
**Hargailah penulis yang sekuat tenaga dan jari-jarinya untuk mengetik, dan hargailah pemikiran author yang setinggi langit ini.
Selamat membaca teman-teman**.
_ _ _
"Kenapa itu bibir monyong sekali sayang apa kamu tidak suka aku gendong?" Rafa membalikkan piring dan mengambil makanan untuk Ira dan dirinya.
"Aku suka kamu gendong Raf, tetapi lihat kondisi dong Raf, di rumah banyak orang!" jawab Ira menahan malu.
"Biarkan yang jomblo meronta-ronta sayang. Ayo kita lanjutkan romantis-romantisnya sayang!" Rafa menyuapi Ira.
Ira menurut saja dengan Rafa, tak terasa satu piring porsi Rafa habis di lahap Ira. Rafa terheran-heran dengan Ira yang menolak suapannya tetapi tetap saja membuka mulutnya.
"AAA... HAA... HAA..., ternyata istriku seperti gentong saja. Makanan sebanyak ini habis." Rafa tertawa keras sekali.
Para pekerja di rumah Rafa ikut tertawa melihat majikannya yang seperti ini.
Ira memonyogkan bibirnya setelah selesai makan, ia melipat kedua tangannya di dada.
"Aku marah, jangan ajak bicara." Ucap Ira memalingkan wajahnya.
Rafa tahu jika Ira pura-pura marah, malah meladeninnya.
"Ya sudah lanjutkan marahnya," ucap Rafa pergi setelah ia selesai makan. Rafa masuk ke ruang kerjanya.
Ira yang masih di meja makan berdecak kesal ke Rafa. Sambil memukul-mukul vas bunga yang ada di meja makan.
"Dasar gak peka, istri marah tidak di bujuk malah di biarkan." Gerutu Ira berjalan dengan keras. Terdengar suara dukkk... duukk... berkali-kali saat Ira melangkahkan kalinya.
Rafa yang mendengar langkah kaki seperti itu hanya tertawa geli. Rafa meneruskan pekerjaannya, mengecek pemasukan seluruh restoran yang ia miliki. Apakah ada pemasukan kurang dari target.
Ira yang sudah berada di dalam kamar mandi langsung menyalakan sower. Air yang keluar begitu deras, Ira mendingikan kepalanya.
Keesokan harinya.
Ira sudah tidak marah lagi dengan Rafa. Suara deringan ponsel Ira terdengar. Ira segera mengangkatnya.
"Ya, hallo. Ada apa Mbak Mahnoor?" tanya Ira yang tengah membuat adonan kue.
"Ketemuan yuk, kamu gak kangen sama aku?" tanya Mahnoor di balik telepon.
"Oke, kalau begitu. Kapan jam berapa." Ira masih berkutat dengan mixernya.
"Setelah kamu gak sibuk aja Ira. Ada beberapa hal yang aku mau bahas ke kamu Ira. Bisakan?" tanya Mahnoor memastikan.
__ADS_1
"Iya aku bisa, setelah ini selesai aku kabari ya Mbak Mahnoor!" jawab Ira, kemudian mematikan ponselnya.
Mahnoor yang berada di kediamann mertuanya hanya mondar mandi seperti setlikaan. Sambil menggigit jarinya.
Di restoran.
Mahnoor yang menunggu Ira sedari tadi tersenyum dan segera melambaikan tangannya. Ira juga sama melambaikan tangannya.
"Apa kabar Mbak Mahnoor?" tanya Ira dengan senyum manisnya.
"Buruk Ira!" air mata menetes.
"Kenapa?" Ira mengusap air mata yang keluar dari mata Mahnoor dengan sapu tangannya.
"Besok sidang terakhirku dengan mantan suamiku Ira!" jawab Mahnoor dengan wajah lebabnya karena habis menangis.
"Kenapa? apa ada permasalahan Mbak, sampai-sampai Mas Doni menalak Mbak?" tanya Ira was-was.
"Karena aku gak sempurna Ira, aku gak bisa memberikan anak ke suamiku. Dan bahkan kemarin suamiku pulang dengan wanita lain!" jawab Mahnoor menangis kembali.
"Lepaskan Mbak Mahnoor, dan iklaskan Mas Doni. Buat ia menyesal kemudian hari." Ira sekuat tenaga menenangkan diri. Mahnoor menganggukkan kepalanya.
Ira masih bersyukur beberapa bulan yang lalu merasakan mengandung walaupun tidak ada 2 bulan. Tetapi Ira tetap bersyukur.
"Kamu yakin Ira, dengan saranmu ini?" tanya Mahnoor saat sudah memasuki rumah kontrakan.
"Iya, aku yakin. Pemiliknya kan kamu juga sudah kenal sejak aku belum menikah dulu!" Ira duduk di kursi yang pernah ia gunakan.
Tidak terlalu banyak yang berubah ruangannya, hanya penempatan barang-barang yang di ganti dan warna cat tembok yang lebih berwarna bahkan terkesan warna warni.
"Seperti anak usia dini saja. AAA... HHAAA... HAAA...." Tawa Mahnoor pecah. Ira juga ikut-ikutan tertawa juga.
Alhamdulillah Mbak Mahnoor bisa tertawa lagi semoga besok sidangnya lancar dan tuntas. Dalam bathin Ira.
Pagi hari.
Ira segera menyiapkan makanan yang di bantu oleh asisten rumah tangganya. Dengan cekatan dan telaten Ira memotong semua sayur dan bumbu dapur.
Setelah selesai ia membangunkan Rafa yang masih tertidur karena semalam terserang demam.
"Raf, bangun ayo sarapan dulu." Membangunkan suaminya, Ira segera meletakkan nampannya di meja samping tempat tidur.
Rafa mulai membuka matanya. Melihat Ira tersenyum Rafa juga tersenyum.
"Pagi sayang." Rafa menarik tangan Ira sampai jatuh di dada bidang Rafa. Rafa memonyongkan bibirnya berharap dapat ciuman pagi hari.
__ADS_1
Tetapi naas Ira segera bangun dan tidak memperhatikan Rafa yang menantikan ciuman selamat paginya.
"Sayang, aku minta ini. Mau sekarang," Rafa kembali memonyongkan bibirnya. Tetapi Ira sengaja tidak meladeninnya, malah mengambil piring yang ada di meja sebelah tempat tidur dan menyuapi Rafa makanan.
Terpaksa Rafa memakan makanan yang di sodorkan Ira. Ira dalam hati tertawa terbahak-bahak.
Dasar ngak peka, aku kan mau di cium bukan makan. Gerutu Rafa dalam hati. Ira tersenyum mendengar Rafa mengomel dalam hati.
"Hari ini aku mau menemani Mbak Mahnoor ke persidangan. Boleh tidak?" tannya pada Rafa.
"Boleh sayang, kamu harus menguatkan. Mahnoor kasihan dia!" jawab Rafa beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi.
Rafa segera mandi dan bersiap-siap. Ira yang sudah mencuci piring yang di gunakan Rafa sarapan pagi, segera ia juga menyusul sarapan pagi. Setelah sarapan Ira juga mandi dan segera bersiap-siap.
Hari ini Rafa menemani Ira di sidang pengadilan agama. Untuk menemani Mahnoor. Mahnoor hidup sendiri sejak menikah dengan calon mantan suaminya.
Kecelakaan keluarga besarnya saat akan berlangsung pernikahan, membuat kenangan yang amat pedih di hati Mahnoor. Apalagi saat ini.
Setelah ketukan palu terdengar Mahnoor bersedih kembali, pernikahan yang ia harapkan terjadi sekali saja kini telah musnah. Harapan yang ia tabur kini menghilang.
Ira merangkul tubuh Mahnoor dan mengusap-usap punggung Mahnoor. Mahnoor sudah terlihat lebih tenang dari kemarin.
Saat berada di mobil Ira masih kepikiran dengan Mahnoor. Mahnoor saat ini menggunakan jasa taxi online. Sesampainya di gang kontrakan Mahnoor segera keluar taxi dan memasuki area kontrakannya.
Rafa dan Ira yang sedari tadi mengikuti Mahnoor hanya diam.
"Dia???" ucap Rafa penuh tanda tanya.
"Mbak Mahnoor menyewa tempat yang aku kontrak dulu Raf, tempat ini yang paling dekat dengan restoran Rais!" jawab Ira santai.
Rafa yang mendengar Mahnoor berkerja di tempat Rais hanya tertawa kecil.
"Kenapa tertawa Raf, apa ada yang lucu?"
"Ya, lucu saja. Kenapa ia betah sekali berkerja di tempat si mulut gula. Pasti si mulut gula tetap saja kelakuannya!" Rafa masih tertawa.
"Lebih baik mulut gula tapi gak terlalu bucin. Daripada bucin kebangetan." Ira menyindir Rafa.
"Kamu meledekku ya. Lebih baik bucin dari pada bermulut gula seperti Rais." Jawab Rafa lantang, para tetangga yang lewat sampai terbengong denga tingkah Rafa.
Rais yang berada di restorannya hanya mengusap-usap hidungnya. Karena sedari tadi bersin-bersin.
Bersambung.
Terimakasih yang sudah berkenan mampir di karya author yang amatiran ini.
__ADS_1