
Mama Novi percaya saja dengan ucapan Rafa barusan, tidak mungkin Rafa berbohong pasalnya selama ini Rafa terkenal jujur walaupun banyak sekali yang memfitnahnya ini itu.
Kepribadian yang kuat dan sabar serta jujur Rafa membuat Novi menyerahkan putrinya dulu.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Novi menatap kedua anaknya.
"Aku belum Ma, kalu Ira baru saja makan karena sedih aku menyuruhnya makan lebih dulu untuk menenangkan perasaannya!" Rafa tersenyum dan membalikkan piring yang ada di depannya.
"Aku ambilkan ya. Ma ayo sekalian sarapan pagi." Ira menawarkan sarapan untuk Mamanya.
"Kalian makan saja Mama sudah makan dirumah. Hari ini Mama mau keluar kota," Mama Novi bergegas pergi.
"Hati-hati Ma." Ira mencium punggung tangan Mamanya begitu juga dengan Rafa.
Setelah kepergian Mama Novi terjadi keheningan di meja makan. Ira terdiam sementara Rafa melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Rafa berpamitan pergi ke restorannya, Ira yang tadinya ingin ikut mengurungkan diri lebih baik di rumah dan merenungi kesalahannya saat ini.
Restoran Rafa Aditya.
Rafa semakin dingin saja saat ini. Para karyawan Rafa tidak ada yang berani berbicara apa-apa saat ini. Hanya kepala chef yang berani mendekat Rafa dan menanyai ingin minum atau makan apa.
Namun Rafa hanya melirik saja tanpa bicara satu kata pun. Kepala Chef tersebut segera berpamitan saat mendapat lirikan tajam seperti ingin membunuh.
Tak terasa waktu sudah menujukkan pukul 5 sore, Rafa bergegas pergi dari restorannya setelah mengecek seluruh pemasukan di semua anak cabang restorannya.
Hari ini Rafa tidak merasa lelah dan ingin cepat-cepat pulang seperti biasanya, ia malah mampir ke tempat yang jarang bahkan sekali dua kali ia berpijak.
Di sebuah club.
Rafa memesan satu gelas wine, setelah memesan ia mencicipinya. Entah rasa apa yang saat ini di rasakan Rafa segera menghabiskan satu gelas tersebut dan membayarnya ia sungguh tidak bisa berlama-lama di tempat itu.
__ADS_1
Saat berada di dalam mobil bayang-bayang istrinya yang tidak mengenakan pakaian dengan laki-laki lain terpintas, walaupun itu melalui layar ponsel saja. Entah foto itu asli apa rekayasa, melihat Ira yang terus meminta maaf ia yakin jika foto itu asli no rekayasa.
"Iisshhh... memang lucu kamu panda bucinku. Ingin sekali aku percaya padamu tapi foto dan ucapanmu yang selalu meminta maaf membuatku yakin jika kamu. AAHH... sial." Rafa segera melajukan mobilnya menuju rumah.
Ira yang berada di dalam kamar begitu cemas dengan Rafa sang suami yang belum pulang, biasanya Rafa pulang sebelum jam 6 sore sudah berada di rumah. Namun saat ini jam menujukkan pukul 9 malam.
"Mungkin Rafa ada kepentingan sudahlah lebih baik aku tidak usah memikirkan yang macam-macam." Ira segera ke kamar mandi untuk mencuci muka kemudian tidur.
Belum sempat Ira memejamkan matanya suara hendel pintu terbuka. CCKKLLEKK..., Rafa membuka pintu kamar dan langsung menuju kamar mandi untuk mandi dan berganti pakaian tidur.
Ira hanya menatap sekilas Rafa yang baru datang. Ira masih berpura-pura tidur ia tidak sanggup jika melihat Rafa yang baru pulang rasa bersalah Ira semakin menjadi saat Rafa memancarkan wajah sedihnya.
Setelah mengenakan pakaian tidur Rafa segera merebahkan dirinya di samping Ira. Ira yang memunggungi Rafa ingin sekali menangis namun ia tahan sekuat mungkin. Rafa yang sudah terbiasa tidur memeluk Ira kini mulai gelisah paska satu minggu tidak memeluk Ira sang istri. Rasa rindu itu tiba-tiba muncul dan mengalahkan semua kejadian akhir-akhir ini di rumah tangganya.
Rafa segera membalikkan badannya dan memeluk Ira dengan possesif. Ira yang mendapat pelukan erat dari Rafa kini mulai terisak kembali. Tangisan yang ia tahan sedari tadi kini pecah kembali. Rafa membalikkan posisi Ira yang memunggunginya, Rafa menatap wajah sembab Ira karena menangis.
Ira membenamkan wajahnya ke dada bidang Rafa dan Rafa membalasnya dengan pelukan hangat.
Pagi hari.
Dua insan yang saling berpelukan ini masih melanjutkan tidurnya. Karena capek dengan posisi yang masih berpelukan Ira membuka matanya dan ia tatap wajah tampan dan mempesona Rafa.
"Jangan melihatku terus aku jadi malu sayang." Rafa membuka matanya tiba-tiba.
Ira yang ketahuan menatap Rafa tanpa berkedip kini malu sendiri terlihat wajahnya yang kemerahan. "Siapa yang melihatmu aku cuma memastikan jika ini Malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan di hidupku," Ira tersenyum lebar sekali.
"Aku mencintaimu sayang." Rafa menciumi kembali wajah Ira namun ciuman ini berhenti saat berada di bibir Ira.
Tanda tanya muncul saat ciuman itu berhenti. Rafa tersenyum saat melihat Ira yang gelisah karena ia menghentikan aksinya pagi hari.
__ADS_1
"AA... HAA... HAA..., kamu kenapa sayang. Kamu berharap aku melakukan lebih?" tanya Rafa yang masih tertawa saja. Ira menganggukan kepalanya bertanda ia menginginkan lebih.
Rafa yang melihat Ira menganggukan kepala tidak tinggal diam Rafa menindih Ira melepas semua hasrat dalam diri masing-masing. Setelah melakukan aktivitas panasnya pagi hari Rafa mengajak Ira untuk mandi bersama.
Setelah mandi mereka berdua sarapan pagi, rasa lelah setelah beraktivitas panjang paginya membuat cacing-cacing yang ada di dalam perut meronta-ronta.
"Sayang lagi buat apa?" Rafa memeluk Ira dari belakang dan meletakkan dagunya di pundak Ira. Ira tersenyum bahagia suami bucinnya kini mulai ceria kembali.
"Ini aku menumis sayur buncis Rafa. Eemmm apa kamu mau?" Ira menyodorkan sepucuk sendok untuk mencicipi masakannya barusan.
"Eemm enak bahkan enak sekali sayang!" Rafa melepas pelukannya dan mengambil piring.
Ira menatap piring yang di bawa Rafa. "Kenapa hanya mengambil satu saja Raf?" Ira mengambilkan sayur yang ia masak ke piring Rafa.
"Kita makan berdua oke!" Rafa tersenyum gembira. Ira mengangguk dan melepas clemek yang ia kenakan.
"Aaa..., buka mulutmu sayang." Rafa menyuapi Ira dengan satu sendok penuh.
Setelah selesai sarapan pagi Rafa mengajak Ira untuk jalan-jalan ke sebuah pegunungan. Setelah 1 jam lebih perjalanan Rafa memarkirkan mobilnya ke pinggiran jalan.
Rafa menarik dan menggengam erat jari jemari Ira. Sesampainya melihat pemandangan dari atas Rafa mengajak Ira untuk berteriak sekencang-kencangnya.
"Ayo kita teriak sama-sama sayang. Lepaskan semua keluh kesah yang terjadi di rumah tangga kita, oke." Rafa menangkupkan kedua tangannya ke mulut begitu juga dengan Ira.
"AAAAAAAA......," Ira dan Rafa tersenyum lega setelah puas berteriak sekencang-kencangnya.
"Apa sudah puas atau mau teriak lagi?" tanya Ira yang menatap wajah tersenyum Rafa.
"Iya sudah puas, ayo kembali setelah ini kita jalan-jalan di perkebunan ini ya." Rafa menarik tangan Ira dan mengajaknya turun untuk menelusuri perkebunan teh.
__ADS_1