
Aldo Chand yang sudah bersiap-siap kini tersenyum dengan bangganya sekian tahun tidak mengujungi kediaman Novi sang mantan istri seperti apa keadaannya sekarang apakah masih sama seperti dulu atau banyak berubah.
Sesampainya di kediaman Novi. Aldo Chand keluar dari mobil pribadinya nampak tampan dan gagah walaupun umur sudah setengah abad lebih. Para pembantu di rumah Novi yang sudah tau jika ada tamu menyambutnya dengan baik dan ramah.
Novi yang baru selesai berganti pakaian dan sedikit polesan natural terlihat cantik dan anggun. Amir yang terkejut dengan tampilan Novi hanya mengeluarkan senyum simpulnya. Aldo Chand yang di tunjukkan ruang keluarga langsung menuju tempat tersebut.
Aldo Chand berdiri menghadap keluar cendela besar rumah Novi. Novi yang baru saja sampai begitu salah tingkah saat menatap tubuh tegap milik Aldo Chand. Amir tidak tinggal diam ia segera menyusul Novi.
"Apa kamu baru datang?" Novi mendekat ke Aldo Chand dan menepuk pundaknya. Aldo Chand langsung melihat tepukan di pundaknya tersebut.
Aldo Chand terkesima dengan penampilan Novi saat ini, namun ia segera menyadarkan pandangan terpesonanya. Aldo Chand tersenyum sedikit.
"Iya aku baru saja datang!" jawab Aldo Chand saat melihat ke belakang Novi ia menatap pemuda yang umurnya hampir sama dengan sang menantu Rafa. "Eemmm dia siapa?" Aldo Chand menatap pria muda tersebut.
"Dia Amir, orang yang membantuku saat usahaku di ambang kehancuran!" Novi tersenyum dan langsung menarik tangan Amir untuk duduk di sampingnya. Aldo Chand juga di suruh duduk oleh Novi.
Haduhhh seperti obat nyamuk saja aku saat ini. Pemuda ini begitu mempesona dan tampan, aku tidak ada secuilnya. Apalagi ia masih terlihat kuat melakukan apapun. Dalam batin Aldo Chand menepuk-nepuk hatinya.
Amir merasa menang karena membuat Aldo Chand gelisah tak karuan. Amir sadar jika jarak umurnya dengan Novi terlampau jauh tapi bagaimana lagi hati tidak bisa berbohong meskipun sampai saat ini Amir menutupi hatinya agar Novi tidak menjauh darinya. Amir selalu menujukkan sikap baik dan dewasanya kepada Novi.
Setelah makan malam selesai Aldo Chand berpamitan ke Novi. Amir mengepalkan tangannya saat melihat Aldo Chand berpamitan dengan mencium tangan Novi. Aldo Chand kemudian tersenyum melihat raut wajah Amir yang kesal.
Anak muda apa kamu belum pernah mencium tangan Novi??? AA... HAA... HAA.... Aldo Chand segera melambaikan tangannya.
Amir yang masih jengkel dengan kelakuan Aldo Chand segera berpamitan ke Novi. Novi mengiyakannya tanpa mencegah kepulangan Amir. Saat di dalam mobil miliknya Amir uring-uringan karena Novi tidak peka dengan perasaan yang selama ini ia tunjukkan walaupun caranya belum benar dan tepat.
"Dasar wanita ngak peka. Apa tidak bisa melihat cinta di dalam diriku?" Amir memukul setir mobilnya berkali-kali.
__ADS_1
Di rumah Rafa Aditya.
Rafa masih begitu posesif dengan setiap pergerakan Ira. Ira yang melihat kelakuan aneh Rafa langsung menyentil dahi Rafa.
TTAAKKK...
"Awww sakit sayang." Ucap Rafa dengan nada memelas sambil mengosok-gosok dahinya yang terkena sentilan tangan Ira.
"Makanya jangan mengukutiku kemana-mana. Membosankan," ucap Ira mulai kesal.
Karena setelah dari kolam ikan sore tadi sampai sekarang pukul 9 malam Rafa terus mengekori sang istri kesana kemari dan itu membuat Ira tidak bisa bergerak bebas. Bahkan mau buang sesuatu saja ia urungkan.
Rafa memonyongkan bibirnya saat Ira berkata membosankan di akhir kalimatnya. Rafa terdiam di tempat tersebut. Ira menghela nafas panjang.
"HHHAAAHHH..., ayo kembali ke kamar setelah meminum susu ini." Ira menyodorkan satu gelas susu kepada Rafa. Ira segera minum satu gelas lainnya.
Benar-benar seperti anak kecil saja, tapi walaupun sifat Rafa seperti ini membuatku takut kehilangan dirinya. Dia hanya seperti ini saat bersamaku ketika ia di resto kembali dingin seperti asal usulnya dulu. Dalam batin Ira tertawa cekikikan jika mengingat perilaku Rafa saat dirumah dan di resto berbeda 180 derajat.
Malam semakin larut dua pasangan suami istri ini tidur terlelap dengan lengan Rafa yang menjadi tumpuan Ira san istri tertidur sambil memeluk tubuh Rafa seperti guling.
CCITTT... CIITT.. CITT..., suara burung berbicara ria di luar cendela, sudah berapa jam mereka tertidur sampai-sampai burung bersuara saja tidak bisa membangunkan dua insan yang romantis ini.
"Aaadduhhh... pinggangku sakit, perut juga keram apa jangan-jangan aku datang bulan???" Ira berusaha bangkit namun di cegah oleh tangan berotot Rafa.
"Mau kemana sayang?" Rafa memencingkan matanya karena masih baru bangun tidur dan matanya kesilauan sorot lampu kamarnya.
"Aku mau ke toilet sepertinya aku datang bulan Rafa!" berusaha bangkit setelah Rafa menyingkirkan lengannya di perut Ira.
__ADS_1
Belum ada 5 menit masuk kamar mandi Ira berteriak.
"AAAAA..., Rafa tolong aku." Ira teriak begitu ketakutan sekali sampai memekik telinga suaranya.
Rafa segera bergegas ke kamar mandi saat akan membuka pintu ternyata Ira menguncinya dari dalam.
"Sayang bukalah dulu pintunya, aku tidak bisa masuk?" Rafa berbicara di luar pintu kamar mandi dan mengetuknya berkali-kali.
Ira membukanya dan Rafa terkejut saat melihat darah berceceran di kamar mandi. Ira yang lemas langsung menujukkan gumpalan kecil di lantai kamar mandi.
Rafa seketika shock dengan apa yang di lihat gumpalan kecil mirip sekali dengan janinnya dulu. Di dalam pikiran Rafa apa ini anak kedua yang tidak bisa lahir kembali ke dunia ini, pertanyaan muncul di pikiran Rafa. Tanpa pikir panjang Rafa langsung mengendong Ira dan menyuruhnya duduk di kursi. Dengan cepat Rafa mengambil kain bersih dari lemari dan membungkus gumpalan kecil tersebut.
RS BUNDA CINTA.
Ira segera di larikan ke rumah sakit, Rafa begitu hawatir dengan kondisi Ira saat ini. Ira sedang di bersihkan kandungannya karena mengalami ke guguran untuk yang kedua kalinya dan setelah selesai melakukan pembersihan kandungan Ira. Ira di bawa di ruang rawat pasien.
Dan tentang bayi yang Rafa bungkus dengan kain tadi ia serahkan ke Dokter kandungan, setelah mendapat penjelasan ternyata janin yang di kandung Ira berumur 11 minggu. Bahkan Dokter menyarankan agar melakukan program kehamilan jika ingin memiliki keturunan, tentu saja setelah keadaan Ira membaik barulah datang kemari untuk konsultan. Rafa segera berpamitan untuk memakamkan sang jabang bayi.
Rafa sudah membawa sang jabang bayi ke tempat peristirahatannya yang terakhir dan di sandingkan dengan sang kakak yang sama meninggal di usia 2 bulanan.
Rafa kembali ke RS setelah dari pemakaman dan membersihkan tubuhnya. Rafa berjalan dengan pikiran kosong setibanya di depan pintu tempat Ira beristirahat Rafa menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan pelan.
CCKKLLEEKK...
Ira menatap siapa yang datang, mata Ira masih sembab karena menangisi bayi yang tidak ia ketahui keberadaannya karena ia tidak merasa sedang mengandung.
Rafa segera memeluk tubuh Ira dan sama-sama menangis di ruangan tersebut.
__ADS_1