My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Ke rumah Mama


__ADS_3

Karya fiksi asli pemikiran author. Jadi hargailah para pejuang mimpi seperti author.


Selamat membaca teman-teman.


_ _ _


Setelah selesai bersiap-siap Ira makan hanya sedikit, Rafa yang masih berada di rumah langsung menghampiri istrinya.


"Kamu tidak jadi ke restoran Raf?" tanya Ira yang akan pergi keluar.


Bibi Nilam dan Paman Adi pun sudah siap-siap untuk berangkat keluar kota. Mobil yang di gunakan Paman Adi sudah di panasi.


"Sayang, aku ikut ya. Kemanapun aku hantar oke. Boleh yaa?" ucap Rafa memelas ke Ira. Ira yang menatap Rafa menjadi tidak tega.


"Huuhhhh..., ayo!" ajaknya pada Rafa suaminya.


Rafa begitu senang di ajak istrinya pergi, pagi ini. Paman Adi dan Bibi Nilam melambaikan tangannya saat keluar dari garasi mobil.


Rafa menyetir mobilnya sesuai keinginan Ira, Rafa sedikit terkejut saat Ira menyuruhnya membelokkan ke toko bunga. Ira segera turun dan membeli bunga untuk ziarah makam.


"Apa kita akan mengunjungi baby kita sayang?" tanya Rafa, Rafa kembali melajukan mobilnya setelah Ira selesai membeli bunga.


"Iya, aku merindukannya!" sembari tersenyum.


Maafkan Papamu sayang, gara-gara Papa kamu menjadi korban. Dalam batin Rafa. Ira hanya melirik Rafa sebentar dan tersenyum.


Semoga Papamu kelak jika memiliki baby lagi tidak akan menyia-nyiakan anaknya lagi. Bantu Mama ya nak, kuatkan Mama. Batin Ira bersedih dan mengeluarkan foto USG babynya beberapa bulan lalu.


TPU Desa Rawa.


Setelah sampai di pemakaman umum. Ira memasukkan foto USG tersebut ke dalam dompetnya dan segera keluar dari mobil. Begitu juga dengan Rafa, Rafa menggengam tangan Ira menuju tempat babynya di semayamkan.


"Baby, Mama datang dengan Papa. Maaf ya nak jika Mama baru datang hari ini. Mama masih belum bisa melupakanmu nak. Ingin sekali Mama memelukmu." Ira menangis sesenggukan di dada Rafa. Rafa memeluk tubuh istrinya dengan lembut.


Setelah mendoakan babynya Rafa dan Ira langsung pergi ke retoran Rafa yang ada di pusat kota. Jalanan begitu lancar tanpa macet.


Para karyawan menunduk dan menyambut kedatangan Rafa dan Ira, dan juga ada beberapa chef yang langsung menyiapkan menu sepecial hari ini.


Seperti biasa es cream kesukaan Ira di tampilkan juga vanilla cappucino. Ira segera melahapnya sampai-sampai membuat Rafa tertawa.


"Kenapa makannya seperti ini sayang?" tanya Rafa yang melihat ada beberapa es cream yang belepotan. Dan hanya menunjukkan saja tanpa mengelapnya.


"Aku kira bakalan kamu bersihin Raf, kayak di sinetron-sinetron!" membersihkan mulutnya dengan tisu, dan melanjutkan makannya tanpa peduli Rafa yang sedang tertawa.


Para waiter yang melihat adegan ini ingin sekali tertawa saat menghantarkan makanan. Pasalnya Rafa tidak pernah tertawa saat Ira tidak ada di sampingnya.


"Kenapa sih kamu tertawa terus, nanti gigimu kering lo?" Ira meledek Rafa. Rafa langsung menutup mulutnya dan mendekati Ira.

__ADS_1


Rafa langsung mencubit kuat-kuat pipi Ira.


"AAWWW..., sakit Raf." Mengelus kedua pipinya yang memerah karena cubitan.


"Itu hukuman karena meledekku. Aku mau es cream itu, aaaa..." Rafa membuka mulutnya.


Ira yang melihat mankuk kecil itu tinggal satu sendok langsung mengerjai Rafa. Awal mulanya menyodorkan ke mulut Rafa, tetapi Ira langsung membalikkan arah dan memakannya sendiri.


"Sudah habis sayang." Menjulurkan lidahnya.


"Awas kamu ya," Mencubit hidung Ira.


"Sakit Raf, kenapa sih kamu selalu cubit pipi kalau tidak hidung aku ini?" Ira memegang hidungnya yang terasa berdenyut sakit.


"Karena kamu menggemaskan sayang kaya panda. AA... HHAA... HAA...." Tawa Rafa pecah lagi.


Ira memonyongkan bibirnya.


"Sudah-sudah, ayo kita lanjutkan makan sayang. Sepertinya aku lapar lagi." Rafa mengambil beberapa lauk yang di sukai.


Ira hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat Rafa makan dengan lahapnya, Ira tersenyum dan langsung menyusul Rafa sang suami untuk makan. Setelah selesai makan Rafa dan Ira membayar makanannya.


Walaupun ini restorannya, sebagai atasan yang bertanggung jawab. Rafa tetap membayar makanannya setiap kali makan. Karena banyak pegawai yang bertahan hidup untuk menghidupi diri sendiri maupun keluarganya.


Suara deringan ponsel terdengar di dalam tas Ira, Ira segera merogoh tasnya. Tertera nama Mama di layar ponsel Ira. Ira segera mengangkatnya.


"APA AKU SUDAH TIDAK KAMU ANGGAP SEBAGAI MAMA LAGI???" teriak Mama Novi di balik telepon.


"Mama ya tetap Mama aku!" jawab Ira santai.


"DATANG KE RUMAH SEKARANG JUGA." Mama Novi geram dan langsung mematikan ponselnya.


Ttuuttt....


"Apa-apaan sih Mama. Sayang ayo kerumah Mama." Ira tertunduk lemas setelah menerima telepon dari Mamanya.


"Iya, sepertinya Mama marah ya pada kita. Terdengar nyaring sekali suara Mama?" Rafa masih fokus menyetir.


"Yaaahhh seperti yang kamu dengarkan Raf. Aku mau beli kue dulu Raf, kita berhenti di supermarket ya." Menatap wajah tampan Rafa.


"Iya!" jawab singkat Rafa dan langsung membelokkan mobilnya ke supermarket.


Sesampainya di rumah Mama Novi. Suasana rumah sangat mencekam. Mama Novi seperti mengeluarkan aura dingin yang siap membunuh. Rafa dan Ira hanya tertunduk, saat sang Mama melipat kedua tangannya di dada.


"Hiks... hiks... kalian tega, berita sebesar ini Mama tidak tahu. Apa kalian menganggap Mama sudah di telan bumi?" menatap wajah kedua anaknya.


Rafa dan Ira masih tidak mengerti kemana arah pembicaraan Mamanya.

__ADS_1


"Ada apa sih Ma sebenarnya?" tanya Ira menatap Mama Novi.


"Tadi pagi Mama datang ke rumah kalian, Mama tidak sengaja mendengar jika kalian baru kehilangan baby kalian beberapa bulan lalu!" Mama Novi langsung mendekap tubuh putri semata wayangnya ini. Ira membalas pelukan Mama Novi.


"Maaf Ma." Ucap Rafa dan Ira bebarengan. Mama Novi melepas pelukannya.


"Aaahhh... kalian semakin kompak saja. Apa kalian akan menginap malam ini?" tanya Mama Novi.


Ira menatap wajah Rafa. Rafa mengangguk tanda mengiyakan.


"Kalian akan menginap?" Mama Novi memastikan.


"Iya Ma!"


Mama Novi langsung menyuruh Mbok Nani untuk segera menyiapkan makan dan beberapa camilan dan roti.


Canda tawa terdengar dari dalam ruang keluarga, Mama Novi yang baru saja tiba di ruang keluarga tersenyum bahagia. Baru kali ini ia mendengar Ira tertawa lepas.


Sejak kecil jarang sekali Ira tertawa bahkan bisa di hitung. Ira sejak kecil hanya belajar bermain sebentar dan hanya itu-itu saja kegitannya setiap hari. Sampai suatu hari setelah lulus Kuliah, dia pergi dari rumah karena ia merasa dunianya sepi karena oleh Mamanya egois.


Andai aku dulu lebih perhatian kepadamu nak, pasti aku bisa melihatmu tersenyum bahagia. Tetapi melihat kamu bisa bahagia dengan Rafa saat ini, membuat beban di pundak Mama berkurang. Dalam batin Mama Novi.


Mama Novi langsung bergabung sesudah membuat teh hangat.


"Di minum dulu tehnya." Mama Novi meletakkannya di meja depan Rafa dan Ira duduk.


"Terimakasih Ma," ucap Rafa begitu juga dengan Ira.


"Ma, beberapa minggu ini Mama tidak memasok ikan di restoran Rafa. Apa ada masalah Ma di tambak Mama?" tanya Rafa menyeruput teh buatan mertuanya.


"Iya Raf, ikan-ikan pada mati Raf. Entah apa yang terjadi, padahal para pegawai memberi makan dan perawatan dengan rutin seperti biasanya, apalagi kemarin bahkan sampai 300 ekor lebih!" ucap Mama Novi bersedih.


"Kemarin???" tanya Rafa seakan tidak percaya. Mama Novi mengangguk.


"Kenapa aku merasa ada yang janggal ya Ma?" tanya Ira pada Mamanya.


"Iya, seperti keracunan!" Mama Novi meminum teh.


Bersambung.


Terimakasih yang telah mampir di karya yang masih amburadul ini.


Sabar dan terus berjuang, seperti pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Aku mau mengikuti semua proses itu.


Komenan kalian sangat berarti untuk perkembangan author.


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa, like vote rate juga yaa.

__ADS_1


__ADS_2