meningkat di hatinya. Setelah mengetahui penyebab kematian kedua orang tua Rafa, terus kehilangan babynya dan sekarang gara-gara dirinya lagi. Rasanya tidak sanggup hidup ini. Hati terasa sakit hancur berkeping-keping.
"Aku tidak ingin ke hilanganmu Rafa, kamu yang menyembuhkan luka di hatiku. Dan kamu yang menghangatkan hatiku yang dingin karena badai. Bagaimana kisah cinta kita ini. Sanggupkah aku hidup tanpamu?" Ira masih menatap foto profil Rafa di telponnya. Air mata lolos dari sudut mata. Sesekali Ira segera menghapusnya.
Kemudian ia bangkit dari duduknya menuju balkon kamar yang ia gunakan. Pandangan kosong menghiasi wajahnya. TTRRINNGG.... Pesan singkat masuk ke ponsel Ira.
💬Aku mencintaimu dan aku merindukanmu sayang, jawab pesanku. (SUAMI BUCIN)
💬Aku juga Rafa, kamu dimana. Apa kamu di rumah? (PANDA BUCIN)
💬Iya aku dirumah, (SUAMI BUCIN)
💬Aku ingin memberi tahumu sesuatu Rafa, ada hal yang penting. Aku telpon ya. (PANDA BUCIN)
💬OKE, aku tunggu sayang. (SUAMI BUCIN)
Suara deringan ponsel terhubung. Ira segera berlari dan mengunci kamarnya.
"Semoga tidak ada yang mendengar," Ira langsung mengenakan earphone ke telinganya. "Hallo Raf, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, ini tentang Rudi dan rencana besarnya. Kamu dengarkan baik-baik ya." Ucap Ira berhenti sebentar.
"Iya aku dengarkan, terus apa rencana besarnya?" tanya Rafa di balik telepon.
"Begini!" Ira menjelaskan semua rencana Rudi ke Rafa, tentang menguasai harta Aldo Chand dan soal ancamannya kepada Rafa.
Rafa yang berada di balik telpon mengumpat Rudi berkali-kali. Sambil mengepalkan tangannya.
"Jadi Raf, kita ikuti saja dulu. Saat bertemu kita pura-pura saja saling menjauh satu sama lain. Untuk memancing ikan di dasar laut. Bagaimana?" tanya Ira penuh harapan.
__ADS_1
"OKE, ayo kita jalankan, kita putar balikkan permainan caturnya. Sesekali ingin memberi pelajaran untuk baji**** kecil!" jawab Rafa di iringi tawa.
Ira juga tertawa tetapi di tutupi oleh bantal agar tidak terdengar keras. Takutnya kamar yang di kenakan tidak kedap suara.
Setelah berbicara panjang lebar tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"Raf aku tutup dulu ya, bye bye sayang, eemmuahh. Takut ada yang menguping." Pamit Ira kemudian mematikan ponselnya.
Rafa hanya menggelengkan kepala keheranan dengan Ira istrinya. Padahal di rumah Papanya sendiri, tetapi kelakuannya seperti ia menumpang di rumah orang lain saja.
Rafa tersenyum lebar dengan pemikiran Ira yang cerdas dan berhati-hati.
Setelah membuka pintu kamarnya ternyata Aldo Chand yang mengetuk pintunya.
"Pah, ada apa Papa ke sini?" tanya Ira basa basi. Ira menyunggingkan senyum manisnya.
"Kamu cantik sekali seperti almarhum Momy!" jawab Aldo Chand.
Kemudian menceritakan kisah pilu Momynya, yang meninggal karena kecelakaan yang di lakukan oleh rekan kerjanya. Berita duka itu membuat sang Dady serangan jantung tiba-tiba dan meninggal saat di bawa ke rumah sakit terdekat.
Aldo Chand tersenyum dan mengusap pipi Ira dengan lembut. Ira yang mendengar kisah pilu Nenek dan Kakeknya sedikit ada rasa iba kepada Aldo Chand sang Papa kandungnya.
"Ayo makan Nak, setelah itu kamu bebas mau melakukan apa saja." Ucap Aldo Chand meninggalkan Ira.
Ira segera berjalan menelusuri anak tangga. Para pelayang menyapa dan mempersilahkan Ira untuk duduk. Setiap pelayan memiliki tugas masing-masing di dalam setiap penjuru mansion Aldo Chand.
Haduhhh..., kayak baby saja semua di layani. Di rumah Mama saja hanya ada beberapa asisten rumah tangga saja aku kabur, apa lagi seperti ini. Seperti di sel tahanan saja. Ira membatin dan segera memakan makanan yang tersedia.
Setelah selesai makan malam dengan Aldo Chand, Ira meminta Aldo Chand untuk bicara 4 mata. Aldo Chand segera memberi kode kepada para pelayan di rumahnya untuk pergi.
"Ada apa Nak, kelihatanya penting sekali?" Aldo Chand menautkan kedua tangannya di atas meja.
"Aku di sini hanya ingin menyelesaikan misiku, jadi jangan perilakukan aku seperti putri raja. Dan satu lagi aku tidak suka kepura-puraan. Jujur saja aku tidak menyukai anda Tuan, lantaran anda tega menyakiti Mama saya. Dan setelah misiku selesai saya harap anda tidak menemuiku lagi." Ira beranjak pergi meninggalkan Aldo Chand yang terkejut dengan penuturan putrinya barusan.
Tubuh Aldo Chand mendadak seperti mati saja. Rasa sedih dan bersalah menyakiti tubuh dan jiwanya, air mata yang tidak pernah jatuh setelah kematian ibunya 30 tahun yang lalu. Kini menetes lagi.
Ira yang berada di lantai atas segera memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Anda memang pantas mendapatkannya. Rasa sakit ini tidak sama seperti yang anda perbuat kepadaku. Ira segera membuka pintu kamarnya.
Ira masih membayangkan kejadian kelamnya dulu saat masih kecil. Ia selalu mendapat julukan anak tidak punya ayah bahkan yang lebih kejamnya ia di sebut anak haram. Karena para tetangganya tidak tahu jika Mama Novi sudah menikah, karena acaranya tertutup. Pernikahan yang hanya terjadi 1 bulan saja kemudian bercerai.
Seorang anak kecil yang di perlakukan seperti itu menjadi minder dengan teman-temannya. Ira selau menyendiri, walaupun ia berprestasi dalam segala hal, tetapi tidak ada satupun teman semasa sekolah dulu. Ira kecil hanya bertekat tamat SMA saja.
Dan semua itu terjadi, ia tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Ira memang kesulitan beradaptasi dengan dunia sekolah karena ada trauma mendalam di dalam dirinya.
Suara deringan ponsel Ira membuyarkan lamunannya. Ira segera mengangkatnya.
📲Drrrttt... drrrttt... tik... tok... tik... tok....
Ira segera mengankatnya tertera nama SUAMI BUCIN.
"Hallo ada apa Raf?" Ira menempelkan ponselnya ke telinga kanan.
"Sudah makan belum?" tanya Rafa di balik telepon.
"Sudah baru saja, kalau kamu Raf. Sudah makan belum atau sudah mandi, pasti belumkan." Ira meledek suaminya.
"EE... HEE... HEE... HEE..., sudah," Rafa memonyongkan bibirnya.
"Ayo vidio call Raf." Ira mengalihkan panggilannya ke vidio. Untung hidup di jaman moderen dan gampang seperti sekarang, kalau tidak pasti rindu setengah mati.
Rafa tersenyum lebar saat wajahnya terlihat di layar ponsel. Rafa menceritakan semua pengalamannya dari kemarin sampai hari ini tanpa ada Ira.
"Hai, panda kecil kamu gendutan ya di rumah Papamu? seperti kendi air saja." Rafa menjulurkan lidahnya.
Ira juga tidak tinggal diam.
"Aku tahu kamu tidak bisa tidurkan tanpa aku. Panda yang menggemaskan ini yang super cantik, bahenol dan pokoknya super-super semua yang ada di diriku ini, iyakan?" Ira menggungulkan dirinya sendiri.
"AAA... HAHA... HAA..., iya kamu memang super. S...U...P...E...R M...A...K...A...N." Rafa tertawa geli sampaI jungkir balik di ranjang tidurnya.
Ira memonyongkan bibirnya, niatnya ingin membuat suami bucinnya ini rindu, malah dapat candaan. Ira yang kesal mematikan ponselnya. Rafa hanya menatap sekilas dan masih tertawa geli.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf jika masih ada beberapa kata yang kurang tepat di baca.