My Love Rafa Aditya

My Love Rafa Aditya
Cemburu


__ADS_3

Rafa yang melihat pakaian rapi yang Ira kenakan langsung saja Rafa memeluk dengan erat tubuh Ira. Wangi parfum yang ia kenakan membuat Rafa menyukai aroma tersebut.


"Mau kemana sayang?" Rafa melepas pelukannya.


"Jika mau ikut segeralah mandi, aku tunggu di lantai bawah!" Ira mendorong tubuh Rafa agar ia segera membersihkan diri.


Rafa yang tubuhnya terdorong langsung saja masuk kamar mandi ia takut sekali jika Ira sang istri berjalan keluar sendiri tanpanya. Melihat pesona Ira yang mengaggumkan di pandang mata.


Setelah selesai mandi Rafa segera mengenakan pakaian casual berwarna pink cerah tetapi walaupun mengenakan pakaian berwarna lembut itu tidak mengurangi pesona Rafa yang menggoda di mana-mana.


Rafa menuruni anak tangga dengan gagahnya sesekali tersenyum saat menuruni anak tangga. Mama Novi dan Aldo Chand masih berada di rumah Rafa, melihat anak menantunya menggenakan pakaian berwarna pink hanya ada wajah terpancar keheran dengan Rafa.


"Apa aku terlihat tampan?" tanya Rafa kepada Ira dan mertuanya.


Mereka bertiga hanya menganggukan kepala, sedangkan Ira terbengong dengan penampilan Rafa yang mengejutkan dunianya. Baru kali ini ia melihat sang suami mengenakan pakaian berwarna lembut itu.


Melihat anak dan menatunya akan pergi Novi dan Aldo Chand berpamitan kembali pulang juga. Karena ini masih sore jadi mereka tidak makan malam bersama.


"Hati-hati di jalan Mama. Papa...," ucap Ira dan Rafa bergantian sambil menyalami kedua orang tuanya.


"Kalian juga hati-hati ya." Ucap Mama Novi melambaikan tangannya masuk kedalam mobil.


Sementara Aldo Chand menepuk pundak Rafa. "Jaga putri tercintaku dengan baik, jangan sepertiku." Aldo Chand berpamitan pergi dan masuk kedalam mobilnya sendiri.


Setelah melihat kepergian Aldo Chand dan Novi. Rafa segera menuju garasi dan mengambil mobilnya untuk di panaskan terlebih dahulu.


Ira yang berada di samping Rafa menatap intens wajah tampan Rafa yang sedang fokus dengan kursi kemudinya.


"Jangan di lihatin terus aku tetap ganteng dan mempesona ko." Rafa tersenyum sedikit. Ira tidak tinggal diam ia langsung mencubit wajah Rafa yang menggemaskan sekali.


"Dasar narsis tapi memang benar sih saking mempesonanya jomblo akut. AA... HAA... HAA...." Ledek Ira yang membuat Rafa geram dan mencubit pipi Ira yang terlihat agak tembem.


"Masih kurang dengan cubitanku ini?" tanya Rafa yang masih mencubit pipi Ira.


"Sudah, cubitanmu sangat sakit!" Ira memelas karena Rafa mencubitnya lumayan kuat. Melihat wajah Ira yang seperti itu Rafa langsung melepaskan cubitannya.

__ADS_1


"Kita jadi pergi tidak?" Rafa memegang pipi Ira yang tadi ia cubit. Ira menganggukkan kepala dan Rafa melajukan mobilnya keluar dari garasi rumahnya.


Saat berada di perjalanan menuju tempat tujuan yaitu restoran milik Rais Said. Mereka berdua tidak menyadari jika ia di ikuti oleh seseorang dari belakang mobilnya. Rafa yang melirik kaca spionnya tidak menyadari jika ia benar-benar di ikuti sesorang, pikirnya orang itu satu tujuan karena jalan yang di lalui Rafa adalah jalan satu arah saja.


Sesampainya di restoran milik Rais. Rafa segera keluar dan membukakan pintu untuk Ira. Ira yang terkejut dengan kelakuan Rafa barusan masih terbengong di tempat. Tidak seperti biasa-biasanya Rafa membukakan pintu mobil.


RESTORAN MEWAH RAIS SAID.


Restoran yang berdiri megah sangat elegant saat ini bentuk tampilan desain luar dan dalam restoran banyak berubah. Ira tersenyum dengan perkembangan restoran tempat ia berkerja dulu.


Mahnoor yang sedari tadi menunggu langsung melambaikan tangannya ke Ira setelah melihat Ira dari kejauhan. Rais yang sedang berada di area tersebut menatap sekilas.


"Ada pasangan romantis disini selamat datang di restoran ini. Silahkan duduk." Rais dengan sopan menyuruh duduk Rafa dan Ira dengan senyum ramahnya.


Ira hanya menahan tawa melihat ke anehan Rais saat menyambut tamunya begitu juga Rafa seperti melihat orang yang baru ia kenal saja. Rafa dan Ira duduk di depan Mahnoor, salah satu waiter Rais menawarkan makanan dan minuman karena mereka hanya mengobrol ringan jadi menu yang di pesan hanya cappucino dan beberapa makanan ringan saja.


Rais tiba-tiba duduk disamping Mahnoor. Semua orang menatap tajam Rais yang tiba-tiba ikut bergabung dalam pembicaraan ringan mereka.


"Apa aku salah duduk disini?" tanya Rais tanpa permisi.


"Ya salahlah kamu kan tidak di undang dalam percakapan ini!" jawab Ira ketus. Rafa tertawa kecil. "Kamu jangan tertawa Rafa kamu sama saja dengan dia." Ira menunjuk Rais.


"Begitu dari tadi kan kita para perempuan bisa leluasa berbicara," Ira melanjutkan berbincang-bincang dengan Mahnoor.


Para lelaki yang merasa di abaikan mencari-cari perhatian namun tetap saja tidak di pedulikan. Rafa yang bosan dengan posisinya berdiri dan beranjak pergi keluar dari tempat Ira dan Mahnoor mengobrol.


Tiba-tiba ada wanita yang datang dan meminta foto dan tanda tangan Rafa begitu juga dengan Rais. Mereka di kerubuti seperti aktor saja.


Mahnoor menujukkan kepada Ira jika suami bucinnya sedang asik berfoto ria dengan fans dadakan Rafa. Ira menatap tajam tubuh suaminya yang di peluk wanita bergantian sana sini. Ira mengepalkan tangannya dan mengebrak meja yang membuat Mahnoor terkejut.


BBRRAAGGG...


"Aku pergi dulu Mbak Mahnoor." Ira berjalan dengan langkah besar dan mencari ojek online setelah mendapatkan ojek online ia bergegas pergi.


Rafa yang melihat Ira sang istri pergi segera berpamitan untuk pergi dari kerumunan orang-orang yang meminta foto kepadanya begitu juga dengan Rais. Orang-orang akhirnya bubar dari depan restoran Rais.

__ADS_1


Rais langsung menemui Mahnoor yang masih terbengong dengan pemandangan barusan. Sampai-sampai Rais menyenggol lengan Mahnoor.


"Haahh... terkejut aku." Mahnoor menebah dadanya berkali-kali.


"Kenapa Ira seperti itu???" Rais bertanya ke Mahnoor karena tidak tau permasalahannya.


"Ya menurutmu seperti apa, bukannya terlihat seperti cemburu!" jawab Mahnoor kembali duduk di tempatnya.


Rais langsung mendekati Mahnoor rasa kepo Rais memuncak. "Terus-terus???" banyak petanyaan di benak Rais.


"Ya terus seperti itu Ira pergi dengan marah!" Mahnoor kembali menyeruput cappucinonya.


Rais hanya manggut-manggut paham dengan ucapan Mahnoor.


Ternyata merelakan orang yang kita cintai bahagia itu lebih menyenangkan, walaupun perasaan ini terluka. Hikss... semoga kamu bahagia terus Atiya Bahira. Rais berusaha setenang mungkin dengan perasaannya saat ini.


Mahnoor yang tidak sengaja melihat Rais melamun membiarkan saja karena hari ini yang mengajak bertemu Mahnoor jadi ia bertanggung jawab membayar minuman dan makanan yang sudah di pesan.


Setelah membayar Mahnoor segera memberikan suarat pengunduran diri dari restoran Rais. Rais terkejut dengan pengunduran diri Mahnoor secara mendadak.


"Kenapa, apa ada masalah?" tanya Rais memegan amplop putih.


"Tidak ada saya berencana keluar dari kota ini. Terlalu suram kehidupanku di sini, saya permisi!" Mahnoor berpamitan kepada Rais dan teman-temannya yang ada di restoran.


Ira yang berada di perjalanan hanya sesekali menyeka air matanya. Tukang ojek yang mengendarai sepeda motornya menatap dari sepion kaca.


"Aduhhh neng jangan menangis, nanti saya di kira orang ngapa-ngapain eneng." Tukang ojek berusaha menenagkan Ira yang bersedih.


"Pak ke danau sekarang." Ira menyudahi tangisannya.


"Neng apa neng mau...," belum sempat tukang ojek itu berbicara sudah di potong oleh Ira.


"Aku tidak akan mengakhiri hidupku tenang aja Pak, aku cuma butuh menjernihkan pikiran saja." Ira menatap ke arah perjalanan yang ramai.


"HUUFFF... Bapak kira eneng mau berbuat dosa karena eneng sedari tadi menangis." Tukang ojek tersebut melajukan kendaraannya ke arah danau kota ini.

__ADS_1


Mobil Rafa sedari tadi mengikuti karena takut terjadi sesuatu pada Ira.


Bersambung.


__ADS_2