My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Kediaman Rafa


__ADS_3

**GENRE ROMANTIS.


BACA SESUAI UMUR YA TEMAN-TEMAN. SEMOGA SUKA DENGAN PART INI**.


Saat berada di kediamannya ia berpikir terus apa yang akan dia lakukan, saat ini ia tidak berhubungan dengan Zeba. Karena Zeba sudah mengilang di negri orang, mungkin ada yang membuatnya jatuh hati.


Memang selama ini ia dengan Rais kemana-mana, melihat Rais yang selalu dingin tanpa berbicara padanya membuat ia menyerah.


Dengan kepergian Zeba ke luar negeri, Rais begitu puas sekarang dengan kehidupannya, bahkan saat tidur ia selalu nyaman.


Rais menekan ponselnya saat akan pergi tidur, ia membuka galeri foto. Ada foto wanita cantik yang ada di layar ponselnya. Wanita yang pernah ia lukai hatinya. Wanita yang berhasil menerobos kebekuan hatinya, saat sudah menjadi mantan.


"Kamu memang cantik Ira, apa kamu bahagia hidup dengan suamimu? jika tidak bahagia, aku siap denganmu?" menatap wajah Ira di dalam ponselnya. Rais kemudian meletakkan ponselnya di atas laci samping tempat tidurnya.


Setiap hari kelakuan Rais sebelum tidur ya seperti itu, memandang foto dan menanyakan hal yang sama pada foto tersebut.


Pagi hari.


Aktivitas di rumah Rafa begitu ramai, banyak para pembantu yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.


Ada beberapa orang juga yang mendekorasi ruangan tersebut. Dengan nuansa black gold. Hari ini hari yang membahagiakan untuk keluarga kecil Rafa.


Hari ini Rafa sedang berulang tahun ke 28. Banyak undangan yang sudah di sebar, termasuk Rais dan Meisie juga di undang.


Saat ini jam menunjukkan pukul 2 siang, artinya tinggal beberapa jam lagi acara akan di mulai. Ira yang telah menyiapkan kado dari jauh-jauh hari menyembunyikannya di atas lemari yang tidak mungkin Rafa ketahui.


Tiba-tiba lampu dalam kamar Rafa mati dan yang mati tepat lampu utama yang ada di tengah. Ira hanya menepuk jidatnya saat Rafa mengganti lampu.


Gagal deh kadonya, keburu ketahuan dulu. Sesal Ira dalam hati.


Rafa yang tidak sengaja melihat ada kotak di atas lemari langsung saja turun dari tangga dan mengambil kotak tersebut.


"Apa ini?" membuka kotak kecil tersebut.


"Untuk kamu sayang, yang hari ini berulang tahun, apa kamu suka?" tanya Ira yang sedang duduk di kasurnya.


Rafa begitu tersentuh dengan pemberian Ira, sederhana tetapi menarik. Gelang kecil yang terbuat dari mutiara hitam.


"Aku pakaia ya?" Rafa segera mengenakan gelang tersebut. Ira mengangguk.

__ADS_1


"Bagaimana, suka tidak?" menatap mata hitam Rafa.


"Suka, bahkan sangat suka! terimakasih sayang." Rafa mendekat dan mencium kening Ira. Ira langsung tersipu malu.


Rafa dan Ira langsung bersiap-siap untuk acara nanti malam. Rafa mendatangkan orang-orang dari salon langganan keluarganya.


Bibi Nilam dan Paman Adi menikmati perawatan tersebut, maklum jarang sekali mereka merawat diri, sekali-kali merawat diri.


Rafa dan Ira ikut bergabung dengan Paman Adi dan Bibi Nilam, untuk perawatan dan persiapan pesta nanti malam.


Acara telah tiba kini jam menunjukkan pukul 7 malam yang artinya sebentar lagi acara di mulai. Banyak yang mengucapkan selamat kepada Rafa. Rafa dan Ira terus tersenyum dan menemu para tamu dari Paman Adi dan Bibi Nilam. Dan juga para sahabat-sahabat Rafa waktu SMA dan kuliah dulu.


Acara pun dimulai dengan potong kue, Rafa memberikan potongan pertama untuk istri tercintanya. Kemudian potongan kedua memberikanya pada Paman Adi dan Bibi Nilam.


Acara selesai sekitar pukul 11 malam, karena banyak yang datang ke acara besar ini. Semenjak orang tua Rafa tiada, baru kali ini acara ulang tahun diadakan. Berarti sekitar 10 tahun Rafa sudah tidak mengadakan ulang tahunnya.


Saat acara akan selesai, tiba-tiba lampu di kediaman Rafa mati, entah siapa yang mematikan saklarnya. Para tamu undangan semua hawatir, apalagi saat ini jam menunjukkan pukul 11 malam.


Ira yang berada di samping Rafa langsung memeluk erat tubuh suaminya, begitu juga dengan Rafa. Ceklek suara saklar di nyalakan.


Rudi yang tidak di undang datang di jam segini dan mengucapkan selamat untuk Rafa.


Rafa mengepalkan tangannya, ingin sekali menghajarnya saat ini juga. Namun karena acara hampir selesai dan banyak para tamu undangan, Rafa urungkan niatnya tersebut.


●●●


Keesokan harinya, suara kicauan burung membangunkan Rafa, Ira yang sudah bangun lebih awal tengah menyiapkan sarapan. Keadaan rumah saat ini sedang di bersihkan para pekerja sewaan Rafa.


Ira memasak makanan kesukaan Rafa yaitu, sambal goreng ati ampela. Dan acar mentimun.


Bibi Nilam hari ini juga sibuk mengemas pakaian. Rafa yang melihat Bibi Nilam yang berkemas langsung menghampirinya, karena pintu kamar Bibi Nilam terbuka.


"Raf, kamu baru bangun?" Bibi Nilam menatap tubuh Rafa yang masih mengenakan baju tidur.


"Bibi mau keluar kota lagi dengan Paman Adi?" Rafa membantu memasukkan barang-barang yang ada di atas tempat tidur.


Bibi Nilam mengambil beberapa helai pakaian lagi dari dalam ruangan ganti baju.


"Apakah lama Bibi keluar kota?" tanya Rafa menyudahi memasukkan pakaian.

__ADS_1


"Tidak tahu Raf, mungkin satu bulan atau satu tahun, Bibi tidak tahu. Saat nanti Bibi dan Paman ada di luar kota jaga istrimu dengan baik. Jangan sakiti dia ya Raf, bisakan?" menatap wajah tampan keponakannya ini.


"Iya Bi, Rafa janji!" memeluk Bibi Nilam. Bibi Nilam langsung memukul tubuh Rafa.


"Kamu bau Raf, mandi sana." Mendorong tubuh Rafa ke arah kamar mandi. Rafa pun terpaksa mandi di kamar mandi Bibi Nilam.


Setelah mandi Rafa mengenakan jubah mandi, dan langsung menuju kamarnya. Rafa pagi ini berpenampilan berbeda. Terlihat tampan dengan gaya rambut yang kemas.


Rafa langsung menuju ruang makan. Ira yang masih mengenakan celemek motif bunga-bunga hanya tersenyum, melihat penampilan Rafa. Ira langsung saja melepas celemeknya dan menyambut kedatangan Rafa di meja makan.


"Hai... tampanku. Mau kemana?" tanya Ira mencium pipi Rafa. Wajah Rafa langsung merah.


Ira tertawa kecil melihat suaminya seperti itu.


"Raf, bolehkah aku pergi?" mengambilkan makanan untuk Rafa.


"Kemana, apa perlu aku hantar?" Rafa mengambil sendok.


"Tidak usah, kan aku bisa menyetir sendiri Raf!" meletakkan piring yang berisi makanan di depan Rafa.


"Apa kamu lupa kejadian beberapa bulan lalu?" ucap Rafa mengingatkan kejadian itu.


Ira tertunduk sedih, jika mengingat kejadian itu. Ia teringat di mana Rafa menolak menghantarkan periksa kandungan, dan karena ada anak kecil yang melintas tiba-tiba membuatnya banting setir agar tidak mencelakai anak tersebut.


Namun naasnya ia harus kehilangan calon buah hatinya. Ira segera mengusap air matanya. Rafa yang menatap Ira sedang melamun dan mengeluarkan air mata langsung meletakkan sendoknya dan memeluk tubuh Ira.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membuatmu sedih lagi." Menciumi kening Ira. Ira menganggukkan kepalanya.


"Jadi, bolehkan aku pergi?" tanyanya sekali lagi pada,Rafa.


"Boleh, tapi mau pergi kemana dulu." Melepaskan pelukannya.


"Rahasia," Ira langsung berlari ke kamarnya. Rafa hanya menggelengkan kepalanya.


"Lucu." Rafa makan di selingi tawa.


Bersambung.


Sebenarnya di part ini author mau membuat tegang, tetapi author urungkan. Takutnya mendadak sekali, jadi yaa tidak jadi author buat tegang.

__ADS_1


Tinggalkan jejak yaaa, di nanti teman-teman semua yang datang. Like fav n' vote ya jika berkenan. Jangan lupa komen yaa.


__ADS_2