
Setelah keluar dari restoran Rais, Ira tersenyum puas.
"Dengan begini aku tidak merangkul beban di pundakku sendirian. Walaupun harus mengorbankan kamu kedepannya, aku yakin kamu paham Rais." Ira segera melajukan mobilnya.
Kemacetan melanda jalan. Membuat Ira hanya bersabar menunggu.
"Ada apa sih di depan, kenapa ramai sekali?" tanda tanya muncul, siapa yang kecelakaan di benak Ira.
Satu jam lamanya baru kemacetan selesai, rasa panas di dalam mobil mulai mereda saat kendaraan melaju. Ira memberhentikan mobilnya di sebuah minimarket. Saat masuk di dalam ia curiga dengan orang yang mengenakan masker dan topi.
"Siapa sih dia, kenapa aku merasa pernah bertemu dengan orang itu. Tapi dimana ya???" Ira segera menepis pikirannya dan membeli sesuatu yang di inginkan.
Semua yang di ambil Ira rasa masam. Dari minuman rasa jeruk dan asam kemudian wangi-wangian mobil rasa lemon dll.
Saat akan membayar orang yang tadi mengenakan masker dan topi, menyodorkan kartunya dan menyuruh membayarnya sekalian.
Ira terbengong di tempat. Dan mengucapkan banyak terimakasih kepada orang tersebut, orang tersebut hanya menganggukkan kepala saja dan berlalu pergi.
Siapa sih orang itu, aku jadi curiga. Jangan-jangan mau menculikku? aku haru was-was, apa lagi aku sekarang tidak sendirian. Ucap Ira dalam hati dan memegang perutnya.
Ira bergegas mengendarai mobilnya. Saat sampai di dalam garasi mobilnya ia buru-buru mencopot plat mobilnya yang palsu.
"Haaahhh... untung Rafa belum pulang, aku harus menyembunyikan ini di atas almari. Aku berjaga-jaga jika orang itu mengikuti lagi dia tidak bisa melacak mobilku." Ira segera merebahkan tubuhnya.
Suara deringan ponsel terdengar, Ira segera mengangkatnya karena begitu berisik.
"Yaa..., hallo siapa?" tanya Ira tidak menanggapi.
"APA... KAMU LUPA SAMA AKU?" teriak Mahnoor.
Ira menggosok-gosok telinganya yang terkejut, Ira segera bangkit dari duduknya.
"Tidak, aku masih ingat!" memakan buah jeruk dalam cup.
"Jika masih ingat kenapa punya masalah tidak bicara denganku?" Mahnoor mengintrogasi Ira.
"Aku tidak punya masalah!" ucap Ira santai.
"Kalau tidak punya masalah, ini apa?" tanya Mahnoor mengirimkan beberapa foto Rafa dan Meisie dengan mesra.
Bahkan ada salah satu mereka saling berciuman bibir.
__ADS_1
DEEGGHHH... jantung Ira terasa lepas sesaat. Rasanya remuk sekali. Ira mematikan ponselnya secara sepihak.
"Apa maksud kamu ini Rafa, kamu menghianati pernikahan ini. Apa aku sudah tidak menarik lagi. Bahkan sampai jam segini kamu tidak menelponku. Kamu jahat Rafa, aku benci kamu." Melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya.
Pembantu yang sedang bersih-bersih terkejut mendengar semua barang-barang berjatuhan dan terlempar.
Ira memijat pelipisnya yang berdenyut sakit. Ira mengambil kunci mobilnya dan menganti plat mobil dengan cepat.
Ira mendatangi sebuah tempat pelatihan bela diri. Begitu banyak anak-anak yang berlatih. Ira menatap semua orang yang tengah berlatih. Tiba-tiba Ira di tepuk pundaknya oleh seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun.
"Kakak, ada masalah. Apa Kakak bertengkar dengan pasangan Kakak?" tanya anak kecil tersebut.
Ira terbengong dengan ucapan anak kecil tersebut. Ira menatap tajam dan penuh tanda tanya di pikirannya.
"Aku bisa merasakan perasaan Kakak, jadi jangan takut sama aku, seperti teman-temanku yang lain. Mereka takut jika aku membaca hati perasaan mereka." Anak kecil tersebut tersenyum ramah.
"Kamu mengetahui perasaanku???" tanya Ira tidak yakin.
Anak kecil tersebut menceritakan semua yang ia tahu tanpa terkecuali dan itu benar semua.
"Kakak jangan terlalu banyak memikirkan hal itu, kasihan bayi Kakak."
"Heeyy anak kecil dari mana kamu tahu jika aku mengandung?" mengacak-ngacak rambut anak laki-laki tersebut.
Ira tertawa renyah dengan tingkah konyol anak tersebut, Ira mengusap-usap rambutnya yang tebal dan hitam.
"Kak, lepaskan tanganmu dari kepalaku. Apa Kakak tidak kasihan dengan bayi Kakak?" ucap anak kecil itu.
"Asalkan Kakak tahu, Kakak orang pertama yang mengusap rambutku selain almarhum Kakekku!" jawabnya bersedih.
"Memang kenapa? apa tidak boleh?" tanya Ira dengan bercanda.
"Aku tidak bercanda Kak, rambutku ini ajaib Kak. Apalagi Kakak tengah mengandung. Kalau bukan Kakak ya calon anak Kakak yang akan mendapat titisan pembaca hati!" jawab anak kecil tersebut dengan tersenyum.
"Kamu ada-ada saja Dek." Ira menggeleng-gelengkan kepalanya. "Namamu siapa?" tanya Ira penasaran.
"Raden Sakti Kak!" anak kecil tersebut menjawab dengan tersenyum.
"Haaaa......, Raden Sakti. Kenapa aku tidak asing dengan nama itu???" Ira bergelut dengan pikirannya, tanpa ia sadari anak laki-laki tersebut sudah menghilang.
"Aku panggil Sakti ya?" Ira menoleh kearah samping kanannya, ternyata anak kecil tersebut sudah mengilang.
__ADS_1
Kemana anak ini, kenapa ada yang aneh dengan tubuhku. Dalam batin Ira.
Ira segera pergi dari tempat tersebut dan mencari ketempat parkiran. Namun tidak di temui anak laki-laki tersebut.
Ira membuka mobilnya dan segera melajukan mobilnya ke rumah.
Rafa yang sedari tadi pulang binggung mencari Ira kemana-mana tapi tidak menemukannya. Saat melihat semua barang-barang di dalam kamar rumahnya hancur, Rafa hanya menatap sekilas dan menyuruh Mbak Lusi membersihkan.
Rafa sangat cemas dengan keadaan Ira saat ini. Apa lagi Ira tengah hamil muda. Mendengar suara mobil masuk di halaman Rada terburu-buru menemui Ira.
"Sayang. Kamu dari mana?" tanya Rafa langsung memeluk tubuh Ira.
Ira memberontak dan menggigit lengan Rafa, Rafa merintih kesakitan. Dan berusaha mengejar Ira yang sudah jauh.
Saat ini Rafa berhasil meraih tubuh Ira, dan memeluknya dengan posesif.
"LEPAS RAFA..." teriak Ira.
"Aku tidak mau!" semakin mempererat pelukannya. Ira marah dengan kelakuan Rafa langsung menginjak Kakinya sengan sepatunya.
Rafa akhirnya melepas pelukannya dan memegangi kakinya yang sakit.
"Dasar tidak waras, setelah bermesraan dengan wanita lain memelukku." Ira menyindir Rafa terang-terangan sebab, pakaian saat ini dan yang ada di foto sama persis artinya Rafa belum mandi.
Rafa berusaha mengejar Ira namun terlambat, Ira sudah mengunci pintu kamar. Rafa mengetuk-ngetuk berkali-kali. Namun Ira masih dalam pendiriannya.
Ira berusaha tegar dengan keadaan saat ini dan berusaha berdamai dengan hatinya.
Rafa yang sudah lelah karena tidak di anggap Ira memutuskan tidur di kamar sebelah. Rafa begitu sangat menyadari jika dia memang sangat keterlaluan kali ini.
"Kamu sungguh bodoh Ira, kenapa kamu di tipu lagi oleh laki-laki." Ira merutuki kebodohannya sendiri.
Saat membaringkan tubuhnya, pikiran Ira masih terbayang-bayang foto yang di kirimkan seseorang dan Mahnoor.
"Sepertinya Rafa cuma beralasan mendekari Meisie, bahkan dia rela pura-pura lupa ingatan demi misinya. Aku yakin bukan itu tujuannya. Atau jangan-jangan masih cinta?" Ira segera menutup matanya karena sudah mengantuk.
Rafa masih tidak bisa memejamkan matanya, mencari kunci cadangan kamarnya setelah menemukannya Rafa membuka pintu dan segera masuk.
Rafa tidur di samping Ira dan memeluk tubuh Ira. Ira yang masih belum sadar kedatangan Rafa membiarkannya.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya jika masih banyak typo dalam karyaku. Mohon bantuannya tinggalkan jejak yaa. Terimakasih teman-teman yang setia membaca karyaku.
Ayo dong tinggalkan like rate n' vote.