
**Maaf jika masih ada typo di karya author, mohon krisannya ya teman-teman. Author masih belajar butuh bimbingan.
Selamat membaca**.
_ _ _
Ira masih berkutat dengan dokumen yang ia kerjakan banyak sekali pekerjaan yang ia kerjakan. Demi melancarkan misinya Ira mempelajari semua yang ada di perusahaan ini. Seperti kelemahan dan kekuatan perusahan ini, dengan mempelajari semua dokumen ini, pasti bisa mengalihkan perusahaan ini dengan mudah dan gampang.
Rudi pagi ini berkunjung ke perusahaan Aldo Chand, dengan penampilannya yang luar biasa membuat daya pikat tersendiri untuk Rudi. Rudi memang tampan dan sempurna namun tidak seperti Rafa, Rafa tampan dan manis. Jadi jika orang-orang menyandingkan dua orang ini, pasti tetap Rafa yang akan menang karena ada ekspresi manis di sertai karisma yang kuat di wajah Rafa, walaupun Rafa hanya diam saja.
Rudi hari ini ada kerja sama dengan Aldo Chand. Saat memasuki ruangan meeting Rudi tersenyum dengan ada maksud lain. Melihat Ira ada di ruangan tersebut membuat Rudi merasa berhasil menipu daya Ira.
Aku akan melakukannya dengan rapi rubah licik, ayo mulailah permainan boneka dan catur ini. Dalam bathin Ira.
Sekitar 1 jam lebih meeting baru saja selesai. Rasa lega menyelimuti hati para karyawan yang ikut meeting.
"Lelahnya..." Ira meluruskan kakinya dan menggerak-gerakkan tubuhnya yang kebas karena duduk di tempat tegang.
Aldo Chand mengajak Rudi masuk ke ruangannya. Ira yang baru saja melonggarkan otot-otot uratnya langsung bersiap-siap.
"Ira, ini ada Rudi kesini dia ingin berbicara denganmu. Bisakan?" tanya Aldo Chand kepada Ira.
"Bicara langsung saja, aku tidak suka basa basi disini. Cukup di luar tadi!" jawab Ira ketusnya.
Keketusan Ira membuat Rudi semakin kagum dengan Ira. Cantik, pintar dan pemberani. Memang kamu pantas bersanding denganku Ira. Akan aku buat kamu menjadi istriku. Dalam batin Rudi.
Cihhh kenapa tatapan mata Rudi seperti serigala yang lapar saja. Ira mengumpat Rudi dalam hati.
Rasa tidak suka Ira ke Rudi sangat jelas terpancar. Ira ingin sekali menuntaskan rubah licik ini. Namun setelah menggetahui kejadian semalam membuat Ira harus pelan-pelan melakukan misinya.
__ADS_1
"Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa Ira, santai saja. Aku tidak akan memaksamu ko." Rudi mendekat ke meja Ira dan membusikkan sesuatu. "Jangan lupa dengan perjanjian kita, kalau kamu tidak melaksanakan perjanjian itu, nyawa Rafa jadi taruhannya." Rudi mengancam dengan surat perjanjian itu.
Ira menggangguk paham dengan ucapan Rudi. Rudi yang mendapat anggukan dari Ira tersenyum bahagia.
Siall kenapa aku bisa lupa dengan itu, tapi untungnya aku terbuka untuk Rafa, jadi aku harus tenang bermain catur ini. Jangan sampai dua orang yang saling berkerja sama ini tau. Dalam pikiran Ira.
"Oke, aku bisa!" Ira berusaha tersenyum.
Rudi yang mendapat persetujuan Ira tersenyum bahagia, rasanya seperti akan terbang ke awan saja.
Setibanya di restoran dekat PT SURYA CHAND, Ira dan Rudi makan bersama. Ada seseorang yang mengawasinya dari jauh, itu adalah orang-orang suruhan Rafa. Salah satu dari mereka mengambil foto Ira dan Rudi, kemudian mengirimkannya ke Rafa.
Rafa yang baru saja mendapat foto Ira dengan Rudi yang sedang menikmati makan di sebuah restoran, berkobar-kobar api dalam diri Rafa.
"Ira..., aku ingin menghabisimu malam ini, aku akan menculikmu dari kediaman Aldo Chand," ucap Rafa yang saat ini berada di tempat para pembeli mengantri.
Semua pembeli dan karyawan menatap Rafa yang berbicara sendiri dan tangan Rafa yang hampir melayangkan pukulan. Saat situasi seperti ini rasa malu Rafa memuncak, dan segera meninggalkan ruangan tersebut.
"Sekali lagi aku mendengar kalian menertawaiku, aku tutup restoran ini." Ucap Rafa tegas dan segera menutup pintu ruangannya.
Karyawan dan pembeli di restoran Rafa langsung diam seperti semula, mereka berusaha menyingkirkan kelucuan dan keanehan seorang Rafa Aditya. Tetapi tetap saja mereka masih ketawa cekikikan.
"Sayang aku sudah tidak tahan lagi, hiks... rindu ini berat." Rafa menggigit bibir bawahnya dan mata mulai berkaca-kaca.
_ _ _
Ira dan Rudi saat ini sedang makan siang. Tidak ada perbincangan di antara mereka, hanya sebatas teman makan saja. Tiba-tiba ada seseorang yang melihat dan mengawasi gerak-gerik Ira dan Rudi dari kejauhan, itu bukan orang suruhan Rafa melainkan Rais dan Meisie sedang makan bersama.
"Rais, coba kamu lihat itu deh." Ucap Meisie menujukkan tempat Rudi dan Ira makan siang.
__ADS_1
"Ada apa sih ulet keket, kamu menyuruh aku melihat apa?" Rais langsung melihat ke arah Meisie menujuk seseorang. Rais terkejut dengan apa yang barusan ia lihat.
Kenapa mereka berdua ada disini, sebenarnya ada apa di antara mereka. Atau jangan-jangan orang yang menculik Ira waktu itu dia orangnya. Rudi akan aku buat perhitungan jika kamu menyakitunya, kali ini aku mendukung Rafa, tapi tidak untuk Rudi. Gumam Rais dalam hati.
Meisie yang melihat tatapan tajam Rais ke Rudi tertawa, bahkan Meisie memberikan selamat.
"AA... HHAA... HAA..., masih cinta dengannya. Rais... Rais... bukanya kamu sudah menyakitinya, selamat ini buah hasil yang kamu tanam. Uuppss sorry seharusnya aku ucapkan saat Rafa dan Ira menikah 2 tahun lalu." Ucap Meisie menyindir Rais.
"Sialan kamu, harusnya kita melindungi Ira dari orang yang berusaha memisahkan Rafa darinya," Rais menceramahi Meisie. Meisie masih tertawa juga.
"Ciyeee yang sudah bisa merelakan. Traktir ya makan siangnya?" Meisie tersenyum dengan penuh.
"Dasar ulet keket. Oke kalau begitu, pesanlah awas jangan boros-boros kalay beli. Nanti badanmu bisa melar dan tidak bisa aku panggil ulet keket karena tidak laku lagi di pasaran!" sindir Rais ke Meisie.
BBUUGGGHHH.... Meisie memukul buku menu ke kepala Rais, Rais mengosok-gosok kepalanya yang sakit akibat ulah Meisie yang memukul kepalanya.
"Sakit tau..." Rais segera merebut buku menu dan langsung melambaikan tangannya untuk memesan.
Setelah pesanan datang Rais dan Meisie menghabiskan makanan yang ada di hadapannya tersebut. Begitu rakus dua insan tersebut, seperti tidak pernah makan enak saja.
Ira yang tidak mengetahui keberadaan Meisie dan Rais hanya diam saja, karena jarak yang begitu jauh dari pandangan Ira. Rudi sangat gembira dengan apa yang barusan ia alami dengan Ira, walaupun hanya sekedar makan siang saja.
"Terimakasih teraktirannya, lain kali tidak usah. Bukannya kamu tahu jika aku sudah bersuami, jadi jagalah sikapmu untuk reputasimu sendiri." Ucap tegas Ira meninggalkan Rudi sendirian.
Rudi segera memasuki mobilnya dan melajukan kendaraannya. Rasa kagum untuk Ira tidak berhenti sampai di situ saja. Saat berada di jalan, hati dan pikirannya hanya tertuju kepada Ira dan kekayaan Aldo Chand.
"Aku sudah tidak sabar memiliki semua itu." Ucap Rudi penuh percaya diri.
Ira yang baru saja sampai kelantai atas hanya berdiam tanpa bicara apapun. Aldo Chand segera menghampiru dan memberikan air putih kepada Ira.
__ADS_1
Ira hanya menatap sekilas dan tidak menyentuhnya.
Bersambung.