
Rafa segera beranjak pergi setelah membantu Ira sang istri berbaring di ranjang tidur rumah sakit. Rafa mencium dahi Ira dengan lembut, berusaha tenang di saat hati terluka.
Andai ia lebih waspada menjaga Ira pasti kejadian ini tidak terulang lagi. Namun bagaimana lagi takdir yang belum mengizinkan untuknya memiliki kebahagiaan yang lengkap dan utuh seperti pasangan pada umumnya.
"Sayang, aku tinggal ke kamar mandi sebentar ya. Jangan kemana-mana lagi, oke." Rafa menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ira.
"Iya, aku janji Rafa sayang suami bucinku," Ira tersenyum sangat lebar. Rafa yang melihat senyum Ira langsung saja mengacak-acak rambut Ira.
"Rafa jangan di acak-acak rambutku. Tuhhh... kan jadi jelek." Ira membenai rambutnya kembali.
"AA... HAA... HAA..., biar tambah jelek biar tidak ada yang dekati kamu lagi," Rafa mengejek Ira dengan menjulurkan lidahnya.
BBUUGGHHH..., bantal yang di gunakan Ira untuk istirahat di lempar ke tubuh Rafa. Namun dengan sigap Rafa menghindarinya.
"AA... tidak kena." Rafa segera masuk ke dalam kamar mandi. Rafa masih cekikikan di dalam kamar mandi.
Sementara Ira sebal dengan ulah suaminya barusan. Ira menghela nafas panjang karena harus turun dari ranjangnya lagi dan mengambil bantal yang ia lempar ke Rafa namun tidak mengenai tubuh Rafa. Setelah mengambil bantal yang tadi ia lemparkan ke Rafa. Ira segera menata posisinya lagi saat akan berbaring Ira mendengar suara ketukan pintu.
TTOOKK... TTOOKK..., suara pintu dari luar terdengar jelas sekali.
"Siapa sih yang mengetuk pintu, kenapa tidak masuk saja jika ingin menjenguk. Ahhh... sudahlah paling kamar sebelan, tetapi aku jelas-jelas mendengar ketukan pintu di ruanganku?" Ira menatap arah pintu dan berjaga-jaga apalagi Rafa masih berada di kamar mandi.
Rafa yang baru selesai dari kamar mandi menatap wajah Ira yang terus memandang ke arah pintu keluar. Rafa penasaran dengan yang Ira lihat. Ira yang sudah tersadar jika Rafa sudah keluar dari kamar mandi dan sama-sama menatap pintu keluar langsung saja menepuk lengan Rafa yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa sih sayang? apa ada yang aneh dengan pintu keluar itu?" Rafa menujuk pintu keluar kamar Ira.
"Iya ada orang iseng barusan!" Ira berusaha membenahkan posisinya agar nyaman ia bersandar. "Rafa kapan aku bisa pulang?" tanya Ira menatap wajah tampan Rafa.
__ADS_1
"Besok baru boleh pulang sayang, sebenarnya aku yang menginginkan kamu di rawat dulu sayang!" jawab Rafa dengan cengegesan.
"Padahal aku sudah tidak apa-apa Rafa, tubuhku sudah baik-baik saja saat ini." Ira memonyongkan bibirnya.
"Bukannya aku tidak mengizinkan kamu pulang, tapi..." Rafa tidak melanjutkan ucapannya.
"Tapi apa?" Ira memainkan jari jemarinya karena menunggu jawaban dari Rafa.
Aku tidak ingin kamu bersedih sayang, aku takut jika kamu masuk ke dalam rumah mengingat baby kita yang tidak selamat. Apa aku ajak Ira kembali ke apartmen lagi? tapi apa dia mau. Dalam pikiran Rafa melayang-layang.
"Raf...," Ira menyentuh jari jemari Rafa dengan lembut untuk menyadarkan lamunan Rafa.
"Eehh iya sayang ada apa?" Rafa tersenyum.
"Jawab pertanyaanku Rafa." Ira menatap lekat mata hitam milik Rafa.
"Pertanyaan yang tadi itu, kenapa kamu tidak melanjutkan ucapanmu. Apa uban di kepalamu bertambah Rafa?" Ira segera mendekat ke tubuh Rafa dan langsung melihat rambut Rafa apa ada uban bertumbuh pesat disana.
"Apa benar-benar ada ubannya rambutku sayang. Coba kamu lihat jika ada aku harus mengecat rambutku ini!" Rafa mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak salon kepercayaanya.
"Mau ngapain, sudah jawab dulu pertanyaanku tadi. Kenapa kamu tidak meneruskan yang tapi tadi Rafa atau jangan-jangan memang benar uban ini tumbuh lebat." Ira kesal karena harus mengulangi pertanyaan yang menyebalkan.
"Ohh... pertanyaan itu. Kamu biar sembuh dulu sayang baru pulang. Eemmm... sayang kita pulang ke apartemen bagaimana, mau tidak?" Rafa menatap sekilas wajah Ira dan melanjutkan mengetik pesan dan mengirim pesan ke pihak salon untuk datang besok lusa pada siang hari.
"Ya aku mau Raf kemanapun kamu mengajak aku tinggal aku siap!" jawab Ira dengan penuh keyakinan.
"Sayang, andai ya ini. Andai aku jatuh miskin apa kamu masih mau hidup denganku membangun rumah tangga denganku. Apa kamu mau?" Rafa menggengam erat tangan Ira.
__ADS_1
Ira tersenyum. "Tidak!" jawab spontan Ira yang berhasil membuat raut wajah Rafa bersedih dan berpaling.
Ira menatap wajah sedih Rafa. "AA... HHA... HAA..., aku tidak akan menolak Rafa, aku bahkan tidak akan meninggalkan suamiku dalam keadaan apapun. Karena suamiku Malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untukku dan mau berjuang denganku. Padahal aku selalu menorehkan luka di hatimu tapi kamu selalu memaafkan aku bahkan melindungiku." Ucap panjang lebar Ira yang berhasil mengukir senyum di bibir Rafa.
Rafa segera memeluk erat tubuh Ira. Ira menepuk-nepuk pundak Rafa karena dadanya merasa sesak dengan pelukan yang kuat ini.
"Raf, lepas dulu dadaku sesak ini." Ira masih menepuk-nepuk pundak Rafa. Kemudian Rafa melepas pelukannya dan menciumi wajah Ira.
Suara pintu terbuka sangat terdengar namun tidak untuk dua insan yang berciuman di ranjang rumah sakit.
"EEHHEEMMM... apa kalian akan mengabaikan kedatangan kami barusan?" suara berat Paman Adi terdengar nyaring.
Rafa segera bangkit dan memberi salam dan pelukan untuk Paman Adi dan Bibi Nilam, setelah selesai berpelukan Paman Adi dan Bibi Nilam menguatkan Rafa mau pun Ira.
Air mata sedikit keluar dari pelupuk mata Ira. Ira segera mengusapnya sebelum Rafa melihatnya. Namun Rafa sudah terlanjur melihatnya dan langsung mendekati ranjang tempat Ira beristirahat. Dan mengusap pipi Ira dengan lembut.
"Kalian berdua harus tetap sabar dan berdoa semoga segera di beri momongan lagi." Bibi Nilam berusaha menguatkan hati Ira dan Rafa.
Padahal dalam hidupnya ia juga ingin sekali merasakan mengandung walaupun hanya sebentar, bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Namun nasib belum berpihak padanya sudah memasuki angka 24 tahun pernikahannya namun Nilam dan Adi belum mendapatkan momongan. Sudah mengecek kesuburan di Rumah Sakit hampir seluruh Indonesia namun hasilnya sama kedua-duanya dinyatakan subur dan bisa memperoleh keturunan namun hingga kini belum bisa mendapatkannya.
"Iya Bi, terimakasih sudah datang menjenguk Ira disini," Ira tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Ira juga tau jika Bibi san Pamannya ini juga belum memiliki keturunan mengingat usia pernikahan sudah puluhan tahun.
"Apa kalian akan kembali ke rumah utama Raf?" Paman Adi dan Rafa duduk di sofa sementara Bibi Nilam duduk di kursi kecil sebelah ranjang Ira.
"Tidak Paman, untuk saat ini kami berdua akan apartemen. Yahhh... untuk menenagkan perasaan kami saat ini!" Rafa menunduk sedih. Paman Adi menepuk pundak Rafa untuk menguatkan.
"Sabar, oke. Terus berjuang seperti kami juga ya Rafa." Paman Adi membuka bingkisan yang berada di meja. "Apa kalian sudah makan, Paman membawa 4 kotak makan?" Paman Adi memberikan satu kotak untuk Rafa dan dua untuk istrinya dan Ira anak menantunya.
__ADS_1