
Rafa menoleh dan mengecup pipi Ira sebentar. Ira yang mendapatkan ciuman di pipinya merasa malu. Bagaimana tidak ini di tempat umum di pinggir jalan. Rafa membeli banyak ikan hias hampir semua ikan hias yang bergelantungan di kantong plastik. Berbagai macam ikan.
Suara deringan ponsel Rafa terdengar nyaring saat berada di perjalanan menuju rumah. Tertera nama Meisie. Ira memonyongkan bibirnya ke samping cendela. Rafa mengangkatnya.
"Yaa..., hallo ada apa Mei?" tanya Rafa.
"Apa kamu bisa kesini, perutku sakit!" merintih kesakitan.
"Aku sibuk. Apa tidak ada orang lain di villamu?" tanya Rafa yang sudah malas menanggapi Meisie.
"Kamu tega ya Raf sama aku, apa kamu tidak mencintaiku?" Meisie menanti jawaban Rafa.
Rafa menatap wajah Ira, melihat Ira mengacuhkannya membuat Rafa ingin memanasinya.
"Oke, kalau begitu aku kesana. Tunggu aku ya." Jawab Rafa.
Ira yang mendengar semua percakapa Rafa dan Meisie berkobar-kobar api dalam tubuhnya. Karena Rafa membesarkan suara ponselnya.
Sesampainya di rumah Ira langsung berlari masuk kedalam rumah. Tanpa menunggu Rafa membukakan pintu mobil. Rafa mengeluarkan semua ikan yang ada di jok belakang mobil, dan menyuruh Mang Aan (tukang kebun) memindahkannya ke kolam kecil yang ada di taman.
Rafa membiarkan Ira sendiri agar lebih baik. Rafa melajukan mobilnya menuju villa Meisie. Ira yang meratapi kepergian Rafa dari balik cendela tersenyum kecut.
"Dasar laki-laki, jika tidak mencintaiku bilang saja. Haaahhh... aku harus bagaimana sedangkan saat ini aku berbadan dua?" tanya pada diri sendiri.
Ira menerima pesan dari orang berinisial R. Banyak tulisan mengenai pujian-pujian untuk Ira. Ira hanya membacanya tanpa membalasnya. Kemudian pesan masuk lagi sebuah ancaman. Jika Ira tidak melepas Rafa maka orang yang berinisial R akan membunuh Rafa.
"Siapa orang ini, atau jangan-jangan ini berkaitan dengan kematian orangtua Rafa???" Ira meletakkan ponselnya di meja kecil.
Rafa yang baru saja sampai di villa Meisie segera masuk saat pembantu Meisie menunjukkan arah kamar Meisie. Meisie terlihat pucat sekali. Rafa mendekat dan menanyai keluhan apa yang di rasakannya.
Meisie dalam batinnya tersenyum penuh kemenangan, saat ini ia berpura-pura sakit dengan bantuan menggunakan makeup. Agar Rafa percaya jika dia sakit.
Beberapa waktu lalu Meisie mengancam Ira dengan pesan-pesan menyeramkan, agar Ira melepas Rafa dari genggamannya. Meisie meminta Rafa tetap tinggal di villa sampai besok pagi, agar Ira semakin membenci Rafa. Rafa yang masih dalam keadaan berpura-pura hilang ingatan mengiyakannya. Agar lebih terlihat aktingnya.
"Raf..., kamu dimana. Apa kamu masih bersamanya dan melanjutkan dramamu. Sampai kapan?" ucap Ira bersedih.
__ADS_1
Saat ini Ira di rumah hanya sendirian bersama pembantu, sebab Bibi Nilam berada di luar kota sejak sore tadi dan tidak bisa di pastikan kapan kembali sebab Paman Adi sibuk di sana.
Masalah perawatan burung yang ada di rumah Rafa di urus oleh tukang kebun. Ira mencoba menelpon berkali-kali kepada Rafa namun tidak ada jawaban. Sebab Rafa lupa jika ponselnya berada di dalam mobil. Rafa benar-benar lupa dengan ponselnya dan mengabari Ira.
Ira mondar mandir dengan pikiran cemas. "Aku mencemaskanmu sayang, kamu dimana?" Ira memutar-mutarkan ponselnya.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari Meisie. Sebuah foto jika Rafa tengah menyuapi Meisie. Saling melempar senyum. Ira menatap tajam foto yang baru saja ia terima. Ira mengepalkan tangannya.
"Setidaknya beritahu aku Raf jika kamu tidak pulang." Ira mematikan ponselnya dan segera tidur.
Keesokan harinya.
Ira sudah lama tidak mengunjungi restoran Rais, rasa rindu akan tempat berkerjanya dulu menuntun Ira untuk memasuki restoran tersebut. Banyak perubahan di setiap ruangan, dari bagian depan yang lebih sederhana namun elegant dan di tambah lagi dengan hiasan-hiasan normal dan tidak terlalu heboh.
Mahnoor tidak bekerja lagi setelah menikah beberapa waktu lalu. Rais yang baru saja memasuki restorannya tersenyum melihat wanita yang berhasil singgah di hatinya.
"Ira..." sapa Rais menarik kursi dan duduk di depan Ira.
"Eemmm..." dengan wajah sedih. Tiba-tiba Ira menangis.
"Eeehhh... kenapa menangis Ira, ada apa?" menepuk-nepuk pundak Ira. Ira sedikit terhibur dengan adanya Rais. Laki-laki yang pernah singgah di hatinya, walaupun cuma sebentar.
"Ira, ceritalah mungkin saja aku bisa membantumu. Apa Rafa masih hilang ingatan?" tanya Rais hati-hati.
DDEEGHHH....
"Dari mana kamu tahu jika Rafa hilang ingatan?" menatap tajam Rais.
"Aku tidak sengaja mendengarnya saat aku mampir di restoran suamimu, dan saat itu ia mengobrol asik dengan Meisie!" jawab Rais keceplosan, Rais segera menepuk-nepuk mulutnya sendiri.
Bodohhh... bodoh... kenapa keceplosan sih, pasti Ira marah ini. Dalam batin Rais.
"Aku sudah tahu Rais, aku memasang CCTV di semua restoran Rafa bahkan sampai cabangnya." Jawab Ira datar.
"Haaaahhhhh......" Ira menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Ada apa sih Ira, apa Rafa menyakitimu lagi atau apa?" Rais menatap wajah imut Ira.
"Semalam dia tidak pulang, terakhir yang aku tahu ia pergi ke villa Meisie!" jawab sedih Ira dengan mengusap perut ratanya.
Rais tidak tahu jika Ira berbadan dua, sebab saat Ira mengusap perut ratanya tertutup meja.
"Kenapa, apa Rafa masih mencintainya?" tanya Rais penasaran.
"Tidak, dia melakukan misi untuk menjadikan Meisie sebagai saksi kecelakaan orang tua Rafa!" Ira menceritakan semua masalahnya.
Ira juga meminta Rais untuk tidak membeberkan jika Rafa sudah sembuh dari hilang ingatannya. Rais menganggukkan kepalanya.
"Terus, saat ini kamu korban sakit hati?" tanya Rais berterus terang.
"Mungkin!" Ira tertunduk kebawah dan meremas celana komprangnya.
"Aku siap membantumu Ira, dan juga sebagai sandaranmu. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Apa boleh?" Rais memberikan sebuah kotak kecil.
Ira menatap kotak kecil tersebut dan tidak membukanya.
"Bukalah, itu bukan apa-apa. Aku sebenarnya ingin memberimu itu sejak kamu menikah Ira, namun waktunya selalu tidak tepat." Rais menyodorkan kotak tersebut.
Ira menerima dan membukanya, Sebuah gelang berwarna putih keemasan dengan perpaduan warna biru di titik-titik hiasan.
"Apa kamu suka?" tanya Rais yang melihat pancaran sinar bahagia di wajahnya.
"Eeemmm..., aku suka tapi. Aku tidak pantas menerima ini. Bagaimanapun kamu masa laluku?" ucap santai Ira.
"Apa kamu masih belum memaafkanku?"
"Sudah tapi sulit, aku tahu kamu sering berucap seperti ini kan untuk wanita-wanitamu yang lain?" Ira bertanya tanpa basa basi.
"Aku tidak seperti itu, kamu wanita pertama yang berhasil menerobos hatiku. Tapi aku juga yang pertama kali menyakitimu. Jadi aku mohon terima gelang ini, simpanlah okee. Apa bisa?" Rais sudah pasrah sekarang.
"Oke aku simpan tapi tidak janji, jika Rafa tahu terus membuangnya jangan sedih dan jangan salahkan aku!" Ira berdiri dari kursinya dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Ira aku siap membantumu kapanpun kamu mau." Rais menawarkan diri.
Ira hanya mengangkat jempolnya, bertanda setuju.